Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Lamaran Audrey



David berlari mendekati Abryal. Pria itu baru saja tiba di kampus. Ia celingak-celinguk mencari sosok yang terus memenuhi pikirannya.


"Siapa yang lo cari?" tanya Abryal membuat David kelimpungan.


"Ahaha nggak ada. Btw, lo datang sendiri? Mana Audrey?" tanyanya sekedar basa-basi.


Abryal melirik curiga kearah sahabatnya. Ia berjalan memasuki kelas pagi disusul David. Abryal memutar bola matanya malas meladeni David yang terus mengoceh tidak jelas. "Lo suka sama Audrey kan?" tebaknya langsung membuat David membeku ditempat.


"A-Apa? Nggak kok."


"Alah, nggak usah bohong lo. Muka lo udah jelas suka sama dia!" serunya tersenyum smirk membuat David menjitak kepalanya.


"Diamlah sialan, nggak ada ya!"


"Pengecut banget lo, mending lo nikahin aja adek gue." serunya membuat mata David membinar-binar menatap kearahnya.


"Anjiir seriusan lo restuin gue sama Audrey?!" serunya tetapi ia langsung menutup mulutnya cepat saat menyadari dirinya keceplosan.


Abryal meledeknya. "Dasar bodoh, kalau suka kejarlah. Kalau cowoknya kayak lo gue restuin kok." ucapnya membuat David senang bukan main.


Dulu, ia tidak ingin mengungkapkan rasa sukanya pada Audrey saat mengetahui gadis itu menyukai sahabatnya. Ia pesimis, memilih mundur untuk tidak menyukai gadis itu lagi. Tetapi, takdir sepertinya berpihak padanya. Lihatlah skenario kehidupannya, gadis itu rupanya adik dari sahabatnya sendiri walaupun beda ayah. David melihat peluang besar itu memutuskan menyukai Audrey kembali. Ia menyukai gadis itu sejak kejadian konyol antara mereka berdua.


Pertemuan mereka berawal saat keduanya sama-sama terlambat datang ke sekolah. Saat itu hukumannya mengepel seluruh lantai sekolah. Tentu saja Audrey, gadis angkuh itu enggan membersihkan hal-hal menjijikkan seperti ini. Dengan seenaknya ia menyuruh gadis lugu mengerjakan tugasnya sedangkan dirinya duduk santai sambil memainkan ponselnya.


Banyak yang geram dengan tindakan Audrey, tetapi tidak ada satupun yang berani mengusik gadis angkuh itu. Apalagi saat David tidak sengaja menumpahkan air bekas pel mengenai sepatu Audrey. Amarah gadis itu memuncak seketika, ia langsung menumpahkan ember yang lain kearah David. Bukannya marah, pria itu justru tertawa terbahak-bahak.


Audrey semakin geram, ia langsung berjalan cepat kearah David tanpa sengaja ia malah terpeleset menjatuhkan tubuhnya dihadapan David. Sontak semuanya tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu. Muka gadis itu memerah, malu dapat rasa sakitpun dapat. Cepat-cepat gadis itu berdiri lalu berlari menjauhi mereka. Tanpa gadis itu sadari, David melihat wajahnya, pria itu berlari menyusul Audrey.


Ia tertawa pelan melihat gadis angkuh itu ternyata memiliki sisi lemah juga. David tidak mendekatinya, ia membiarkan gadis itu menangis sambil mengoles luka di lututnya yang sempat ia dapatkan tadi. Ia memperhatikan dari jauh, wajah sembab gadis itu sungguh mempesona dimatanya.


Plaak.


"Sialan!" ringisnya menoleh kearah pelaku yang menganggu dirinya.


"Pakai melamun lo, gue manggil daritadi nggak dengar!" cerca Abryal menatap tajam kearah David.


David berdecak pelan, duduk disamping Abryal sebelum dosen mereka datang. "Cih, ganggu imajinasi gue aja."


"Sialan, lo bayangin adek gue yang nggak-nggak huh?!" tuduhnya membuat David melotot.


"Astagfirullah, nggak ya! Gue nggak serendah itu, cih bukan itu loh! Gue tiba-tiba teringat pertemuan pertama gue dengan dia." jelasnya panik agar tidak terjadi salah paham.


