
Cia menggerutu kesal, kenapa ia harus mengatakan hal itu pada Abryal?! Seperti nasi yang sudah jadi bubur, ia sudah tidak bisa mengubah kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu. Gadis itu menghela napas panjang, memandangi seluruh isi kelasnya yang tampak biasa saja. Sampai akhirnya ia menatap datar orang yang baru saja masuk ke kelasnya, siapa lagi kalau bukan Serena. Berkat Cia, Serena habis jadi bulan-bulanan lantaran dicampakkan langsung oleh Abryal setelah Cia kemarin pergi dari tempat itu. Tentu saja Serena akan membalas dendam pada anak baru seperti dirinya.
Cia meniup poninya yang sempat menutupi matanya, tak lupa ia merapikan jepit rambutnya putih kesayangannya. Ngomong-ngomong soal jepit rambut itu, ia begitu terkejut mendengar dari sang Mama jika jepit rambut ini benar-benar dibeli harganya semahal itu. Saat tahu harganya, Cia akan semakin protektif menjaga benda berharga itu. Jangan sampai hilang atau uangnya melambai-lambai pergi darinya.
"Oi lo nampak bete banget." seru Mira yang baru saja datang. Gadis itu membawa raket ditangannya membuat Cia mengernyit heran.
"Lo ngapain bawa raket Mir?" tanyanya.
"Oi, kan udah di chat tadi malam di grup sama Mr. Aryo bawa raket. Jangan bilang lo lupa?" tebaknya langsung dianggukan Cia. Awalnya raut Cia kesal kini berganti menjadi panik. Manalagi ia tidak membawa baju olahraganya.
"Waduh Mir, gue lupa kalau hari ini olah raga. Gimana tuh?" paniknya.
"Hahahaha rasain tuh anak baru, sok -sok an juga lagi." ledek Serena yang mendengar percakapan mereka, terlihat dengan jelas gadis itu tersenyum puas melihat penderitaannya.
"Diamlah rempong. Gue nggak ngomong sama lo!" cercanya lalu menatap Mira. "Hiks...Mira apa yang gue lakuin sekarang? Masa iya gue dapat hukuman trus..." Rengeknya tidak ingin mendapatkan hukuman lagi. Belum genap ia seminggu pindah disini, sudah mendapat hukuman saja. Mau ditaruh mana wajahnya nanti kalau orang tuanya dipanggil ke ruangan BK?
"Tenang...tenang, moga Mr. Aryo maklumi anak baru. Yang penting lo bawa baju olah raga kan?" tanyanya lagi.
Cia menggeleng pelan. "Nggak bawa juga. Gue lupa kalau ada jam olahraga hari ini."
Mira mengurut keningnya pelan, ia bingung harus memberikan solusi apa yang bagus untuk teman barunya ini. Jika raket tidak bawa,mungkin ia bisa meminjamkan raketnya yang satu lagi. Tapi, kalau soal baju mana bisa dibagi dua.
"Hmm atau gini aja, coba lo konfir deh sama Mr. Aryo, moga dimaklumi." ucapnya pelan.
"Hmm boleh juga, tapi gue nggak tau yang mana Mr. Aryo Mir." lirihnya.
Mira menepuk jidatnya pelan. "Oiya, gue lupa kalau lo anak baru. Oke ikut gue sekarang!" ajaknya keluar kelas.
Mereka berdua menyusuri lorong sekolah yang mengarah ke ruang guru. Disitu terlihat guru-guru sedang rapat mendiskusikan sesuatu, membuat mereka urung mendekati ruangan tersebut.
"Kalau nanti aja gimana Ci? Kayaknya guru-guru lagi rapat tuh." serunya.
"Ya udah nanti aja, tapi nanti temanin ya. Sumpah gue nggak tau yang mana muka Mr. Aryo yang mana." ucapnya membuat Mira terkekeh pelan.
"Iya...iya tenang, sekarang buruan yok masuk kelas!" ajaknya lagi menuju kelas mereka. Saat mereka dijalan, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Abryal yang tengah menghukum siswa-siswa yang terlambat hadir hari ini ditengah lapangan. Mira yang tidak mau kesempatan emasnya hilang, dengan cepat menarik tangan Cia bersembunyi dibalik dinding untuk melihat lebih dekat idolanya.
"Ya ampun Mir, ngapain kita sembunyi disini?"
"Aduh Ci, gue gugup banget. Nggak kepikiran ngapain juga kita disini." keluhnya.
"Astaga." gerutunya menepuk jidatnya pelan, ia juga melirik anggota OSIS lainnya yang tengah menceramahi panjang lebar pada mereka. "Nggak sakit ya tenggorokan mereka teriak-teriak kayak gitu?"
"Hush, namanya juga anggota OSIS, harus tegas Ci." sahut Mira.
"Ehem, kalian lagi nangkap kodok?"
