
Kelimanya sudah tiba didepan pintu ruang BK, tetapi yang diperbolehkan masuk hanya Desi seorang. Mira dan Cia langsung mengambil tempat duduk didepan ruang BK.
Cia menoleh kearah Abryal, pria itu tidak banyak bicara dan sibuk memainkan ponselnya. Ia heran dua pria itu bukannya beranjak pergi justru bersandar di pembatas balkon tepat dihadapan mereka, apa yang mereka tunggu?
"Al, liat nih!" seru David menyodorkan ponselnya agar sahabatnya bisa lihat gosip yang beredar. Pria itu menoleh sekilas, hanya menanggapi dengan datar.
"Biarin aja." sahut pria itu cuek sambil memasukkan ponselnya kedalam saku.
"Serius nih? Kalian pacaran ya?" tanya David. Ia yakin sahabatnya pasti ada sesuatu dengan adik kelasnya itu. Pasalnya, sejak kedatangan Cia ada saja perdebatan diantara mereka berdua. Padahal, Abryal dulu tidak banyak celoteh seperti sekarang.
Cia seharusnya tidak penasaran dengan perbincangan dua pria itu, tetapi sialnya malah menunggu jawaban dari Abryal.
Abryal tidak menjawab, ia menyibak rambutnya kebelakang. Tatapannya kini justru tertuju pada Cia yang juga menatapnya. "Hei, menurut lo gimana?" tanyanya membuat Cia terkejut.
Mira dan David langsung menoleh kearah mereka. Seolah-olah tontonan didepan mereka sepertinya menarik. Cia mengerjap pelan, maksud pria itu apa?
"Apanya gimana?" tanyanya balik.
"Ck, gosip yang beredar. Menurut lo gimana?" tanyanya lagi. Sesekali dirinya harus memalingkan wajah agar tidak terus-terusan menatap Cia.
"Gosip? Gosip apa kak?" tanyanya sama sekali tidak mengetahui gosip yang dimaksud Abryal. Dikiranya gue cenayang apa yang tau semuanya gosip disekolah nih, gue aja baru seminggu nginjakkan kaki disini woi. gerutunya dalam hati.
Abryal merampas ponsel David, dan menunjukkannya pada Cia. Sontak saja gadis itu membelalak tidak percaya. "WOI SIAPA NIH YANG BU—" Abryal langsung membungkam mulut cempreng Cia, bisa-bisanya gadis itu membuat kehebohan didepan ruang BK.
"Ck, nggak perlu teriak. Gue nanya baik-baik lo malah hebohnya minta ampun," gerutunya menghela napas kasar. "Udah, nggak usah dibahas lagi."
"Ih, kak ini berita apa-apan?! Kok kita dibilang pacaran??" protesnya tidak percaya.
Abryal melirik kearahnya dengan tatapan datar sambil mengedik bahu, lalu berjalan meninggalkan mereka membuat Cia mengumpat kesal. "Tuh cowok ngeselin banget woi! Kak David coba deh lo bilang sama sahabat lo tuh, kalau orang lagi nanya tuh jangan suka kabur!" kesalnya menggebu-gebu. Entah kenapa setiap dirinya bertanya pasti laki-laki itu kalau tidak jawab singkat ya kabur.
David tertawa terbahak-bahak melihat adik kelasnya ini berani terhadap Abryal. Baru kali ini ia melihat adegan yang menarik di sekolah itu. "Kenapa nggak lo aja yang tanya sendiri sama orangnya Ci, lagian hanya lo sih yang bakalan didengarin sama dia."
"Kenapa harus gue kak, kan lo ada."
"Yaelah nih bocah, lo liat sendiri tadi kan? Dia aja nggak dengarin gue." gerutunya lagi.
"Huft, sial. Siapa sih yang nyebarin gosip nggak bermu—"
Plaaak.
Ketiganya terkejut mendengar suara tamparan yang begitu nyaring membuat mereka menoleh kearah pintu ruangan BK. Cia dan Mira langsung saling melirik cemas, takut terjadi sesuatu dengan Desi.
"Mir, Desi dia nggak papa kan?" tanya Cia cemas.
"Gue nggak tau juga, tapi semoga aja. Kenapa nih kok ada yang nampar-nampar gitu?"
"Nah itulah gue takut."
"KAU MAU-MAU AJA DIAPA-APAIN, HARUSNYA KAU BISA JAGA DIRI NAK!" teriak wanita didalam ruangan BK, bisa dipastikan jika yang teriak tadi adalah ibunya Desi.
Deg.
Mira menghela napas pelan. Ia merasa kasihan melihat Desi yang semakin dipojokkan. "Harusnya ibunya nggak ngomong kek gitu." lirihnya.
