
Sejak insiden itu, Mr. Aryo dikeluarkan dari sekolah dengan cara tidak terhormat. Apalagi bukti-bukti sudah banyak menunjuk kearahnya sebagai pelaku pelecehan, banyak orang tua histeris dan murka setelah mengetahui apa yang telah menimpa putri-putri mereka. Mereka juga menuntut sekolah itu untuk menghukum Mr.Aryo dengan hukuman yang setimpal kalau perlu hukuman mati.
Walaupun Mr. Aryo sudah dikeluarkan, tetapi untuk para korban tentu mereka harus memikul malu dihadapan teman-temannya karena merasa sudah tidak suci lagi. Contohnya seperti hari ini, diam-diam dibelakang guru, mereka mem-bully para korban layaknya sampah dan kotoran. Sampai-sampai para korban meminta pindah sekolah.
Lain halnya dengan Desi, ia hanya gadis malang yang kehidupannya kurang mampu. Untuk pindah sekolah tentu bukan pilihan yang tepat baginya mengingat biaya-biaya sekolah cukup mahal. Ia beruntung bisa bersekolah disini karena beasiswanya. Dulu, teman-temannya memandangnya sebagai gadis baik kini tidak lagi. Mereka memandangnya seperti kotoran, dan tidak pantas untuk dijadikan teman. Desi benar-benar sakit hati diperlakukan seperti itu.
"Wiih kupu-kupu malam datang cuy!" sorak mereka saat Desi masuk kedalam kelas. Matanya berair melihat mejanya kini banyak coret-coretan dan sampah.
"Foto dulu cuy, manatau gue bisa share ke om-om diluar sana!" serunya membuat Desi mengepalkan tangannya.
Braak.
Semuanya terkejut, menoleh kearah seseorang yang berada diambang pintu. Terlihat Mira menatap tajam kearah mereka semua. "Cih memalukan, kalian emangnya udah merasa paling suci apa?" sarkasnya menatap satu persatu teman kelasnya. Ia menoleh kearah Desi. "Des, kita change tempat duduk, lo duduk samping Cia aja." serunya menyuruh gadis itu untuk duduk ditempatnya.
"Eh? Mir..."
"Udah, nggak usah takut. Lagian orang nih nggak tau apa yang lo rasain, mereka hanya tau mencaci doang." sindirnya menatap tajam kearah semuanya, Mira menendang meja Desi hingga sampah diatas meja gadis itu berserakan. Lalu ia menegakkan kembali meja Desi dan mengambil tisu untuk membersihkan saos-saos yang lengket di meja itu.
"Oiya yang piket hari ini tolong bereskan ya, bentar lagi guru masuk," ucapnya menatap sekilas kearah mereka, lalu menggeser tempat duduknya tepat disamping Desi. Desi benar-benar terharu, ternyata masih ada orang yang masih baik padanya. Ia tidak akan pernah melupakan teman seperti Mira.
"Otak lo Mir, pasti udah dicuci sama dia." seru mereka lagi.
Desi ingin rasanya membentak mereka, namun ditahan Mira. "Jangan, semakin lo ladeni, semakin menjadi-jadi tuh. Biarin aja mereka menggonggong trus, yang lo lakuin hanya tutup telinga dan belajar dengan baik." ucapnya menepuk pundak Desi.
"Cih, Mira paling sok suci atau jangan-jangan di—" Serena terkejut saat Cia membungkam mulutnya dengan serbet yang entah darimana gadis itu dapat.
Serena langsung memuntahkan serbet itu dan menatap tajam kearah Cia. "Sialan lo!"
"Apa? Apa? Mau ngomong apa huh?" sentaknya sambil merangkul gadis itu. "Lo mau tau nggak, itu serbet bekas air parit hahahaha!" serunya membuat Serena menepis tangan Cia.
"Brengsek, cuih mulut gue!" jengkelnya berlari keluar, Mira dan Desi terkekeh pelan melihat kelakuan bar-bar Cia. Perlahan-lahan Mira juga mulai mengikuti jejak Cia yang bar-bar.
Cia melambaikan tangannya kearah mereka, dengan senyumannya ia duduk disamping Desi. Perihal tentang Desi, ia sudah mengetahuinya dari Mira. Sebenarnya ia merasa kasihan dengan gadis ini, masa depannya terenggut paksa oleh pria brengsek itu. Seandainya Abryal tidak datang tepat waktu saat itu, mungkin dirinya juga akan bernasib sama dengan Desi.
"Huft, akhirnya gue bisa duduk." seru gadis itu sambil mengikat rambutnya.
"Emangnya kenapa Ci?"
"Biasalah rebut harta karun dulu tadi." jawabnya tetapi Mira dan Desi tidak mengerti. Tentu saja, Cia seorang yang mengerti karena tadi pagi ia harus kejar-kejaran dengan Abryal untuk merebut kembali jepit rambut putih miliknya yang sempat dicuri pria itu saat dirinya sakit. Sumpah demi apapun ia begitu jengkel dengan pria itu, apa dia memang ada kelainan karena terlalu obsesi dengan jepit rambutnya?
Kepalanya begitu sakit memikirkan tingkah Abryal yang menurutnya diluar nalar seorang manusia biasa seperti dirinya. Yang penting ia berhasil membawa kembali jepit rambut berharganya yang nilai harganya cukup mengejutkan siapapun yang mendengarnya.
"Cia lagi-lagi lo melamun!" gerutu Mira menyadarkan Cia dari lamunan.
