Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Datang di Waktu yang Tepat



Abryal sambil mengeringkan rambutnya memandang istrinya tengah memasak di dapur. Gadis bar-bar itu terlihat begitu lihai menggunakan alat masak untuk sarapan pagi mereka.


"Yok makan!" ajak Cia sambil menghidangkan sarapan untuk Abryal. Pria itu terkekeh pelan menuruti perintah istrinya, tetapi rautnya berubah bingung melihat pakaian istrinya terlihat rapi.


"Mau kemana?" tanya Abryal sambil menguyah makanannya.


"Kerja kelompok kak dirumah Mira, boleh kak?"


Abryal mengangguk pelan sambil melirik jam tangannya. "Boleh, tapi jangan sampai malam Cii."


"Yes! Lo sendiri mau kemana kak?"


"Gue ada rapat sama yang lain, kayaknya gue agak lama pulangnya. Dah, gue duluan ya sayang." serunya tiba-tiba mengecup kening Cia. Gadis itu tersipu malu tetapi ia berusaha tetap berekspresi seperti biasa walaupun sebenarnya ia ingin jingkrak-jingkrak sangking malunya.


Abryal gemas mengacak-acak rambut istrinya. "Dah, Assalamualaikum." pamitnya sambil mengulurkan tangannya kearah Cia.


Cia bingung menatap tangan Abryal yang terulur kearahnya. "Kenapa kak? Oh lo mau minta jajan ya, bentar." ucapnya membuat Abryal melongo.


"Oi bukan itu loh! Astaga, salam woi salam!" gemasnya, kalau bukan istrinya mungkin sudah ia cekik dari tadi.


Cia cengegesan menyalami dengan takjim suaminya. "Ngomong dong kak, gue mana tau."


"Cih, banyak alasan. Dah ya gue pergi Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam hati-hati sayang!" serunya membuat Abryal terdiam ditempat.


"Lo bilang apa barusan?"


"Sayang! Kenapa kamu klepek-klepek hm?" godanya tersenyum smirk.


"Sial, kalau kayak gini gue malas ikut rapat." gerutunya pelan.


"Apa kak?" tanya Cia tidak mendengar ucapan suaminya. Abryal menggeleng pelan berjalan menuju mobilnya. Setelah melihat mobil Abryal sudah mulai menjauh dari perkarangan rumah. Buru-buru Cia menutup pintu dan berlari cepat ke kamar, bibi yang melihat majikannya itu hanya tergeleng heran dengan kelakuan.


"Ya ampun ada-ada saja kelakuan mereka." gumamnya sambil membereskan bekas piring mereka.


Cia membuka lemari bajunya, mengambil baju santai untuk pergi ke rumah Mira. Memang benar pergi kerumah Mira, namun Cia tidak menjelaskan secara spesifik setelah itu mereka akan kemana. Cia langsung membawa laptop dan perlengkapan lainnya. "Huft, moga ontime." gumamnya bergegas siap-siap.


Cia buru-buru menuruni anak tangga, pandangannya menelisik sekeliling mencari bibinya. "Biii.."


"Iya Non?" tanya Bibi berjalan kearah Cia.


"Bibi mau titip apa? Aku sekalian keluar, nanti tolong jaga rumah ya Bi."


"Ah, nggak usah Non. Non senang-senang aja diluar,"


"Ayolah Bi, biar Cia belikan sesuatu untuk Bibi ya."


"Ya ampun Non, ya udah saya terserah Non aja deh."


"Okey Bi, Cia pamit dulu Assalamualaikum." pamitnya mencium tangan Bibi. Bagaimanapun juga Bibi adalah orang yang lebih tua darinya. Walaupun beliau bekerja dirumah mereka, tidak dipungkiri jika mereka semena-mena padanya. Hal itu yang membuat Bibi Nina sangat betah bekerja dirumah Cia dan Abryal.


***


"Mana laporan yang kemarin?" tanya Abryal menatap anggotanya. Salah satu dari mereka menyerahkan pada Abryal, pria itu mengangguk pelan sambil membaca isi laporan mereka.


"Bagus, ini acara amal ke Panti Asuhan. Udah banyak sumbangan yang kita dapat?"


