Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Nyaman



"CIAA!" panggil Mira melihat Cia dari kejauhan, namun si pemilik nama masih celingak-celinguk mencari sumber suaranya.


"Ck, masa dia nggak dengar??" gerutunya menghela napas, sedangkan Desi hanya terkekeh pelan.


"CIAA!" teriaknya lagi namun ya lagi-lagi Cia masih celingak-celinguk mencarinya.


"Anjir nih anak pagi dah buat gue emosi aja. Des, samperin lah tuh si Cia! Biar gue yang jagain barang kita disini." serunya kesal.


Desi menggeleng heran, gadis itu berlari kecil mendekati sahabatnya. "Ciaa!" panggil Desi membuat Cia menoleh kearahnya.


"Nah sini lo rupanya Des, gue cari-cari kalian nggak ketemu trus. Mana sih Mira?" tanyanya bingung melihat Desi hanya sendiri disana.


Desi menunjuk kearah Mira berdiri menatap jengkel kearah Cia. Sontak gadis itu terkekeh pelan. "Dia badmood ya?" tanyanya lagi.


"Bukan, dia kesal karna lo Ci, lo sih nggak dengar mulu pas dia manggil." serunya membuat Cia menggaruk tengkuknya tidak gatal.


"Hah iya? Gue nggak dengar hehehe. Ulululu sayangnya gue merajuk sekarang..." ledeknya berlari kearah Mira.


"Dah nampak gue kan?" ketus Mira sambil bersidekap dada.


"Iya...iya maaf. Astaga sensi betul lo hari ini."


Mira gemas, menoyor kepala Cia pelan. "Lo sih yang buat gue emo—" Mira tiba-tiba salah fokus kearah tangan Cia, tangan sahabatnya itu dihiasi inai bermotif bunga seperti pengantin baru menikah. Sontak ia mengangkat tangan Cia.


"Ini apa Ci?" tanyanya menyelidik membuat Cia membeku ditempat.


Deg.


"Eh, ini Inai yang biasanya orang nikahan gitu Mir. Kemarin gue hadirin nikahan kakak sepupu gue, gue ada liat gitu dia dipakaikan inai. Tuh karena cantik, gue mau jugalah." jelasnya panjang lebar. Moga Mira percaya omongan gue. gumamnya ketakutan dalam hatinya.


Mira mengangguk pelan. "Ooo kirain gue lo yang nikah Ci. Lo kalau nikah undang gue ya!" serunya menepuk bahu Cia pelan.


"Iya...iya." sahut Cia sambil menyeruput susu kotak miliknya. Maaf Mir, gue udah nikah. Gue masih bingung cara bilang ke lo sama Desi. Gue takut kalian bocor rahasia, walaupun kita sahabat tapi kalian masih orang baru buat gue. lirihnya dalam hati.


Trauma tentu masih melekat padanya, ia masih 1 bulan disekolah ini dan tidak ingin kejadian yang tidak mengenakan itu teruang lagi. Cukup hanya sampai di SMP saja, ia harus memikul gunjingan semuanya.


"Btw, kursi di bus kan dua orang. Lah kita bertiga gimana tuh?" tanya Desi membuat mereka saling melirik satu sama lain.


"iya juga ya, hmm gimana ya. Nggak mungkin kan satu orang kita tinggalin gitu aja sendiri. Des, lo mau duduk sama siapa?"


"Gue terserah aja sih. Kalau menurut lo gimana Ci?" tanyanya menoleh kearah Cia.


Cia tampak berpikir sejenak. "Hmm ya udah kalian berdua aja duduk. Gue sendiri."


"Mana bisa gitu Ci!" protes Desi dan Mira bersamaan membuat Cia terkekeh pelan.


"Perhatian sini semuanya!" seru anggota OSIS memanggil mereka untuk segera berkumpul. Cia mengajak kedua sahabatnya untuk mengambil barisan yang berada dibawah pohon, supaya tidak kepanasan. Tidak peduli jika anggota OSIS berkoar-koar meminta mereka untuk mengisi barisan kosong.


"Cicinya Al cepat isi barisan depan!" panggil David sekaligus meledek gadis itu hingga membuat Cia melotot kearah pria itu.


"Woi!"


"Cieee!!"


"Cih, dia lagi,dia lagi!"


"Caper banget tuh bocah!"


"Maju cepat woi!"


"Panas nih!"