"Yakin?"


"Iyaloh Abryal! Parah sih, nuduh gue nggak-nggak!"


"Emangnya dia nuduh apa?" tanya seseorang disampingnya.


"Itu si Al—Aaakh AUDREY?!" David terkejut bukan main, ia malah heboh sendiri membuat seisi kelas menoleh kearahnya. Beruntung dosen belum datang, ia hanya menyengir pelan kearah mereka sambil meminta maaf.


Audrey berdecak pelan menatap heran kearah David. "Lo ngapain Vid, liatin gue kayak hantu." kesalnya sambil mengeluarkan bukunya.


"Lo-lo kok disini?"


"Lo pikun atau apa sih? Ini kan pelajaran umum, ya jelaslah kita bisa sama kelasnya walaupun cuma sesekali." Audrey heran melihat sahabat kakaknya terlihat aneh hari ini.


Abryal menyenggol lengan David sambil berbisik ditelinga pria itu. "Panik yaaa," ledeknya puas.


"Diamlah lo Al!" David benar-benar tidak habis pikir. Ingin rasanya menonjok kepala Abryal, tetapi ingat jika pria itu penentu restu mereka. Sekali macam-macam malah susah dapatkan Audrey.


David jadi kelimpungan sendiri, padahal kemarin ia bisa bersikap biasa saja dihadapan Audrey. Namun, kali ini ia menciut mengajak gadis itu mengobrol. Lantaran terpesona dengan kecantikan Audrey mengenakan baju jeans dengan celana hitam. Apalagi rambut gadis itu digulung keatas membuat pesonanya semakin terpancar.


"Bisa berhenti liatin gue Vid?" David tersentak, ia menyengir pelan melihat kearah Audrey. Audrey mengerut dahinya, lalu mendongak memanggil Abryal. "Bang, nih sahabat lo masih sehat kan?"


Abryal menahan tawanya, ia mengedik bahu. "Entah, paling salah makan obat nih bocah." sahutnya membuat David menatapnya tajam.


Audrey memutar bola matanya malas. Ia memilih tidak memperdulikan keanehan David. Gadis itu kembali fokus menatap dosen yang mengajar didepan kelas.


Usai pelajaran selesai, Audrey kembali memasukkan bukunya kedalam ranselnya. Abryal menoleh kearah sahabatnya lalu menatap kearah Audrey. Ia langsung tersenyum smirk.


"Drey, David mau ngomong sesuatu ke elo." seru Abryal membuat David menatap tajam kearahnya.


Anak sialan, awas lo Al! David memaki dalam hatinya.


"Hm? Mau ngomong apa lo Vid? Lo hari ini keliatan aneh banget." ucap Audrey heran melihat kelakuan David.


"Gue mau ngomong sama lo Drey, tapi nggak disini."


"Oke, dimana?"


"Ikut gue!" ajak David spontan menggenggam tangan Audrey berjalan keluar kelas. Banyak pasang mata langsung teriak heboh melihat aksi mereka barusan. Tetapi, ada juga yang patah hati lantaran gadis pujaan mereka dibawa lari oleh David. Sedangkan Abryal geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua.


"Gue jadi kangen Cici." gumamnya tersenyum tipis mengingat istrinya.


Audrey kebingungan, membiarkan pria itu menariknya ke suatu tempat yang ia sendiri tidak tahu kemana. "Vid kita mau kemana?"


David terus berlari sampai di taman yang tidak jauh dari kampus. Ia menatap gadis yang kini berdiri dihadapannya. Apalagi tangan mereka masih saling menggenggam satu sama lain.


Deg.


Jantung Audrey berdetak lebih cepat, tatapannya tertuju pada tangannya yang masih digenggam erat oleh David. Entah kenapa tatapan pria itu terlihat berbeda dari biasanya. "Lo-lo mau ngomong apa Vid?"


Sial, kenapa gue gugup?!


"Audrey." ucap David pelan menatap datar kearah gadis. Ia tersenyum tipis menggenggam tangan gadis itu.


