
Tangan Abryal tanpa sadar menggenggam tangan istrinya terlalu erat. Cia sedikit meringis membuat pria itu tersadar dan melepaskan genggamannya. "Maaf." cicitnya, lalu matanya fokus menoleh kearah pria yang sudah keluar dari lift tadi melewati mereka sambil menelepon. Cia langsung menarik tangan Abryal masuk kedalam lift, sebelum lift tertutup kembali.
"Kak, lo kenapa?" tanya Cia cemas melihat Abryal hanya diam saja.
"Hm, nggak ada." jawabnya pelan, tetapi Abryal tidak ingin melihat kearah Cia.
Cia hanya menghela napas, tetapi juga penasaran dengan sosok pria paruh baya tadi. Pria itu sangat mirip dengan suaminya.
Deg.
Tunggu, apa jangan-jangan orang tadi bokap kandung kak Al? Gumamnya dalam hati. Ia tidak ingin menanyai langsung pada Abryal, mengingat pria itu terlihat tidak ingin membicarakan hal ini.
Sesampai di depan kamar, Abryal langsung masuk setelah mengakses kunci kamar mereka. Pria itu langsung berjalan menuju kamar mandi sedangkan Cia mendaratkan tubuhnya di kasur.
"Huft, lelahnya..." gumamnya menatap langit kamar hotel yang mereka tempati. Tak membutuhkan lama matanya mulai terpejam.
***
Audrey menggebrak meja saat mengetahui jika Cia bukan hilang melainkan dibawa kabur oleh Abryal sendiri. "Anak sialan!" umpatnya kesal yang masih di kantor polisi.
Pak Polisi tadi hanya diam, sedikit memundurkan tempat duduknya dari Audrey, ia tidak ingin menjadi sasaran amukan gadis ini setelah tadi mengamuk karena belum menemukan gadis bernama Cia tadi.
Sedangkan Mira memijit keningnya melihat kelakuan sahabatnya yang satu itu. "Huft, tau gini gue nggak kayak orang gila tadi." gerutunya berjalan keluar dari kantor polisi.
Ia menghirup udara malam perlahan, matanya yang awal terpejam langsung terbuka saat merasakan sesuatu menyelimuti tubuhnya. Mira menoleh ke samping dan mengernyit menatap orang itu. "Lo siapa?"
"Gue Ziyad," jawabnya tersenyum tipis, lalu ia mendongak menatap kantor polisi. "Lo ada masalah ya sama polisi?"
"Hm? Maaf, sepertinya lo terlalu ikut campur urusan gue." ketus Mira melepaskan jaket yang sempat melekat ditubuhnya, lalu memberikan kepada pria itu.
"Tolong jangan diulangi lagi kayak gini, orang lain tidak akan nyaman. Tapi, gue berterima karena sudah perhatian," ucapnya dingin lalu kembali masuk kedalam kantor polisi.
Mira yang selalu peka dengan keadaan, merasakan aneh dengan tingkah pria asing tadi. "Huft, lebih baik didalam ajalah."
"Hah, disini lo rupanya. Gue nyari lo tadi!" seru Audrey melihat Mira yang baru saja masuk.
"Gue nggak kayak seseorang hilang tanpa kabar,"
"Mak, kalau mau nyindir langsung ke orangnya aja!" seru Audrey.
"Sudahlah, biarkan aja mereka. Huft, gue lapar gara-gara nyari Cia kampret tuh, makan yok kak!" ajaknya langsung dianggukan Audrey.
"Iya woi, habis tenaga gue berdebat dengan Pak Pol, eh taunya tuh bocah malah liburan sama Abang gue." gerutunya berjalan keluar. Mira tergelak, memang seperti itulah karakter Cia.
Saat mereka keluar, Mira melihat Ziyad masih berdiri ditempat yang sama sambil merokok. Berusaha untuk tidak memperdulikan keberadaannya, ia menarik tangan Audrey untuk mempercepat langkahnya menuju restoran.
"Mau makan apa ya kita malam nih?" gumamnya sambil melirik menu yang tersedia disana.
"Gue pesan Ayam goreng mentega kak."
"Oke, gue pesan Ayam goreng tepung ajalah." Setelah Audrey membayar pesanan mereka, mereka langsung mengambil tempat duduk di tepi jendela. Suasana malam, dengan penerangan yang cantik membuat suasana kota terlihat indah.
"Lo sadar nggak sih kita dibuntuti orang?" tanya Audrey membuat Mira menatap kearahnya.
"Sadar, yang cowok pakai kemeja biru tuh kan?" jawabnya sambil menoleh sekilas kearah pria yang bernama Ziyad tadi.
"Ngapa lo nggak lapor sih? Kita kan tadi di kantor polisi loh!"
"Ngapain? Biarin ajalah kak."
"Ntar dia macam-macam gimana?"
"Ya udah tinggal hajar trus lapor. Lagian kalau kita melapor sudah pasti buktinya kurang kak."
Audrey hanya menghela napas kasar. "Emangnya dia siapa?"
"Nggak tau, tapi yang jelas ada maksud tertentu dia mendekati kita kak, tapi ini hanya asumsi gue doang."
***
Cia tersentak dari tidurnya, ia memicingkan matanya saat menyadari jika langit sudah mulai gelap. Ia langsung turun dari kasur dan celingak-celinguk mencari sosok suaminya. Namun, setelah menggeledah seluruh ruangan, ia tidak menemukan suaminya. “Kemana dia?” gumamnya cemas.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan…”
“Sial, kak lo kemana sih?” gerutunya kesal. Cia berjalan buru-buru membuka pintu hotel dan berlari kearah lift. Ia menepuk jidatnya saat menyadari dompetnya tertinggal didalam kamar, dan sialnya ia terkunci diluar. Beruntung ponselnya ikut bersamanya, walaupun baterainya hanya 20%. Saat pintu lift terbuka, ia disuguhkan dengan pemandangan membuatnya mengelus dada sambil beristigfar.
