Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Kedua Kalinya



Abryal menatap lurus lewat jendela ruangan OSIS-nya kearah tiga gadis yang tengah bercengkrama ria di taman sekolah. Lebih tepatnya tertuju pada gadis dengan jepit rambut putih itu. Ia juga heran mengapa ia begitu obsesi dengan jepit rambutnya? Apa karena dirinya teringat dengan jepit rambut Mamanya? Ia saja sendiri tidak tahu wajah Mamanya seperti apa, masih terasa samar-samar di ingatannya. Perihal foto atau apapun tentang Mamanya, sudah dilenyapkan oleh Nenek Lara. Neneknya sangat marah dengan tindakan putrinya yang menelantarkan Abryal di taman bermain waktu ia masih berusia 3 tahun.


Tetapi kadang ia penasaran, apa mamanya masih hidup? Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia sudah menikah dan punya anak dari pria lain? Apa dia masih ingat dengan anaknya? Apa dia tahu keadaan anaknya sekarang? Kenapa waktu itu meninggalkannya? Apa alasannya? Apa dia menyayanginya? Kemana dia sebenarnya?!


Bugh!


David yang tengah tertidur di sofa sontak terbangun. Pria itu mengucek matanya sambil melirik kearah suara pecahan kaca. David membelalak melihat Abryal menumbuk jendela ruangan OSIS hingga pecah. "Woi Al, apa yang lo lakuin?!"


Abryal tersentak, ia menoleh kearah David sekilas lalu berjalan keluar tanpa menghiraukan panggilan sahabatnya. Pikirannya kacau, ia tidak mengerti mengapa dirinya mudah emosi jika perihal tentang mamanya. Soal Papanya? Ia juga tidak tahu siapa. Ck, hidup seperti ini benar-benar memuakkan.


"Kak! Kak!"


Deg.


Abryal terkejut, dirinya sudah berada didepan Cia. Sial, bagaimana dirinya bisa berjalan tanpa sadar kearah gadis ini?!


Pria itu membuang muka dan menyenggol Cia saat melewati gadis itu. Sontak saja emosi Cia meledak, ia pun langsung mencegat kakak kelasnya itu. "Lo ada masalah bilang!" kesalnya tidak terima.


Abryal hanya menoleh sekilas, sambil menatap dingin kearah gadis itu. "Menyingkirlah."


Cia tertegun sejenak, dirinya tidak takut dengan tatapan tajam Abryal. Pria bertopi itu sepertinya sedang tidak baik-baik saja, tetapi ia tidak terlalu peduli karena itu bukan urusannya. "Ck." umpatnya lalu pandangannya tertuju pada tangan Abryal yang banyak mengeluarkan darah.


"Woi kalau luka diobati jangan dibiarin, entar mati lagi kalau dah kehabisan darah." Abryal hanya menatapnya diam, tidak ada ekspresi pria itu.


Mira dan Desi hanya diam memperhatikan mereka dari jauh, apalagi mereka sedikit cemas dengan tangan Abryal yang banyak bersimbah darah namun tidak ditangani dengan cepat. Mereka hanya bisa berharap pada Cia agar menyuruh pria itu segera mengobati lukanya.


"Ci..." panggil Mira pelan membuat Cia menoleh kearah sahabatnya sambil menaikkan alisnya.


"Minta kak Al obati lukanya." bisiknya dari kejauhan, dan Cia mengerti maksud Mira. Gadis itu berdecak pelan, ia saja membenci pria ini tetapi tidak berlaku untuk sahabatnya yang sangat mengidolakan pria tampan didepannya. Ia memang mengakui pria itu tampan, tetapi tidak membuatnya menyukai Abryal.


"Kak, kata Mira obati luka kakak sana!" seru Cia menyengir pelan menunjuk kearah sahabatnya.


"Cia cepu!" umpat Mira pelan, kurang ajar sekali sahabatnya yang satu itu. Bisa tidak sih nggak usah sebut-sebut nama gue Ci?? Iiih gemas gue liatnya. Desi tertawa pelan melihat tingkah Cia.


"Hahaha sabar ya Mir," ledek Desi yang ikut menertawakan Mira.


Pria itu menoleh sekilas kearah sahabatnya Cia, lalu menoleh lagi kearah gadis didepannya ini. "Lo nggak mau obati gue?" tanya Abryal membuat Mira dan Desi syok bukan main.


Cia menaikkan satu alisnya heran. "Gue kak?" tunjuknya pada dirinya sendiri.


Abryal berdecak pelan. "Dahlah lupakan, sanalah!" usirnya berjalan meninggalkan mereka bertiga. Mira dan Desi langsung menghampiri Cia.


"Ish, Ci lo cepu kali anjir!" gerutu Mira menoyor kepala Cia.


