Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Bahaya



Abryal hanya menatapnya cukup lama. Seolah-olah tidak terlihat marah diwajahnya, pria itu merogoh saku celananya lalu melempar kunci ruangan pada Cia. "Carilah apa yang lo butuhkan disana." ucapnya pelan meninggalkan Cia dan kunci di genggaman gadis itu.


"Brengsek!" umpat Cia merasa sesak, rasanya ia ingin menangis walaupun ia tidak tahu apa yang mau ditangiskan saat ini. Hanya yang berputar diotaknya adalah pertanyaan yang sama, bagaimana pria itu tahu tentang dirinya? Semua hal yang tidak ia suka? Dan Kenapa pria itu selalu mengelak setiap ia bertanya itu? Apa pria itu sudah mengenal dirinya jauh ia sebelum kenal pria itu? Apalagi jepit rambut miliknya, apa maksud semua ini?!


***


Mira langsung mendongak saat mendapati Cia berjalan lesu masuk kedalam kelas. Gadis itu langsung berhambur memeluknya. "Ya ampun Ci, lo dari mana aja??" cemas gadis itu, Cia mendongak tersenyum tipis menatap temannya.


"Gue tersesat." lirihnya pelan duduk ditempatnya. Untuk perihal masalahnya dengan Abryal seperti belum bisa ia bicarakan pada Mira. Ia masih belum tahu apakah Mira ini pandai menjaga rahasia atau tidak, jangan sampai terjadi seperti waktu SMP dulu karena dirinya terlalu mempercayai seseorang hingga rahasianya terbongkar satu sekolah.


Mira menatap aneh temannya yang satu itu, biasanya gadis itu super aktif. Ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu saat mereka lari tadi. "Lo nggak kenapa-kenapa kan Ci?" tanyanya lagi.


Cia menggeleng. "Nggak kok, maaf ya Mir gue lagi pingin sendiri boleh ya?"


Mira tertegun, tetapi ia langsung mengangguk pelan. "Boleh kok, kalau lo butuh sesuatu panggil gue ya." seru gadis itu sambil tersenyum tipis.


"Makasih," ucap Cia menangkup wajahnya sambil menggenggam erat kunci pemberian Abryal tadi. Percuma pria itu memberikan kunci padanya, karena Cia tidak akan pernah lagi masuk kedalam ruangan itu. Masa lalunya cukup membuat gadis itu sedikit trauma, apalagi yang dilakukan Abryal padanya saat ini persis seperti mantan pacar brengseknya itu. Mendekatinya secara perlahan tetapi mempunyai niat terselubung, Cia tidak ingin masuk kedalam lubang yang sama.


Tak terasa jam pelajaran olah raga tiba, tetapi kepala Cia mendadak pusing. Entah kebetulan atau disengaja, tetapi pokoknya pandangannya terasa kunang-kunang. "Sssh, kepala gue kok makin pusing ya?"


Mira yang baru selesai mengganti pakaian olah raga langsung menghampiri Cia. "Ci, lo baik-baik aja kan?" tanyanya menatap Cia terlihat pucat.


Cia mendongak tetapi pandangannya menatap wajah Mira seperti terbayang-bayang, dahinya mengerut. "Mir, kepala gue pusing." lirihnya.


Mira cemas langsung meletakkan telapak tangannya dikening Cia. "Astaga Ci, lo demam?! Kenapa nggak bilang dari tadi sih??" gerutunya menuntun Cia menuju UKS.


"Biar gue bilang sama Mr. Aryo kalau lo lagi sakit." ucap gadis itu lagi.


Mereka berdua akhirnya tiba di depan pintu UKS. Gadis itu memapahnya agar bisa berbaring diatas kasur. Petugas UKS langsung memeriksa keadaannya.


"Sejak kapan dia kayak gini?"


"Nggak tau bu, saya baru sadar jika dia udah demam,"


"Ya sudah, biar ibu yang urus. Kamu lanjutlah belajar."


"Baik bu, saya titip teman saya ya bu. Ci, gue pergi dulu ya, biar gue yang bilang ke Mr. Aryo." pamitnya.


Cia mengangguk lemah. "Makasih Mir, udah nganterin gue. Maaf ngerepotin."


"Santuy, cepat sembuh ya." serunya sebelum meninggalkan ruangan UKS. Tinggallah Cia dan perawat itu, wanita paruh baya itu dengan telaten mengurusinya.


"Kamu udah makan belum?"


Cia menggeleng pelan. "Saya lagi nggak selera bu."


"Mau makan bubur? Kamu harus makan dulu ya Nak." seru perawat itu mengambil semangkuk bubur di dapurnya. Cia hanya menghela napas pasrah, tidak biasanya ia jatuh sakit seperti ini.


***


David memandang ngeri melihat Abryal menservis bola voli tidak biasanya. Seperti ada emosi yang terselubung didalamnya, tetapi ia tidak tahu apa yang membuat lelaki itu dingin dan sensitif. Lihatlah, saat lawan mainnya tidak bisa menangkap bolanya dengan baik, habis dicerca oleh pria itu.