"KAU MAU JADI APA HUH?! MALU AKU PUNYA ANAK KAYAK KAU!" bentaknya lagi.
"Astaga, ini nggak bisa dibiarin. Kita harus masuk Mir," ucap Cia tidak tahan mendengar cercaan ibunya Desi. Bagaimanapun Desi hanyalah korban, tidak ada yang tahu perasaannya waktu itu seperti apa.
"Jangan, kita nggak boleh ikut campur!" cegah Mira.
"Nggak bisa Mir, nanti dia..."
"Kita hanya orang luar Cia, tidak bagus kalau main langsung masuk kayak gitu. Tidak ada yang mau dengarin kalau lo mau bela Desi. Berdebat dengan keadaan seperti ini tidak akan menguntungkan kita." ucap Mira ada benarnya juga.
"Huft," Cia menghela napas kasar. Membayangkan jika dirinya berada diposisi Desi saat ini mungkin ia tidak akan sanggup. Gadis itu kembali teringat dengan kejadian yang hampir merenggut masa depannya, pernah pacaran dengan pria itu mungkin adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Ia tidak menyangka sudah dua tahun yang lalu sejak kejadian itu, saat itu dirinya masih labil dan membangkang orang tuanya sendiri.
Cia berlari kecil keluar kelas dengan tersenyum lebar menghampiri sosok pria yang tengah menunggunya didepan pagar. Ia langsung memeluk pria itu dari belakang dengan erat. "Beb, udah lama ya nunggunya?" cicitnya. Sedangkan pria itu berbalik badan dan mengelus rambut Cia dengan lembut.
"Hmm nggak kok," ucapnya sambil mencubit pipi tembam Cia.
"Yok, kita makan. aku udah lapaaar..." rengeknya membuat pria itu terkekeh.
"Mau makan dimana hm?"
"Terserah aja, yang penting makan sama kamu!" seru gadis itu.
Pria itu hanya tersenyum tipis, lalu menggandeng pacarnya keluar dari sekolah gadis itu. "Abis makan kita mau kemana?"
"Hmm nonton bioskop kayaknya seru juga."
Pria itu terkekeh. "Kalau jalan lagi gimana? Ke rumah kontrakan gue mau nggak?"
Cia mengangguk cepat. Ia juga penasaran rumah kontrakan pacarnya, karena selama ini pria itu selalu bungkam tentang tinggalnya.
Mereka berdua menikmati kencannya sehari penuh. Bahkan telepon dari orang tua Cia, gadis itu abaikan. Baginya menikmati masa muda itu penting daripada harus menuruti kemauan orang tuanya yang selalu melarangnya keluar malam. Cia kesal, kenapa orang tuanya tidak paham dengannya? Ini itu selalu dilarang membuat dirinya begitu frustrasi. Gadis itu iri dengan teman-temannya yang selalu dibiarkan keluar malam oleh orang tua mereka.
"Hm? Ya?" tanya Cia lagi. Pria itu menghela napas pelan lalu mengajak gadis itu membeli eskrim tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Kamu melamun apa sih sayang?" tanyanya.
"Hm? Itu tadi aku trus-terusan ditelpon Mama. Aku lelah kayak gini trus, mereka tidak ada waktu untuk aku tapi selalu ngekang nggak boleh keluar malam-malam!" kesalnya frustasi melampiaskan unek-uneknya. Pria itu langsung memeluknya erat sambil menepuk pundak Cia.
"Kan sudah aku bilang, sesekali membangkang aja. Jangan dengarin mereka, kamu harus bisa happy juga dong." tuturnya membuat Cia mengangguk pelan, menghirup dalam aroma maskulin pria itu.
Usai mereka menikmati eskrim, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Cia tidak menyangka bisa semalam ini masih bersama dengan pacarnya menikmati masa kencannya. Ia yakin, besoknya orang tuanya pasti menceramahinya habis-habisan.
Cia megernyit bingung melihat jalanan yang mereka lewati tidak seperti biasanya. Ia pun menoleh kearah pacarnya yang tengah fokus mengemudikan mobilnya. "Kita mau kemana Beb?" tanyanya bingung.
"Kerumah kontrakan ku dong." sahutnya tersenyum penuh arti. Cia yang tidak menyadari niat terselubung pria itu hanya mengangguk pelan. Tak lupa ia menghidupkan tanda lokasi di ponselnya sebagai petunjuk arah pulangnya nanti. Tidak mungkin kan, pacarnya juga yang mengantarnya pulang? Bisa-bisa Papanya akan murka kalau itu terjadi.
Akhirnya ia sampai juga dirumah putih. Cia sedikit merinding dengan suasana disekitar rumah itu tampak aneh dan mengerikan. Gadis itu berlari menyusul pacarnya masuk kedalam rumah. "Sayang, ini benaran rumah kamu?" tanyanya lagi.
