Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Kaget



Cia frustasi sendiri, ia sibuk bolak-balik didepan pintu layaknya setrika, ia menunggu seseorang datang kerumahnya. "Eh, ngapain gue gelisah gini?!" kesalnya mengacak-ngacak lagi rambutnya yang entah kesian kali.


Sejak panggilan Cici itu keluar dari mulut pria populer disekolah itu, sejak saat itulah semua orang menganggap mereka berpacaran. Walaupun ia sudah bilang sampai berbusa sekalipun, mereka tidak akan percaya dengan perkataannya. Seperti biasanya apa yang mereka lihat itulah yang mereka percaya.


Cia memijit keningnya pelan, surat izin ditangannya tentu membuatnya keringat dingin. Entah kebetulan atau disengaja, hari ini kedua orang tuanya datang lebih cepat dari biasanya.


"Bisa tenang ngga sih dek? Lo kayak cacing kepanasan." gerutu Azlan memandang jengah adiknya yang gelisah tidak karuan gitu. Ia jarang sekali melihat Cia bertingkah segelisah ini.


"Lo takut nggak dapat izin ya dari Mama sama Papa ya?" tebaknya lagi membuat Cia menoleh.


"Huft, gue udah jamin kalau mereka pasti nggak ngizinin gue pergi."


"Ya siapa tau boleh aja, kan lo bukan anak kecil lagi Ci. Coba deh lo ngomong sama Mama, kalau lo pengen banget ikut kegiatan ini!" usul Azlan sambil mengunyah keripik kentangnya.


"Hmm entahlah bang, gue pusing sen—" Tubuhnya tiba-tiba menegang, ia mendengar suara pagar terbuka menandakan kedua orang tuanya sudah pulang kerumah. Buru-buru gadis itu merapikan rambut dan duduk disamping abangnya sambil mengunyah keripik kentang itu.


"Kalian udah makan?" tanya Deva—Mamanya Cia. Kedua menggeleng. Mama Deva mengangguk pelan, langkah kakinya menuju ke dapur untuk memasak makan malam.


Cia melirik abangnya. "Psst!" Cia menendang kaki abangnya pelan. "Bang!"


"Ck, apa?" tanyanya jengkel melihat adiknya. Apa gadis ini tidak bisa membiarkannya tenang sehari saja?


"Bantuin gue ngomong sama Mama, soal gue pergi tuh."


Azlan memutar bola matanya malas, ia kembali menghempaskan tubuhnya pada sofa. "Males, lo aja ngomong sendiri."


"Ya elah, tadi kan lo udah sepakat bang. Bantuin gue kek, gue kan bantuin lo kemarin!" gerutunya menatap abangnya yang tengah berleha-leha disofa.


Azlan melirik kesal, ia menghela napas kasar mendekati adiknya. "Cepatlah." ketusnya berjalan mendahului Cia.


Azlan menatap mamanya tengah sibuk berkutat dengan peralatan dapur untuk makan malam mereka. Ia sebenarnya malas membicarakan hal ini, namun adik lucnutnya itu terus mendesaknya. "Ma.."


"Hm?" sahut Mama Deva mendongak kearah putranya.


"Cici dia mau keluar kota boleh Ma?" tanya Azaln hati-hati membuat Mama Deva menoleh kearah Cia.


"Pergi kemana?" tanya Mama Deva bingung.


Cia langsung menyodorkan surat yang diberikan OSIS tadi pada Mamanya. Mama Deva langsung membacanya dan menoleh kearah mereka berdua. "Mendadak gini, dua hari lagi?" tanyanya.


Cia menelan saliva dengan susah payah, ia terus berkomat-kamit dalam hatiya agar diperbolehkan keluar kota. Kapan lagi ia pergi keluar bersama teman-temannya?


Mama Deva mengangguk. "Mama bolehin, cuma tanya sama Papa kamu Ci," ucap Mama Deva membuat Cia menghela napas panjang. Tantangan keduanya, berbicara empat mata dengan sang Papa.


Cukup sulit menghadapi beliau, karena sekali dibilang tidak maka sampai kapanpun jawabannya akan tetap sama. "Mama mau nggak ngomong sama Papa, Cici takut."


Mama Deva tergelak pelan. "Coba dulu sayang, Papa kamu lagi goodmood tuh, bisa kamu samparin sana!" seru Mama Deva kembali melanjutkan aktivitasnya, sedangkan Azlan sudah kembali duduk ditempatnya tadi.


Cia sekali lagi menghela napas, butuh keberanian penuh berhadapan dengan Papanya. "Pa..."


Pria paruh baya itu menoleh kearah putrinya. "Napa?"