Deg.
Mira memekik kencang saat mereka dipergoki oleh seseorang dibelakang mereka sedangkan Cia yang sudah terbiasa di prank tiba-tiba muncul seperti ini hanya menatap datar kearah orang itu.
Pria itu menutup telinganya. "Suara lo nyaring banget!" gerutunya pelan. Mira kesal hanya bisa menghela napas kasar mengingat jika pria didepannya ini adalah anggota OSIS. Ia tidak boleh bermasalah dengan namanya anggota OSIS.
"Kak, ngapain kesini?" tanya Cia menatap pria itu.
"Kak David!" geramnya menatap tajam langsung membuat David tertawa terbahak-bahak.
"Jangan marah, gue bercanda doang kok. Btw, kalian ngapain disini guys?" tanyanya heran melihat dua manusia didepannya ini tengah bersembunyi dibalik semak.
Cia mencebik kesal. "Nangkap kodok kak." jawabnya asal. Mira cukup takjub dengan teman barunya yang ini super bar-bar melawan anggota OSIS. Lihatlah dari kemarin gadis itu dengan beraninya memalak Abryal didepan semua orang. Mira sepertinya harus belajar dari suhu seperti Cia.
"Mir, jangan diam aja dong. Nih kita harus gimana sekarang?" bisik Cia membuat Mira tersadar akan situasi mereka saat ini. Gadis itu mendongak menatap David yang juga tampan seperti Abryal.
"Kak, permisi." ucap Mira menarik tangan Cia. Cia kira temannya ini akan membuat alasan yang bagus untuk mereka, malah pamit pergi langsung tanpa basa-basi. Namun, sepertinya tidak semudah itu bebas dari David.
"Kalian nggak bisa pergi kayak gitu, cepat sini!" cegahnya menahan kedua gadis itu.
"Mir..." lirih Cia berharap ada ide lain. Ia benar-benar tidak ingin terkena hukuman lagi. Mira menoleh kearah Cia.
"Kaki lo nggak lagi keseleo kan Ci?" tanyanya membuat Cia bingung.
"Maksud lo?"
"Dalam hitungan ketiga, kita langsung kabur. Oke?"
"Oo...Oke."
"Tiga!" serunya langsung berlari kencang membuat Cia yang masih menunggu aba-aba kelabakan. Gadis itu mengumpat temannya karena meninggalkan disini.
"Mira sialan!" umpatnya berlari menyusul Mira yang sudah berlari jauh.
David tercengang melihat keduanya sudah kabur, mau tak mau ia harus mengejar keduanya yang tadi terlihat mencurigakan bersembunyi dibalik semak. "Ck, lincah kali keduanya!" gerutunya mengejar mereka.
Cia berhasil menyusul Mira, mereka sama-sama berlari menjauh agar tidak tertangkap David. Sebenarnya tidak masalah jika mereka saling mengobrol dengan baik, hanya saja anggota OSIS disekolah ini cukup sensitif dan sok bijak. Apapun yang mereka tidak suka pasti ujung-ujungnya menjatuhkan hukuman pada orang-orang seperti mereka.
Cia kebingungan didepannya terdapat pertigaan. "Mir belok mana? Kiri atau kanan?"
"Aduh gue lupa yang jalan ini, keknya kanan deh!" serunya berlari belok kanan, Cia mengikutinya dari belakang. Namun, saat gadis itu ingin menyamakan langkah larinya dengan Mira, tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh seseorang ke samping.
Cia hampir saja teriak jika pria didepannya ini tidak membungkam mulutnya. Mata gadis itu membulat sempurna, tatapan mereka terkunci menatap satu sama lain.
Deg.
Pria itu tersenyum tipis sambil menyentil kening Cia pelan. "Huh, muka lo komuk." Ledeknya sambil menggenggam tangan Cia menuju suatu tempat. Cia yang tidak terbiasa digenggam oleh seseorang langsung menepis tangan pria itu.
"Idih jangan genggam tangan gue kak." gerutunya membuat Abryal menoleh kearahnya dengan tatapan yang susah diartikan.
"Huft, ikut gue!" ajak pria itu membuat Cia heran.
"Kemana?"
"Di ruangan gue ada baju olah raga. Lo bisa ambil disana." jawab pria itu.
Cia menghentikan langkahnya dan menatap dingin kearah pria itu. "Lo makin mencurigakan gue liat dari kemarin. Jawab gue jujur kak, lo tau semua tentang gue dari mana?" tanyanya dingin.
Ini sudah tidak benar lagi, seolah-olah kegiatannya diawasi oleh pria didepannya ini. Cia tidak bisa tinggal diam jika pria itu merencanakan sesuatu yang buruk padanya. Cia mendekati Abryal, tatapannya menatap benci kearahnya. "APA YANG LO MAU DARI GUE?!" bentaknya.