"Ck sakit woi, ya abisnya lo nggak nggak ada bilang kalau itu rahasia. Maunya bilang gini 'Ci, jangan kasih tau dari gue ya' gitu. Lo suka ya sama kak Al?" tebak Cia sambil menyenggol lengan Mita.


"NGGAK YA! NGGAK ADA GUE SUKA. GUE CUMA NGEFANS DO—"


Cia mencebik sambil menyumpal mulut Mira dengan sarung tangan miliknya. "Berisik, telinga gue disini. Jangan teriak-teriak!" gerutunya.


"Bersih kok, itu barusan digosok rapi tadi pagi sama abang gue." sahut gadis itu.


"Hah? Lo punya abang Ci?" tanya Desi terkejut, Cia langsung mengangguk.


"Iya, abang gue ganteng. Nih liat fotonya," seru Cia sambil menunjukkan foto Azlan diponselnya.


"Widih gila ganteng buanget Ci, maulah gue jadi kakak ipar lo!" seru Mira bersemangat.


"Nggak...nggak, gue nggak mau punya kakak ipar kayak kalian!" tolaknya mentah-mentah berlari menjauhi mereka.


"Anak sialan, woi tungguin!" seru Mira disusul Desi dibelakangnya menyusul sahabat kampretnya itu.


***


"Dadah, gue balik ya!" seru Cia berpisah jalan dengan Mira dan Desi. Teringat masalah Desi kemarin, sahabatnya yang satu itu memutuskan untuk keluar dari rumahnya dengan membawa semua tabungannya. Beruntung keluarga Mira mempunyai kos-kosan perempuan, Desi memutuskan tinggal di kos keluarga Mira. Bagaimanapun juga, Cia merasa kasihan melihat keadaannya sekarang yang terlalu tegar menghadapi hujatan tiap hari untuknya. Padahal ia hanya korban namun di mata yang lain dia hanyalah perempuan murahan.


Cia baru akan ke parkiran sesudah Mira dan Desi dijemput oleh supir pribadi keluarga Mira. Gadis itu sambil bersenandung pelan menghampiri motornya. "Huft, abis nih gue mau bocan." gumamnya sambil memasang helm.


"Bocan?"


Cia menghendus pelan, seperti biasa sudah kebal dan tidak terkejut lagi dengan pria itu yang suka sekali muncul tiba-tiba. Gadis itu menoleh kebelakang. "Bobo cantik maksudnya."


"O." sungutnya sambil menghidupkan mesin motornya disebelah motor Cia.


"Idih, cuek amat. Nah kalau kek gini baru lo sebenarnya, tadi tuh kayak orang asing." ucap Cia menyadari sifat Abryal seperti biasanya.


Abryal memutar bola matanya malas. Berkat rokoknya ia sudah bisa tenang. Ia mulai mengenali rokok sejak dirinya menduduki bangku SMP, dan yang mengajaknya pertama kali adalah David sendiri.


"Kak, kalau ada masalah curhat sama orang yang lo percaya. Misal kek kak David, gue liat kalian dekat."


"Hm ya begitulah. Tapi kalau curhat sama dia yang ada sesat semua." jawabnya. Pernah sekali saat Abryal menceritakan sedikit kisah hidupnya pada David. Pria itu menanggapinya dengan kesal, ia menyuruh Abryal pergi ke klub biar stres hilang. Bahkan lebih parah lagi, David menyuruhnya untuk meracuni Mamanya sendiri.


"Lo keliatan lelah banget kak, pulanglah lagi sana." ucapnya merasa kasihan melihat pria itu. Namun, rasa ibanya langsung menguap disaat pria itu tiba-tiba merampas kunci motornya.


"Abryal monyet!" umpatnya kesal. Wah gue lengah sedikit langsung gercep tuh tangan. gumamnya dalam hati.


Kemarin pria itu mengambil jepit rambutnya sekarang malah kunci motornya. Besok apa lagi? Mencuri hatinya? Eh?


Cia menggeleng kepalanya, bisa-bisanya ia memikirkan hal itu. Ia terus mengejar kemana pria itu pergi. Arrgh menyebalkan sekali, gue mau pulang woi! cercanya kesal dalam hatinya.


Gadis itu menggerutu kesal tanpa sadar ia berjalan ditempat yang basah, alhasil ia langsung tergelincir.


Cia sudah bersiap-siap jatuh, namun dirinya tiba-tiba merasakan dipelukan seseorang. Aromanya sangat menyenangkan, seketika Cia langsung tersadar dan membuka matanya perlahan. Ia hampir saja memekik kalau Abryal tidak membungkam mulutnya. "Diam, jangan buat masalah!" ucap pria itu menatap mata Cia.


Cia sempat tertegun melihat ketampanan Abryal dari jarak sedekat ini. Astaga kejadian yang pagi itu terulang lagi, untuk kedua kalinya ia dipeluk Abryal.


Deg.