Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Teka-Teki



Cia benar-benar mengabaikan suaminya. Tidak peduli pria itu memanggilnya sekeras apapun, ia tetap menghiraukannya. Saat ini mereka sudah tiba di penginapan yang akan mereka tempati malam ini. Cia langsung menarik kedua tangan sahabatnya untuk memilih kamar yang mereka mau. "Sini aja nggak sih kita?"


"Ya elah, kuncinya aja belum dapat lagi Ci, hoooam." gerutu Mira sambil menguap lebar. Perjalanan tadi sungguh melelahkan walaupun ia cuma duduk-duduk manis.


"Sama siapa minta kuncinya?" tanya Cia.


"Tuh!" seru Desi menunjuk kearah seseorang. Cia menoleh kearah yang ditunjuk Desi langsung berdecak pelan.


"Ck, ngapa pula kuncinya sama dia?! Lo ajalah yang ambil Des!" serunya membuat Desi menggerutu pelan.


"Eh kok gue? Lo lah!"


"Gue lagi malas ketemu dia Des, pokoknya gue nggak mau ambil kunci."


"Ya ampun nih anak, ya udah...udah mending gue aja yang ambil!" seru Mira memecahkan perdebatan mereka berdua.


"Uhuuy makin sayang gue sama lo Mir!"


"Jijik, gue masih normal." ketusnya berjalan mendekati Abryal.


Abryal menaikkan satu alisnya melihat sahabat istrinya sendirian berjalan kearahnya. Pria itu menoleh kearah seseorang yang tengah membuang muka berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Kenapa?" tanya Abryal membuat Mira menelan saliva susah payah. Padahal keberaniannya sudah ia persiapkan dengan baik-baik malah buyar saat berhadapan dengan Abryal.


"Eh? Anu kak...Ka-kami boleh minta kuncinya kak?" Mira begitu was-was menunggu jawaban pria didepannya ini.


"Suruh Cia sendiri yang jemput, kalau nggak ya udah kalian tidur diluar." jawabnya tersenyum miring sambil memutar-mutar kunci dijarinya. Ia meninggalkan Mira yang hanya diam mematung ditempat.


"Cih ribet amat dah hidup lo kak!" gerutu Cia kesal menghampiri Mira. "Huft, dia tadi pergi kemana?"


Mira menunjuk kearah pintu yang berada diujung sana. Cia mengangguk pelan, "Kalian turunkan aja dulu koper dari bus, biar gue yang minta kunci sama anak nyebelin tuh. Sekalian ya koper gue diangkut juga, makasih." tuturnya langsung berlari menuju ruangan kamar suaminya.


Tok...tok...tok.


Pintu terbuka, terlihat Abryal menatap datar kearahnya. "Kenapa kesini? Kan lo tadi nggak mau ngomong sama gue."


"Ck, jangan kayak anak kecil ya kak. Sini kuncinya!"


"Ambil sendiri!" serunya melangkah masuk, saat Abryal hendak menutup pintu, Cia langsung menyerobot masuk kedalam kamar pria itu.


Abryal tersenyum miring, menutup pintu kamarnya dengan rapat dan duduk dikasurnya. "Wih main nyerebot masuk aja nih, mau bobok bareng ya?" godanya langsung mendapatkan tatapan tajam dari Cia.


"Ngomongnya bisa nggak sih nggak usah melantur kak. Cepatan kak, mana kuncinya??" kesalnya berjalan menuju meja rias. Ia berharap ada kunci kamar mereka yang tergeletak diatas meja itu.


"Mana kak?!"


"Berisik, nah ambillah!" Cia berdecak berusaha mengambil kunci itu dari Abryal. Sontak kesempatan itu tidak disia-siakan pria itu, ia langsung merangkul pinggang istrinya.


Cia membulat matanya sempurna, cepat-cepat ia memukul lengan pria itu. "Woi gila lo!" cercanya setelah berhasil melepaskan diri dari Abryal.


"No cuddle, no key." sahutnya santai sambil mengunyah permen jelly.


Cia memutar bola matanya malas. "Itu apa lagi artinya?"


Abryal menepuk jidatnya pelan. "Ya elah, masa ini juga nggak tau artinya. Cari sendiri sana!" kesalnya langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Niatnya ingin romantis malah buyar karena kepolosan Cia. Sepertinya ia harus segera mendaftarkan istrinya itu kursus bahasa Inggris supaya kalau ada gombal-gombal seperti ini nyambung.


Cia menggerutu, apa yang salah dari ucapannya barusan? Wajar dong kalau tidak tahu artinya. Pelajaran yang paling ia benci ada dua di dunia ini, Fisika dan Bahasa Inggris. Kalau Matematika, jangan tanya lagi. Ia paling suka pelajaran itu sampai-sampai sering mengharumkan nama sekolahnya dulu. Padahal sama-sama hitungan dengan fisika, tetapi kalau pelajaran itu entah kenapa ia susah mengerti, aneh bukan?


Gadis itu membelalak saat mendengar suara dengkuran pria itu. Ya ampun, gue baru melamun sebentar lo udah hilang aja kak. gerutunya memandang pria itu.


Ia sedikit merasa kasihan, mungkin perjalanan mereka tadi melelahkan ditambah lagi ada tragedi sialan yang dibuat Serena. Cia berinisiatif menyelimuti suaminya, tak lupa ia memindahkan ponsel Abryal dari kasur ke atas nakas supaya tidak terkena radiasi ponsel. Sangat bahaya jika meletakkan ponsel saat tidur, bisa menyebabkan berbagai macam penyakit salah satunya tumor atau bisa jadi menyebabkan insomnia (Kesulitan tidur).


