
Cia memegang pipinya sambil menatap cermin dikamarnya. Ia menggembungkan sambil mencubit pipi tembamnya. "Astaga, gue teringat trus yang tadi." gerutunya pelan kembali menatap dirinya dipantulan cermin.
"Arrgh!" kesalnya langsung berlari loncat ke kasur. Pikirannya jadi kacau, dan ini semua adalah salah Abryal sendiri. Cowok brengsek, cih ngapain lo yang salting Ciii.
"Ci...Ciii!" teriak Azlan dari luar. Cia berdecak pelan, bisa tidak abangnya jangan mengganggunya dulu tenang? Kenapa suka sekali merecoki ketenangannya macam seseorang?
"Ciii...Cici!" serunya menggedor kuat pintu kamar Cia. Gadis itu mengumpat kasar dan berjalan lebar menuju pintu. Dengan wajah cemberut ia langsung tunjukkan pada abangnya saat buka pintu.
"Apa??" ketusnya membuat Azlan mencebik.
"Sensi amat nih bocah, bantuin gue dong!" pintanya membuat Cia memutar bola matanya malas.
"Nggak, gue lagi cape banget bang."
"Bantuin gue, please." mohonnya menatap lekat adiknya.
Cia menghela napas, ada apa lagi masalah kakaknya ini? "Kenapa lagi kak?"
"Pura-pura jadi pacar gue dong Ci. Kan dikampus gue nggak ada yang kenal lo, please bantuin. Gue nggak mau direbutin lagi sama tuh anak kampus. Sumpah kapok gue!"
"Gila aja, lo emangnya dikampus setenar itu?" tanyanya tidak percaya abangnya sepopuler itu.
"Ck, remeh ya lo. Gue ganteng kek gini banyak yang lirik. Huft, please Ci bantuin gue!" rengeknya.
Cia memijit kepalanya pelan, abangnya ini sangat menyebalkan. Ia tidak akan berhenti merengek sampai Cia menyetujui apa yang pria itu mau. "Ganteng-ganteng childish." gumamnya pelan.
"Apa lo bilang?!"
"Nggak ada, tadi ada ayam jatuh dari genteng."
Azlan berdecak kesal. "Lo kira gue bodoh??"
"Huft terserahlah. Kalau gue setuju harusnya ada dong untung untuk gue?"
"Ck, mata duitan banget. Iya bakalan gue belikan apa yang lo mau."
Cia tersenyum lebar langsung mengangguk cepat keputusan abangnya barusan. "Nah gitu dong. Oke gue mau bang, trus apa yang harus gue lakuin?"
"Seperti pacaran pada umumnya, hari ini dress code kita harus sama."
Cia membelalak menatap abangnya. "Hah? Serius hari ini mulainya?!
Azlan mengangguk. "Iya...iyalah masa taun depan. Buruan ganti baju, masa gue ngajak anak bebek kayak lo!" ocehnya melihat baju tidur bergambar bebek yang dikenakan Cia saat ini.
"Memang sialan banget ya lo bang, masih untung gue bantuin." gerutunya melangkah masuk kedalam kamar.
Braak.
Pria itu terkejut. "Buset, galak banget. Besok kalau lo nikah suami lo keknya bakalan takut liat lo Ci!" seru Azlan dibalik pintu.
"Biarin!" sahutnya dari dalam.
***
"Serius nih bang, nggak bakalan ketahuan? Muka kita sama lo bego!" gerutunya yang entah kesekian kali ia tanyakan pada abangnya. Walaupun beda empat tahun, tetapi tidak dipungkiri wajah mereka terlihat mirip.
"Sekali lagi lo nanya, gue lempar lo ke kolam tuh!" gerutu Azlan menunjuk kearah kolam pancuran batu ditengah Mall.
Cia menyengir, sambil menggandeng tangan abangnya. "Oi bang, mending lo belikan gue sesuatu gitu kek, kan kita nih pura-pura pacaran kan. Jadi biasanya cowok tuh belikan ceweknya sih."
"Ck, lo malak gue ceritanya?"
"Eh ingat, perjanjian...perjanjian. Gue mau jadi pacar lo kalau lo mau beliin apa yang gue mau kan?" ledeknya sambil tersenyum miring.
Azlan hanya menghendus kesal, jika bukan karena Hilya, gadis yang selalu merecokinya dikampus mungkin ia tidak akan melakukan hal bodoh ini. Mungkin saat ini gadis itu ada berada disini. "Cih, lo mau beli apa?"
"Sini ikut gue bang!" ajaknya menarik tangan abangnya menuju restoran All You Can Eat. Azlan melirik jengkel kearah adiknya.
"Ya elah, nggak kenyang lo huh? Tadi siang lo barusan makan nasi loh, manalagi nambah satu piring." gerutunya membuat Cia tergelak pelan.
"Tapi gue pingin coba bang, gue belum pernah coba makanan nih." lirihnya menatap abangnya dengan tatapan sedih. Azlan yang melihat tatapan itu dengan jengkel mengacak-acak rambut Cia.
