
Braak.
Cia menghela napas kasar sambil menutup pintu mobil dengan kesal. Ia ingin sekali tidur siang saat ini, tetapi semua rencananya buyar lantaran Audrey yang memaksanya untuk pergi keluar rumah.
"Apa sih kak, mau kemana emangnya?" gerutunya kesal pada gadis yang tengah fokus mengemudikan mobilnya. Sudahlah datang kerumah tidak diundang, maksa pula lagi keluar! Cih, darimana pula dia tau rumah kami?!
"Gue tau lo ngumpat," ucapnya sambil melirik CIA sekilas. "Lo orangnya santuy ya outfitnya. Terlihat anak introvert." Lanjutnya membuat Cia memutar bola matanya malas, lihatlah gadis itu hanya mengenakan baju tidur, rambut dicepol asal, tidak makeup, dan menggunakan sendal jepit.
"Ngapa nggak lo ajak kak Al?" tanya Cia menoleh lagi kearah Audrey.
"Gue nggak mau ganggu metime Abang gue."
"Anjir, gue istrinya. Harusnya kami metime sama sekarang!"
"Cielah, gue adiknya. Gue lebih tau dia butuh waktu sendiri, manatau mau main sama David. Tapi karna ada lo dia makanya mikir dua kali mau keluar. Lo sih beban banget jadi istri!" celotehnya langsung mendapatkan tatapan sinis dari Cia.
"Anak kecil nggak usah ikut campur urusan rumah tangga ya. Lagian gue orangnya nggak bakalan ngekang suami gue sendiri."
"Cih, gue bukan anak kecil. Gue nggak yakin Abang gue sebebas itu, pasti tertekan dengan lo."
"Diamlah sialan, lo emang daritadi cari masalah trus ya kak,"
"Lo ya cari masalah Cia, ih ngapa pula Abryal milih lo jadi istri?!"
"Ngapa? Iri?"
"Nggak level banget gue iri sama lo, kasta gue lebih kuat dari lo, Lo istri gue adiknya."
"Alah kalian beda bapak, lo bangga!"
"Sialan nih anak, setidaknya satu ibu!"
"Yalah tuh," Cia memalingkan wajahnya melihat kearah pemandangan diluar jendela mobil.
"Cih, kalah telak lo kan?"
"Idih kepedean banget lo, yang penting gue istrinya Abryal."
"Sombong banget. Hubungan kalian awkward banget, masa iya sampai sekarang lo belum hamil, atau jangan-jangan ka—"
Cia langsung menyumpal mulut Audrey dengan tisu, untung saja mereka saat ini lagi berhenti karena lampu merah. Coba, kalau masih jalan mungkin mereka yang harusnya pergi ke Mall malah berakhir di rumah sakit. "Jangan ngadi-ngadi lo ngomongnya, nggak usah urusin itu. Itu rahasia gue sama Abang lo, lo nggak boleh tau!"
"Sialan, lo suka banget nyumpelin mulut orang!" gerutunya membuang asal tisu yang sempat masuk dalam mulutnya.
"Suka-suka gue kak, siapa suruh ngomong hal sensitif kayak gitu!"
"Iya kan wajar dong, kalian udah nikah. Masa nggak ada buat program hamil?"
"Bego nih ya anak orang, gue kan masih sekolah woi. Udah lah jangan bahas itu lagi!"
"Siapa suruh nikah pas sekolah, kalau ketahuan pasti heboh!"
"Lo udah janji nggak ember ya kak, kalau sempat lo beberkan, lo bakalan berurusan dengan kak Al." ancamnya memperingati Audrey.
Audrey berdecak pelan. "Iyalah, gue pun nggak mau berurusan dengan Al."
"Btw, gue dari tadi penasaran, kenapa lo nggak ada cemburu bahas kak Al? Malah daritadi lo nyebut kak Al suami gue? Udah move on?" cerca Cia menatap Audrey.
Audrey mencebik, membelokkan stir mobilnya ke tepi jalan. Gadis itu menghela napas pelan sambil menatap Cia dengan tatapan yang susah diartikan."Gak ada gunanya juga gue suka sama Abang sendiri. Gue sebenernya masih kesal dengan fakta yang menimpah gue, kenapa harus Abryal yang jadi Abang gue? Kenapa nggak orang lain? Kenapa orang yang gue suka malah Abang gue sendiri? Takdir gue konyol kan?" serunya menggebu-gebu, terasa sesak sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
Cia hanya diam menatap gadis malang itu, ia pun juga tidak menyangka jika mereka berdua adalah saudara. "Gue nggak bisa hibur lo, kalau lo mau nangis, nangis aja jangan ditahan. Kita gantian nyetir mobilnya," tawarnya sambil menyodorkan tisu pada Audrey.
"Takdir lo nggak konyol kak, malah lo harusnya bersyukur, Abang lo Abryal. Lo pasti pernah kan, berharap semoga Abryal yang bakalan lindungi lo, nyatanya walaupun lo sama dia nggak bisa menikah, setidaknya dia Abang lo yang bakalan lindungi lo." jelasnya.
