Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Kencan Pertama



Abryal baru saja menyelesaikan dokumen-dokumen yang akan diserahkan kepada kelapa sekolahnya besok. Sambil merenggangkan ototnya ia menoleh kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 sore. "Huft, udah jam segini aja. kira-kira dia lagi ngapain ya?" gumamnya memikirkan istri bar-barnya itu.


Dengan cepat ia membereskan barang-barang diatas meja, lalu mengunci pintu ruangan OSIS. Ia berdecak pelan saat menyadari seseorang yang tengah menunggunya dibelakangnya. "Apa?" tanyanya ketus membuat gadis itu menggerutu kesal.


"Kenapa lo pilih dia huh? Gue udah capek-capek buat cari perhatian lo, tapi lo pilih dia Al?!" cerca Audrey membuat Abryal hanya menghela napas pelan.


"Itu bukan urusan lo." jawabnya dingin meninggalkan gadis itu sendirian. Audrey tidak menyerah, ia langsung menghadang jalan Abryal.


"Gue nggak bakalan terima lo jadian sama dia Al!"


"Lo emangnya siapa gue huh? Jangan ikut campur urusan gue Drey."


"Gue cinta sama lo Al, apa perlu gue ungkapkan sampai mulut gue berbusa huh? Apa kurang gue Abryal??"


Abryal menatap malas, memilih tidak meladeni gadis itu yang bisa membuatnya terlambat pulang kerumah. Sekilas pria itu melirik jepit rambut yang dikenakan Audrey benar-benar persis dengan jepit rambut istrinya.


"ABRYAL!"


Langkah kaki pria itu berhenti membuat Audrey tersenyum tipis. "Sudah gue duga lo bakalan dengarin gu—"


"Cih jangan salah paham Drey, sebanyak apapun lo mau rebut hati gue, gue bakalan nolak lo!" ucapnya tanpa berbalik badan, ia harus meluruskan ini semua sebelum terjadi salah paham dengan Cia.


Audrey mengepal tangannya kuat, menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya. Ia tidak ingin mendengar penolakan dari mulut pria itu.


"Kenapa lo harus pilih dia?!" tanyanya untuk kesekian kalinya.


"Gue peringatkan lo baik-baik Audrey, jangan pernah mengusik kehidupan cewek gue atau lo berurusan dengan gue!" ancamnya langsung pergi meninggalkan Audrey yang membelalak mendengar ancaman Abryal. Selama ini pria itu tidak pernah mengancamnya setiap dirinya mengungkapkan perasaannya.


"Huh, lo pikir gue nurut gitu aja?! Akan gue buat cewek lo tuh menderita dan lo sendiri yang mencampakkannya!" tekadnya.


***


"Eh, udah pulang?" tanya Cia yang baru saja keluar dari kamarnya.


Abryal tersenyum tipis melirik kearah istrinya, lalu menyuruh Cia duduk disampingnya. Gadis itu menurut, ia duduk disamping Abryal dan merebut remote itu dari tangan suaminya. "Lo belum jawab pertanyaan gue."


"Gue abis dari ruang OSIS ngurus berkas. Ngapa? Kangen ya?"


Cia menatap horor kearahnya. "Cih, jangan kepedean ya kak." gerutunya memukul lengan suaminya.


Cia terpaku menatapnya, seakan-akan waktu berhenti fokus kearah Abryal. Wajah tampan itu sungguh membuatnya terus melihatnya, Cia memegang pipi Abryal. "Kak, kenapa lo bisa tampan kek gini?" tanyanya masih fokus menatap wajah Abryal.


Abryal terdiam, ia masih belum terbiasa dengan perlakukan Cia yang mendadak seperti ini. Ini seperti bukan sifat gadis itu. "Lo baru nyadar?" tanyanya tenang walaupun jantungnya berdegup kencang.


"Enak ya terlahir tampan, cewek-cewek bakalan banyak yang mau jadi pacar lo kak, lo tinggal pilih aja." serunya membuat Abryal tidak suka. Pria itu langsung memegang tangan istrinya.


"Gue nggak akan pernah memilih cewek selain lo Cia." tegasnya.


Cia mencebik. "Yakin? Biasanya kalau cowok tinggal campakin wanitanya, terus cari yang baru."


Abryal menghela napas kasar, langsung menangkup wajah Cia agar fokus melihat kearahnya. Abryal diam menatap wajah istrinya lama. "Gue cinta sama lo Ci." ungkapnya membuat mata Cia melebar sempurna.


Cia terdiam, ia masih mencerna ungkapan suaminya barusan. "Kenapa?" Lirihnya masih menatap Abryal. Ia ingin memastikan sesuatu sebelum benar-benar jatuh cinta terlalu dalam pada pria itu, mengingat mantan sebelumnya membuatnya sedikit takut mencintai seseorang kembali.


Abryal mengacak rambut istrinya gemas, ia tidak boleh terlalu terburu-buru membuktikan cintanya saat ini. Ia merasakan jika Cia masih menggigil setiap ia menyentuh wajah istrinya. "Karena lo berhasil merebut hati gue Ci," ucapnya tulus.


Cia sejenak terdiam, lalu menatap Abryal. "Apa yang buat lo suka sama gue kak? Seperti yang lo liat sendiri, gue bukan cewek yang anggun seperti cewek pada umumnya."


