Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Siapa Dia?



Abryal mendadak membawa Cia jalan-jalan keluar kota. Tanpa persiapan, tanpa bilang pada orang terdekat mereka, kabur begitu saja. Biarlah, mereka kalang kabut mencari mereka, asalkan bisa berduaan untuk kencan mereka.


"Astaga kak, harusnya kita kabari nggak sih mereka?" Cia tidak habis pikir dengan suaminya.


Aduh, pasti kak Audrey heboh nih gue hilang.


"Nggak usah takut, gue yakin mereka lagi santai-santai sekarang."


"Seriusan? Kak Audrey sama Mira tuh bakalan heboh nyariin gue!"


"Alah, anak tuh nggak bakalan nyari lo. Percaya deh sama gue."


Cia mengerut dahinya. "Masa?"


***


Audrey dan Mira baru saja selesai membeli eskrim yang antriannya cukup panjang. Maklum, eskrim unik yang baru buka, tentu banyak orang yang penasaran dengan rasanya. "Gila sih, kita beli 3 kenak harganya 50 lebih, manalagi pajaknya." gerutu Mira melihat struk belanja mereka.


"Heleh, nggak usah banyak ngeluh. Nih aja pakai duit gue buat beli!"


"Yalah orang kaya emang beda, gue mah "


"Lo orang kaya juga bego!"


"Hehehe iya juga. Anjiir tuh apaan rame-rame disana?!" seru Mira penasaran. Teringat Cia berada disana sontak membuatnya cemas berlari kearah kerumunan itu.


"WOI MIRA TUNGGUIN GUE!" Audrey juga ikut berlari dan melupakan eskrim yang sempat mereka beli tadi.


"Cia, Cia lo dimana?" tanyanya panik mencari sosok Cia didekat sana. Apalagi ia menerobos kerumunan, berharap jika kecelakaan itu bukanlah Cia.


"Cia, dimana kak?" tanyanya frustrasi tidak menemukan Cia dimanapun. Tetapi, ia lega jika korban itu bukanlah Cia. Audrey celingak-celinguk, sosok gadis itu benar-benar hilang.


"Astaga anak itu kemana sih? Maunya tadi ikut kita aja!"


"Ya kan udah gue bilang tadi kak, paksa aja dia ikut. Lo sih yang terlalu baik sama dia, nah liat sekarang, hilang dia!"


"Loh kok salahin gue, mampuslah Abryal bakalan marah sama gue nggak jaga istrinya." Audrey kalang kabut panik.


"Tenang...tenang, mending kita telpon aja tuh anak." seru Mira mencoba berusaha tenang.


"Cih, dia nggak aktif!" gerutunya kesal.


"Ya ampun, Cia lo dimana? Kalau lo bercanda hilangnya, sumpah gue marah loh!" oceh Mira kesal.


"Nggak bakalan juga dia mau petak umpet sini Mir, huft, cari cara nemuin dia!"


"Nih kalau tuh anak udah pulang duluan, setidaknya ngabarin anjiir!" gerutu Mira lagi bolak-balik ia menelepon nomor Cia.


Audrey memijit keningnya, ia langsung menarik tangan Mira menuju suatu tempat. Mata Mira membelalak saat Audrey membawanya ke kantor polisi yang kebetulan didekat sana. "Astaga kak, dia belum hilang 24 jam, mana bisa buat surat hilang!"


"Lo remehin uang? Uang bisa segalanya Mir, cepat bantu gue ngomong!" serunya tersenyum miring masuk kedalam kantor polisi.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya polisi yang melihat mereka tergesa-gesa.


"Pak, tolong teman saya hilang!"


"Tenang...tenang, coba ceritakan ciri-ciri teman kalian,"


Audrey menggebu-gebu menjelaskan ciri-ciri Cia, apa yang dipakainya saat ini. Polisi itu mengangguk dan menatap kedua gadis ini.


"Apa teman kalian sudah menghilang 24 jam?"


"Ck, belum pak. Ada sekitar 30 menit yang lalu, dan kami takut dia terjadi sesuatu Pak!"


"Maaf nona-nona, saya tidak bisa mencarikan teman kalian sebelum 24 jam. Bisa jadi teman kalian, mampir ke toko atau pergi ke toilet."


"Nggak mungkin Pak, ish bapak nih nggak percaya kali. Saya kasih Bapak uang, tolong carikan teman saya!" seru Audrey melotot kesal kearah polisi itu.


***


Abryal membangunkan Cia setelah pesawat mereka mendarat di kota yang ingin mereka kunjungi. Dengan acara dadakan, semua barang-barang mereka serba beli, termasuk pakaian mereka. Abryal dan Cia hanya bermodal dompet dan ponsel mereka masing-masing, seperti orang yang layaknya bertamasya.


"Sayang bangun, kita udah sampai." seru Abryal sambil mengecek ponselnya.


"Hmm? Udah sampai?"


