
"Alasannya..."Sengaja Abryal menggantung kalimatnya, ia ingin melihat reaksi gadis itu. "Nggak ada," jawabnya puas tertawa, langsung kabur dari kamar sebelum gadis itu melontarkan umpatannya.
"Abryal sialan!" gerutunya jengkel sambil meniup poni rambutnya yang sempat menghalangi matanya. Tanpa sengaja kakinya menendang meja riasnya. "Aw!" ringisnya memegang jempol kakinya.
"Ehem anu kak..."
Deg.
Astaga bagaimana ia bisa melupakan jika penata rias itu masih berada dikamarnya, itu artinya gadis ini melihat perdebatan antara dirinya dan Abryal? Konyol sekali.
"Hm kak, maaf aku izin keluar dulu ya hehehe..." Pamit gadis itu buru-buru membereskan alatnya dan keluar dari kamar Cia. Cia hanya melongo melihat tingkahnya lalu memandang kearah cermin. "Gue sudah gila nerima dia jadi suami gue." lirihnya sambil memijit keningnya.
***
Suasana pagi itu terlihat khidmat yang hanya dihadiri kedua keluarga inti mereka, mengingat mereka berdua ini menikah secara mendadak. Belum lagi perdebatan antara Mama dan Papanya perihal ini. Tentu saja, Mama Deva cemas sekaligus takut jika keputusan putrinya salah. Bukan maksud tidak merestui hubungan keduanya, hanya saja ini terlalu cepat baginya untuk melepaskan Cia setelah menikah nanti.
Namun akhirnya, masalah terselesaikan dengan baik karena Nenek Lara menjelaskan secara detail semuanya. Abryal mengacungkan jempol kearah neneknya dengan bangga.
Cia begitu merinding mendengar suara lantang Abryal mengucapkan ijab qabul sambil berjabat tangan dengan Papanya sendiri. Tidak pernah terlintas dikepalanya akan merasakan ini dalam waktu dekat, padahal goal nikah yang ia inginkan pada usianya 24 tahun. Gila, gue baru 19 dah nikah aja.
"Sah!"
Deg. Cia tersadar dari lamunannya, ia celingak-celinguk melihat semua orang tengah mengadahkan tangan sambil membaca doa yang baik untuk pernikahannya barusan. Seketika tangannya terasa dingin dan gugup, ia mendongak menatap pria itu yang kini menatapnya dengan senyuman.
"Gue udah nikah?" gumamnya pelan. Cia benar-benar tidak percaya jika dirinya sudah menjadi istri Abryal. Sampai-sampai ia tidak menyadari jika suaminya sudah berdiri dihadapannya.
"Cici," panggilnya.
Deg.
Cia mendongak lalu membuang muka. Sumpah demi apapun ia masih belum sanggup melihat wajah Abryal yang terlihat beda dimatanya hari ini. Rasanya ia ingin pergi saja dari sini dan datang kesekolah seperti biasanya. Ngomong-ngomong soal sekolah, ternyata Abryal sudah menyiapkan surat izinnya tanpa sepengetahuan Cia. Dia benar-benar gila.
"A-apa?" Cici hanya menunduk, ia memegang tangan Azlan yang duduk disampingnya. Abryal tertawa pelan, gadis pecicilan ini malah mendadak jadi gadis pemalu. Ia menoleh kearah mertuanya yang tengah menatap mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Cici, salam suami kamu nak." seru Mama Deva berjalan kearah Cia. Cia menoleh kearah Mamanya dengan tatapan tidak percaya. Ia juga tidak menyangka Mamanya juga menerima lamaran ini dengan mudah. Menyiapkan acara ini dengan mendadak, membuat Cia begitu takjub dengan kemampuan orang tuanya. Seperti tidak ada hambatan untuk pernikahan ini tetap berjalan dengan lancar jaya.
Cia menghela napas, ia meraih tangan Abryal dan menyalaminya. Astaga, jantungnya rasa mau copot, kakinya saja tidak mampu menahan bobot tubuhnya.
"Lo gugup Ci?" tanya Abryal meledek istrinya.
Cia menatap tajam. Iyalah bego, malah nanya lagi! Sumpah kak, jangan natap gue kayak gitu! Gerutunya dalam hati.
