Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Kejutan



Cia bingung suaminya ini entah membawanya kemana. Ia begitu cemas dengan keadaan Mira yang sama sekali tidak ia ketahui ada dimana sekarang. Dalam hatinya terus berdoa agar Mira dalam keadaan baik-baik saja.


Pandangannya langsung tertuju pada ponselnya, nomor itu kembali menelponnya. Ia menoleh kearah Abryal, namun suaminya itu tidak mengizinkan untuk mengangkatnya.


"Kenapa? Lo kenal?" Tebak Cia langsung dianggukan Abryal.


"Siapa?" Desaknya.


"Audrey." Jawab Abryal asal malah mengundang emosi istrinya untuk mengumpat kasar.


"Memang anak an—" Abryal langsung membungkam mulut istrinya, sepertinya ia harus menegaskan gadis itu agar tidak lagi menggunakan kata-kata kotor yang terus keluar dari mulutnya.


"Nggak boleh ngomong kotor Ci, nggak baik." Nasehatnya membuat Cia menghela napas panjang.


"Tuh anak ngapain lagi sih kak? Dia nih obsesi banget sama lo!" gerutunya kesal. Setiap mengingat Audrey pasti ia merasa dendam sendiri. Entahlah, pokoknya gadis itu menyebalkan.


Abryal terkekeh pelan, melihat wajah Cia yang cemberut membuatnya ingin terus menggodanya. "Cemburu ya?"


"Nggak, eh iya eh, nggak taulah!" ketusnya memalingkan wajahnya.


"Bilang aja cemburu." Ledeknya.


"Ish, udahlah nggak usah bahas lagi kak, sekarang kita harus fokus menyelamatkan Mira!" ucapnya serius memandang kedepan. Ia benar-benar khawatir perihal sahabatnya.


"Ci, tadi suara Mira kayak mana?" tanya Desi yang daritadi hanya diam jadi nyamuk menonton kemesraan suami istri didepannya ini, kini baru membuka suaranya.


"Tadi dia kayak minta tolong gitu Des, gue khawatir nih sama anak tuh!"


"Kita berdoa moga Mira baik-baik saja." Harapnya langsung diaminkan keduanya. Beruntung Abryal lihai dalam melacak lokasi, sehingga mereka bisa tahu Mira ada dimana saat ini.


"Lo yakin ini tempatnya Kak Al?" tanya Desi merasa tempat yang mereka kunjungi saat ini, terlihat suram tidak berpenghuni. Pria itu mengangguk pelan, memakirkan mobilnya ditempat yang aman lalu membuka seltbelt-nya.


"Ayo turun!" ajaknya diikuti kedua gadis itu dibelakangnya. Abryal perlahan-lahan masuk, ia membuka pintu tua itu. Cia langsung menggenggam tangan Abryal sedangkan Desi ia malah kebingungan menatap keduanya.


"Ci, gue pegangan tangan sama siapa? Nggak mungkin kan gue pegang tangan suami lo??" serunya membuat Cia menoleh kebelakang dengan tatapan tajam.


"Pegang tangan gue aja, jangan tangan suami gue!" gerutunya tiba-tiba menjadi posesif. Abryal terkekeh melihat tingkahnya.


"Lah kan nggak ada gue pegang tangan suami lo!" gerutunya sambil menggenggam tangan Cia. Sempat-sempatnya berdebat dulu, padahal nyawa Mira bisa jadi saat ini lagi dalam bahaya. Mereka bertiga menelisik bangunan tua itu, tetapi tidak menemukan satu orang pun disana.


"Kak, benaran ini tempatnya?" tanya Cia lagi. Ia merasa tidak yakin dengan bangunan tua ini. Abryal mengedik bahu, menunjukkan lokasi dalam ponselnya yang membenarkan tempatnya berada disini.


"Trus gimana?" tanya Cia lagi. Ia begitu gusar, tidak menemukan petunjuk apapun terkait Mira. Ia merasa tangannya terasa kosong, Cia berbalik badan dan terkejut tidak menemukan Desi dibelakangnya. "Lah, si Desi kemana pula dia?"


Abryal mengernyit bingung, menggenggam tangan Cia dengan erat, mencari sahabat istrinya itu. "Dia pergi kemana?"


"Ish, kemana sih dia?!" gusarnya berjalan sambil menarik tangan Abryal untuk ikut dengannya. "DESI! DESIII!" teriaknya terus memanggil Desi, namun siempunya nama tidak ada menyautnya membuat Cia panik.


