Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Musuh Dalam Selimut



Cia salut dengan suaminya selama menjabat jadi ketua OSIS. Abryal setiap bulannya selalu mengadakan acara dengan mengunjungi panti asuhan. Seminggu sebelum acara diadakan, Abryal selalu meminta donasi berupa uang ataupun barang yang tidak digunakan lagi tetapi masih bisa dipakai. "Kak, barang nih bisa nggak kita donasikan?" tanyanya saat Abryal tengah memilah barang yang layak di donasikan.


"Barang apa tuh?"


"Nih," Cia menyerahkan buku pada Abryal.


Dahi pria itu mengerut saat membacanya. "Seriusan mau didonasikan?"


"Hm? Iya. Emangnya nggak boleh?"


Abryal menghela napas pelan, lalu menunjukkan judul buku itu pada istrinya. "Cara menagih hutang pada orang yang tidak mau bayar, seriously?"


"Eh? Anjiir buku apa nih, masa iya kita donasikan pada anak panti disana. Nggak usah kak, kita cari yang lain." Cia merampas buku yang tadi, ia lalu menyingkirkan barang yang tidak layak untuk didonasikan.


Abryal tertawa pelan melihat tingkah istrinya. Lalu mereka melanjutkan kegiatan menyortir barang-barang yang sudah dikumpulkan itu diruangan OSIS.


Braak.


"Woi bisa baik-baik nggak masuknya?!" kesal Cia terkejut, ia menyorot tajam kearah David yang hanya menyunggingkan senyum tanpa dosa.


"Biasa aja kali, jantung lo masih aman kan?" candanya berjalan menuju sofa.


"Cih, pasti nih anak mau tidur kan?" tebaknya langsung dianggukan David.


"Exactly, kerjaan gue juga udah siap. Jadi ngapain bengong, mending gue tidur."


"Kak Al, benaran nih orang udah selesai kerjaannya?" tanya Cia tidak percaya menoleh kearah suaminya.


"Syirik aja lo bocah!" Cerca David langsung ditatap tajam oleh Abryal.


David menyengir pelan. "Hehehe maaf, gue nggak bermaksud kok." ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Cih, lo cuma takutnya sama kak Al doang," keluhnya sambil berdiri. "Kak, gue temui Mira dulu ya."


"Kerjaan lo belum selesai Cii..."


"Hehehehe, gue lagi mager banget. Hah, tuh minta tolong aja sama orang yang lagi tidur di sofa kak, dia lagi free kan? Gue cabut ya kak, byee!" serunya lansgung melenggang kabur sebelum persetujuan dari Abryal.


"Wah, nih anak benar-benar dah. Woi, Vid bangun bantuin gue!"


"Ck, jangan ganggu gue Al." gerutunya menaikkan selimut hingga menutupi kepalanya.


Tok...tok.


"Siapa?" tanya Abryal.


"Gue, Audrey!"


Deg.


David yang semulanya bergulung dengan selimut, seketika langsung tegak saat mengetahui orang dibalik pintu itu adalah Audrey. "Si-Siapa tadi Al?" tanyanya lagi.


"Ck, Audrey Vid. Drey, masuklah!" seru Abryal sambil memasukkan barang yang sudah ia pilih kedalam kardus.


Audrey membuka pintu sambil membawa sebuah kotak. "Yuhuu tebak gue bawa apa?" serunya menghampiri mereka berdua. David langsung merapikan rambutnya dan duduk manis.


"Drey sinilah duduk!" serunya menepuk sofa disebelahnya.


Audrey mengangguk pelan, dan duduk disamping David. "Wah, barang yang mau didonasikan banyak ya, lo nggak ada bantu Abang gue Vid?" celotehnya menatap kearah David.


David terpana dengan wajah canyik Audrey, bahkan pertanyaan Audrey tidak didengarkan oleh pria itu. Gadis itu sedikit heran, ia melambaikan tangannya didepan wajah David. "Vid, lo dengar gue kan?" serunya lagi menyadarkan pria itu.


David tersentak, lalu tersenyum kikuk menatap gadis itu. "Ah, apa yang lo bilang tadi?"


"Sudahlah lupakan, lo nggak fokus. Nih, gue ada bawa kue tart buat kalian, dimakan ya!" serunya meletakkan kotak kue itu diatas meja.


"Yang lain mana? Kok nggak ada bantu kalian?" tanya Audrey lagi celingak-celinguk sekeliling ruangan.


"Mereka lagi sibuk dengan urusan masing-masing, tapi tadi udah pada bantu kok ngumpulin barang-barangnya." jelas Abryal mengambil kue dalam kotak itu.


"Barusan dia keluar, sebelum lo masuk tadi. Nggak ada ketemu?" tanya David sambil mengambil kue dalam kotak pemberian Audrey.