Cia memandang wajah pria itu dengan seksama. Dibawah remang-remang lampu tidur, walaupun belum mandi tetap tampan. "Orang ganteng dalam keadaan apapun tetap ganteng." gumamnya berdecak kagum. Cia salah fokus melihat dompet pria itu diatas meja, penasaran ia pun melangkah mendekati dompet itu.


"Hmm boleh liat nggak ya?" gumamnya penasaran, ia pun sesekali melihat kearah pria itu untuk memastikan masih tertidur pulas. Kalau tiba-tiba muncul dibelakang kan nggak lucu, bisa-bisa teriakannya nanti bakal kedengaran satu homestay.


Deg.


"Foto gue pas kapan nih?" gumamnya terkejut melihat foto gadis mungil sambil tersenyum lebar di sebuah taman. Tetapi, ia yakin foto gadis cilik itu adalah dirinya. Cia langsung berbalik badan dan melihat secara lekat pria itu.


"Apa lo udah tau gue dulu ya?" gumamnya lagi bingung. Ini benar-benar sebuah kebetulan yang sangat tidak masuk akal, jadi semua yang ia sukai atau tidak sudah diketahui pria ini dari awal?


"Cih, gue butuh penjelasan yang lebih dari lo kak. Udah lama gue curiga lo yang tau semua tentang gue. Tapi, malam ini kayaknya nggak tepat buat bicarakan itu..." ucapnya pelan sambil menarik napas panjang. Ia melirik kunci yang tengah digenggam Abryal.


"Gue ambil kuncinya ya kak, makasih." ucapnya lagi merampas kunci itu dari tangan Abryal dengan hati-hati agar pria itu tidak terbangun. Cia berjalan pelan-pelan keluar kamar dan menutup pintu hingga rapat tanpa bersuara.


Setelah merasa gadis itu sudah tidak ada lagi dalam ruangan ini , Abryal langsung membuka matanya sambil bernapas panjang. "Sial, dompet gue keliatan. Mampus lo Al, bakalan ketahuan semuanya!" risaunya sambil mengacak-acak rambutnya.


***


Cia mengaduk susu cokelat panas miliknya, ternyata udara disini sangat sejuk apalagi dikelilingi pengunungan yang masih asri. Gadis itu terbangun lebih cepat dari sahabat-sahabat yang masih tertidur pulas didalam kamar. Ia menikmati udara pagi yang menerpa wajah cantiknya.


"Sendirian, tumben?" tanya seseorang sambil memegang secangkir kopi panas. Cia berdecak pelan, apa dia tidak bisa tenang sehari saja? Mengapa ada aja seseorang menganggu ketenangannya.


"Kenapa? Suka-suka guelah." ketusnya sambil menyeruput susu cokelatnya.


"Nih anak emosian mulu dah." gerutu David sambil menyeruput kopi panasnya.


"Perut lo nggak bengkak kak, minum kopi pagi-pagi?" tanyanya heran melihat pria itu.


"Suka-suka guelah." jawabnya persis seperti Cia tadi.


Cia berdecak pelan, namun ia tiba-tiba teringat sesuatu berkaitan dengan foto yang ada didalam dompet Abryal. Apa David mengetahuinya? Dari cerita Mira, mereka berdua sudah bersahabat dari Sekolah Dasar dulu. Otomatis pasti tahu kan seluk-beluk Abryal?


"Kak, gue mau nanya." ucapnya membuat pria itu menoleh kearahnya.


"Nanya apa? Muka lo serius amat, emang ada masalah apa?" tanya David lagi.


"Janji lo nggak ember ya kak?"


"Apa dulu nih, lo mau nanya apa emangnya?"


"Penting kak, tapi janji dulu jangan ember ya!"


"Cih, iya...iya gue janji nggak bakalan kasih tau siapapun." pasrahnya.


"Termasuk kak Al."


David menaruh curiga padanya, lihatlah tatapan pria itu menatap heran kearah Cia. "Pasti yang lo tanya nih, ada hubungannya dengan dia kan?"


Cia mengangguk pelan. "Siapa cewek yang disukai kak Al dulu?" tanya berbisik supaya tidak ada yang didengar oleh siapapun pembicaraan mereka.


Sontak David tertawa terbahak-bahak membuat Cia menggerutu kesal. Emangnya ucapan gue tadi ada yang lucu ya?


"Lo cemburu ya?"


"Ih gila, NGGAK ADA YA KAK. Astaga bisa-bisanya lo mikir kesana. Cepat jawab siapa orangnya?"


"Tapi nggak suka, ngapain lo tanya-tanya nih? Curiga gue."


"Cih, nggak usah ngalihin topik kak, cepat aja jawab!" geramnya, ingin rasanya ia menyiram wajah menyebalkan itu dengan susu cokelat miliknya.


David terkekeh lagi. "Ada, cuma gue nggak tau siapa namanya. Crush lo tuh nggak ada pernah ngasih tau gue siapa yang dia suka, paling dia ceritain tentang keluarganya doang. Waktu tuh pernah gue paksa cerita sampai ngancam dia, tapi ya gitulah ending nya kami malah berkelahi saling tinju." jelasnya panjang lebar.


Cia menghela napas kecewa. Ternyata David juga tidak bisa membantu memecahkan teka-teki perihal Abryal. Harus bertanya dengan siapakah dia lagi?


"Kalau lo benar-benar penasaran, ngapa nggak langsung gas aja tanya keorangnya?"