"Kak, si Desi juga ikutan hilang sekarang!"


"Tenang...tenang, tangan gue jangan dilepas oke?" Cia mengangguk, mengikuti langkah kaki suaminya.


Bruuk.


Cia memekik langung menghambur kedalam pelukan Abryal. "I-itu suara apa kak?"


Abryal terkekeh pelan, kemana keberanian gadis bar-bar nya pergi? Melihat Cia ketakutan seperti ini, gadis itu jadi terlihat imut.


Cia menatap heran, suaminya ini kenapa malah senyam-senyum sendiri. "Apasih kak yang lucu?!" gerutunya kesal, ia kembali ketakutan saat mendengar suara benda yang terjatuh lagi. Entah benda apa itu, Cia tidak peduli. Walaupun rasa takutnya semakin membesar, tetapi kedua sahabatnya membutuhkan pertolongannya. "Ka-kak, coba kita cek di kamar itu!" tunjuk Cia kearah pintu cokelat yang disudut ruangan.


"Yakin berani kesana?" tanya Abryal menatap remeh kearah Cia.


Cia mencebik. "Jangan mulai dah debatnya kak, gue lagi nggak bisa debat nih." keluhnya, tangannya langsung memutar kenop pintu ruangan gelap itu.


"Kak, cari stop kontaknya!" suruhnya membuat suaminya menatap kearahnya.


"Lo lah kok gue?"


"Ya lo kan suami gue kak, masa iya gue yang nyari stop kontaknya??"


"Lo ajalah, kan lo pemberani sayang!" pujinya bukannya membuat Cia tersipu malah mencebik.


"Cih, mana hape lo kak, hidupin dong senternya!"


"Habis baterai." jawab pria itu sontak membuat Cia membelalak.


"Hah? Abis baterai?!" Pria itu mengangguk pelan sambil menyengir.


Cia menepuk jidatnya, lalu tangannya merogoh tas selempangnya mencari ponselnya, namun benda pipih tersebut tidak ada didalam. "Lah mana hape gue ya?"


"Ck!" umpatnya frustasi, kenapa disaat genting seperti ini semua barang tidak ada disisinya, apalagi suaminya ini daritadi terus memancing emosinya, pria itu malah terlihat santai sedangkan dirinya seperti benang kusut yang sibuk memikirkan keadaan kedua sahabatnya yang menghilang entah kemana.


Abryal melepaskan tangan istrinya, ia membiarkan istrinya masuk untuk menghidupkan lampu ruangan itu. Cia mencoba menerka-nerka letak stop kontaknya.


Ceklek.


Tubuhnya langsung merinding, pandangan yang awal tadi sedikit terang, kini gelap gulita. Ia mulai keringat dingin sambil mencari keberadaan suaminya. "Ka-kak!"


Cia semakin ketakutan, ditambah tidak ada suara Abrual didekatnya. "Kak, lo dimana? Jangan tinggalin gue sendiri..." Lirihnya.


Duar!


Cia memekik kuat, gadis itu langsung jongkok sambil menutup telinganya. Terdengar ia berbuih-buih membacakan ayat kursi dan beberapa doa lainnya. "Hiks kak Al, lo dimana sih??"


Cia mengernyit saat tangannya tidak sengaja menyentuh sesuatu didekatnya. Ini kayak balon kan?


Kepalanya langsung mendongak saat lampu itu hidup sendiri. Matanya membelalak melihat semua orang berada disini. "Ka-kalian?"


"Happy birthday...happy birthday to youuu..." seru semuanya, Cia menatap kesal kearah Mira dengan santainya membawa kue besar ditangannya.


"MIIRAAA!!" Cia menghentak-hentakkan kakinya kesal menatap sahabatnya yang ia panikkan tadi malah muncul sambil cengar-cengir tidak jelas.


"Hehehe sorry," Mira menoleh kearah Desi yang tengah membawa beberapa minuman kaleng ditangannya. "Nih ide si Desi Ci.."


Cia menatap tajam kearah Desi, ingin rasanya ia lempar ke sungai. Astaga, kedua sahabatnya ini benar-benar suka membua jantungnya lari dari tempatnya. "Ish, menyebalkan!" gerutunya langsung tersenyum malu. Cia saja lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya, ia pun menoleh kesal kearah suaminya yang diam anteng disampingnya.


