
Desi menggigit jarinya, sungguh ia begitu tertekan menatap orang dihadapannya ini. Tentu siapa lagi kalau bukan Selena, gadis itu akan membuat persahabatan mereka hancur.
"Kenapa lo ketakutan? Oh, apa karna takut ketahuan kalau lo sendiri yang mengedit wajah sahabat lo tuh ya? Parah sih, musuh dalam selimut. Yaaah, tapi mau gimana lagi, demi cuan lo rela banget ya murahan," Cercanya tersenyum miring.
Serena melempar tas kecil kearah Desi. "Tuh uang muka lo yang udah gue janjikan kemarin." tunjuknya pada tas kecil itu. Desi langsung membuka tas tersebut dan menemukan banyak uang merah didalamnya.
"Sekarang lo harus buat Abryal putus dengan Cia. Terserahlah bagaimanapun caranya gue nggak peduli!" Titahnya meninggalkan Desi yang hanya diam memandang semua uang itu.
"Nggak Papa, demi Ayah. Ayah harus dapat operasi secepatnya," gumamnya menyakinkan apa yang dilakukannya ini adalah benar, walaupun dengan mengorbankan persahabatan mereka.
***
Cia melihat bayangan seseorang menuju kearahnya saat ia sedang mengikat tali sepatunya, kepalanya mendongak dan menatap datar kearah orang itu. "Ngapain lo sini?!" ketusnya
Serena tersenyum miring. "Nggak ada, gue mau liat lo keadaan lo." jawabnya asal.
"Hueek, jijik sialan. Nggak usah urus gue, urus aja diri lo sendiri." Cia berjalan meninggalkan Serena yang masih diam menatapnya.
"Kita liat saja nanti, permainan segera dimulai Cia."
Cia berjalan menyusuri lorong sekolah. Cuaca hari ini sangat-sangat menguji kesabaran manusia yang hanya setipis tisu kecuali manusia yang sudah terbiasa terpapar panas, justru santai bermain bola basket ditengah lapangan.
"Anjir panasnya nggak ngotak, AC kelas nggak dingin pula." gerutunya, langkah kakinya berhenti melihat seseorang yang tidak asing dimatanya tengah memainkan bola basket. "Tuh orang gila mana lagi yang main basket disiang bolong gini??"
"Suami lo Cia, mana pakai nanya." Timpal David langsung disambut tatapan tajam oleh Cia.
"Ngapa nggak sekalian pakai toa aja lo bocorin pernikahan gue," ketusnya membuat David tersadar dengan ucapannya barusan.
"Ops, gue lupa hehehe, sorry ya."
"Nggak, kalau yang lain dengar, lo bakalan berurusan dengan kak Al. Gue mah tinggal ngadu aja nanti sama dia."
"Mak, mentang-mentang dah ada pawang. Tuh Abryal keknya seliweran milih lo jadi istrinya." celotehnya lagi.
Cia kesal langsung memukul bahu David. "Diamlah!"
"Kalian ngapain?" tanya Abryal membuat keduanya terkejut kearahnya. Cia tertegun melihat Abryal terlihat bercucuran keringat.
"Cii!" panggil Abryal lagi namun siempunya nama terlihat bengong kearahnya. Abryal menatap tajam kearah David, membuat sahabatnya itu memasang tampang bingung.
Lah gue salah apa ya? gumam David dalam hati.
Abryal menjitak kepala Cia membuat gadis itu meringis pelan memegang keningnya. "Sakit woi!"
"Ya lo sendiri ngapain bengong huh? Kalian ngapain disini?" tanya Abryal lagi sambil membuka seragamnya meninggalkan kaos hitam yang masih melekat ditubuhnya.
"Kami ghibahin lo Al, ya kan Ci? Nih anak yang muali duluan Al, salahin aja dia." serunya menyenggol lengan Cia.
"Lah kok salah gue sih? Lo yang salah kak!"
"Lo!"
"Lo kak!"
"Lo!"
"Bisa diam?" Abryal menatap dingin kearah keduanya, lalu menarik tangan Cia ikut dengannya.
Cia memaki-maki dalam hatinya, banyak pasang mata melihat kearah mereka. Apalagi Abryal yang notabenenya Ketua OSIS yang sangat populer dikalangan para gadis. Namun, sejak pengumuman Cia adalah pacarnya, membuat sebagian fans Ketos itu tidak berminat lagi mengejar Abryal.
Abryal membuka pintu ruang OSIS nya dan menarik Cia masuk kedalam. Pria itu menghela napas kasar menatap Cia yang masih bengong melihatnya membuatnya tidak jadi marah dengan istrinya itu. "Jangan liatin gue kayak gitu kali."
"Apasih kak, ngapain narek-narek gue kayak tadi?" Keluhnya membuat Abryal terkekeh pelan.
"Kalian terlalu dekat."
"Ih, jangan bilang lo cemburu kak? Astaga!"
"Iya ngapa nggak suka lo kalau gue cemburu?"
Cia jadi salah tingkah sendiri, ia memalingkan wajahnya sambil menggaruk tengkuknya. "Gu-gue suka." Cicitnya membuat Abryal gemas lalu memeluk istrinya.
