
Cia dan Mira akhirnya sampai dimana Desi yang kini sedang diintrogasi dihadapan semua guru. Untungnya Desi sudah memakai jaket yang menutupi bahunya yang tadi terbuka, mereka sedih melihat Desi lagi-lagi dalam masalah yang menguji mental gadis itu. Cia langsung menyerahkan bukti yang didapatkan suaminya tadi pada Miss Lala, bahkan videonya sekaligus. Semua guru tampak terkejut melihat bukti yang ada pada Cia. Mereka semua langsung menyoroti tajam Serena yang terdiam pucat tidak jauh dari mereka.
Gadis itu tidak menyangka jika rahasianya malah terbongkar dengan cepat. Ia juga tidak menyangka jika Cia bisa mendapatkan semua bukti dengan mudah. Brengsek!
"SERENA, APA KAMU SUDAH GILA?! KAMU SADAR APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN HUH?!" bentak kepala sekolah membuat gadis itu menunduk ketakutan.
"Jawab bu Vanya, Serena!" serunya Miss Lala. Serena benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, ia mengumpat dalam hatinya mencaci maki pria yang sudah ia sewa untuk menjembak salah satu sahabat Cia. Serena begitu iri mengapa Cia selalu beruntung? Semakin dipikirkan ia semakin membenci gadis itu sampai kapanpun.
Cia dan Mira hanya memandang datar kearah Serena, sedangkan Desi menyorot marah pada orang yang membuatnya menderita seperti ini.
"Keterlaluan, apa lo sadar yang lo lakuin itu buat trauma gue muncul lagi brengsek!" kesal Desi menjerit pelan, rasa sesaknya semakin menjadi-jadi. Cia langsung memeluk Desi begitu juga dengan Mira.
"Sabar Des, jangan gegabah marahin dia didepan guru. Jangan buat reputasi lo malah jadi buruk didepan guru."
"Gue benci dia Ci, gue nggak ada salah apa-apa tapi masa depan gue kembali dipertaruhkan. Apa sih masalahnya? Gue nggak ada gangguin anak setan nih!" cercanya menangis sesunggungkan sambil menunjuk kebencian kearah Serena.
"Gue paham Des, gue paham..." lirih Cia mengeratkan pelukannya. Dapat ia rasakan betapa gadis ini begitu menggigil.
"Kamu keterlaluan Serena, kamu sudah merusak nama baik sekolah. Untuk itu kamu sekarang harus pulang bersama saya dan guru-guru lainnya untuk mengurus kasus kamu!" seru bu Vanya menghela napas kasar.
Serena ketakutan, ia tidak ingin terlibat masalah. Gadis itu bertekuk lutut dihadapan semua gurunya sambil memohon untuk tidak dikeluarkan dengan paksa dari sekolah. Apa kata orang tuanya nanti jika mereka tahu kelakuannya?
"Jangan bertekuk lutut dengan saya, saya bukan Tuhan kamu! Makanya sebelum bertindak berpikir dulu, pantas nggak kamu lakuin ini? Apa efek korban yang kamu apain? Kamu sanggup nggak dituntut orang tuanya? Nggak kan? Mana sanggup kamu nak!" cerca bu Vanya menatap tajam kearah Serena sebelum dirinya melangkah menuju kamarnya.
***
Desi langsung memeluk mereka berdua dengan haru. Tidak menyangka jika kedua sahabatnya masih mempercayainya. Ia benar-benar sangat menyayangi kedua orang itu. "Hiks, gue kira kalian nggak percaya gue!"
Cia terkekeh pelan. "Tuh tanya sama orang disebelah lo Des, tadi dia nggak percaya sama lo!" ledeknya menunjuk kearah Mira. Mira langsung melotot sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gue tadi lagi singkronkan situasi, gue tetap percaya lo kok, jangan percaya Cia Des, dia nih kadang-kadang suka buat orang naik darah!" gerutunya menoyor kepala Cia.
"Anjir sakit woi!" gerutu Cia lagi.
"Alah lemah banget, gue cuma noyor kepala lo pelan ya Ci..." gemasnya.
"Btw, kok kalian bisa dapat buktinya?" tanya Desi penasaran.
Cia dan Mira saling melirik, Mira mempersilahkan untuk Cia menjelaskan semuanya. "Jelaskan Ci!"
"Harus banget ya gue?"
"Lah iya, kan kak Al yang nemuin buktinya trus ngasih ke elo!"
"Kak Al??" Desi terkejut, kedua sahabatnya mengangguk pelan menyakinkan gadis utu.
"Iya, kak Al yang buat cowok brengsek tadi babak belur. Uhuuy keren banget tau kak Al tadi woi, bikin Cia klepek-klepek, ya kan Ci?" ledek Mira menyenggol lengan Cia.
"Jangan ngadi-ngadi lo ya!" Gerutunya menoyor kepala Mira.
"Sakit woi!"
"Impas kita," seru Cia puas, ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul satu siang. "Nggak jadi ke kebun teh?"
Mira mengedik bahu. "Nggak tau, rencananya pagi nih. Cuma ada insiden si Ular, jadinya diundur keknya."
