
Wajah tegap Reighan menatap datar kearah putranya. "Alasannya simpel, karena kehadiran Mama kamu tidak diterima di keluarga Papa." tuturnya membuat Abryal mengepal tangannya kuat.
"Bukannya itu tindakan bodoh? Berani berbuat tetapi tidak bertanggung jawab. Apa Anda tau bagaimana dia dengan seenaknya menelantarkan ku yang baru usia 2 tahun?! Huh, kalian sama aja, kalau kalian tidak menginginkanku, mending jangan buat aku terlahir di dunia ini!" Kesal, sesak, bercampur menjadi satu. Abryal mengajak Cia pergi dari sana.
Reighan hanya diam, ternyata kelakuan bodohnya membuat luka dalam diperasaan anaknya. Ia juga tidak menyangka jika Laila, menelantarkan putranya juga. "Huft, andaikan waktu bisa diputar. Maaf Papa melakukan tindakan bodoh tanpa mikir efek kedepannya." lirihnya hanya bisa ia dengar sendiri, lantaran Cia dan Abryal sudah menjauh dari pandangannya.
Abryal langsung memeluk istrinya, tidak peduli banyak pasang mata melirik kearah mereka. Yang ia butuhkan adalah tempatnya pulang, tempatnya bersandar. Cia lah yang memenuhi semua itu. "Maaf, gue terlalu terbawa emosi." Cia tersenyum mengelus punggung suaminya, ternyata menjadi Abryal juga berat.
***
Cia akui kemarin bukan menikmati liburan tapi nyatanya malah bertemu dengan sesuatu yang tidak terduga. Gara-gara itu, Abryal berulang kali meminta maaf hingga membuat gadis itu jengah setiap menjawab permintaan maaf suaminya itu.
"Kak, tenang gue baik-baik aja. Lo nggak perlu nyesel, sekali lagi lo minta maaf nih panci mendarat dimuka lo!" geramnya menghela napas kasar, ia memasak nasi goreng untuk sarapan pagi mereka sebelum beraktivitas masing-masing.
Abryal ada urusan perusahaan dengan Nenek Lara sedangkan dirinya harus pergi ke sekolah. Mereka menikmati sarapan lalu bersiap-siap pergi. Tatapan Abryal masih lesu menatapnya membuat Cia begitu gemas dengan suaminya.
"Huft, nanti malam kita kencan sebagai ganti liburan yang kemarin. Puas kak?"
Abryal hendak protes langsung dibungkam Cia. "Ini bukan salah lo kak, bagus lo udah tau bokap lo siapa, yang berlalu biarlah berlalu. Kita fokus kedepan, kita masih bisa jalan-jalan lagi." Ocehnya panjang lebar membuat Abryal tersenyum tipis padanya.
"Makasih sayang."
Cia tersenyum, ia memeluk erat suaminya. Suaminya pun tak kalah erat memeluknya. Mereka berdua berangkat bersama, Abryal mengantarkan Cia terlebih dahulu ke sekolah. "Huft, nggak terasa aja gue udah tamat dari sekolah nih. Gue masih ingat waktu lo telat,"
"Cih, waktu itu gue kesel banget sama lo kak. Bisa-bisanya nyuruh orang lari tengah hujan. Nggak gila tuh, untung ketua OSIS yang sekarang baik."
"Idih, lebih nggak nyangka lagi lo yang jadi ketua OSISnya sekarang Cia. Waktu lo ngajuin diri tuh, gue nggak habis pikir nih anak kesambet apa. Tapi, ya udah mungkin lo mau rasain menjabat posisi gue, baguslah gue senang." ucapnya mencubit gemas pipi istrinya.
"Hihihi, udah ya gue mau masuk nih. Masa iya ketua OSIS telat. Assalamualaikum kak, hati-hati dijalan!" pamitnya mencium tangan Abryal, Abryal mencium kening Cia. Keduanya saling menatap dan tersenyum. Cia turun dari mobil, melambaikan tangannya pada Abryal. Lalu pandangannya tertuju pada anggotanya berlari kearahnya.
"Ada apa?"
"Kak, barusan Bu Yasmin bilang ada tamu yang datang mendadak."
"Itu, gubernur kak. Beliau ingin menyapa kita karena juara olimpiade mengharumkan sekolah." serunya membuat Cia menepuk jidatnya pelan.