Cia benar-benar heran, rumah ini terletak dikeliling pepohonan rindang. Apalagi, ia tidak melihat ada satupun orang disekitar sana. Pria itu menoleh lalu mendekatkan dirinya pada Cia.
"Menurut kamu?" gumamnya sambil menutup pintu dan mengunci pintu itu.
"Tunggu, kenapa kamu mengunci pintunya?" tanyanya sedikit takut. Pokoknya ia tidak suka berada dirumah ini. Perlahan-lahan pria itu mendekati Cia dan mengelus pipi gadis itu.
"Sayang, gimana kalau kita main malam nih?"
"Main?"
"Iya," Pria itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Cia. Gadis itu tertegun saat tangan pria itu mulai menyentuh pinggangnya. Merasa ini tidak benar, ia langsung mendorong pacarnya itu.
"Tu-tunggu Zen, ini sepertinya tidak benar." Cia mulai gugup, namun pria itu terlihat kesal dan menarik Cia untuk mendekat.
"Cih, jangan belagu jadi orang, Bricia."
Deg.
Apa ini? Kenapa pria ini sikapnya tiba-tiba berubah? Perasaan tadi tidak seperti ini. Cia mulai merasakan ketakutan, ia memundurkan langkahnya perlahan menjauh dari pacarnya.
"Sayang...ka-kamu nggak bermaksud yang itu kan?"
Pria itu tergelak. "Iya, aku ingin kamu malam ini, Bricia."
"Nggak, aku nggak mau!" tolaknya sarkas membuat amarah pria itu bangkit dan mendorong Cia hingga tersungkur. Gadis itu meringis menahan lututnya memar karena ulah Zen. Rasanya ia ingin menangis sekarang, tetapi tidak ada yang menolongnya satupun.
Zen mendekati Cia lagi, kini tangannya menahan tangan Cia agar tidak banyak gerak dan pria itu bisa leluasa mengamati tubuh Cia.
"Hiks, jangan lakukan ini."
"Bodo amat gue," gerutunya menarik rambut Cia kuat. "Sekali lo membangkang abis lo!"
Deg.
Tangisannya mulai keluar, ia tidak menyangka pria yang begitu ia cintai kini malah menjadi musuhnya. Tatapan pria itu sudah berubah, janji dulu yang ia ikrarkan juga berhamburan begitu saja.
Cia berusaha menepis tangan Zen, namun tenaga pria itu terlalu kuat hingga ia kesulitan melawannya.
Plaak.
"DIAM LO!"
Cia meringis, pipinya terasa merah saat ini. Seperti tidak punya harapan lagi, ia menangis tersedu-sedu dihadapan Zen. "Please, jangan lakukan ini...kamu kan janji nikahi aku dua tahun lagi kan?"
Pria itu tertawa lagi. Ia mengejek otak dangkal Cia. "Bricia...Bricia, lo terlalu polos sayang."
Deg.
"Jadi, nikmati saja ma—"
Braak.
Cia terkejut langsung menoleh kearah pintu. Matanya membelalak saat menyadari itu abangnya. "Bang Azlan?!"
Azlan langsung menoleh kearah mereka. Rahangnya mengeras melihat Cia berada diposisi berbahaya seperti itu. Tanpa basa-basi ia langsung menghajar pria itu hingga babak belur. "BRENGSEK LO KIRA ADEK GUE MAINAN LO HUH?!"
Bugh.
"PAKAI OTAK LO DASAR SAMPAH!" cercanya lagi hingga membuat Zen pingsan ditempat. Cia langsung berlari kearah abangnya dan memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu.
"Bang....hiks maafkan Cici." lirihnya menyesal. Azlan membalas pelukan adiknya, ia bersyukur datang tepat waktu. Untung saja ponsel Cia menghidupkan tanda lokasinya yang membuatnya berhasil kesini.
"Udah...udah, nih pakai jaket gue dulu." seru Azlan melepaskan jaket miliknya dan mengenakannya pada Cia. Baju yang dikenakan Cia saat ini hampir saja robek gara-gara pria brengsek itu.
Cia bersumpah tidak akan mau tertipu daya lagi oleh para sampah seperti Zen. Ia tidak akan lagi mudah mempercayai orang. Tidak akan pernah lagi terlihat polos yang tidak tahu apa-apa soal kerasnya kehidupan di luar sana.
Cia menitik airmatanya yang sempat jatuh membasahi pipinya. Gadis itu menatap iba kearah sahabatnya kini hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Cia harusnya bersyukur, dan menyesal karena dulu sempat membangkang keluarganya. "Gue yakin lo bisa melewati ini semua." lirihnya tersenyum tipis menepuk pundak Desi.