Audrey semakin gugup, terlintas di kepalanya mengatakan jika pria ini ingin menyatakan perasaan padanya. "Iyaa?"


"Mau jadi teman hidup gue?"


Audrey mengerut dahinya. "Lah, kan kita udah temanan David." Seketika gadis itu memalingkan wajahnya, tidak mungkinkan David menyatakan perasaannya padanya?


David berdecak pelan, apa gadis ini mengerti yang ia ucapkan barusan? "Ck, lo paham yang gue maksud Drey?"


"Paham kok, tenang gue tetap temanan sama lo kok!"


"Bukan teman biasa, teman hidup gue Drey!"


"Ooo teman hidup, mau dong!" serunya tapi sedetik kemudian ia langsung terdiam. "HAH?!"


Audrey langsung memundurkan langkahnya menjauh dari David. "Ma-maksud lo apa barusan?" tanyanya lagi.


David tertawa kecil melihat reaksi Audrey yang begitu menggemaskan membuatnya tidak lagi gugup. Gadis itu ekspresinya mudah ditebak tetapi selalu menyangkalnya. Pria itu mengikis jaraknya dengan Audrey. "Gue tanya sekali lagi, lo mau jadi teman hidup gue?"


Deg.


"Cowok gila! Se-sejak kapan lo suka gue?!"


David pura-pura berpikir, tersenyum miring menatap gadis itu. "Sejak kita dihukum gara-gara telat datang."


Audrey tertegun, ia masih tidak percaya pria itu menyukainya selama ini. Padahal ia jelas terang-terangan menyukai Abryal malah didekat pria ini ia terus mencari info hal-hal pribadi Abryal. Rasanya konyol mendengar kata suka dari mulut pria yang ia anggap sebagai sahabatnya.


"Lo nggak bercanda kan Vid?" tanyanya lagi.


"Apa gue terlihat lagi bercanda Drey?" David tersenyum tipis melihat wajah gusar Audrey.


"Dahlah terima aja Drey!" seru Abryal tiba-tiba nimbrung diantara mereka. David menatap malas kearah sahabatnya yang akhir-akhir ini suka rusuh padanya. Sifatnya yang sekarang hampir mirip dengan Cia, gadis pecicilan itu. Mungkin inilah yang terjadi jika dua manusia dalam satu atap yang sifatnya tolak belakangan akan terpengaruh mengikuti sifat yang paling dominan.


Audrey terkejut bukan main, ia melotot kearah kakaknya. "Apa-apaan Bang? Lo restuin gue dengan dia?"


Abryal mengangguk pelan. "Tuh sama siapa lagi? Sama hantu hm? Lo sendiri yang minta carikan jodoh, nih dah ada orangnya." serunya sambil cengegesan.


Audrey menganga, ia tidak percaya Abryal malah mengumbarkan rahasianya didepan David. "Abryal kampret, ngapain lo buka aib gue disini woi?!"


"Hahaha sorry keceplosan!" serunya tidak merasa bersalah. "Waduh, istri gue dah nelpon nih, gue cabut dulu ya bye! Terima aja Drey, besok nikah aja kalian!" teriaknya berlari menjauhi mereka.


"Orang gila! Huft," Audrey kembali menatap David yang tampak tenang menunggu jawabannya.


"Ehem, hmm gu-gue mau." cicitnya membuat David menatapnya tidak percaya. Semudah inikah lamarannya diterima?


"Serius?" tanyanya sekali lagi, Audrey mengangguk malu membuatnya langsung meloncat senang.


"Makasih Drey!" Lirihnya langsung memeluk Audrey. Audrey tersenyum membalas pelukan itu.


"Ehm, tapi sama bokap gue nggak tau ya direstui apa nggak. Jadi lo pandai-pandailah dapatin hati Papa." ucapnya membuat David menatapnya lemas.


Audrey tersenyum tipis. "Gue mau nikah dengan lo tapi lewatin dulu Papa. Btw, Papa gue cukup galak." serunya mengingatkan pria itu, lalu ia berjalan meninggalkan David yang terbengong mendengar ucapan gadis itu.


"Sial, gini amat mau nikah. Ribet banget woi!" gusarnya mengacak-acak rambutnya.