"Gimana ya nasib si ular?"
"Nggak tau dan tidak mau tau. Biar aja mampus sana dua, siapa suruh buat hal yang enggak-enggak!" kesal Cia lagi.
"Hmm tulah, pokoknya harus jadi sih ke kebun teh."
"Cih, kenapa kalian liatin gue kayak gitu?"
"Lo sih yang paling dekat sama kak Al, ayo dong tanyain ke kak Al, jadi apa nggak kita ke kebun teh." Bujuk Mira
"Tanyain aja sendiri, kalian kan punya mulut juga." Cia menggeleng pelan.
"Ya elah nih anak, dia tuh crush lo Ci, kalian nih punya hubungan tapi nggak ada status." seru Desi membuat Cia kesal sendiri.
"Cih, status? Ada woi. Gue sama dia udah nikah!"
Deg.
Cia langsung membungkam mulutnya sendiri. Bisa-bisanya ia keceplosan mengatakan pernikahannya dengan Abryal. Cih, gue terlalu bawa emosi keceplosan kan jadinya!
"BUAHAHA!" Mira dan Desi tertawa terbahak-bahak menatap wajah polos Cia. Dahi Cia mengerut, ia bingung letak lucu dari ucapannya itu ada dimana? Ia bahkan tidak terlihat bercanda saat mengatakan itu.
"Ci, please jangan banyak halu. Lo emang paling dekat sama dia, tapi jangan sampai berhalusinasi beb!" seru Mira menepuk bahu Cia.
"Apasih, gue benaran lo!" Sanggahnya kesal menatap keduanya tidak percaya dengan omongannya. Mungkin diawal ia merasa menyesal keceplosan tadi, tapi saat melihat reaksi sahabatnya membuat Cia jengkel dan terus terang membuat mereka percaya. "Kalau nggak percaya tanya sendiri sama kak Al!"
"Hahahahahaha, Ci...Ci jangan buat gue ngakak terus!" Mira bahkan sampai menitik air matanya.
"Ish, Desi lo masa ikutan ketawa juga sih?! Lo percayakan sama gue Des?"
Desi bukannya menjawab, malah meletakkan punggung tangannya didahi Cia. "Nggak panas pun, banyak istighfar Ci, jangan sampai haluin kak Al." ucapnya menasehati Cia.
Cia cemberut. "Kalian kira gue kesurupan apa?! Ish, gue benaran udah nikah lo, nih liat buktinya tangan gue ada hiasan inai-nya!" serunya sambil menyisingkan keatas lengan kaosnya.
Mereka berdua melihat dengan seksama tangan Cia. "Lah, lo sendiri yang bilang kalau lo hadiri pesta sepupu lo,makanya ikutan juga." protes Desi lagi.
"Cih, gue booongan doang, masa iya gue langsung bilang 'woi gue udah nikah, nih liat cincin nikah gue!' masa iya kayak gitu, yang ada kalian syok lah!" cercanya kesal.
"Seriusan?" tanya Mira masih belum percaya. Cia menghela napas kasar, ia jadi frustasi sendiri menjelaskan kepada mereka berdua agar bisa mempercayainya.
"Iya woi, yok ikut gue temuin kak Al, biar gue buktikan kalau ucapan gue benar!" Ajaknya menarik kedua tangan sahabatnya berjalan menuju kamar Abryal.
Mereka bertiga akhirnya sampai didepan kamar Abryal. Cia langsung menggedor pintu Abryal, dan tidak berapa lama Abryal membuka pintu kamarnya.
"Hm? Kenapa?"
"Gue istri lo kan kak?"
Byuur.
"Uhuk...uhuk, APA?!" David yang kebetulan ada didalam kamar Abryal langsung tersedak mendengar lontaran adik kelasnya yang satu itu. Buru-buru pria itu menekan tombol pause game di laptop mereka, dan berjalan mendekati keduanya.
Abryal tersenyum miring, apa lagi yang akan dilakukan istrinya kali ini? "Kenapa lo nanyain itu?" tanya Abryal tenang membuat David menoleh heran kearahnya.
"Jawab pertanyaan gue kak, gue butuh pembuktian!"
Abryal mengeluarkan kalung dari balik kaosnya, terlihat kalung hitam itu bergelantungan cincin berwarna emas. Pria itu menunjukkan cincin itu didepan wajah Cia. "Iya lo istri gue, gue suami lo,kita udah nikah." jawabnya simpel tetapi membuat orang yang mendengarkan ucapannya syok.
"Ja-jadi benaran ka-kalian berdua udah ni-nikah?" tanya Mira terbata-bata menatap kedua orang didepannya. Begitu juga Desi dan David yang melotot tidak percaya.
"Iya, kalian dibilangin sih nggak percaya. Oke kak, makasih atas jawabannya." ucapnya sopan menyalami punggung tangan Abryal secara tiba-tiba layaknya suami istri pada umumnya. Pria itu terdiam ditempat, darahnya berdesir dengan perlakuan Cia barusan.
Sial, anak papa Rendi emang suka banget buat gue baper.