Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Bad Day



Abryal merampas jaket dan mengambil kunci mobilnya. Pikirannya kini jenuh memikirkan semuanya. Pandangannya tertuju pada ponselnya yang berdering, Ia langsung mengangkatnya. "Lo udah take down videonya?"


"Bagus, ntar gue transfer uangnya ke lo, thanks," ucapnya mematikan ponselnya sepihak. Ia menghela napas pelan, melirik kearah jendela ruangan OSISnya. "Huft, masalah satu sudah selesai, sekarang yang satu lagi." gumamnya berjalan cepat keluar ruangan.


"Kak Abryal!" teriak seseorang membuat langkahnya berhenti menoleh aneh kearahnya. Pria itu mengumpat kasar dalam hati, sambil memandang sinis kearah gadis yang tengah berjalan kearahnya.


"Lo udah liat videonya kan kak? Cia bukan sebaik yang lo—"


Bugh.


Serena mematung saat Abryal menumbuk keras dinding sekolah, ia kesusahan menelan salivanya memandang ngeri kearah Abryal yang melototi dengan amarah.


"Lo bisa diam? Kalau lo cowok udah gue hajar sampai babak belur. Cia urusan gue, lo nggak berhak ikut campur urusan gue dengan pacar gue!" sarkasnya lalu berjalan menjauhi Serena.


"KAK, TOLONG JANGAN BUTA, APA YANG LO LIAT DARI CIA?! SEJAK CEWEK BRENGSEK ITU DATANG DIA MENGACAUKAN HIDUP GUE!"


"MENGACAUKAN HIDUP LO APANYA?!" Bentak Abryal sambil berbalik badan membuat Serena kembali tertegun. Tetapi, gadis itu membuang rasa takutnya karena ingin mendapatkan apa yang harusnya menjadi miliknya. Abryal, dan semua perhatian harus menjadi miliknya.


"Lo terlalu buta dengan Cia, Cia bukan orang yang tepat buat lo kak, tapi gue!"


"Sakit jiwa lo? Lo mau tau kenapa gue milih Cia? Karena dia nggak bermuka dua seperti lo!"


Abryal tersenyum miring. "Kenapa? Nggak senang gue bilang gitu kan? Mending lo berkaca sadarkan diri lo Serena, jangan buang-buang waktu buat hal yang tidak berguna. Lo hanya iri dengan Cia, lo nggak ingin Cia jadi perhatian semua orang. Gue peringati untuk terakhir kalinya Serena, jangan pernah ganggu dia lagi atau lo berurusan dengan gue!" ancamnya lalu pergi meninggalkan Serena yang terdiam ditempat.


Tanpa mereka sadari jika Cia mendengarkan semuanya dibalik tiang sekolah. Gadis itu tersenyum tipis sambil memandang kalung pemberian Abryal semalam. "Makasih udah bela gue kak," ucapnya pergi dari tempat itu.


***


Nenek Lara langsung menyambut hangat kedatangan Abryal yang tiba di Mall. Cucunya itu datang untuk menjemputnya setelah puas berbelanja di Mall. Nenek Lara celingak-celinguk mencari seseorang yang harusnya ikut bersama mereka. "Mana istri kamu?"


"Cici lagi kerja kelompok sama kawannya Nek, nanti sore Al jemput."


"Ooo sayang sekali, padahal Nenek mau ngajak makan siang sama."


"Masih banyak waktunya lagi Nek, hari ini kita berdua dulu yah. Nenek mau makan dimana?" tanyanya menggenggam tangan Neneknya.


Nenek Lara tersenyum menepuk pelan punggung tangan Abryal. "kita makan di restoran favorit kamu."


"Yes, yok sana Nek!" ajaknya semangat. Nenek Lara tersenyum tipis memandang cucunya tetapi ia merasa sedikit janggal dengan senyuman itu. Seolah-olah ada sesuatu yang disembunyikan Abryal darinya. Tetapi, Nenek Lara tidak ingin memusingkan hal itu, karena dirinya tidak ingin mengacaukan hari bersama Abryal.


Keduanya masuk kedalam restoran favorit Abryal, tetapi langkah kaki mereka berhenti saat melihat sosok yang dikenal melambaikan tangan dengan ceria memandang kearah mereka. "Kalian sudah datang!" serunya berjalan mendekati Nenek Lara dan Abryal.


Keduanya sama sekali tidak berkutik, bahkan Abryal memasang tampang malas kearahnya. Laila menghela napas pelan, ia menarik tangan Abryal untuk duduk ikut bersamanya. "Sini ikut Mama!"


Abryal menepis tangan Laila. "Hubungan kita tidak sedekat itu, nyonya Laila." ucapnya menohok.


Laila terdiam, hatinya terluka mendengar ucapan Abryal yang susah sekali mendapatkan maaf darinya. Mungkin ini adalah hukuman karena dulu membuat kesalahan yang begitu fatal sehingga memecahkan hubungan keluarga. "Nak, jangan kayak gitu sama Mama. Mama udah lahirkan kamu, kamu nggak boleh ngomong gitu sama Mama."


"Maaf, memang benar Anda melahirkanku, tapi dulu Anda nggak mau mengakui aku anak kan? Aku anak haram seperti yang lain bilang Nyonya. Jadi tolong jangan membuat keadaan semakin rumit, aku sedang lelah saat ini." Lirihnya menahan untuk tidak melampiaskan emosinya pada Laila. Bagaimana pun juga Laila adalah ibu kandungnya sendiri.


"Abryal..."


"Nek, aku ingin pulang. Kita makan dirumah aja boleh?"