"Lumayan kak, tapi ada juga yang ngasih uang." jawab anggotanya.


"Uang itu kasih sama bendahara, nanti dia yang ngatur untuk dibagikan ke Panti. Nggak ada masalah lagi kan?"


"Al," panggil David membuat pria itu menoleh kearahnya.


"Apa?"


"Kemarin salah satu anggota kita ada yang berkelahi dengan anggota MPK,"


"Siapa yang berkelahi?" tanya Abryal dengan raut tajam membuat siapapun hanya bisa diam tanpa berani menatapnya.


"SIAPA?!" Bentak Abryal lagi melihat kearah semuanya.


David menghela napas, lalu menunjuk kearah gadis yang duduk dipojok dinding. "Tuh!"


Mata Abryal menyipit melihat kearahnya, saat tahu wajahnya ia langsung menatap sinis. "Lo ngapain huh?"


Serena terdiam, dalam hatinya ia mengumpat kasar pada David karena mengadukan kelakuannya pada Abryal. "Gu-gue tidak bermaksud kak,"


"Nggak ada bermaksud apa?!"


Serena menelan salivanya, ia berusaha untuk tetap menatap mata Abryal yang terlihat menyeramkan. "I-Iya kak, itu hanya salah paham doang."


"Huh jelas-jelas kalau ngomong! Sama siapa lo berantam kemarin huh?!"


"Sama Mira kak," sahut salah satu dari mereka. Serena menatap tajam kearah orang itu, tetapi ia tidak begitu peduli sambil menjulurkan lidahnya mengejek Serena.


"Mira?"


"Ituloh sahabat is—pacar lo Cia. Dia anak anggota MPK," sahut David.


"Kenapa lo buat masalah Serena?" tanya Abryal dengan penuh penekanan. Serena menggigil, ia dilema dengan semua yang terjadi padanya.


"Dia yang buat masalah duluan kak!" Serena memelas, ia berharap Abryal membelanya.


Deg.


Situasi semakin tegang, tidak ada yang berani mengutik Abryal. Serena tetap berdiri disana, ia menunduk pelan sambil menggulung ujung bajunya.


"Apa lagi yang lo tunggu? Keluar!" sentak Abryal menunjuk kearah pintu ruangan.


Serena masih diam berdiri ditempatnya membaut pria itu menghentakkan meja lalu berjalan kearah pintu. "Selesaikan masalah lo sendiri, jangan bawa-bawa nama OSIS! Sekarang keluar, gue nggak mau liat wajah orang masih berpikir rendah!" usirnya membukakan pintu.


Mau tak mau Serena terpaksa keluar, ia bahkan sudah menunduk malu keluar dengan secara tidak terhormat oleh pria yang ia sukai. Tangannya mengepal akan membalaskan dendam pada David dan juga Mira yang membuatnya dibenci Abryal.


***


Cia menikmati ice cappucino buatan Mira, mereka bertiga saat ini duduk sambil menonton film di laptop Mira. "Anjiir, tuh cewek bodoh kali!"


"Sumpah iya, mau gue samperin tuh anak jangan mau diduain!" seru Mira ikut kesal.


"Kesel sendiri gue, cari film yang lain yok!" Cia langsung mengutak-atik laptop Mira.


"Yok!" seru Mira semangat.


"Hei, tugas kita belum kelar loh, masa iya nonton lagi..." gerutu Desi melirik kertas-kertas yang berserakan dilantai. Keduanya menghela napas malas.


"Malas banget,"


"Huft, keluar bentar yok!" ajak Desi langsung dianggukan setuju oleh keduanya. Mereka jalan-jalan keluar menikmati udara sore. Namun, saat mereka hendak melintasi beberapa toko, mereka dihadang oleh seseorang yang tengah memakai gips ditangannya.


Cia bingung menghampiri wanita paruh baya itu. "Ada yang bisa kami bantu Buk?" tanyanya.


Wanita itu bungkam, menunjukkan raut kebencian menatap Desi. "Dasar ja****! Berani sekali kau menggoda suamiku!" cercanya mendekati Desi.


Desi terkejut, berusaha menghindar dari serangan wanita asing ini. Cia dan Mira langsung melindungi Desi. "Tunggu bentar Buk, ada apa ini? Tolong jelaskan baik-baik, sahabat kami salah apa?"


