Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Mira Dalam Bahaya



Cia memakirkan mobilnya di parkiran, ia berulang kali membuang napas gara-gara kejadian tadi. Sedangkan pelaku? Masih tertidur nyenyak disampingnya. "Untung lo suami gue, kalau nggak udah gue buang lo ke sungai kak!"


Cia gemas melihatnya, rasanya ia ingin menyentuh lentikan bulu mata Abryal yang terus menjadi pusat perhatiannya. "Boleh nggak ya? Hmm kan dia lagi tidur, nggak papalah ya." gumamnya bermonolog sendiri. Ia perlahan-lahan meraih untuk memegang bulu mata Abryal, namun saat tangannya hendak mencapai bulu mata suaminya tiba-tiba tangannya ditahan oleh pria itu.


"AKKH KAK!"


"Sakit telinga gue Cii, jangan teriak!" gerutunya membungkam mulut Cia.


"Ya abis lo tiba-tiba pegang tangan gue," keluhnya membuat Abryal terkekeh.


Pria itu menarik tangan Cia hingga tubuh gadis itu terhuyung merapat kearahnya. Ia menatap lama mata Cia, "Mata kamu cantik,"


Cia merinding langsung beringsut menjauhi suaminya. "Ka-kak kenapa cara ngo-ngomong lo aneh gitu, kayak biasa ajalah." Sumpah demi apapun Cia langsung gugup mendengar cara bicara suaminya.


Abryal tertawa pelan. "Gue nggak buru-buru kok, kalau lo nyaman dengan panggilan kita kayak gini, ya udah gue ngikut aja." ucapnya menenangkan Cia.


Cia menggerutu pelan, suaminya ini memang rada-rada menyebalkan tetapi, kadang bisa membuatnya salah tingkah.


"Ini kita kemana?" tanya Abryal bingung dengan tempat yang mereka kunjungi saat ini.


Cia terkekeh pelan, ia tidak sabar melihat ekspresi Abryal saat didalam nanti. "Yok ikut gue!" ajaknya dengan semangat.


Abryal menurut, terserah istrinya membawanya kemana yang penting ia dapat melihat senyuman Cia. Gadis itu benar-benar membuatnya gila, pikirannya terus tertuju Cia dan Cia. Gadis bar-bar yang berhasil membuatnya jatuh cinta.


Senyumannya perlahan pudar lantaran melihat pemandangan didepannya ini. "Cih, ngapain kesini?" jengkelnya menatap istrinya.


Cia menyengir pelan, ia tidak mempedulikan keluhan suaminya dan berjalan mendekati loket pembayaran Ice skating. "Mbak, 2 orang ya!"


"Baik kak, tunggu sebentar." ucap kasir itu dengan ramah. Setelah melakukan pembayaran, Cia menarik tangan suaminya untuk mengambil sepatu Seluncur sesuai dengan ukuran kaki mereka.


"Oi ayolah kak, masa lo cemberut gini sih??"


"Kenapa nggak main yang lain aja Ci?" gerutunya menatap malas kearah lapangan es yang penuh dengan beberapa orang bermain diatasnya.


"Gue maunya main ini sih kak, seru loh main berdua!" serunya menyakinkan suaminya. Cia ingin sekali bermain dengan suaminya, sudah banyak list yang dibuatnya untuk kegiatan mereka berdua nantinya.


"Nggak mau, lo aja main sendiri." tolaknya membuat Cia menghela napas.


Gadis itu langsung tersenyum smirk, saat muncul ide agar suaminya itu ikut dengannya. "Trus kalau lo disini, siapa yang nolong gue?"


"Apanya? Ya kan ada petugasnya disana!" tunjuk Abryal kearah petugas yang berdiri di beberapa sudut lapangan.


"Yakin nih? Trus kalau dia nolongin gue eh rupanya nggak sengaja meluk gue gimana kak?" godanya.


Raut Abryal seketika kesal, enak saja orang lain memeluk istrinya! Tidak akan dibiarkan, yang boleh memeluknya hanya dirinya seorang. "Nggak... nggak, gue masuk!" tekad pria itu sambil merampas sepatu Seluncur yang ada ditangan Cia. Pria itu menyuruh istrinya duduk dan memasangkan sepatu padanya.


