Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Minta Izin



Semua siswa berkumpul dilapangan berkat pengumuman mendadak dari anggota OSIS. Mereka bingung mengapa harus berkumpul disini semuanya.


"Ci, ngapain kita ngumpul ya?" tanya Desi sambil merapikan barisannya disamping Cia.


"Nggak tau, gue bukan anggota OSIS hehehe,"


"Paling razia lagi nih." gerutu Mira sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas elektronik ditangannya.


"Razia apa lagi? Kan udah minggu kemarin hape kita diambil semua. Apalagi sekarang?"


"Baik, perhatikan kesini semuanya!" seru David di depan membuat mereka langsung menoleh kearah pria tampan itu. Banyak yang bersorak dan menggoda pria itu, David hanya membalas senyuman. Beda dengan Abryal, semua orang langsung menunduk ketakutan melihat tatapan elangnya yang tajam.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi semuanya!" seru David membuka acara.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi kak!" seru mereka kompak.


"Gimana lagi hari ini? Udah sarapan belum?" tanyanya lagi.


"Udah kak!"


"Belum!"


"Belikan makanan kak!"


"Traktir kak!"


"Belum woi!"


"Waduh, sudah...sudah, oke tolong diam ya!"


Semuanya diam menuruti David. "Jadi, hari ini kami semua mengumpulkan kalian semua karena ada sesuatu hal yang penting yang akan disampaikan ketos kita. Jadi tolong simak baik-baik ya," serunya langsung disambut riuh oleh mereka.


"Anjir ada kak Al."


"Yey liat kak Al kita!"


"Muka gue nggak burukkan?"


"Gigi gue nggak ada cabe kan cuy? Malu gue kalau senyum nanti."


"Ehem." suara bariton Abryal membuat semuanya langsung terdiam dan berbaris yang rapi. Pria itu menyibak rambutnya lalu memasang topi hitamnya.


Matanya melirik satu persatu dari mereka hingga tertuju pada gadis itu. Ia tersenyum miring pada Cia, sedangkan gadis itu langsung mengangkat jari tengahnya kearah Abryal.


"Cia astaga!" panik Mira menurunkan tangan Cia. Ya ampun, ia lupa kalau gadis disebelahnya ini bukanlah gadis yang anggun pada umumnya.


Abryal memutar bola matanya malas kearah gadis itu, lalu mengambil microphone dari tangan David. "Assalamualaikum semuanya!"


"Wa'alaikumsalam kak Al!" seru mereka bersemangat. David menggeleng heran melihat kelakuan mereka terlalu mengagungkan pria ini, beda hal dengan Cia. Ia akan memberikan apresiasi pada gadis itu atas keberaniannya.


"Baik, langsung saja kita masuk topik utamanya. Kami sengaja mengumpulkan kalian disini karena kita dua hari lagi, sekolah kita akan mengadakan kunjungan keluar kota!"


"HOREEE!" teriak mereka heboh, sedangkan Mira dan Desi langsung saling menoleh tersenyum senang, tetapi tidak dengan sahabat mereka yang satu itu membuat mereka berdua penasaran.


"Lo nggak senang Ci?" tanya Mira hati-hati.


Cia menghela napas pelan. "Mendadak kali, kalau kayak gini belum tentu orang tua gue bakalan ngizinin gue pergi." ucapnya lemas. Ia tahu susah sekali mendapatkan izin kedua orang tuanya sejak kejadian itu.


Ia jadi kesulitan untuk pergi keluar, apalagi malam-malam. Contohnya saat perpisahan SMP nya dulu mengadakan perpisahan diluar kota, sayangnya Cia tidak bisa ikut karena kedua orang tuanya melarangnya.


Cia hanya bisa diam menuruti mereka, ia pun sudah berjanji tidak akan membangkang sejak kejadian itu. Padahal dirinya ingin sekali ikut kegiatan ini, tetapi ia harus bisa apa, karena jawaban orang tuanya sudah pasti tidak.


"Gue yakin boleh kok Ci, asalkan ada surat resmi dari sekolah. Gue yakin dibolehin kok." ucap Desi menenangkan Cia, Cia tersenyum tipis.


"Tapi gue nggak yakin we, gue takut ekpektasi gue tinggi eh rupanya gue tetap nggak diizinkan."


"Gimana kalau minta kak Al aja yang izinin ke orang tua lo?" usul Mira membuat Cia langsung melotot kearahnya.