"Huh? Jelaskan baik-baik?! Jelas wanita ini membuat fitnah suami saya keluar dari sekolah!"


"Hah?"


"Kau mati sini!" cercanya mengeluarkan sebilah pisau dibalik gipsnya. Ketiganya terkejut bukan main, mereka melangkah mundur cepat menghindari wanita gila itu.


"Nggak usah kalian lindungi dia brengsek! Dia, dia yang buat suamiku keluar dari sekolah, harusnya dia bisa ngajar olah raga disana!" cercanya lagi membuat Cia mengingat satu orang guru yang pernah keluar dari sekolahnya.


"Tunggu jangan bilang suami anda Mr. Aryo?"


Wanita itu membelalak. "Bagaimana kalian bisa tau nama suamiku?!"


Sial, ini bahaya. gumamnya menatap Mira dan Desi. Mereka mengangguk pelan, pilihan yang bagus saat ini adalah lari darinya sejauh mungkin. Wanita itu membawa senjata tajam yang bisa saja membahayakan mereka.


"Mira, Desi kalian tau kan apa yang harus kalian lakuin?" tanya Cia menoleh tersenyum samar kearah dua sahabatnya. Kedua sahabatnya mengangguk pelan, mereka akan lari setelah mendengar aba-aba dari Cia.


"Tiga!" serunya langsung berlari cepat meninggalkan wanita itu. Wanita itu marah ia pun berlari mengejar mereka.


Situasi seakan tidak mendukung mereka untuk kabur, Mira malah tersandung batu dan kakinya terkilir. Gadis itu meringis kuat menahan rasa sakitnya. Cia dan Desi panik, ditambah lagi wanita itu sudah mulai mendekati mereka.


"Desi telpon polisi sekarang!" seru Cia sambil meluruskan kaki Mira.


Desi dengan gugup menekan nomor polisi dan menelepon cepat. "Pak, kami dalam bahaya. Ada seorang wanita berusia sekitar 40 tahun membawa pisau kecil dibalik gips tangannya. Dia ingin menyerang kami, kami berada dijalan merpati pas didepan rumah hijau. Saya mohon tolong kami!"


"Ci...ibuk itu udah mau sampai..."


Cia sibuk mengikat kayu di kaki Mira agar tidak semakin parah terkilirnya. Ia berdecak pelan melawan rasa takut yang terus bergejolak dalam hatinya. Manalagi, disekitar sini tidak terlihat orang dan jalanan sepi.


"Sial, ibuk gila itu buat gue takut aja." gerutunya kesal. Mau tidak mau ia harus menghadang wanita itu agar tidak mendekati Mira dan Desi.


"Des, bantu Mira ketempat yang aman sekarang!"


"CIAA...jangan lakuin hal bodoh!"


"Nggak ada pilihan yang lain Des, cepat bawa Mira sekarang!"


"Cia, jangan!" cegah Mira, namun tidak dihiraukan oleh Cia.


"Cepat pergi sekarang Desi!"


"Cia lo jangan lakuin yang enggak-enggak!"


"Cepat pergi!" usirnya membuat keduanya berdecak pelan tertatih-tatih pergi ke tempat aman.


Wanita itu dengan emosi yang tinggi mendekati mereka, langsung mengangkat pisaunya dan mengarah kearah Cia yang menutup matanya dengan pasrah.


"Bodoh!"


Deg.


Suara itu membuat Cia membuka matanya perlahan dan mendongak. Matanya membelalak melihat tangan suaminya berdarah menahan pisau agar tidak mengenai dirinya. Wanita paruh baya itu terkejut, lalu menatap tajam kearah Abryal.


Abryal langsung mencengkram kuat tangan wanita itu dan merampas pisau ditangannya. Pria itu mendorong wanita itu menjauh dari Cia. Ia langsung memegang kedua pipi istrinya agar gadis itu menatapnya.


"Bodoh, kenapa diam aja kalau ada bahaya huh?"


Cia terisak, gadis itu tidak menjawab ocehan Abryal dan langsung menghambur memeluk Abryal. "Kak, gue takut..."