“ASTAGFIRULLAH, WOI INI TEMPAT UMUM!” bentaknya membuat kedua sejoli yang tidak tau malu itu, buru-buru keluar dari lift seolah tidak ingin satu ruangan dengan gadis galak itu. Cia menghembus poni rambutnya keatas, lalu menekan tombol lift menuju lobi hotel.
Tujuan utama Cia berjalan mendekati resepsionis, berharap mereka tahu keberadaan suaminya. Namun, jawaban yang diharapkan malah tidak terwujud. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat, dan berhenti disalah satu Gedung yang mungkin suaminya ada berada disana. Cia teringat jika mereka akan pergi kesana setelah Magrib.
Langkahnya perlahan menuju Mall yang tidak jauh dari hotel yang ia tempati. Bodo amat soal dirinya yang hanya mengenakan sendal hotel, berjalan cepat memasuki Mall. Pandangannya terus mencari sosok suaminya disana. “Ih, kemana sih kak Al? Kak, jangan tinggalin gue, gue takut sendiri disini…” Lirihnya.
“Apa gue ke Pusat Informasi aja?” gumamnya, dengan harapan tinggi ia berjalan menuju pusat informasi Mall.
“Selamat malam Nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya petugas itu.
“Malam juga, saya kehilangan suami saya. Bisa tolong panggil dia?”
“Tentu, boleh saya tahu nama suami Anda siapa?”
“Abryal, bilang istrinya menunggu disini.”
“Baik, akan saya panggilkan. Apa Anda ingat, ciri-ciri suami Anda dia hari ini mengenakan baju apa?”
Cia tampak berpikir sejenak, ia ragu tadi Abryal mengenakan kaos warna cokelat atau moka. Soalnya, terhalang dengan jaket hitam yang dikenakan suaminya itu. Sedangkan jaketnya sempat ia lihat tadi tergeletak diatas sofa sebelum ia pergi mencari Abryal. “Antara kaos coklat atau moka.”
“Baik, akan saya bantu ya Non, Anda boleh duduk disana sambil menunggu beliau.” Ucapnya menunjuk kursi yang tersedia disana. Cia mengangguk, tak lupa ia mengucapkan terimakasih sambil menunggu Abryal mendengar pengumumannya dan datang kesini.
“Silahkan diminum, aku tau kamu kedinginan.” Ucap seseorang meletakkan secangkir susu cokelat diatas meja Cia.
Cia mendongak dan terkejut melihat pria itu, yang sempat berpapasan dengannya tadi saat di lift.
“Eh, tidak apa-apa Pak.” Tolaknya dengan sopan, ia juga tidak bisa menerima sembarangan dari orang asing. Tetapi, Cia tidak bisa memalingkan pandangannya menatap wajah pria itu sama persis dengan suaminya. Hanya saja beda mereka hanya keriput dan rambut terlihat mulai memutih.
“Apa kamu kenal dengan orang yang mirip denganku?” tanyanya menatap Cia.
Deg.
Bagaimana dia bisa tau?!
“Ah, iya. Saya merasa Anda mirip dengan seseorang yang saya kenal.”
“Oh, iya? Siapa dia?”
“Aku.”
Cia tersentak, lalu mendongak terkejut melihat suaminya sudah berada disini tanpa disadarinya. Ish, dia masih saja suka muncul tiba-tiba! Gerutunya kesal.
Tatapan yang diperlihatkan Abryal terlihat dingin dan hanya fokus menatap pria paruh baya yang tengah tersenyum pada suaminya. Abryal menarik kursi dan bergabung dengan mereka.
“Nih, buat lo.” Ucapnya sambil menyerahkan kantong belanjaan pada Cia. Gadis itu hanya diam menerima kantong itu dan lebih penasaran dengan dua orang didepannya ini. Sedangkan pria paruh baya tadi, terkekeh melihat interaksi mereka.
“Ternyata kau sudah besar, Nak.” Ucapnya membuat Cia terkejut bukan main, ia langsung menoleh kearah Abryal.
“Huh, Anda terlihat baik-baik aja ya.” Jawab Abryal dingin.
Cia dapat merasakan atmosfer keduanya tampak dingin dan tidak bersahabat. Sekali lagi, ia mengetahui masalah Abryal yang terlihat menyedihkan. Ia sontak menggenggam tangan suaminya dengan erat. “Hmm sepertinya aku harus pergi dulu. Kalian silahkan mengobrol dengan tenang, permisi.”
Abryal tidak membiarkan Cia pergi, pria itu menariknya kembali untuk duduk semula. “Disini aja.”
“Tapi…”
“Gue ingin lo disini Ci, please.” Nada parau Abryal membuat Cia terdiam dan menurutinya. Abryal menatap pria yang merupakan ayahnya kandungnya sendiri. “Anda terlihat bahagia setelah meninggalkan wanita yang telah melahirkan darah dagingmu sendiri.”
Reighan—Ayah kandung Abryal hanya diam menatap wajah anaknya. “Maaf, Papa udah lakuin kesalahan fatal.”
“Ahaha, padahal aku nggak mau mendengar kabar Anda, tapi…Anda sendiri yang menunjukkan wujud dihadapanku.” Seru Abryal tertawa renyah.
Abryal menghela napas kasar sambil mengusap wajahnya. “Apa alasan Anda meninggalkan kami?” tanyanya penasaran.