"Gue masih cinta sama Abryal Cia!" Lirihnya berkaca-kaca.
"Gue tau kak, move on nggak bakalan secepat kilat. Tapi, lo harus berusaha untuk buang perasaan lo dari dia kak. Masih banyak pria diluar sana yang lebih baik dari Abang lo."
"Serahlah, gue juga nggak butuh feedback dari lo. Itu cuma saran gue doang, kalau nggak mau dengar ya udah. Gue pun nggak peduli, yang penting badan gue sehat walafiat." Ketus Cia membuang napas kasar.
Tanpa terasa mereka berdua tiba di Mall. Cia sebenarnya malas keluar, lebih baik menonton drama negara ginseng daripada keliling tidak jelas seperti saat ini. Kakinya begitu pegal lantaran Audrey mondar-mandir tidak jelas.
"Apa sih yang mau lo beli kak??" tanyanya kesal. Audrey sinis kearahnya.
"Diam dulu, gue nyari tokonya."
"Toko apa emangnya?"
"Ikut gue!" ajaknya menarik lengan Cia. Gadis itu menghela napas pelan melihat Cia ogah-ogahan ikut bersamanya. "Cia ayok!"
"Arrgh, malas banget!"
"Emang toko apa sih yang mau lo cari?" tanya Cia yang mungkin entah kesekian berapa kali ia bertanya hal yang sama.
"Ikut aja lah dulu, gue jalan sama lo kayak majikan sama pembantu Cia." Ejeknya melirik baju yang dikenakan Cia saat ini.
"Biarin, gue pun nggak peduli pendapat orang." Balasnya membuat Audrey menatapnya.
"Sialan, gue iri liat lo," Gadis itu melempar baju yang dipajang kearah Cia. "Tuh pakai, baju tuh cocok buat lo Ci." serunya membuat alis Cia mengerut.
Cia membentangkan baju itu dan tertegun. Ia kira baju yang disuguhkan tadi baju norak, namun saudara iparnya itu malah memberikan warna dan style yang sesuai dengannya. "Tumben? Abis kebentur dimana kak?"
Audrey berdecak pelan. "Masih untung gue baik sama lo istrinya Abryal. Cepat ke kamar pas, gue mau liat lo pakai baju ini!" suruhnya sambil mendorong Cia menuju kamar pas. Cia menghela napas pelan, menuruti kemauan Audrey. Sedangkan gadis itu melihat baju-baju yang lain.
"Kak, gimana?" tanya Cia menunjukkan baju yang dikenakannya. Audrey menoleh lalu mengangguk pelan.
"Bagus, ambil itu satu!"
"Cih, liat dulu harganya woi!"
"Gampang, lo nggak usah pusing soal bayar. Gue yang traktir lo hari ini."
Cia menatap tidak percaya, apa benar ini Audrey yang suka menganggu ketenangannya disekolah? Kenapa mendadak menjadi malaikat?
"Abis tuh kita pulang?" tanya Cia. Nih, kaki udah nggak sanggup lagi jalan. Kapan sih dia selesai?! gerutunya dalam hati.
Setelah membayar baju itu, Audrey mengajak Cia membeli es krim. Cia melongo melihat Audrey dengan lahap memakan es krim ditangannya. "Laper banget keknya," Ledeknya.
"Cia sialan!" Audrey melempar tisu bekas kearahnya.
"Anjir jorok kalii!" Cia membalas melempar tisu kearah Audrey. Mereka berdua terdiam lalu tertawa terbahak-bahak melihat penampilan keduanya berantakan.
Kruyuuuk.
Keduanya terdiam lagi saling memandang satu sama lain. "Cih, makan yok!" ajak Audrey merapikan bajunya. Cia mengangguk pelan, sambil berdiri memungut sampah yang sempat berserakan akibat ulah mereka tadi.
"Mau makan dimana?"
"Terserah."
"Cih, cewek banget,"
"Ya kan gue emang cewek," balas Cia tidak mau kalah.
"Yang bilang lo nggak cewek siapa emangnya?" Audrey menatap malas kearahnya, lalu menarik tangan Cia masuk ke salah satu restoran di Mall. "Masuk sini!"
"Nggak ikut ngekorin kedalam juga Al?" ledek David sambil memakan bakso pedas miliknya. Tanpa kedua gadis itu sadari, jika mereka diikuti oleh Abryal dan David dari jauh.
"Diamlah." ketus Abryal masih menatap kedua gadis yang saat ini sama-sama berharga untuknya. Walaupun sulit menerima fakta jika Audrey adalah adiknya, tetapi tidak dipungkiri dalam hatinya terdalam senang ternyata ia mempunyai seorang adik. Ia diam-diam tersenyum samar melihat istri dan adiknya mungkin terlihat akrab.
"Dasar posesif, bilang aja lo cemas mereka pergi berdua nggak ngajak lo!" Cibirnya membuat Abryal merampas bakso miliknya dan pergi begitu saja.
"Woi Al, sialan bakso gue woi!"