"Huft, nih orang suka banget dah mendadak. Ya udah kita bagi tugas!" serunya membagi tugas untuk anggotanya. Mereka mengangguk paham dengan tugas mereka, lalu melaksanakannya dengan cekatan.
Cia menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 7. Ia menunggu mangsa para siswa-siswa yang terlambat untuk dihukum. Untuk bagian ini, Cia tidak ingin orang lain menggantikan posisinya, karena ia sangat suka menguji kesabaran orang lain. Ada suatu kesenangan sendiri melihat orang lain menderita karenanya. Eh, tapi tidak berlebihan masih dalam tahap wajar kok.
Senyumnya seringai melihat beberapa temannya terlihat terlambat. Dengan tegas ia langsung menghukum mereka.
"Kalian telat, buahahaha saatnya dihukum!" serunya tertawa licik membuat mereka bergidik ngeri. Memang, ketua OSIS yang tahun ini sedikit lain perangainya. Walaupun begitu, Cia sosok siswi yang dihormati sekaligus ditakuti. Apalagi, banyak medali yang dimenangkannya tentu membuat sekolah full senyum.
Mengenai Serena, itu sudah diatasi Cia sejak awal menjabat. Tidak ingin ada benalu disekolah ini, ia membuat Serena lepas kendali dan menunjukkan sifat aslinya pada semua orang. Alhasil, Serena dikeluarkan dari sekolah.
"Cia!" seru Mira berlari kearah Cia.
"Mira!" pekiknya semangat berputar-putar dengan Mira. Pemandangan itu sudah tidak asing lagi disekolah itu. Kedua manusia prik itu berputar-putar sambil tertawa lebar, seolah tidak ingat lagi jika mereka sudah menduduki kelas 12.
"Kak, hukumannya udah belum?"
Cia menoleh kesal kearah adik kelasnya itu. "Belumlah, kali ini apa lagi alasan lo telat hm?"
"Ngantar nyokap ke Pasar dulu kak, nggak mungkin kan gue biarin nyokap jalan kaki. Please, kasih gue kesempatan untuk duduk dong kak, capek gue push-up terus!" keluhnya membuat Cia memutar bola matanya jengah.
"Makanya jangan telat. Gue nggak ada terima alasan, mau kalian telat karna berak dulu lah, mau kalian antar ini-itu. Kalau udah jam 7 telat ya telat, paham?"
"Lo juga Ziyad, ngapain sering telat sih?!" kesalnya melihat Ziyad, adik baru kelasnya itu.
"Gue bergadang." jawabnya singkat dan selalu jawabannya itu setiap ditanya.
"Serah deh, lo berurusan sama guru BK aja ya. Capek gue ngurusnya." ucapnya mengawasi yang lain. Sementara Mira—menjabat menjadi wakil ketua OSIS juga ikut andil menghukum mereka.
***
Abryal baru saja sampai di Perusahaan Nenek Lara. Kini langkah kakinya menuju lift, siapa sangka ia malah bertemu dengan orang yang tidak ingin ia temui. Siapa lagi kalau bukan Laila, ibu kandungnya sendiri.
"Abryal..." sapanya senang melihat putranya juga ada disana.
Abryal mengangguk pelan, mereka berdua masuk kedalam lift yang sama. Hanya keheningan yang menyelimuti keduanya. Sampai lift terbuka, barulah Laila memecahkan keheningannya.
"Kamu masih marah sama Mama?"
Abryal terdiam, lalu menatap datar kearah wanita yang telah melahirkannya. "Menurut Anda gimana?" tanyanya balik.
Laila geram. "Bisa nggak kamu jangan panggil Anda, Anda sama Mama. Aku ini Mama kamu, Abryal!"
"Iya aku tau, Anda Mamaku." jawabnya singkat, ia langsung berjalan menuju ruangan Nenek Lara. Ia juga bimbang, apakah dirinya harus menerima kehadiran Mamanya sementara Laila terlihat belum menerima kehadiran Cia.
"Abryal!" panggilnya lagi.
Abryal menghela napas kasar, lalu berbalik badan menatap Mamanya. "Apa Mama masih belum menerima kehadiran Cia?"
Pertanyaan itu lagi, membuat Laila muak. Ia cemburu, bagaimana Cia merebut semua perhatian Abryal untuk gadis itu. Ia ingin Abryal mengakui keberadaannya juga penting.