Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Hampir Saja



"Cih, lo emang asem ya suka dadakan!" gerutu Cia terperangah saat menyadari mereka tiba dirumah Cia. Ia sebenarnya senang karena merindukan kedua orang tuanya tetapi saat ini ia malas menemui satu orang penghuni yang menyebalkan itu. Baru saja tadi malam mereka video call malah berakhir adu mulut.


"Biar lo nya baikan hehehe." cengir Abryal tanpa merasa bersalah. Pria itu keluar terlebih dahulu dan berjalan kearah rumah.


"Huft," Cia hanya mengumpat dalam hati, ia pun dengan terpaksa melangkahkan kakinya mengikuti Abryal.


"Assalamualaikum Maa! Paa!" seru Abryal langsung duduk di sofa.


"Wa'alaikumsalam, eh Abryal!" seru Mama Deva senang menyambut menantu kesayangannya.


"Mama, gimana kabarnya?" tanyanya sambil menyalami tangan mertuanya itu.


"Alhamdulillah baik, kamu tumben kesini? Mana Cici?"


Abryal yang heran langsung berbalik badan. "Lah, tadi dia ngikut dibelakang Ma."


"GILAA LO BONCENG CEWEK BANG?!" teriak Cia dari luar.


Abryal bingung langsung menatap mertuanya yang ikut menatapnya. "Dia lagi ngomong sama siapa?"


"Nggak tau, kenapa lagi tuh anak?" Deva menggeleng-geleng melihat kelakuan putrinya. Ia pun berjalan cepat keluar rumah.


"Apasih, jangan ikut campur!" ketus Azlan menatap jengkel kearah adiknya.


"Apasih, apasih wah sejak kapan lo punya pacar huh? Nih kakak kok mau aja sama bocah gorila nih?"


"Woi lo masa ngatain gue gorila!" kesalnya menjentik kepala Cia. Cia tidak terima ia pun langsung membalas hal yang sama.


Mama Deva dibuat pusing keduanya, buru-buru wanita paruh baya itu berjalan mendekati kedua bocah nakal itu. "Ngidam apa ya aku waktu hamil mereka, kok jarang banget akurnya!" gerutunya pelan.


"Azlan, Cici udah!" seru Mama Deva memisahkan keduanya. Sedangkan gadis yang dibonceng putranya hanya menunduk diam sambil memperhatikan perdebatan kecil mereka. Mama Deva menghela napas pelan.


"Kalian kapan akurnya hm? Udah dewasa gini kok pada nggak akur?"


"Ma tengok tuh Ma, bang Azlan berani banget dia bawa cewek Kerumah!" adunya langsung mendapat tatapan tajam dari Azlan.


Mama Deva langsung menoleh kearah gadis itu, ia tertawa pelan. "Oh, jadi ini gadis yang mau kamu kenalin ke Mama Az?" tanya Mama Deva langsung dianggukan Azlan.


Cia terperangah, ia ingin meminta keterangan jelas dari maksud semuanya. "Tunggu, apa maksud Mama?"


"Tanya sendiri sama Abang kamu Ci," seru Mama lalu kembali menoleh kearah gadis itu.


"Nama kamu Umaiza ya?"


Gadis itu mendongak sambil tersenyum kikuk dihadapan Deva. "Iya Tan,"


"Cantik, seperti orangnya. Ya udah masuk dulu yok, kita ngobrol didalam aja." ajak Mama Deva menarik tangan Umaiza masuk kedalam. Sedangkan Cia melayangkan tatapan permusuhan pada Azlan, begitu juga pria itu.


Abryal hanya menghela napas pelan melihat tingkah abstrud kedua saudara itu. Ponselnya tiba-tiba berdering, saat melihat nama kontak masuk itu ia langsung menatap Cia.


"Ci, gue pergi bentar ada urusan. Nanti malam gue jemput yah!"


"Eh mau kemana kak?" tanya istrinya berjalan mendekatinya.


"Urusan perusahaan lagi urgent." jawabnya cepat, Cia mengangguk mengerti.


"Ya udah, hati-hati dijalan."


"Bang, jagain istri gue ya!" seru Abryal menoleh kearah Azlan.


"Ogah, dia bisa sendiri!"


"Cih, siapa juga yang mau dijagain gorila kayak lo. Dah kak, pergi sana jangan mintol sama gorila nih nggak guna!" serunya melambaikan tangannya pada Abryal.


"Dasar kelinci gila!" umpatnya jengkel masuk kedalam rumah.


***


Abryal berjalan masuk kedalam rumah Nenek. Disana sudah ada kedua orang tuanya sekaligus Serena, gadis pick me itu. Ia menghela napas panjang dan duduk disamping Neneknya. "Seburuk apa Cia dimata Mama?" tanyanya membuka topik.


"Ck, harus banget bahas itu pertama kali kamu datang hm? Apa kita tidak bisa membicarakan hal yang lain?"


"Nggak, aku ingin luruskan semua masalah ini." tegasnya. Sedangkan Nenek Lara menggenggam tangan cucunya seolah-olah ia ingin menyampaikan apapun pilihan cucunya ia akan tetap mendukung.


"Huh, gadis itu nggak ada sopan santunnya, beda banget sama Serena."


Abryal heran menoleh kearah Serena yang tersenyum kearahnya. "Dia yang kata Mama sopan?" Abryal geram langsung mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan bukti kejahatan Serena.


"Tuh, gadis yang sopan kayak Mama bilang."