"Tunggu, jangan gerak dulu!" Abryal memasang sepatu pada dirinya, lalu menggenggam tangan Cia. "Mana sarung tangan lo?"


"Nih," Cia langsung memberikan sarung tangannya. Ia tidak menyangka jika Abryal juga memasangkan sarung tangan padanya.


"Dah nyaman?" tanya pria itu dengan lembut. Cia mengangguk pelan.


"Pegang tangan gue!" serunya menggenggam erat tangan istrinya, mereka berdua perlahan-lahan masuk kedalam lapangan es.


"Ci-Ci..." gugup pria itu memegang erat bahu Cia.


Cia mengulum senyum,ia tidak menyangka jika Abryal tidak pandai bermain ice skating. "Ternyata lo punya kelemahan juga ya?"


"Iyalah, gue bukan manusia sempurna." balasnya sedikit jengkel. Cia yang melihat suaminya, hanya bisa tergelak sambil memegang kedua tangannya agar tidak jatuh.


"Seimbangkan badan lo kak, liat gue." ucapnya menenangkan Abryal.


Abryal masih kesusahan menyeimbangkan tubuhnya, menuruti gadis itu. "Ja-jangan dilepas bego!"


"Cih, santai lah woi." ketusnya memutar bola matanya malas.


"Jalan pelan-pelan, jangan liat kebawah kak. Liat mata gue," ucap Cia lagi perlahan-lahan membimbing Abryal untuk berjalan sedikit demi sedikit.


Bruuk.


Cia tersentak, seketika dirinya tertawa terbahak-bahak. "Ya Allah kak, lo benar-benar payah main ini!"


Abryal sedikit meringis, ia memegang tiang didekatnya untuk sebagai tumpuan berdiri. "I-itu cuma pemanasan doang sekalian hibur lo!" kilahnya hanya dianggukan Cia.


"Terserahlah, sekarang coba perlahan-lahan maju kak!"


Bruuk.


"BUAHAHAHA," Cia kembali tergelak, sepertinya ia harus merekam kesialan Abryal hari ini.


Abryal menggerutu pelan dalam hatinya, ia langsung berdiri sambil memegang tumpuan dan mencoba berjalan sedikit demi sedikit tanpa bantuan Cia.


Bruuk.


Untuk kesekian kalinya Abryal terjatuh membuat Cia merasa iba. Sekali dua kali mungkin ia masih bisa menertawai suaminya, namun jika sudah berkali-kali bisa dipastikan ada memar ditubuh pria itu. "Kak, udah aja nggak?"


"Kak, lo luka..." Lirihnya menyadari lengan Abryal tampak membiru, ia yakin lebam itu akibat pria itu terjatuh beberapa kali tadi.


"Biasa ajaa, gue bisa kok." tolaknya lagi.


Bruuuk.


"Sepatu sialan, bisa nggak kerja sama woi?" ringisnya pelan. Cia langsung berayun dengan sepatu seluncurnya ketempat Abryal.


"Kak, tangan lo udah mulai lebam loh, jangan dipaksakan." lirihnya tidak tega, bahkan ia hampir memanggil petugas tetapi dilarang Abryal.


"Gue bisa sendiri Cia, liat usaha gue dulu!"


"Yakin?"


Abryal mengangguk, perlahan tapi pasti, ia mulai terbiasa dengan sepatu seluncur sialannya itu. Hampir 15 menit asyik jatuh bangkit akhirnya membuahkan hasil. Abryal dengan lancar berayun disekitar Cia.


"Wow, gila lo pelajarinya cepat amat kak. Gue aja butuh dua bulan selancar lo!" pujinya membuat Abryal langsung mengacak-acak rambut istrinya.


"Ya siapa dulu dong, suami lo nih kan paling pintar..." Sombongnya tersenyum miring.


"Cih, orang pintar mulai sombong." gerutunya kesal.


Abryal langsung menarik tangan Cia dan membuat gadis itu menari berputar-putar ala dansa diatas permukaan es. "Mau jadi pacar gue nggak?" tawarnya spontan membuat Cia terkejut.


"Hah?"


"Lo belum suka gue kan? Biar gue yang bikin lo cinta sama gue Cici, mau ya jadi pacar gue?"