"Yakin habis?" tanya Azlan melirik kearah Cia, pria itu merampas ikat rambut Cia dan membalikkan tubuh Cia. Ia langsung mengikat rambut sang adik dengan rapi.
"Yakin percaya sama gue bang." seru Cia lagi.
Azlan terkekeh pelan. "Ya udah, lo harus abiskan karena ini nggak murah."
"Yang bilang murah siapa coba," gerutunya melangkah masuk kedalam restoran tersebut.
Mereka disambut dengan pelayan restorannya dan ditunjukkan tempat duduk untuk mereka berdua. Disana, pelayan itu menjelaskan cara memesan di restoran ini.
"Ooo jadi begitu, ya udah mbak saya mau pesan yang paket 2 orang ini." tunjuk Cia pada menu pesanan ditangannya.
"Baik kak, ditunggu sebentar ya alatnya saya ambilkan." ucapnya dengan ramah meninggalkan meja mereka.
"Oi bang, lo pasti dah pernah kesini kan?" tebak Cia menatap abangnya yang tengah memainkan ponselnya. Azlan mendongak sambil mengangguk pelan.
"Iya, gue bareng kawan gue seminggu yang lalu."
"Ooo..." Cia menoleh sekitarannya dan tertegun melihat seseorang yang ia kenal berada disini juga. Ya Ampun jangan bilang itu Abryal?! Gue keknha harus wanti-wanti tuh sama cowok. Apa hape gue disadap ya? Gumamnya dalam hati.
Pasalnya, ada waktu itu semua siswa disuruh mengumpulkan ponsel mereka masing-masing pada anggota OSIS. Jika tidak mau menyerahkan, siap-siap dihancurkan ditengah lapangan.
"Lo mikir apa?" tanya Azlan melihat adiknya sedang melamun.
"Hm? Nggak gue lagi curigain sesuatu." gumamnya kembali menoleh kearah pria yang duduk didekat mereka. Bukan apa-apa, tetapi pria itu sepertinya mirip dengan Abryal walaupun dirinya tidak melihat wajahnya dengan jelas.
"Curigain apa?" tanya Azlan lagi.
Cia menoleh kearah abangnya. Gadis itu ragu menyampaikan sesuatu pada abangnya. "Bang..."
"Hm, kenapa?"
"Menurut lo Abryal itu gimana?" tanyanya pelan.
Azlan mengerutkan dahinya. "Siapa Abryal?"
Cia berdecak pelan. "Itu lo, cowok yang ngantar gue kemarin, yang waktu gue sakit."
"Oooo dia, ganteng sih anaknya. Kenapa naksir lo?"
Cia mencebik. "Ck, iya ganteng dia. Tapi perawakannya gimana emangnya?" kesalnya.
"Baik kok dia, eh lo ada nggak terimakasih sama dia karena udah ngantarin lo kerumah. Parah sih kalau lo belum ada ngomong apa-apa ke dia." oceh Azlan membuat Cia menunjukkan raut cemberutnya.
"Ya elah bang, nggak perlu bilang makasih. Kan bukan gue yang minta diantar kemarin."
Azlan langsung menoyor kepala Cia. "Sombong amat nih bocah. Pokoknya apapun itu jika kita ditolong orang harusnya bilang makasih bodoh, astaga tata krama lo buruk banget." gerutunya.
Cia berdecak pelan, memang dalam lubuk hatinya ia merasa tidak enak dengan pria itu. Tetapi ia tidak ingin mengatakan apapun pada pria itu apalagi menemuinya. "Nggak usah bahas dia lagi." gerutunya lalu menoleh lagi kearah seseorang perempuan yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. "Bang...apa dia Hilya yang lo maksud?" tanyanya membuat Azlan menoleh kearah yang Cia lihat sekilas.
"Anjir anak tuh dah disini aja." Azlan terkejut, sedangkan Cia malah tertawa pelan. Mata gadis itu menoleh kearah meja disebelah Hilya dan terkejut melihat Abryal disana tetapi dengan seorang perempuan didepannya.
Entah kenapa ia tidak suka dengan pemandangan itu, spontan gadis itu langsung berdiri dan menghampiri pria itu, dengan perasaan kesal ia membuka topi pria.
"Lo kok di—" Matanya membelalak melihat orang yang mengenakan topi itu bukanlah Abryal melainkan orang lain.
"Maaf...maaf saya salah orang." lirihnya merasa malu seketika. Anjir gue salah orang, malu banget.
"Ciii!" gerutu Azlan menarik tangan Cia. "Aduh maafkan ad—pacar saya ya." lirihnya langsung menarik tangan Cia kembali ketempat duduk.
"Ih bang, ngapain juga lo bilang gue pacar lo?!"
"Ck, lo lupa? Disamping meja tuh ada Hilya!" gerutunya membuat Cia menyengir pelan.
"Hehehe iya juga ya, anjir bang gue malu banget."
"Lebih malu gue sialan, lo ngapain sih pakai main buka-buka topi orang huh?!"
"Eh itu..." Cia membggaruk tengkuknya tidak gatal, ia pun sendiri bingung mengapa ia melakukan itu. Entahlah, tapi yang jelas tadi pria itu mirip seperti Abryal.