Abryal menjentik dahi Cia pelan. "Jangan insecure dulu, setiap cowok pasti punya kriteria cewek kesukaannya, gue suka lo karna lo bukan orang yang lemah Ci..." terangnya menatap sendu kearah Cia.


Pria itu menangkup kedua tangan Cia. "Gue yakin, sebelum gue nikahi lo, lo nerima gue setelah berpikir panjang kan, gue tau lo punya alasan kenapa mau jadi istri gue." ucapnya lagi.


Cia menahan air matanya tidak jatuh, tatapan pria itu benar-benar bisa meruntuhkan pertahanannya. Ia langsung memeluk Abryal dengan erat. "Hiks, jangan pakai kata-kata yang abstrud kak, ini bukan lo banget. Benar, gue nikahi lo karena ada alasan tersendiri dan gue juga yakin lo punya alasan yang kuat kenapa milih gue jadi istri selain kriteria yang lo sebutkan tadi kak,"


"Makasih udah buat gue terharu kak, beri gue waktu buat buka hati untuk lo, karna gue masih trauma kak."


Cia tersenyum tipis. Lebih baik suaminya tahu tentang masa lalunya saat ia bersama mantan pacarnya yang brengsek itu.


Braak.


"Anjir gue kaget kak!" Cia langsung mengelus dadanya berkali-kali.


"Brengsek, siapa dia huh? Sini gue hajar!" cercanya kesal, ia benar-benar marah mengetahui ada pria brengsek yang ingin menghancurkan masa depan Cia. Pantas saja Cia begitu ketakutan saat dirinya menyentuh gadis itu.


"Udah...udah, lo jangan emosi trus kak, itu sudah berlalu dan Alhamdulillah gue masih selamat dari kejadian itu." ucapnya menenangkan suaminya, ia terkekeh melihat reaksi Abryal sama dengan Azlan saat itu.


"Maaf,"


Raut gadis itu bingung. "Untuk?"


"Gue nggak ada disana."


Cia terdiam, lalu terkekeh pelan melihat raut suaminya. "Kak, ya Ampun itu udah lama loh. Kita waktu tuh belum kenal, kita kan baru kenalnya aps gue jadi anak baru,"


"Tetap sama aj—"


Cia menangkup wajah Abryal. "Lihat gue kak, gue baik-baik saja kan? Kejadian yang pernah gue alami, itu jadi pelajaran buat gue kak dan ini semua bukan salah lo. Lo mau tau kak alasan kenapa gue mau menikah dengan lo?"


Abryal diam, ia menunggu Cia melanjutkan ucapannya lagi. Cia tersenyum lebar, sambil mengacak-acak rambut Abryal. "Karena gue nggak nyangka ada cowok yang berani melamar gue dihadapan Papa, tanpa berniat mengajak gue pacaran dulu. Lo menyakinkan Papa gue yang keras kepala untuk merestui hubungan kita, itu suatu hal yang luar biasa yang pernah gue liat kak,"


"Dan pas saat itu, hati gue merasa tenang setelah menerima lamaran dadakan lo kak." katanya.


Abryal menarik Cia masuk dalam pelukannya, sambil mengelus pelan rambut istrinya. "Terimakasih."


Cia menguraikan pelukannya, ia menatap kearah Abryal. "Kak, ayo keluar!"


"Keluar? Ngapain?"


Cia berdiri lalu berjalan menjauhi Abryal. "Siap-siap kita mau kencan pertama kita kak!" seru gadis itu berlari kearah kamarnya.


Abryal terdiam, ia masih mencerna ucapan istrinya tadi. Pria itu terkekeh pelan, ia mengusap wajahnya pelan. "Ya ampun, gue jadi malu sendiri. Cici tungguin gue!!" teriaknya berlari menyusul istrinya.


***


Abryal mengernyit bingung melihat istrinya mengendarai mobil menuju suatu tempat. Seharusnya dia yang menyetir, namun karena Cia begitu keras kepala akhirnya ia menyerah dan mengikuti kemauannya. "Kita mau kemana?"


"Ke tempat yang akan selalu lo ingat kak,"


"Hah?"


"Udah diam aja, masih jauh nih jalannya!" serunya masih fokus menyetir mobilnya. Abryal hanya diam menghela napas, ia memerhatikan istrinya yang begitu fokus menyetir.


"Jangan liatin gue kayak gitu, gue malu kak!" gerutunya malu dengan tatapan suaminya.


"Heh, fokus aja nyetirnya biar gue aja yang fokus liatin lo."


"Gue nya yang nggak nyaman kak!" Gerutunya sesekali melirik tajam kearah Abryal.


"Ya udah, anggap aja gue debu. Jangan hiraukan gue, fokus aja sana!"


"Cih, mana bisa fokus," Cia lama-lama kesal, ia langsung menepikan mobilnya. "Kak, ja—" Matanya membulat sempurna, melihat apa yang dilakukan suaminya saat ini.


Cup.


Abryal tersenyum tipis sambil mencubit hidung Cia. "Dah lanjutlah lagi jalannya!" seru pria itu membuka topinya lalu mencari posisi nyamannya untuk tidur tanpa merasa apa yang dia lakukan tadi bisa membuat wajah Cia memerah seperti kepiting rebus.


Abryal sialan, tanggung jawab woi! Jantung gue rasanya mau copot karna lo cium gue!