Gara-gara omongan David, semuanya pada menyorot Cia yang masih santai berdiri dibawah pohon. "Emang sialan tuh kak David, ngapain juga bawa-bawa nama itu!" gerutunya kesal mengajak keduanya dengan terpaksa ke barisan depan.


Cia tidak hentinya menatap tajam kearah David yang telihat tertawa mengejek kearahnya. Namun, tidak lama ia langsung terdiam gara-gara dijitak kepalanya dari belakang oleh Abryal.


"Kalian udah pacaran?" tanya David penasaran. Abryal mengedik bahu lalu merampas microphone yang ada ditangan pria itu. "Halo selamat pagi semuanya!"


"Halooo!"


"Jadi mengingat acara ini menjunjung silahturahmi. Maka dari itu tempat duduk kalian di bus nanti, akan disesuaikan dengan nomor absen yang ada ditangan gue. Anggota OSIS akan men-share nomor absennya ke grup." ucapnya.


"Kak!" seru seseorang sambil mengangkat tangannya, Abryal menoleh dan mengangguk.


"Kenapa?"


"Maaf kak, ini tempat duduknya gabung kelas sepuluh sampai kelas dua belas?"


Abryal mengangguk. "Iya, silahkan kemasi barang kalian masuk kedalam bus. Pastikan tidak ada yang tertinggal disini, duduk sesuai dengan nomor absen yang tertera disana!"


"Baik kak!"


"Gilaa apa gue bisa duduk samping kak Al?!"


"Pastinya nggak lo sih, pasti gue!"


"Guelah!"


"Semoga aja gue duduk samping kak Al!" riuh mereka lagi, berharap bisa duduk disamping Abryal.


"Oh iya, sebelum kita pergi ada yang mau gue sampaikan ke kalian semua." ucapnya serius menatap satu persatu manusia didepannya ini termasuk istrinya yang terlihat unik dimatanya.


"Kalian harus menjaga sopan santun, jangan membuat kekacauan disana nanti. Jaga diri baik-baik, oke?"


"Oke kak!"


"Bagus, silahkan masuk kedalam bus masing-masing!" serunya membubarkan barisan.


"Eh ini woi!"


"Iya woi!" seru mereka heboh setelah mendapatkan notifikasi dari OSIS mereka terkait tempat duduk didalam bus. Semuanya mendesah kecewa, nama mereka tidak tercantum dalam orang beruntung duduk disamping Abryal.


***


Cia sesekali meniup poninya, ia sudah menduga bakalan duduk disamping suaminya. Penyusunan tempat duduk ini hanyalah formalitas, padahal rencana ini sudah disusun rapi oleh pria licik disebelahnya. Lihatlah banyak sorot mata memandang sinis kearahnya gara-gara menjadi orang beruntung yang bisa duduk disamping Abryal kesayangan mereka.


"Ya elah, lama-lama gue colok juga tuh mata. Melototi gue mulu." gerutunya pelan membuat Abryal terkekeh mendengar ocehan istrinya.


"Kenapa?"


"Kinipi? Yang buat masalah nggak sadar diri." ketusnya.


"Suka-suka gue dong, lo harusnya terima kasih, teman lo duduk disamping anggota OSIS juga." serunya sambil memasang headset bluetooth ditelinganya, lalu memberikan headset sebelahnya dipasangkan ditelinga istrinya.


"Eh lagu nih..." gumamnya menikmati lagu yang didengarnya. Beruntung, tidak ada yang mendengar obrolan mereka berdua.


"Suka? Baguslah." serunya lalu memejamkan matanya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.


Cia melirik kearah suaminya. Ia melihat alis Abryal yang begitu tebal, hidungnya yang mancung, dan bibirnya merah. Gila, benar-benar tampan. Cia mengagumi paras tampan Abryal. Walaupun pemandangan diluar bus lebih indah, tetapi ia begitu menikmati pemandangan disampingnya ini. Seakan-akan waktu terasa berhenti untuknya. Cia tersadar langsung menggeleng cepat menyadari khayalannya diluar nalar.


Bisa-bisanya gue terpesona sama wajah dia!


Jantung Cia berdetak kencang, dikala kepala Abryal malah jatuh tepat dibahunya membuat gadis itu membeku ditempat. Cia tersenyum tipis, ia melepaskan headset bluetooth ditelinga suaminya lalu memasangkan headset satu lagi pada telinganya. Ia membiarkan suaminya tidur bersandar dibahunya.


Tanpa gadis itu sadari jika pria itu tersenyum miring sambil memeluk lengan istrinya.


Yes, rencana gue berhasil.