Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Alasannya



Cia melotot kearah Abryal. Anak setan tuh sudah gila ya, gue cuma minta izin biar boleh pergi lo malah ngomong kek gini ke ortu gue?!.


Mama Deva langsung terduduk disamping suaminya. Ia masih syok mendengar perkataan dua tamu asing didepannya ini. "Maaf Buk, sepertinya saya menolak lamaran Anda. Kita belum saling mengenal." ucap Mama Deva tegas. Ini bukan main-main, apalagi umur Cia belum menginjak kepala dua.


Nenek Lara tersenyum tipis, ia memandang cucunya yang terlihat santai dan tidak gelisah sama sekali. Pria itu terus menatap kedua orang tua gadis itu, seakan-akan yakin ia direstui oleh keduanya dalam waktu dekat ini. Entahlah, mungkin instingnya mengatakan hal itu.


Abryal menoleh kearah Cia yang duduk disamping Azlan, ia ingin tertawa melihat wajah tegang yang ditunjukkan gadis itu. Menggemaskan sekali. gumamnya. Tentu, ia akan bertekad menikahi gadis itu secepatnya. Bricia, nama gadis itu terus berputar-putar diotaknya saat pertama kali melihat gadis itu, ia bukan menyukai Cia karena jepit rambut putih cantik yang mirip dengan Mamanya melainkan tingkah ajaib gadis itulah yang membuatnya terhibur.


Ia tidak ingin berpacaran, karena ia tidak ingin menjalani hubungan yang tidak jelas seperti kedua orang tuanya. Ia sendiri terkejut mengetahui fakta yang menyakitkan jika mereka sama sekali tidak menikah dan hamil diluar nikah. Jika ia tidak menemukan buku itu di gudang rumahnya mungkin ia tidak akan tahu sama sekali asal usul kedua orang tuanya. Memilih Cia sebagai istrinya, sudah ia pikirkan dengan matang. Cia adalah sosok gadis yang cocok bersanding dengannya.


"Kamu ingin menikah dengan anak saya?" tanya Papa Rendi menatap Abryal tajam. Raut pria paruh baya itu terlihat datar, sulit ditebak ekspresinya disini. Sampai Cia ingin rasanya menjerit dan membentak pria itu untuk menghentikan aksi konyolnya ini. Menikah? Belum saatnya ia memikirkan kesana, masih banyak hal yang harus ia lakukan sebelum menyentuh jenjang pernikahan.


"Saya menyukainya Om, selain kecantikannya, saya menyukai sifatnya. Om, mungkin saya terlihat buru-buru melamar anak Om, tapi InsyaAllah saya akan menjadikan anak Om seperti Om menjaganya." tuturnya menyakinkan Papanya Cia dengan ucapannya barusan.


Deg.


Sial, nih calon mertua gue galak banget natapnya.


Papa Rendi mengangguk pelan, membuat Cia dan Azlan saling memandang. Kenapa raut Papa seperti itu?


Papa Rendi menoleh kearah Cia, membuat putrinya itu gugup menatapnya. "Kamu pacaran sama dia?" tanya Papa Rendi sambil menunjuk kearah Abryal.


Cia menggeleng cepat, ia tidak ingin Papanya salah paham. Sejak ia putus dengan pria brengsek itu, Cia selalu memegang teguh janjinya untuk tidak berpacaran lagi dengan pria lain. Ia sudah jera, tidak ingin lagi membuat masalah. Cukup menjadi anak baik dan penurut, hidupnya akan tentram dan damai.


Papa Rendi mengangguk lagi, ia menoleh kearah pria yang berani melamar putrinya secara mendadak. Sorot matanya menelisik dari ujung kaki hingga kepala Abryal. "Bisa kita bicara berdua? Nama kamu Abryal tadi kan?" tanya Papa langsung dianggukan Abryal.


"Ikut saya." seru pria paruh baya itu melenggang menuju ruang kerjanya. Sedangkan Abryal dengan santai menoleh kearah Neneknya lalu menoleh kearah semua orang yang tengah menatapnya dengan sulit diartikan.


"Jelaskan sama Mama sekarang, apa maksud dia tadi?" cerca Mama Deva menoleh kearah Cia. Ia masih takut dan cemas membiarkan putrinya menjalin hubungan dengan pria diluar sana. Ia tidak ingin kejadian yang waktu itu terulang lagi.


Cia menggaruk tengkuknya tidak gatal, sungguh otaknya sekarang tidak berkompromi dengannya. Yang satu jantungnya berdegup kencang tidak karuan, yang satu lagi otaknya malah mendadak buntu. Ini benar-benar diluar ekspektasinya, hanya perkara diizinkan keluar kota malah berakhir dengan lamaran ini.


"Cici, nggak tau juga Ma. Hmm Nek, apa maksud semua ini? Cia tidak paham." lirihnya menoleh kearah Nenek Lara yang daritadi hanya menyimak perbincangan diantaranya sambil menikmati teh hangat buatan Cia. Nenek Lara mendongak menatap calon cucunya dengan lembut.


"Maaf, Nenek juga tidak menyangka Al akan membicarakan ini. Tapi, setelah tau alasannya dari dia, Nenek berharap kalian bersatu Nak."


