
"Lo masih mikirin dia Ci?" tanya Audrey sedikit jengkel mengingat sosok Desi yang sempat menggemparkan berita sekolah. Cia berdecak pelan sambil mengambil dua botol minyak goreng dari rak.
"Ck, gue masih punya hati nurani bego!" kesalnya berjalan kedepan. Audrey memutar bola matanya malas, ia mendorong troli mendekat kearah Cia.
"Idih, udah dua bulan nggak ada kabar dia, kalian biasa aja."
Bruuuk.
Mira menghela napas setelah meletakkan beberapa kotak sereal didalam troli. "Ya Ampun kak, lo benar-benar nggak ada hati dah." gerutunya.
"Woi, nih seriusan beli sebanyak ini?" tanya Audrey malah beralih topik yang lain.
"Iya, buat camping kita, gue malas masak-masak."
"Njiir, masa iya camping nggak ada bakar-bakaran. Lo serba instan mulu Mir!"
Mira menatap malas kearah Audrey. "Heleh, heleh orang kita camping dirumah gue pun! Ngapain juga repot-repot masak!"
"Astaga, Ci nih sahabat lo butuh ruqyah deh. Masa iya, camping nggak ada bakar-bakaran, sekte mana lagi nih bocah??" kesalnya sambil mengambil sebungkus tisu.
"Biarin dah, atau gini aja. Kita tetap ada bakar-bakaran, kalau Mira malas masak ya udah kita aja yang masak. Gimana Mir setuju nggak?" tanya Cia mencari jalan tengah.
"Hmm ya udah deh." jawab Mira pasrah.
"Nah gitu dong, emanglah Cici kakak ipar gue terbaik! Nah balikin sono sereal yang lo ambil!" suruh Audrey dengan malas Mira mengambil sereal yang ia bawa tadi diletakkan kembali ke tempat semula.
"Apalagi yang kurang?" tanya Audrey sambil memeriksa belanjaan mereka.
"Hmm kecap? Udah diambil belum?" tanya Cia sambil melihat list belanja mereka.
"Udah,"
"Garam halus?"
"Udah,"
"Merica?"
"Udah, dah...dah semua!" jawab Audrey asal. "Yok jajan minuman, gue haus banget!"
"Idih, baru bentar kak kita belanja, udah ngeluh aja!"
"Heleh, lo kira dorong troli nih nggak butuh tenaga apa? Manalagi banyak banget yang mau kita beli."
"Ya ampun kak, ikhlas dong. Tadi lo sendiri yang merengek-rengek minta ikut,"
"Ck, dikiranya gue bocil apa tantrum gitu." gerutunya tidak terima dikatakan bocah. Walaupun sebenarnya memang benar, tadi Audrey mengunjungi rumah Cia dan Abryal. Kebetulan saat itu Cia hendak belanja ke Swayalan bersama Mira. Audrey langsung meminta ikut dan berakhirlah disini semuanya.
"Abryal nggak ikut?" tanya Audrey lagi menyadari abangnya tidak berada disisi Cia.
"Nggak, dia mau ngurus untuk kuliah sama David. Ngapain nanya suami gue?" tanyanya menyelidik.
"Oi, gue nggak ada bermaksud apa-apa ya, lagian dia Abang gue juga!" kesalnya dituduh tidak-tidak. Sedangkan Mira hanya diam menyimak perdebatan mereka. Mira akhirnya tahu seluk beluk keluarga Cia dan mengetahui jika Audrey adalah adiknya Abryal walaupun beda Ayah.
"Yalah, emangnya lo mau beli minum apa kak?" tanya Cia lagi setelah mereka membayar belanjaan mereka.
"Hmm, minuman coklat lah, gue lagi doyan."
"Cih, gue lagi diet kak. Parah sih, lo ngajak gue ketempat gagal diet!" gerutu Cia memegang perutnya yang terlihat sedikit buncit. Akhir-akhir ini ia doyan makan banyak dari biasanya.
"Hamil lo?" tanya Audrey membuat Cia terdiam.
"Ahahahaha, nggak mungkin. Gue masih sekolah juga kak, lagian baru naik kelas 12." jawabnya walaupun sedikit ragu. Memang tidak terasa jika saat ini Audrey, David, Abryal dan teman angkatan mereka, kemarin sudah lulus dari sekolah tersebut. Setelah melewati berbagai tes ujian akhirnya terselesaikan semua. Bahkan Abryal dan David lulus di kampus dan jurusan yang sama. Sedangkan Audrey memang dikampus yang sama dengan mereka, tetapi dengan jurusan yang berbeda.
"Lo ragu-ragu jawabnya Ci, jujur kalian udah—"
"Stop! Stop jangan bicarakan itu depan gue! Astaga, kalau emang Cia hamil Alhamdulillah, tapi kalau nggak ya udah tandanya dia bahagia makanya doyan makan!" gerutu Mira berjalan duluan meninggalkan mereka.
"Lah ngapain dia yang marah?" Audrey menatap bingung kearah Mira.
"Paling lagi PMS," jawab Cia membawa belanjaan mereka ke mobil.
"Lo benaran hamil kan Ci?"