"Laila kamu udah gila?" Reighan tidak habis pikir dengan mantan pacarnya itu.


"Kamu nggak usah ikut campur, Abryal ucapan orang tua lebih tau yang mana baik buruknya. Mama udah liat Cia tidak pantas untukmu!"


"Laila, kau pikir bisa mengatur kehidupan dia? Cia adalah gadis yang baik, aku juga nggak suka dengan gadis disebelah kamu itu. Abryal lebih baik kamu pulang!" seru Reighan jengah.


"Dia anakku Rei!"


"Dia juga anakku Laila!"


Abryal memejamkan matanya perlahan, ia menoleh kearah neneknya dengan tatapan bingung seolah keadaan kacau ini terlihat biasa saja. "Nek?"


"Hm?" gumam sang Nenek masih menikmati teh hijaunya.


"Nenek tidak ingin bilang sesuatu?"


"Untuk? Ikut berdebat seperti mereka?" sindirnya membuat kedua orang itu terdiam menoleh kearah Nenek Lara.


Nenek Lara menghela napas sejenak. "Kalian kekanak-kanakan. Tujuanku mengumpulkan kalian bukan untuk berdebat tapi berdamai. Ini nggak sekali dua kali setiap aku pertemukan kalian selalu aja bahas cerai cerainya Abryal. Laila kamu pikir kamu udah jadi ibu yang baik setelah meninggalkan Abryal waktu kecil?"


Deg.


"Ibu, dia anakku!"


"Iya aku tau, tapi cara mendidikmu terlalu otoriter. Bayangkan dia yang diasuh Neneknya sejak kecil tiba-tiba direbut oleh ibunya yang nggak tau malu datang trus ngatur kehidupannya? Apa kamu tidak malu Laila? Mau berapa kali Ibu sadarkan kamu agar tidak membahas itu lagi?"


"Aku melahirkannya!"


"Tapi kamu tidak menginginkannya!"


Serena hanya diam mendengar interaksi mereka, sungguh diluar dugaan Abryal ternyata kehidupannya tidak sebaik dirinya.


"Laila kamu terlalu egois! Kamu belum berubah dari dulu." ucap Reighan terlihat menahan emosinya, pria itu langsung beranjak dari tempat pergi keluar begitu saja.


"Aku nggak peduli!" ucap Laila tetap berteguh pendiriannya membuat Abryal mulai kehabisan kesabaran.


"Sudahlah tidak ada gunanya berkoar kayak gini. Pertemuan kita cukup sampai disini aja, percuma berkumpul kalau Mama masih keras kepala. Mau berbuih pun Mama minta aku cerai dengan Cia tidak akan pernah terjadi!" ucap Abryal dingin.


"ABRYAL!"


Praaang!


Abryal langsung melempar gelas kearah meja kaca hingga pecah membuat semuanya terkejut. Serena takut bukan main, diam-diam gadis itu kabur keluar dari rumah itu. Ia tidak mau mati konyol menjadi sasaran empuk Abryal, gadis itu juga tidak menyangka jika Abryal sangat menyeramkan saat marah.


Laila terdiam, ia tidak menyangka anaknya menatapnya dengan amarah yang besar. Tangannya menggigil, sikap Abryal saat ini mengingatkannya dengan Reighan waktu pertama kali ketahuan selingkuh dengan pria lain.


Abryal tidak ingin satu ruangan lagi dengan Mamanya, ia merasa sesak. Tanpa menoleh sedikitpun ia pergi sambil merampas jaketnya melenggang keluar.


"Puas kamu sekarang Laila?!" hardik Nenek Lara menatap tajam kearah putri bodohnya itu. Ia langsung melenggang ke kamarnya.


***


Abryal memacu kecepatan mobilnya diatas rata-rata, sudah banyak lampu lalu lintas setiap persimpangan ia langgar. Bertahun-tahun Abryal berusaha tegar untuk tidak mencari orang tuanya. Saat mengetahui malah menambah luka dihatinya. Laila tidak pernah mau mendengarkan pendapatnya, itulah yang bisa ia simpulkan sekarang.


"Mama terlalu egois jadi ibu!" geramnya mencengkram kuat stir mobilnya. Terlintas dipikirannya ingin mengakhiri hidupnya, ia tersenyum pahit ingin membanting stirnya kearah pohon.


Deg.


Abryal langsung mengerem cepat mobilnya, ia bahkan menaikkan rem tangannya membuat mobil berhenti berdecit, beruntung tidak ada kendaraan lain yang melintas disana. Abryal terengah-engah, hampir saja ia lupa istrinya. Hampir saja ia membuat keputusan bodoh tanpa memikirkan perasaan Cia.


Pria itu mengusap wajahnya kasar, keringatnya banyak mengucur membasahi pipinya. "Huft, hampir saja!" Lirihnya lalu melirik ponselnya berdering.


Mengetahui nama si penelpon membuatnya tersenyum tipis dan langsung mengangkatnya. "Ya sayang?"


"Cepatan, lo kok lama banget?"


"Iya sebentar gue lagi dijalan. Astaga, Lo nggak betah banget dirumah lo sendiri?"


"Malas gue jadi nyamuk!"


Abryal terkekeh pelan. "Iya bentar lagi sampai, lo tunggu bentar yaa, gue tutup nih telponnya assalamualaikum."


"Hmm, wa'alaikumsalam hati-hati."


Abryal menghela napas pelan, ia kembali mengendarai mobilnya menuju rumah mertuanya. Jangan sampai Cia tau, kalau tadi gue sempat mau mati.