Abryal tertawa lagi, sepertinya kedepannya akan lebih menyenangkan untuk menjahili istrinya. Pria itu menipiskan jaraknya dengan Cia, menatap lekat wajah ayu itu yang kini sudah menjadi miliknya secara halal.
"Cici gugup banget ya..."
"Gue baru kali ini liat muka lo kalem cuy," seru sepupu Cia yang lain. Mereka malah ikutan meledeknya.
"Yuhuu Cici masih sekolah tapi udah sold out!"
"Anjir, lo kira gue barang apa??" gerutunya memukul bahu sepupu lucnutnya. Walaupun sudah menikah tetapi sifat bar-bar nya masih melekat pada gadis itu.
"Woi kalem! Kalem! Lo udah nikah kak Ci!"
"Diamlah kalian, gue dibully muluk disini."
"Lah kok merajuk??"
"Udah...udah, jangan ganggu Cia lagi. Cicinya gue bawa ya, Ma...Pa Kami ke kamar dulu ya. Nenek, mau Al antar ke kamar?" pamit Abryal pada kedua mertuanya lalu menoleh kearah Neneknya.
"Nggak...nggak, Nenek masih mau main catur sama Pak Kasim." sahut Nenek Lara sambil memainkan catur bersama dengan Kakeknya Cia.
"Okeey." seru Abryal menarik tangan Cia menuju kamar. Semuanya hanya menggeleng heran melihat pengantin baru itu.
Cia semakin ketar-ketir, kenapa pria ini begitu semangat mengajaknya ke kamar? Apa dia tidak tahu jantungnya ini tengah berdisko. Tangan Abryal terasa hangat dan nyaman dalam genggaman pria itu. Ia merasa seperti dilindungi.
"Aw." ringisnya saat high heelsnya lepas. Maklumlah, baru pertama kali menggunakan benda sialan itu. Baginya, sangat merepotkan dan susah berjalan, lebih baik menggunakan sepatu boots atau sepatu sneakers.
Abryal menghentikan langkahnya, ia berbalik badan menatap istrinya sambil memegang kakinya yang terlihat merah. "Kenapa?"
Cia mendongak kesal. "Nangkap kodok kak, ya terkilirlah!"
"Kenapa nggak pakai sepatu aja kalau nggak pandai pakai high heels?"
"Kalau boleh udah dari tadi kak gue makai sendal. Cih, mending gue nyeker ajalah." gerutunya melepaskan high heels nya dan berusaha berdiri sambil memegang Abryal.
Abryal menghela napas, tanpa basa-basi ia langsung menggendong istrinya ala bridal style menuju kamarnya. Cia hampir saja memekik gara-gara tindakan suaminya itu.
Sampai dikamar, dengan hati-hati ia membaringkan istrinya dikasur. Pria itu melihat pergelangan kaki Cia yang tampak memerah. "Cih, lain kali kalau nggak terbiasa makai kek gini, nggak usah dipakai." ledeknya sambil melepaskan dasinya.
Cia mencebik. "Gue terpaksa pakai ini. Lagian Mama suruh tadi, huft..."
"Ooo..." serunya melirik sekeliling kamar. "Jadi kayak gini ya kamar lo Ci," ucapnya berjalan menuju meja belajar istrinya itu. Disitu banyak buku-buku yang berserakan, banyak sampah botol minuman kaleng, dan sampah makanan pun masih setia di meja belajarnya.
Abryal menggeleng heran, kelakuan istrinya benar-benar luar biasa. "Ci...ini kenapa nggak diberesin?"
"Bentar lagi kak, letak aja situ. Nanti gue bereskan semuanya." seru Cia menghidupkan televisi di kamarnya. Abryal menghela napas pelan, ia melangkahkan kakinya mendekati istrinya dan merebut remote yang ada ditangan gadis itu.
"Kak!"
"Bereskan dulu, kalau nggak, nggak boleh nonton." pintanya.
Cia menggerutu kesal, gadis itu memukul berkali-kali kasur sebagai unjuk protesnya. Tetapi, pria itu acuh tak acuh, ia melangkah menuju kamar mandi sambil membawa remote ditangannya sambil mengulum senyum puas.
"Ck, nggak asik banget!" gerutunya jengkel menoleh kearah meja belajarnya.
"Malas banget sumpah."