"Boleh, Nenek ikut kamu." ucap Nenek Lara enggan menatap putrinya. Keduanya langsung berjalan keluar dari restoran itu. Laila langsung mengejar keduanya.


"Ibu, Abryal tunggu!" Laila mencegat keduanya.


"Kenapa lagi Laila, pergilah jangan buat keadaan semakin rumit!" ucap Nenek Lara yang sudah lelah berdebat.


"Ibu, ibu yang buat keadaan ini rumit."


"Laila!"


"Cepatlah!" seru Arbyal menghela napas kasar, menatap ibunya dengan gelengan kepala. Tidak ingin membuat keributan panjang, ia memutuskan untuk menuruti kemauan mamanya.


"Nah gitu dong, kita ngobrol didalam." ajaknya tetapi keduanya tidak beranjak.


"Kalau mau bicara disini aja, kalau nggak mau kami pulang."


"Jangan, ya sudah...Mama mau kenalin kamu sama kenalan Mama, cantik dia ora—"


"Aku udah punya istri Nyonya, jangan pernah menggantikan posisi Cia dengan siapapun."


"Cia tidak baik buat kamu Nak, liat ini!" seru Laila langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan video yang sempat viral tadi. Sekarang video itu sudah menghilang seperti debu, tetapi untung ia berhasil mendownload videonya sebelum hilang. "Ibu liat ini!"


Nenek Lara terkejut lalu menoleh kearah Abryal yang hanya menanggapi dengan wajah datar. "Itu bukan Cia."


"Tuh kan kamu pasti nggak percaya, kamu tuh terlalu buta dengan dia!" tuduh Laila membuat Abryal geram menahan emosinya.


Telinganya panas karena sudah lebih dua kali mendengar kata-kata itu hari ini. Apa Cia seburuk itu dimata mereka?


"Itu bukan Cia, Cia orangnya nggak akan seperti itu. Itu hasil editan dan aku sendiri yang tau pelaku pembuat video sialan itu!"


"Tapi Nak, kita tidak tau dia aslinya seperti apa..."


"Cukup, jangan menghinanya lagi. Kalau Anda tidak suka nggak usik, dan satu hal lagi jangan membuat harapan palsu gadis itu!" tunjuk Abryal kearah gadis yang masih duduk didalam restoran. "Anda perempuan bukan? Harusnya Anda mengerti perasaan sesama perempuan itu gimana. Maaf kalau kata-kata sedikit lancang, tapi aku harus mengingatkan Anda agar tidak menilai orang dari luar tapi dari dalam juga. Ayo Nek, kita pulang!" ajaknya menuntun Nenek Lara pergi dari sana.


Laila mengepal tangannya kuat, menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya. "Cia, kamu sudah membuat hubunganku dengan anakku sendiri renggang, akan ku buat kalian berpisah!"


***


Nenek Lara memandang cucunya diam, sejak kejadian di Mall tadi, Abryal sama sekali tidak mengatakan satu katapun. Ia menghela napas memikirkan sikap anaknya sangat tidak tahu malu. Apalagi kejadian tadi membuat hubungan keduanya semakin renggang.


"Lupakan saja apa yang dibilang Mama kamu. Nenek percaya Cici bukan orangnya seperti itu. Sudahlah, kamu pulang sana, hari ini memang berat Nak. Jadi istirahatlah." ucap Nenek Lara sambil mengelus lembut kepala Abryal. Nenek Lara langsung memanggil satpam dan menyuruh membawa belanjaannya dari mobil Abryal. Ia keluar dari mobil Abryal sambil tersenyum tipis.


"Istri kamu pasti nungguin kamu di rumah Mira. Cepat sana jemput dia," seru Nenek Lara membuat Abryal tersenyum tipis.


"Makasih Nek, Al pergi dulu. Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam hati-hati dijalan."


Abryal mengangguk, ia menancap gas melaju kerumah Mira, dimana istrinya berada saat ini. Ia begitu tidak sabar menemui istri bar-barnya.


Cia tersenyum melihat dari kejauhan mobil suaminya. "Mir, ayang beb gue udah datang, bye moga besok kita berhasil presentasi!" serunya melambaikan tangan pada Mira yang memutar bola matanya malas mendengar alay nya Cia.


"Aamiin, dah sana pulang, hush...hush, jangan nyebar kemesraan depan gue!" usirnya.


"Anjiir, iri bilang bos!"


"Dah... tuh suami lo melototi gue karna nahan istrinya, hati-hati ya beb!" serunya membukan pintu mobil dan mendorong Cia masuk.


"Cih, sialan!"


"Kak, antar sahabat gue sampai selamat ya." serunya menutup pintu mobil. Ia melambaikan tangannya kearah Cia.


Abryal mengangguk, ia pun melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah Mira. Cia mengerut dahinya memandang jalan yang terlihat berlawanan arah dengan rumahnya. "Kak, kita mau kemana?"


Ciiit.


Cia hampir saja mencium dasbor mobil kalau saja tangan Abryal tidak menahan kepalanya. Cia menoleh kearah suaminya yang juga menatapnya. "Kak?"


Cia merasa aneh dengan tatapan Abryal, ia teringat telepon dari Nenek Lara saat Abryal dalam perjalanan, jika mood suaminya itu sangat buruk. Cia langsung memeluk erat suaminya sambil mengelus punggungnya. "Jangan dipikirkan gue baik-baik aja kok. Makasih kak, udah ada buat gue." ucapnya lembut. Pria itu membalas pelukannya dengan erat membuat Cia merasa sangat nyaman dipelukan Abryal.


"I just wanna say something, I Love you. That’s all, Bricia."