"Entahlah," jawab Cia ambigu.
Abryal baru saja selesai dengan urusannya, begitu juga dengan David. Tetapi, pria itu pamit terlebih dahulu lantaran ada urusan keluarga. Abryal tidak langsung pulang, ia pergi ke mini market untuk membeli minuman dingin.
"Kamu disini ternyata."
Deg.
Abryal menoleh kearah orang itu, ia terkejut melihat Shaka—Papa tirinya berada disini. "Om?"
"Hmm, kamu ada waktu?"
Abryal melirik jam tangannya, lalu mengangguk. "Kenapa?"
"Ada yang mau saya bicarakan, kita duduk di cafe sana, sekalian saya traktir kopi."
"Terserah aja," jawab Abryal singkat membayar minumannya di Kasir lalu mengikuti Shaka dari belakang.
"Apa yang mau Anda bicarakan?" tanyanya to do point. Shaka menghela napas pelan, pemuda satu ini apa tidak ingin basa-basi dulu?
"Kamu masih dingin seperti pertama kali kita ketemu. Apa kamu masih marah sama Mama kamu?" tanyanya penasaran.
"Kalau Om masih membahas wanita itu, aku pergi aja." Abryal hendak beranjak, namun ia tertegun saat melihat berkas yang ditunjukkan Shaka.
Abryal masih diam, membiarkan pria baya yang satu itu menjelaskan maksud dari berkas cokelat yang ia sodorkan padanya.
"Apa kamu tidak ingin tau siapa ayah kandungmu sebenarnya?"
Abryal tergelak, buat apa ia mengetahui pria brengsek itu sedangkan pria yang ia sama sekali tidak tahu wajahnya saja, tidak memperdulikan darah dagingnya sendiri. "Nggak perlu, tau tentang dia aja ini hanya mengorek masa kelam. Sekarang aku sudah bahagia Om, tolong jangan usik lagi. Oh, ya satu lagi, tolong jaga wanita itu. Walaupun aku masih belum memaafkannya setidaknya aku berterimakasih karena dia memilih untuk melahirkanku." ucap Abryal benar-benar pergi dari pandangan Shaka.
"Huft, dia benar-benar keras kepala..."
Mood Abryal mendadak buruk, padahal tadi ia baik-baik saja. Ia kesal dan marah, dan yang ia butuhkan saat ini adalah Cia. Buru-buru ia berlari ke mobil dan menancap gas melaju ke tempat istrinya berada. Tanpa perlu di telepon pun ia mengetahui lokasi istrinya saat ini, karena ia diam-diam memasang GPS di ponsel Cia. "I Miss you, babe."
Dengan kecepatan tinggi, tidak membutuhkan lama akhirnya ia sampai di titik lokasi tempat istrinya berada. Baru saja keluar dari mobil, ia dikejutkan dengan suara tabrakan.
Braaak.
Pikirannya langsung kalut dan berlari kearah suara itu. "Semoga bukan dia, semoga bukan dia!" Panik, Abryal bahkan lupa membawa ponselnya. Ia menerobos kerumunan yang menghalanginya. Abryal terus berharap jika korban kecelakaan itu bukan istrinya.
Deg.
Abryal memicingkan matanya melihat wajah korban, ia langsung bernapas lega jika korban itu bukanlah Cia. Matanya langsung tertuju pada seorang gadis yang hanya berdiri diam melihat korban itu. Abryal menyakini jika itu adalah Cia.
"Cici!"
Cia menoleh, matanya terlihat berkaca-kaca. "Ka-kak..."
"Gue disini, lo baik-baik aja kan?" tanyanya khawatir sambil menelisik seluruh tubuh Cia. Cia mengangguk, tubuhnya gemetaran.
"Kak, o-orang itu kecelakaan depan gue." Lirihnya.
"Siapa dia?"
"Ng-nggak tau, gue syok kak. Baru kali ini gu-gue liat orang kecelakaan depan mata gue."
"Huft, sudah...sudah. Orang itu pasti selamat, dia sudah ditangani yang ahli. Kita duduk dulu ya?"
Cia mengangguk pelan, mengikuti suaminya ke tempat duduk. "Lo kok sendiri disini? Mana yang lain?" tanya Abryal saat mereka sudah mendapatkan bangku.
"Mereka beli eskrim, gue capek banget ngikuti mereka. Ya udah gue nitip, eh taunya gue malah liat orang kecelakaan." Jelasnya.
"Syukurlah..."
Cia mengerut keningnya. "Loh kok bersyukur kak? Masa iya orang kecelakaan kita bersyukur sih?!" gerutunya membuat Abryal kelabakan.
"Eh, maksud gue. Gus bersyukur yang kecelakaan tadi bukan lo, lo udah buat gue panik."
Cia tertegun, lalu menatap seksama wajah suaminya. "Lo nangis kak?"
Abryal mengerut dahinya bingung. "Nangis?"
Cia langsung memeluk suaminya, ia bahkan mengelus punggung Abryal dengan lembut. "Ada gue disini, cup...cup kesayangan gue jangan nangis ya. Gue baik-baik aja kok."