"Lo bagian apa kak?"


"Nggak ada, cuma nemanin doang." Jawaban Abryal tentu membuat Cia syok.


"Lah? Nggak ada persiapan apa gitu untuk gue?"


Pria itu menggeleng, lalu menarik tangan Cia mendekat kearah kue yang dipegang Mira. "Cepat berdoa abis tuh kita pulang!" serunya membuat Cia menatap cengo.


Mira langsung tergelak pelan, sambil menyenggol lengan Cia. "Suami lo parah Ci, bisa-bisanya dia nggak tau tanggal ulang tahun lo. Malah dia taunya pas kami tadi ngasih tau rencana kalau mau ngerjain lo." jelasnya.


Cia menghela napas. Abryal terkekeh menatapnya. "Yang penting join kan? Gue ada disini rayain ultah lo!"


"Ish, nggak asyik banget!" gerutunya hanya bisa menghela napas berat. Ia saja begitu girang melihat dua kado dibelakang sahabatnya, sedangkan suaminya? Hanya membawa tangan kosong. "Biasanya lo sih kak yang paling peka kak." sindirnya mengingat selama ini, pria ini begitu misterius mengetahui semua perihalnya. Abryal hanya tersenyum samar sambil mengedikkan bahunya.


"Cii cepat doanya, pegal nih tangan gue megang kuenya!" Mira menggerutu menatap Cia.


Cia berdoa dalam hatinya, lalu mematikan lilin apinya dengan cara mengipasnya. Gadis itu tertawa pelan melihat kuenya malah berkarakter kartun. "Kalian kira gue bocah apa?" protesnya.


"Iya lo emang masih bocah sih Ci, sering emosian mulu!"


"Sialan kalian, btw kenapa kalian milih tempat tua kayak gini? Seram woi!"


"Oh, biar dapat feel horornya...Lo emang paling galak sih Ci, cuma kalau soal horor lo mah cemen!"


"Ejek aja trus, kak tengok orang nih!"


"Ya lo emang gitu sih Ci," balasnya membuat Cia menghela napas kasar.


"Dahlah malas." ketusnya sambil menggembungkan pipinya.


Ketiganya saling terkekeh lalu menyuruh Cia memotong kuenya. Tak lupa Desi mengabadikan momen itu. Saat mereka lagi asyik merayakan ulang tahun Cia, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan dua orang yang baru saja masuk kedalam rumah tua itu.


"Anak nakal!" seru seseorang sontak Abryal dan Cia tertegun dan menoleh ke belakang. Mereka berdua langsung tergopoh-gopoh menghampiri Nenek Lara yang datang bersama David.


"Iya nih Nek, cucu durhaka!" David justru mengompori mereka. Keduanya langsung menatap tajam kearah David.


"Jangan kamu salahkan dia, masa kamu nggak ingat ulang tahun Nenek?!" gerutu Nenek Lara sontak membuat Abryal menepuk jidat.


"Ya ampun Nek, maaf Al lupa!" Ia langsung memeluk Neneknya, sedangkan Cia melongo terdiam ditempat.


"Ayo sini sayang!" seru Nenek mengajaknya untuk ikut memeluk bersama, Cia langsung memeluk Neneknya seraya mengucapkan selamat ulang tahun dihari yang sama dengannya.


Setelah puas merayakan pesta ulang tahun dibangunan tua itu. Semuanya langsung pulang kerumah masing-masing kecuali Abryal dan Cia. Mereka terlebih dahulu mengantarkan sang Nenek kerumah.


"Kirim semua fotonya nanti ke Nenek ya!" serunya sambil mengelus kepala Cia.


"Okeey siip Nek, Yok Cia antar ke kamar. Nenek harus istirahat!" seru gadis itu menggandeng tangan Nenek Lara. Baru saja beberapa langkah, mereka dikejutkan dengan sosok wanita paruh baya yang kini tengah menatap kearah mereka. Cia dapat merasakan raut Nenek Lara tiba-tiba berubah kesal.


"Ibu..." ucap wanita paruh baya itu pada Nenek Lara. Seketika suasana langsung berubah suram, begitu juga Abryal yang tiba-tiba membeku ditempat lantaran perempuan itu memanggil neneknya dengan sebutan ibu. Kini Cia menyadari, jika hari ini bukan hanya kejutan baginya melainkan suaminya juga.


Siapa dia?