Cia terdiam, tetapi tubuhnya tetap mengikuti irama pergerakan Abryal. Pria itu terkekeh melihat istrinya memasang tampang bodoh. "Diamnya lo artinya setuju ya sayang." ucapnya sepihak tanpa menunggu jawaban istrinya.


Ya kalau gue nolak, juga nggak ada gunanya kak. Kita kan udah nikah. Cia hanya menghela napas panjang.


***


Sejak hari itu, mereka resmi berpacaran dengan sungguh-sungguh. Mungkin semua orang mengira mereka hanya sekedar pacaran saja tanpa mengetahui jika mereka sudah menikah. Seperti pagi ini Cia menyiapkan sarapan dan mempersiapkan seragam milik suaminya. "Kak, lama banget mandinya? Lo buat kamar mandi huh?" gerutunya kesal.


"Sabarlah, gue lagi berak!" teriak Abryal dari dalam kamar mandi.


"Anjir nih anak nggak ada jaimnya. Biasanya kalau cowok-cowok pasti cari alasan lain." gumamnya menggeleng-gelengkan kepalanya. Cia menguncir rambutnya, tak lupa memasangkan jepit rambut kesayangannya. Ngomong-ngomong soal jepit rambut ini, Cia dan Abryal sebenarnya penasaran dengan asal usul pembeliannya. Apalagi miliknya persis seperti milik si anak manja tuh, membuatnya terus bertanya-tanya.


"Yang dia punya imitasi atau asli ya?" gumamnya lagi.


"Mau nanya Mama, jawabannya tetap sama. Pemberian sahabatnya, siapa sih sahabat Mama yang kaya tuh??" gerutunya.


"Astaghfirullah, bau apa nih woi?!" gumamnya mencium aroma tidak sedap. Ia menatap horor kearah Abryal yang baru saja keluar dari kamar mandi, spontan langsung menutup hidungnya.


"Ya Allah kak, kok sebau ini berak lo? Makan apa lo semalam huh??"


Abryal tersipu malu, pria itu menyengir pelan. "Hehehe abis makan jengkol buatan Mama, baru kali ini gue coba tuh jengkol, eh rupanya ketagihan." cengir pria itu.


"Pantesan baunya kayak jengkol, aah jorok banget dah!" keluhnya berlari keluar kamar mencari pasokan oksigen yang layak ia hirup.


"Gila sih ganteng-ganteng bau! Mamaaa harusnya jangan perkenalkan jengkol sama kak Al, bisa mati muda Cici nanti..." ocehnya lagi. Namun, saat dirinya hendak menuju dapur, tiba-tiba ponselnya berbunyi dari nomor orang yang tidak dikenal.


"Siapa sih yang ganggu pagi-pagi nih?" Cia memilih mengabaikan nomor itu, tetapi nomor itu terus saja muncul membuatnya sedikit jengkel.


"Apa sih nih orang, rese banget!" gerutunya langsung mengangkat telepon itu. "Halo woi, bisa nggak usah ganggu gue?!"


"Ciii..." lirih seseorang diseberang sana.


Deg.


Cia mengenali suara ini, seketika firasat mendadak buruk. "Mir? Mira lo kenapa?"


"To...tolongin gue Ciii..."


"Hei Mira lo di—" Cia terkejut saat Abryal langsung merampas ponsel dari tangannya. Pria itu langsung mematikan ponselnya sepihak membuat Cia marah padanya.


"KAK, APA-APAAN SIH?! SAHABAT GUE DALAM BAHAYA!"


Abryal menatap dingin kearah istrinya, lalu menatap nomor itu. Sial, ternyata dia benar-benar melakukan tindakan gila!


"Ikut gue!" ajaknya tetapi Cia enggan ikut dengannya.


"Nggak, balikin hape gue sekarang kak!"


"Ikut gue sekarang Cia!"


"Balikin kak, sahabat gue lagi dalam bahaya brengsek!" cercanya menatap tajam kearah Abryal.


Abryal memejamkan matanya seraya menahan amarahnya agar tidak membentak istrinya. "Makanya ikut gue Belvana Bricia." tekannya dengan nada dingin membuat Cia terdiam.


Deg.