"Idih gila aja lo, yang ada gue dicurigai. Orang tua gue sekarang sensitif kalau gue bahas cowok. Huft, keknya memang nggak bisa deh gue ikut. Kalian aja yang pergi, gue nggak papa kok." sahut gadis itu tersenyum tipis.


"Lo jangan kek gitu Ci, gue ikutan sedih jadinya. Atau kita-kita aja yang izin ke nyokap lo gimana?" usul Mira lagi.


"Iya benar tuh, nggak mungkin kan kita pergi tanpa lo Ci, nggak asyik nanti, nggak ada pertunjukan antara lo sama kak Al, hehehe." cengir Desi.


"Iyalah kami senang, cuma lo sendiri sih yang berani sama kak Al. Yang lainnya malah cuma diam nun—," oceh Mira langsung terdiam saat semua pandang kearah mereka semua.


"Yang disitu bisa diam sebentar?" seru Abryal membuat Mira langsung tertunduk sedangkan Cia menatap malas kearah Abryal sambil melipat tangannya didada.


Tiba-tiba ia teringat dengan perkataan abangnya untuk mengatakan terimakasih pada pria itu. Jangankan bilang makasih, ia saja tidak mau bertemu pria itu lagi sekarang. Karena apa? Karena hari itu, setiap melihat mata elang pria itu jantungnya pasti berdegup kencang tidak karuan.


Abryal tersenyum smirk, gadis itu memang beda dan unik. "Untuk suratnya anggota OSIS akan membagikannya pada semua kelas, dan persiapkan diri kalian semuanya. Ada pertanyaan?"


Cia langsung mengacungkan tangan membuat semuanya langsung menoleh kearahnya lagi.


"Cih, dia nih mau caper."


"Dia lagi...dia lagi."


"Tulah, dia sok-sokan dekat dengan kak Al."


"Anak baru mah gitu."


Cia memutar bola matanya malas, biarlah mereka menggonggong sepuasnya. Ia juga tidak peduli dengan mereka.


"Apa yang mau lo tanyain?" tanya Abryal lagi.


Astaga suaranya buat gue merinding sendiri. gumamnya pelan dalam hati.


"Permisi kak, izin tanya. Kalau misalnya nggak dibolehin orang tua gimana kak? Masalahnya ini terlalu mendadak kali pengumumannya?" tanya Cia membuat Abryal mengangguk mengerti.


"Elah anak manja banget."


"Yang lain aja nggak ada mempermasalahkan itu, tuh cewek ribet amat dah."


"Jangan sampai karna dia, kegiatan nih batal."


"Syirik banget jadi orang!" cercanya menoleh tajam kearah siswa disebelahnya yang menatapnya sinis.


"Ya lo tuh ngeselin banget!"


"Iya betul."


"UDAH!" Semuanya terdiam lagi, Abryal menghela napas sambil menoleh kearah Cia.


"Surat resmi entar gue bagikan," jawabnya.


"Kalau orang tua gue nggak bolehin juga?"


"Ya udah lo nggak usah ikutan, payah banget!" cerca Serena jengkel.


"Idih gue nggak ngomong sama lo penyok!" sarkasnya menatap lagi kearab Abryal.


"Apa lo bilang?! Anak baru sok-sok!"


"Biar gue yang izin langsung sama orang tua lo."


Deg.


"APA??" sorak mereka syok mendengar ucapan Abryal barusan, begitu juga dengan David


Jantung Cia semakin berdetak kencang, padahal perkataan pria itu hanyalah biasa saja. Namun, entah mengapa bisa membuat seolah-olah kupu-kupu menjelajahi perutnya.


"Gila Ciii!" pekik Mira memukul bahu Cia gemas.


Cia hanya terdiam menatap kearah pria itu. Begitu juga dengan Abryal. Pria itu tersenyum samar, lalu memberikan microphone pada David. Ia melangkah memasuki barisan mereka dan berhenti tepat dihadapan Cia.


"Apa gue harus kerumah lo izinnya?" tanyanya sambil tersenyum penuh arti membuat dirinya menatap tajam kearah pria itu.


"Hah?"


"Oke, gue kerumah lo nanti ya Cici..." seru pria itu menyebut namanya dengan penuh tekanan lalu meninggalkan dirinya yang terbengong ditempat.


Semuanya memekik heboh, bukan hanya pria itu dengan secara khusus membantu Cia izin pada orang tuanya melainkan panggilan lelaki itu barusan.


Cowok gila, bisa-bisanya lo manggil gue dengan nama itu dihadapan semua orang?!"