Napas Cia seketika terhenti, walaupun mereka sering berpelukan tetapi ia tetap saja gugup. Suaminya itu benar-benar tahu cara membuatnya mati kutu seperti ini. "Ka-kak, jangan peluk disekolah, ntar keciduk yang lain."
"Biarin, gue nggak peduli. Peluk lo buat gue nyaman Ci..."
"Lo iya enak terkenal bisa seenaknya. Kalau gue udah digebuk sama fans lo!"
"Nggak akan ada yang berani nyakitin lo sayang. Jadi jangan takut oke?"
Tok...tok...tok.
Deg.
Keduanya langsung menjauhi satu sama lain, Cia berdeham pelan sedangkan Abryal menggerutu kesal sambil berjalan membukakan pintu orang yang menganggu ketenangannya. "Siapa?"
"Ini gue!" seru Audrey sambil menenteng sandwich ditangannya. Ia langsung terkekeh pelan saat menyadari jika abangnya tidak sendiri melainkan berdua dengan kakak ipar menyebalkan itu. "Oh lagi berdua, ntar kepergok sama yang lain panik." Sindirnya membuat Cia memasang wajah masam.
"Diamlah."
"Idih galak banget, Bang kalau lo udah punya anak besok, jangan biarin deh keponakan gue sama emaknya. Bisa mati muda kasian," Ledeknya lagi.
"Anjiir, lo kira gue nggak becus jadi ibu? Lo liat aja nanti kalau gue udah punya anak, anak gue bangga punya orang tua kayak gue!"
"Yalah dalam mimpi," Ucapnya acuh tak acuh membaringkan badannya di sofa. "Oh iya, lo ngapain sih Ci kok sampai heboh satu sekolah?"
"Lo udah liat videonya?"
"Udah, tapi gue yakin itu bukan lo. Soalnya tubuh si cewek tuh kayak gitar spanyol, kalau lo kayak keripik kentang."
Bruuk.
"WOI SAKIIT SIALAN!" Bentaknya sambil mengelus kepalanya gara-gara dilempar kaleng oleh Cia.
"Kak liat adek lo tuh hah, ngeselin banget. Nih titisan iblis nggak suka kali gue senang!" Adu Cia menoleh kearah suaminya.
"Apa? Titisan iblis? Wah, lo kira gue kayak iblis huh? secantik ini dibilang iblis?"
"Iya ngapa? Nggak senang gue panggil titisan iblis?"
"Sialan nih anak, lo kayak keripik kentang nggak usah ngoceh!"
"Woi, enak banget lo ngomongnya!"
"Iya, iyalah. Lo nggak sih yang titisan iblis Ci, gue nggak!"
Abryal menghela napas kasar, melihat mereka berdua mulai berdebat itu artinya adu mulut sebentar lagi akan dimulai. Audrey dan Cia bagaikan kucing dan tikus saat mereka bertemu, dan berakhir jika sudah merasa lelah berdebat. Abryal memilih duduk dikursi kebesarannya sambil memasang headset dan membiarkan dua gadis itu adu mulut sampai lelah.
"Cih, Audrey sialan gue mau berduaan dengan Cia lo malah ganggu." gerutunya pelan sambil memejamkan matanya.
"Gue nggak terima lo bilang gue keripik kentang!"
"Gue juga nggak terima dibilang titisan iblis!"
"Lo kan emang titisan iblis!"
"Sialan, dasar lo keripik kentang letoy!"
"Ih sayang liat tuh!"
"Buahaha Abang gue kacangin lo, makan tuh sayang!"
Cia dongkol apalagi melihat sikap Abryal yang terlihat santai sambil merebahkan dirinya dikursi membuatnya merajuk meninggalkan ruang OSIS.
Braak.
"Buset, galak banget istri lo Al!" seru Audrey tertawa puas melihat wajah kesal Cia tadi. Langkah gadis itu mendekati abangnya, lalu ia mencabut paksa headset ditelinga abangnya.
"Apaaan?"
"Pertahankan pernikahan lo."
Dahi Abryal mengerut bingung. "Tanpa lo bilang gue nggak akan pernah menceraikan dia."
"Mama masih nggak setuju hubungan lo dengan Cia," jawab Audrey datar sambil mengingat-ingat ucapan Mamanya kemarin. "Cih, lo tau Mama minta lo disuruh temuin anak teman Mama buat jadi mantu. Gue udah liat orangnya gimana, gue ilfil liat dia." celotehnya panjang lebar.
Abryal menatap datar kearah Audrey. "Suruh dia nggak usah ikut campur urusan gue Au!"
"Gue udah bilang Al, tapi percuma. Mama nggak bakalan mau dengar kata gue,"
"Pokoknya gue udah kasih tau spoilernya, selebihnya urus sendiri masalah lo Al," ucapnya melangkah mendekati pintu.
"Oh iya, gue suka berteman dengan istri lo Al. Ada kawan debat kayak gini buat gue tertantang mengerjainya. Jadi jangan sampai nyerah!" serunya tersenyum evil sebelum menutup pintu ruangan Abangnya.
Tinggallah Abryal sendiri diruangannya. Ia berjalan mendekati jendelanya sambil memikirkan bagaimana menarik perhatian Mama agar mau merestui hubungannya dengan Cia. "Ck, menyebalkan!"