"Lo bisa main nggak sih?! Masa service bola aja nggak bisa?!" cercanya melempar bola asal, ia sepertinya sudah muak. Tatapannya kini tertuju pada David, membuat sahabatnya ketar-ketir sendiri.


Abryal duduk sambil meneguk kandas air mineralnya dan meremukkan botol plastik itu dan melempar kedalam tong sampah didekatnya. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu mengambil ranselnya dan pergi keluar begitu saja.


"Buset, ngeri amat ketos kita. Baru kali ini gue liat dia semarah itu, apa ya yang buat dia marah?" gumam salah satu anggota OSIS mereka. David hanya mengedik bahu, tetapi ia bisa pastikan jika ini ada hubungannya dengan anak baru itu.


Abryal berjalan menyusuri lorong kelas, yang dulunya banyak pasang mata histeris melihat kearahnya kini tidak ada satupun yang berani dikarenakan pria itu tengah mode singa. Semuanya sudah diberitahu didalam grup fans Abryal yang dibuat tanpa sepengetahuan siempunya nama agar tidak mengganggunya saat ini. Sudah banyak dari mereka bertanya-tanya apa penyebabnya yang pasti tidak ada satupun dari mereka yang tahu.


Pandangan Abryal tertuju pada segerombolan adik kelasnya di lapangan, sambil merapikan posisi topinya ia mencari seseorang diantara mereka semua, namun ia tidak menemukan orang yang ia cari. "Sial, kemana dia?"


Pria itu berjalan mendekati adik kelasnya, membuat semuanya heboh dengan kedatangannya. Ia mencari seseorang yang dekat dengan Cia. "Bricia dimana?" tanyanya pada Mira.


Mira tertegun, tidak menyangka jika Abryal berbicara dengannya walaupun pria itu bukan mencarinya. "Ma-maksud kakak Cia? Dia lagi sakit kak." jawab gadis itu langsung dianggukan Abryal.


"Oke, makasih." serunya singkat berjalan menjauhi mereka.


Mira langsung mendapatkan kehebohan dari teman kelasnya. Tetapi, mereka banyak berasumsi jika Abryal dan Cia berpacaran. Nyatanya pria populer itu datang sendiri mencari anak baru itu. Mira ketar-ketir menggigit kukunya. Ia lupa jika Cia dan Abryal bagaikan tikus dan kucing jika dipersatukan.


"Mampus gue, maap Ci...Maap banget." lirihnya berharap mereka baik-baik saja.


"Eh ada yang liat Mr. Aryo nggak?" tanya salah satu dari mereka.


"Tadi kata Mr. Aryo, dia mau ke toilet." jawab Mira, karena gadis itu tadi baru saja memberitahu guru olah raganya itu tentang Cia yang absen hari ini. Tanpa mereka sadari jika salah satu dari mereka ketakutan setelah mendengar ucapan Mira.


"Desi, lo baik-baik aja?" tanya Mira menyadari raut pucat Desi. Jangan bilang Desi juga ikutan sakit seperti Cia.


"Te-teman lo," lirihnya nyaris tidak terdengar membuat Mira melangkah mendekati Desi.


"Lo bilang apa tadi?"


"Te-teman lo dalam bahaya Mira." lirihnya membuat Mira menatapnya heran.


"Siapa yang lo maksud?" tanya Mira menatap serius sambil memegang kedua bahu Desi, beruntung yang bisa mendengarkan suara Desi hanyalah Mira.


"Bricia, dia dalam bahaya. Mr.Aryo bukan ke kamar mandi tapi—" Belum sempat Desi menyelesaikan ucapannya Mira langsung membungkam mulutnya.


"Jawab gue jujur Desi, apa Mr. Aryo udah apain lo?" tanyanya berbisik seolah ia menyadari sesuatu yang janggal. Desi mengangguk lemah sambil menunduk. Gadis itu terisak mengingat dirinya sudah kotor dinodai oleh gurunya yang brengsek itu.


"Astaghfirullah, boleh gue tau kapan?" tanyanya pelan dengan hati-hati.


"Se-sejak guru itu masuk sekolah ini, te-tepatnya satu bulan yang lalu." lirihnya lagi. Mira memeluk Desi seraya menguatkan gadis itu.


"Guru sialan, berani sekali dia!" geram Mira, pantas saja ia merasa aneh saat guru itu memandanginya begitu juga dengan teman-teman yang cewek lain. Tepat dua minggu yang lalu untuk pertama kalinya kelasnya masuk dengan guru baru itu. Awalnya hanya dirinya saja berburuk sangka, namun tidak menyangka jika guru sialan itu melakukan hal nekat yang bisa membuat masa depan perempuan hancur.


Deg.


Mira tiba-tiba teringat sesuatu. "Astaga Cia di UKS, dia dalam bahaya!" serunya panik berlari menuju UKS.


"WOI MIRA LO MAU KEMANA?!" teriak salah satu dari mereka.


"GUE KE TOILET BENTAR!" sahutnya lagi berlari kencang, berharap dirinya belum terlambat. "Omg Ci, semoga kak Al sampai sana lebih cepat." harapnya.