"Nggak tuh, ya udah gue mau nyamperin tuh anak. Gue cabut dulu ya, bye dihabiskan kuenya!" serunya lagi meninggalkan ruangan itu.


Abryal menyorot curiga menatap David yang dengan senang melahap kue pemberian Audrey. "Enak?"


David mengangguk cepat. "Iya,"


"Enak kata lo? Ini hambar woi," serunya membuat David menatap bingung kearah Abryal.


"Maksud lo? Kue ini enak lo!"


"Dasar bucin, masa iya lo nggak bisa bedakan hambar sama manis? Nih aja kuenya buatan Audrey sendiri!"


David terdiam, ia mati kutu saat menyadari jika dirinya dijebak oleh Abryal. Pria itu memakai topinya sambil tergelak mengejek kearahnya. "Sejak kapan lo suka adek gue?"


"Idih, sekarang lo sok-sok protektif sama Audrey?"


"Ya dong, dia adek gue. Walaupun kami beda ayah, dia tetap adek gue. Lo kalau suka ya bilang sebelum disambet yang lain, gue sih dukung lo Vid." serunya beranjak dari tempatnya.


"Eh, lo mau kemana? Nih tempat masih berantakan!"


"Gue mau cari angin segar bentar, suntuk gue nggak ada Cia."


"Dasar bucin!" ledeknya melempar bantal sofa kearah Abryal.


***


Audrey celingak-celinguk mencari keberadaan Cia, namun bukan pemandangan yang sedap dipandang justru ia tertegun melihat Desi menampar Cia kuat.


Plaaak.


"Gue nyesel teman dengan lo Cia!" Cerca Desi menatap nyalang kearah Cia. Cia memegang pipinya sehabis ditampar Desi sambil tertawa renyah.


"Jadi ini sifat asli lo Des? Gue nggak nyangka." Lirihnya memandang datar kearah Desi. Desi terdiam, memang berurusan dengan Cia bukanlah perkara yang mudah. Namun, ia lagi-lagi terpaksa melakukannya demi mendapatkan uang yang banyak.


Cia langsung mencengkram seragam Desi dengan kuat, tatapannya dingin seolah-olah ini bukanlah gadis itu yang biasanya. "Apa yang lo mau dari gue Des? Lo lakuin ini punya alasan kan?" tanyanya.


Deg.


Lidah Desi keluh, tetapi ia tidak boleh melupakan tujuan utamanya. Biarlah, ia dibenci asalkan uang mengalir padanya. "Iya, gue mau lo sama Al cer—"


Plaak.


Mata Desi membulat sempurna, bukan karena tamparan dari Cia melainkan Audrey yang menatap nyalang kearahnya. "Apa maksud lo barusan huh?"


"Kak Audrey..." Cia terkejut dengan kedatangan Audrey disini. Cia membiarkan Audrey mencengkram Desi, ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Desi barusan.


"Minggir, biar gue urus nih bocah!" seru Audrey menepis tangan Cia lalu mendorong Desi hingga menubruk dinding. "Gue nggak peduli lo dulunya ada sahabatan dengan Cia, tapi asal lo tau gue nggak suka lo misahin dia dari Abryal. Persetan lah lo mau cari akal busuk buat misahin mereka, tapi yang jelas tidak akan berhasil!" Audrey mencengkram dagu Desi kuat hingga gadis itu meringis.


"Lo tau kan siapa gue disekolah ini kan? Jangan pernah menganggu dia ataupun Abryal. Baik lo ataupun Serena!" ketusnya sambil merogoh saku roknya dan mengeluarkan flash disk hitam.


"Nih makan tuh aib, dikasih hati minta jantung. Lo sama Serena udah jelek di mata kami!" Cercanya melempar flashdisk itu dimuka Desi.


"A-apa maksud lo?" tanya Desi terbata-bata. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya lantaran Audrey menyebut nama Serena disini. Apa gadis itu sudah tahu rencana mereka?


Audrey tersenyum miring. "Lo dan Serena ingin menjebak Abryal tadi kan? Tapi, rencana kalian gagal lantaran Cia datang ke tempat Abryal," ucapnya sambil menatap tajam kearah Desi.


"Biar rencana kalian gagal, gue suruh Cia datang ketempat Abryal cepat."


Deg.


Cia melongo, pantas saja Audrey mencak-mencak menyuruhnya ketempat Abryal secepatnya. Ternyata, inilah alasannya. Cia menatap Desi dengan penuh kekecewaan, ia mengepal tangannya kuat.


"Gue kecewa dengan lo Des, mulai sekarang lo bukan lagi teman gue." ucapnya lalu pergi menjauh dari sana.