***
Cia meniup poninya berkali-kali, berjalan dibelakang Abryal yang sibuk mengutak-atik ponselnya. Hari ini, mereka akan berangkat keluar kota sesuai dengan acara yang sudah disusun oleh OSIS mereka. Walaupun menjengkelkan melihat Abryal tadi malam yang terus menyuruhnya menyiapkan barang, tetapi tidak dipungkiri jika dirinya begitu bahagia akhirnya bisa pergi keluar kota tanpa dilarang kedua orang tuanya. Mungkin disisi lain, ia harusnya mengucapkan terimakasih pada pria didepannya ini, tetapi disisi lain ia ingin mengumpat kasar karena berani-beraninya mengambil keputusan gila ini. Lebih anehnya, ia tetap menerima lamaran pria itu tanpa berpikir panjang.
Cia lo terlalu gegabah kemarin, nasi udah jadi bubur, lo nggak bakalan bebas dari cowok nih. gumamnya dalam hati sambil melihat punggung lebar Abryal, suaminya.
Suami? Buahaha kok bisa?! gumamnya masih tidak percaya dengan statusnya sekarang.
"Gila lo?" tanya Abryal heran melihat istrinya cekikikan sendiri dibelakangnya. Ia celingak-celinguk mencari hal yang lucu namun tidak ada satupun yang aneh.
Raut Cia mendadak masam. "Nggak ada." jawabnya ketus mendahului suaminya.
"Oi, nanti di bus lo duduk samping gue." serunya membuat langkah Cia berhenti.
"Kak, kita kan tadi malam udah sepakat, jangan beberkan dulu pernikahan kita. Kalau kita terlalu dekat, entar orang macam-macam lagi mikirnya. Manalagi fans gila lo brutal semua." gerutunya mengingat fans suaminya ini seperti gorila yang mengamuk. Ia sempat waktu itu kewalahan menghadapi mereka walaupun sempat saling menjambak rambut. Beruntung Mira dan Desi meleraikan mereka.
Pria itu menatapnya sambil terkekeh pelan. "Iya gue tau, tapi kan nggak ada salahnya kalau lo duduk samping gue. Cuek ajalah, biar ajalah mereka tuh."
"Lo mah bisa kak, gue? Nih liat!" serunya menggebu-gebu sambil menyisingkan lengan sweaternya, terlihatlah bekas cakaran disitu.
Abryal langsung memegang lengan Cia. "Kapan nih kena?" tanya pria itu.
"3 hari yang lalu, gue lupa siapa namanya. Tapi ya tuh cewek brengsek banget. Gue nggak ada salah apa-apa langsung jambak rambut gue, langsung ajalah gue balas. Tapi kuku sialannya tuh nyakar tangan gue, lo kalau mau ngadain razia langsung aja gas kak. Biar mati kutu dia!" ocehnya menggebu-gebu semangat.
Iya juga ya, suami gue kan ketua OSIS. Harus dimanfaatkan dong, mampus lo! serunya tersenyum puas dalam hati.
Abryal menggeleng kepala, Cia benar-benar beda dari perempuan lainnya. Biasanya kalau ada kejadian seperti itu dipendam sendiri tetapi tidak untuk gadis ini yang secara bar-bar menghadapi lawannya. Itulah yang membuat Abryal menyukai istrinya itu.
Pria itu mengacak-acak rambut istrinya gemas, sebelum melangkah menuju ruang OSIS nya sebelum mereka semua berkumpul di halaman sekolah. Pagi itu mereka akan bersiap-siap pergi keluar kota bersama.
"Lo gabung aja dulu sama yang lain, gue ada urusan bentar." ucap pria itu membuat istrinya mengerut dahinya.
"Urusan apa lagi? Kan lo udah zoom tadi malam sama anggota lo." seru gadis itu. Yap, berkat suara bising mereka berdiskusi membuat Cia tidak bisa tidur dengan tenang ditambah lagi Abryal malah memilih tidur disampingnya. Apa tidak ketar-ketir dirinya?! Yang awalnya tidur sendiri sekarang tidur berdua.
"Urusan sama alam," jawabnya.
"Hah? Maksudnya?"
"BAB Buahahaha..." gelak pria masuk kedalam ruangan nya.
"Anjir kak Al joroook!" gerutunya berjalan ke lapangan.