
Sorry baru up, kemarin baru selesai uts hiks🥲
Happy Reading!!
*
*
*
*
Cia yang tengah berbicara dengan David langsung memandang jengkel melihat Serena yang baru saja keluar dari kamar. Gadis ular itu tidak mengetahui jika Cia menyorot tajam seakan-akan ingin mencakarnya seperti kemarin.
"Nih si ular buat pagi gue jadi badmood!" sindirnya, Serena hanya menoleh sekilas sambil membuang muka. Ia tidak ingin berdekatan dengan orang yang membuat wajahnya lecet karena cakarannya.
Cia mencebik, lalu menoleh lagi kearah David. "Kak, lo tau nggak si ular tuh dulunya sebelum gue masuk sekolah sini dia emang kek gitu ya sifatnya?" tanyanya jengkel.
David menoleh kearah Serena yang sudah mulai menjauh dari mereka lalu menatap gadis pecicilan didepannya ini. "Dia yang lo maksud?"
"Iya, tuh siapa lagi kalau bukan dia."
"Alah, dah biasa mah kalau orang kayak dia. Si Al tuh dah kebal banget sama yang kayak beginian, malah ada yang lebih parah dari Serena lagi."
Cia tertegun sekaligus penasaran. "Siapa emangnya?"
David cekikikan, lalu bangkit dari tempat duduknya. "Bentar lagi lo juga bakalan tau Ci, gue duluan ya mau lanjut tidur. Nih kopi nggak berguna banget buat gue, tetap ngantuk juga ujungnya." oceh pria itu melambaikan tangannya sambil berjalan menuju kamarnya.
Cia berdecak pelan, lalu menoleh kearah pintu yang diujung sana. Ia penasaran, kenapa pria itu belum juga keluar dari kamarnya?
"Ya ampun dah pagi masih molor dia." gumamnya menghabiskan cokelat panas miliknya. Gadis itu menuruni anak tangga, ia memasukkan tangannya kedalam saku jaket agar tidak kedinginan. Udara pagi ini sangat sejuk dibandingkan pagi di kotanya.
Cia berjalan mendekati ayunan yang tidak jauh dari penginapan mereka. Ia duduk di ayunan itu sambil berayun-ayun. Dengan sengaja ia membiarkan wajahnya diterpa angin pagi, biar wajah terasa lembab.
"Disini lo rupanya, gue nyari lo kayak orang gila tadi!" gerutu Desi masih mengenakan baju tidurnya. Penampilannya yang masih acak-acakan sambil berkacak pinggang dihadapan Cia. "Cepat juga lo bangun." serunya ikut bermain ayunan disamping Cia.
"Mau gimana lagi, gue nggak bisa tidur nyenyak dari semalam." keluhnya sambil mengucek matanya. Sangking penasarannya untuk memecahkan teka-teki tentang suaminya itu, tetapi tidak ada satupun petunjuk yang berguna.
"Mata lo udah kayak panda Ci, baik lo pergi tidur aja sekarang," usul Desi menoleh kearah Mira yang tengah berjalan kearah mereka.
"Nah ini orangnya dah muncul." gumamnya menatap penampilan Mira yang hampir sama lah kayak Desi.
"Bahas apa sih kalian guys?" tanyanya penasaran, ia yakin tadi pas lagi jauh dari mereka, mereka berbincang serius.
"Itu loh Mir, si Cia katanya kurang nyenyak tidur." terang Desi sambil menunjuk kearah Cia.
"Kenapa emangnya woi? Lo pasti mikirin kak Al ya?"
Cia langsung melotot. "Ih gila kali, apa nggak ada pembahasan lain emangnya?"
"Hahaha gue bercanda doang kok. Oh iya, gue dengar dari Miss Lala kita nanti bakalan pergi ke kebun teh loh."
"Trus kenapa?" tanya Cia tidak terlalu tertarik di dengan destinasi yang akan mereka kunjungi nantinya.
"Ih, kok lo nggak excited sih? Seru lo ke kebun teh. Dingin banget loh disitu Ci!!" gemasnya seraya mengompor Cia supaya tertarik dengan ajakannya.