"Iyaa, yok kita turun."


"Tenang, tinggal beli aja nanti. Kita nikmati aja dulu liburannya,"


"Ckckck orang kaya emang beda. Ntar, kalau tau Nenek lo banyak habisin duit, gimana kak?"


"Ya tinggal bilang, liburan buat nyenangin istri gue. Simpel kan? Lagian Nenek juga bakalan senang kok." jawabnya sambil menggenggam tangan Cia keluar dari pesawat. Mereka berdua berjalan keluar bandara mencari taksi untuk pergi ke hotel yang lagi-lagi sudah di booking Abryal sebelum mereka take off.


"Gila sih keren, gue belum pernah kesini kak!" serunya mengagumi beberapa bangunan yang sudah mereka lewati.


"Suka disini?"


"Suka."


"Mau tinggal disini?" tanya Abryal membuat Cia menoleh kearahnya.


"Tinggal sini, keknya nggak dulu. Soalnya ekonomi disini pasti tinggi, susah kita untuk menyeimbangkannya." terangnya menyadari rata-rata bangunan di kota ini cukup tinggi dan tentu kehidupan ekonomi disini juga tinggi.


"Seriusan? Gue bisa nyari tempat tinggal yang bagus buat kita."


"Nggak usah kak, lagian gue nggak mau jauh dari Mama, Papa."


"Manja banget..." Ledek Abryal.


"Biarin!"


Akhirnya mereka tiba di hotel, setelah membayar ongkos taksi, Abryal mengajak Cia masuk kedalam hotel. "Kak, rasanya aneh deh nggak ada bawa koper atau apa gitu. Masa iya kita ke hotel dengan tangan kosong." bisiknya membuat Abryal tertawa pelan.


Cia benar-benar moodboster-nya, perasaan Abryal yang kacau tadi hilang hanya mendengar ocehan Cia yang tak henti-hentinya. Abryal gemas mencubit hidung istrinya. "Tangan kita nggak kosong sayang, nih liat kita pegangan tangan sekarang." serunya sambil menggenggam tangan Cia.


Cia langsung tersipu malu, ia memukul lengan suaminya pelan. "Ish, bukan itu maksudnya!"


"Kak, beli bajunya dimana? Jauh nggak dari hotel. Sumpah nih kaki dah rasa mau patah." Ocehnya lagi.


"Lo mau istirahat dulu apa kita langsung ke Mall?" tanyanya setelah check-in dengan petugas hotel. Ia membawa kunci kartu kamar untuk mereka nanti.


"Langsung ke kamar ajalah kak, nanti aja kita keluar abis Magrib," putusnya mengingat seharian ini ia banyak jalan diluar.


"Hmm ya lah, lagian Mallnya dekat juga pun."


"Hah? Dimana?" tanya Cia celingak-celinguk sekitarnya. Abryal cekikikan, ia membawa istrinya berjalan mendekati jendela besar Hotel.


"Tuh, nampak?"


Cia menyipitkan matanya, mencari gedung yang ditunjuk suaminya. "Mana kak?"


"Itu loh, yang banyak orang!" tunjuk Abryal lagi, namun Cia sama sekali tidak menemukan Mall yang dimaksud Abryal, malah gedung yang ia lihat itu seperti toko yang menjual alat-alat bangunan.


"Mana sih?!"


"Ck, lo liat yang mana?"


"Yang sebelah kanan tuh toko yang jual alat bangunan kak, mana Mall nya?"


Abryal menepuk jidatnya pelan. "Astaga Ci, yang tengah loh!" serunya gemas.


Cia langsung beroria sambil cengegesan saat mendapati gedung yang berupa Mall itu. "Ahaha mata gue lagi sleweran, maklumlah dah capek seharian jalan diluar trus. Manalagi ini liburan dadakan," Ocehnya tertawa kikuk menatap suaminya.


"Banyak gaya, dahlah kita ke kamar aja lagi!" ajaknya berjalan menuju lift.


"Lantai berapa emangnya kamar kita kak?"


"Hmm 12."


"Mak, kalau naik tangga darurat dah nggak ketolong lagi kaki gue." serunya sambil menatap kedua kakinya.


"Ya kan nggak ada yang suruh lo naik tangga Cici gue sayang. Ih, lama-lama gue tampol kepala lo!" gemasnya gereget melihat tingkah istrinya.


"Hoho sabar...sabar yang mulia, Anda harus punya banyak stok sabar dengan saya." ucapnya formal dengan bangga.


"Terserahlah." Abryal langsung mendongak saat mendengar suara pintu lift terbuka. Kakinya mendadak membeku saat melihat seseorang yang tidak ia sangka berdiri dihadapannya.


"Kak Al?" tanya Cia heran melihat suaminya terlihat terkejut melihat orang itu, sontak Cia menatap pria paruh baya itu.


Deg.


Siapa dia? Kenapa dia sangat mirip dengan kak Al?