"Hehehe sorry, banyak banget yang harus gue pikirkan," ucap gadis itu mengeluarkan botol minumnya. "Btw, kita belajar apa pagi nih?"
Desi hanya tersenyum kaku kearah Cia, sedangkan Mira menatapnya dengan iba. "Pelajaran yang paling lo suka Ci, selamat belajar." serunya membuat Cia menggerutu pelan setelah ingat apa yang paling tidak ia sukai.
"Sial, belajar fisika lagi?!"
***
Cia mengacak-acak rambutnya, frustasi dengan tugas fisika yang baru saja diberikan guru mereka. Sedangkan Mira dan Desi mereka tengah menghayati soal itu dengan tenang. Cia menoleh kearah mereka dengan tatapan aneh. "Otak kalian nggak panas we?" tanyanya heran, ia salut dengan kedua temannya yang tampak enjoy mengerjakannya.
"Mudah lo nih Ci, gue yakin lo bisa." seru Mira gemas melihat sahabat barunya yang satu itu. Sejak kejadian waktu itu baik Mira dan Cia semakin dekat, apalagi mereka sering mengosip seputar teman-temannya dikelas saat Cia tidak masuk sekolah karena sakit.
"Ck, Ci! Astaga berhenti buang-buang napas!" gerutunya melihat Cia terus menghela napas panjang menatap soal fisika didepan mata gadis itu. Sebenarnya bisa dikerjakan asalkan paham menelaah soal itu dengan baik. Tapi, ya memang dasarnya Cia yang suka mengeluh, apa boleh buat.
"Susah..." rengeknya lagi.
Desi terkekeh, gadis itu berpindah tempat duduk disamping Cia. "Sini deh gue ajarin." tawarnya membuka buku fisika yang sempat Cia tutup tadi.
Cia mendongak, menatap haru kearah Desi. "Huwaaa malaikat dari mana nih?" ucapnya dramatis membuat Mira memutar bola matanya malas.
Desi tergelak pelan, dengan pelan ia mengajarkan gadis itu agar paham dengan rumusnya. Cia memperhatikannya dengan seksama. Sesekali gadis itu mengangguk sambil tersenyum senang.
"Bagus lo jadi guru gue Des, bu Titi susah banget gue pahamnya." seru gadis itu menepuk pundak Desi semangat.
"Aduh Ci, tenaga lo kuat amat," ringisnya membuat Cia langsung menjauhkan tangannya dari pundak Desi.
"Eh sorry...sorry refleks soalnya hehehe," cengirnya sambil menggaruk tengkuknya tidak gatal.
"Ssst, jangan ribut kita di perpus loh." Mira memperingati mereka untuk diam.
Cia mengangguk, lalu pandangannya tertuju pada dua orang yang tengah berjalan kearah mereka. Cia berusaha tenang walaupun dirinya dalam hati ketar-ketir melihat pria itu berjalan kearahnya.
"Nama lo Desi Olivia kan?" tanya David menatap kearah mereka bertiga. Pandangan David menggerutu saat melihat Mira dan Cia, ia kesal menatap dua cecunguk didepannya ini, bukan karena apa-apa melainkan dua manusia ini sempat membuatnya frustasi karena perihal kemarin yang tidak jelas itu. Padahal kalau dijawab dengan baik, ia tidak perlu lari mengejar mereka. Ujung-ujungnya mereka hanya meminta maaf dan tidak mendapatkan hukuman berkat seseorang, siapa lagi kalau bukan Abryal.
Desi mengangguk. "Iya ada apa kak?"
"Lo dipanggil ke ruang BK, orang tua lo sudah ada disana," serunya lagi.
Deg.
Wajah Desi seketika pucat, Mira dan Cia menyadari hal itu. "Kenapa dia kak?" tanya Cia menatap Abryal dan David.
"Urusan pribadi, orang lain nggak boleh tau." ketus Abryal menatap jengkel kearah Cia. Gadis itu mengumpat kesal, kenapa kakak kelasnya yang satu ini rese betul?
Huft, jantung gue nggak aman banget gara-gara keingat tadi pagi. Arrgh jangan diingat lagi Cia, lo harus stay cool!
"Cih, menyebalkan."
Abryal memutar bola matanya malas. Ia menoleh kearah Desi yang merupakan korban dari pelecehan Mr. Aryo. "Maaf, apa boleh lo ikut kami ke ruang BK sekarang?" tanyanya lagi agar memastikan gadis didepannya ini mau ikut dengannya. Ia tidak ingin berkontak mata langsung dengan Cia, membuatnya terus teringat tadi pagi.
"Gu-gue mau kak, tapi apa boleh mereka ikut juga?" ucap Desi membuat Abryal dan David saling melirik lalu mengangguk.
"Terserahlah, ayo cepat!" ajaknya berjalan duluan dengan David. Sedangkan Cia, Mira, dan Desi berjalan mengekori mereka.
David mendekat kearah Abryal, seraya pria itu membisikkan sesuatu pada sahabatnya. "Gue kepo, apa yang terjadi antara kalian berdua hm?" godanya.
"Apanya?"
"Lo dan Cia, pasti terjadi sesuatu tadi pagi kan?"
Deg.
"Diamlah gue nggak mau bahas." gerutunya kesal berjalan mendahului David. Abryal mengumpat pelan, semakin ia ingat kejadian tadi pagi semakin membuatnya tidak tenang. Gadis itu berhasil membuat boomerang untuknya.
Huft, sial.