"Maaf Nek, tapi kita kan baru kali bertemu, Cia baru tau Anda neneknya kak Al, Cia aja syok sendiri kak Al bilang ini semua. Cia kira kak Al kesini untuk bantu Cia izin ke Papa biar dibolehin keluar kota Nek." jelas gadis itu dengan panik.


Nenek Lara mengangguk mengerti. "Keputusan ada ditangan kamu sayang, itu pilihan kamu. Nenek nggak memaksa, nenek hanya merestui hubungan kalian berdua." ucapnya dengan bijak.


"Maaf Nek, adek saya sepertinya tidak cocok untuk Abryal. Kamar dia aja berantakan, gimana mau ja—" Cia langsung menyumpal mulut Abang lucnutnya dengan tisu yang ia ambil segenggam dari kotak tisu. Jangan lupakan tatapan Mamanya melotot kearahnya gara-gara tingkahnya barusan.


Cih, ngapain sebar aib juga woi?!


Azlan memuntahkan cepat tisu yang ada dimulutnya. Pria itu kesal langsung melempar bantal kearah Cia. "Cici sialan!"


"Azlan mulutnya!" seru Mama Deva melotot kearah putranya, lalu kembali tersenyum manis kearah Nenek Lara.


Azlan langsung diam, ia menyorot permusuhan kearah adiknya. "Awas lo." bisiknya menekan.


"Pa..." lirihnya malah diabaikan sang Papa, Pria itu duduk dihadapan Cia sambil menatap tajam kearahnya. Aduh, apa ya yang dibilang kak Al, kok Papa liatin gue gini amat, kan jadi takut.


"Papa setuju." ucap Papa membuat semuanya langsung heboh dan panik.


"APA?!"


***


Disinilah Cia berada, dihadapan meja riasnya kini ia didandani oleh MUA kenalan Mamanya. Wajahnya hanya diam memperhatikan kerja orang yang meriasnya. "Wiih pengantin baru kok bengong?" tanyanya memecahkan keheningan diantara keduanya.


"Hm? Nggak ada kak." jawab Cia sambil melihat tangannya kini sudah dihiasi inai yang bermotif bunga.


"Apa kakak senang dengan pernikahan ini? Aku liat wajah calon suami kakak tampan banget." tanya kakak perias itu.


Iya tampan kak, tapi kelakuannya buat gue jantungan trus. gerutu Cia dalam hati.


Ia tidak menyangka, hasil rundingan kedua pria berbeda usia itu malah melenceng dari awal yang ia rencanakan. Harusnya, tidak ada yang terjadi hal luar biasa disini. Ekpektasinya hanya menunggu Abryal menjelaskan semuanya, lalu diizinkan pergi. Malah realitanya menjadi pengantin perempuan pria itu. Gadis itu menggerutu pelan sambil mengangkat roknya gaunnya yang sedikit panjang, maklumlah beli gaun jadi karena acara pernikahan ini mendadak sebelum dirinya ikut pergi acara sekolah itu.


Ngomong-ngomong kenapa dirinya menerima Abryal begitu saja? Setelah dipikirkan kembali, tidak ada yang salah menikah dengan pria itu. Sama-sama terlihat menguntungkan, apalagi Abryal pandai memasak membuatnya semakin besar peluang untuk berleha-leha. Eh, astagfirullah maaf bukan itu maksud gue.


Dan yang lebih heran dan tidak akan satupun orang yang menyangka jika sang Papa akan menyetujui lamaran dadakan ini. Seorang Papa nya yang sangat ketat dengan penjagaannya kini malah menikahkannya dengan Abryal? Wah luar biasa.


"Huft, harusnya gue nggak nerima lamaran dadakan dia." gumamnya pelan menatap kearah jendela kamar yang terlihat cerah hari ini.


"Udah jadi acaranya, baru lo bilang nolak." sindir seseorang didekatnya.


Deg.


Cia menatap malas kearah pria yang tengah bersandar diambang pintu dengan mengenakan tuxedo milik pria itu. Mukanya terlihat cuek tetapi sebenarnya ia ketar-ketir bingung harus melakukan apa kedepannya.


"Hmm suka-suka gue lah." jengkelnya.


Abryal tertawa pelan, justru pria itu melangkahkan kakinya menuju Cia. "Anting lo belum dipasang," ucap Abryal sambil memasangkan anting pada Cia dan memutar tubuh gadis itu.


"Cantik."


Cia tersipu malu, dirinya langsung menggeleng cepat untuk tidak berkhayal yang tidak-tidak. Ya ampun Ci, pikiran lo tolong dikondisikan. gumamnya pelan dalam hati.


Cia menatap lekat orang yang selalu membuat harinya ketar-ketir. "Apa alasan lo nikahi gue kak?"


Langkah kaki Abryal yang hendak keluar langsung berhenti, dan menatap kearah calon istrinya itu. "Kenapa?"


"Gue butuh alasan yang kongkrit!" ucap gadis menatap calon suaminya.


Deg. Tatapan pria itu menatapnya dalam, seolah-olah pandangannya hanya tertuju pada Cia.


"Alasannya..."