"Cici, boleh nggak pergi keluar kota?" tanyanya hati-hati, jangan tanya soal badannya yang kini menggigil bukan main. Berhadapan dengan Papa lebih sulit dibandingkan berhadapan dengan dosen. Papa Rendi mendongak.


"Nggak..." jawabnya singkat membuat semangat Cia padam seketika.


"Pa bolehlah, soalnya Cici belum pernah jalan-jalan sama mereka." bujuknya, namun Papanya tetap berpegang teguh dengan keputusannya.


"Hmm te-teman Cici banyak Pa,"


Papa Rendi hanya menatap dirinya terus, membuat Cia berkeringat dingin menghadapinya. Sampai mereka terkejut menoleh kearah pintu depan yang terdengar gedoran dari luar.


Cia menelan saliva, bisa ia tebak siapa sosok dibalik pintu itu. Ia juga tidak menyangka jika Abryal betul-betul nekat menghadapi Papanya.


"Kita ada tamu Pa?" tanya Mama Deva menghampiri mereka berdua yang tengah duduk disofa.


"Hmm biar aku buka Ma." seru Cia berlari kearah pintu, saat ia membuka pintu hendak memarahi Abryal langsung terdiam saat melihat seseorang dibelakang pria itu. Bisa ditebak jika usianya hampir sama dengan Nenek-nenek pada umumnya.


"Hai Ci, ada nyokap sama bokap lo nggak dirumah?" tanya Abryal tersenyum menatap wajah Cia. Serius demi apapun, Abryal terlihat lebih tampan malam ini. Eh?


Cia menggeleng-geleng kepalanya, menghapus cepat ketampanan Abryal yang sempat terekam dalam otaknya. Abryal yang melihat tingkah gadis didepannya terkekeh pelan.


"Ayoloh, mikirin apa tuh??" ledeknya membuat Cia menghendus kesal.


"Bukan urusan lo," ketusnya lalu tersenyum tipis menyambut Nenek dibelakang Abryal. "Maaf Nek, silahkan masuk!" ajaknya memapah sang Nenek ketempat kursi.


Nenek Lara tersenyum menatap Cia, sebelum dirinya masuk ia mengusap pucuk kepala gadis itu dengan sayang. Cia sempat tertegun dengan perlakuan itu. Gadis itu bergegas mengambilkan minum untuk Nenek Lara.


"Nek, ini minumnya." ucap Cia menuangkan teh hangat dihadapan sang Nenek. Tak lupa gadis itu menuangkan teh pada Papanya dan juga Abryal.


"Maaf, kedatangan kami menganggu keluarga anda. Saya disini ingin menyampaikan sesuatu pada anda semuanya, apa bisa?" tanya Nenek Lara melirik satu sama lain yang menatapnya dengan ekspresi bingung.


"Maksud Anda?" tanya Papa Rendi masih belum paham dengan ucapan Nenek Lara. Cia yang melirik papanya terlihat dingin menyambut kedua orang itu.


Anjir, kan udah gue bilang woi daritadi. Jangan usik Papa gue, nggak liat wajahnya udah sangar kek gitu?! Lo ngeyel banget dibilangin kak. gerutunya dalam hati


Nenek Lara tersenyum simpul, ia menoleh kearah cucunya sambil memegang tangan Abryal. "Saya bermaksud kesini untuk melamar putri Anda, Bricia dengan cucu saya Abryal." tutur Nenek itu.


Byuur.


"Uhuk...uhuk..."


Deg.


"Apa tadi? Me-melamar?" tanya Azlan terkejut menoleh kearah Cia dan juga Abryal.


Cia melotot kearah pria itu. Makin kesini makin kesana saja pembahasannya woi, apa-apaan nih?!


Gadis itu bingung sekaligus kaget dengan lontaran Nenek Lara, ia bergegas menarik tangan pria itu untuk berbicara empat mata. "Sini ikut gue kak!" tariknya tidak peduli Papa dan Abangnya melotot tajam kearahnya.


"Cici..." panggil Papa Rendi dengan suara baritonnya membuat langkah kaki Cia berhenti. Tangannya dingin menoleh kearah Papanya.


"I-Iya Pa?" tanyanya gugup.


"Kalau mau ngomong, sini!" seru Papa Rendi menoleh kearah mereka.


Abryal tersenyum samar mengajak Cia untuk duduk kembali. Ia melepaskan genggaman tangannya dan menoleh kearah pria paruh baya yang kini menatapnya dalam.


"Iya Om saya ingin menikah dengan putri Om."


Deg.


Lah? Lah kok? Anjir kak Al.