"Ta—" Cia menyadari suaminya sudah bangun, pria itu mengacak-acak rambutnya duduk didepan kamar pria itu. "Hmm we tunggu bentar, gue mau ngomong sama dia!" tunjuknha kearah Abryal.
Sontak keduanya tersenyum diam-diam menggoda sahabatnya yang satu itu. Sepertinya Cia bakal jadi bulan-bulanan mereka. Cia tidak peduli, yang lebih penting dirinya bisa memecahkan teka-teki yang membuatnya sakit kepala dari kemarin. Dengan tergesa-gesa gadis itu menghampiri suaminya yang mulai dikerubungi oleh kaum hawa yang centil.
"Minggir!" serunya menggeser mereka yang menghalanginya sampai ia benar-benar berdiri dihadapan Abryal.
Alis Abryal terangkat satu, menatap gadis sekaligus istrinya itu dengan tatapan heran. "Kenapa?"
Cia menggerutu pelan, lalu tanpa basa-basi menarik tangan Abryal keluar dari kerumunan.
"Apasih Cia tuh, rese banget!"
"Entah, tuh anak sejak masuk kesekolah kita, kak Al jadi perhatiin dia mulu!"
Abryal memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, menatap lurus kearah wajah Cia. "Tanya apa sampai lo bawa gue kesini?" tanyanya datar. Ia akan berusaha untuk tetap terlihat tenang dihadapan gadis itu, jangan sampai dia curiga perihal foto itu.
"Ini ada hal penting yang mau gue tanyain makanya gue narik lo kesini kak," ucapnya menoleh kanan-kiri.
"Gue pinjem duit kak, boleh?"
"Hah?"
"Iya, pinjam duit. Gue mau pinjem duit lo boleh nggak? Soalnya gue mau beli jajanan nanti." serunya agar pria itu mengeluarkan dompetnya. Nah, dikesempatan itulah nanti Cia akan mempertanyakan foto waktu dirinya kecil yang ada di dompetnya. Sungguh rencana yang bagus bukan? Sekali mendayung dua pulau terlampaui.
"Bolehlah," sahut Abryal sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompetnya.
"Segitu senangnya ya nungguin uang gue?" tanya Abryal melihat Cia begitu melototi dompetnya. Gadis itu terkejut, ia langsung mengubah ekspresinya seperti biasanya.
"Ehem, nggak kok. Gue penasaran aja," jawabnya asal. Saat dompet itu terbuka, Cia langsung memandang foto yang ada didalam sana, ia terkejut foto itu bukan foto yang ia lihat kemarin. "Pinjem bentar kak!" Tanpa menunggu jawaban dari Abryal, merampas dompetnya dari tangan pria itu.
"Loh kok foto ini?" tanyanya bingung. Ia benar-benar yakin tadi malam, foto yang terpampang di dalam dompet Abryal adalah foto dirinya waktu kecil, bukan foto Abryal dengan neneknya.
"Kenapa?" tanya Abryal lagi membuat Cia menggeleng lemah. Pupus sudah untuk mempertanyakan hal itu pada Abryal. Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang merah pada Cia.
"Ini buat lo, nggak usah balikan. Lo punya hak atas uang gue," ucapnya sambil memasukkan dompetnya kembali kedalam saku celananya.
"Eh, iya makasih kak." jawabnya lesu menerima uang dari Abryal.
"Uangnya kurang?"
Cia menggeleng lemah. "Bukan kak, sudahlah. Gue duluan dulu," seru gadis itu meninggalkan Abryal yang menatapnya dengan tatapan yang susah diartikan.
Abryal tersenyum miring, ia merogoh sakunya mengeluarkan foto yang gadis itu cari tadi. "Hampir saja lo ketahuan Cia kecil." cengirnya memandang foto itu sebentar lalu memasukkannya kedalam belakang foto yang ia letakkan saat ini.
***
"Gue yakin nih cewek bukannya taubat tapi malah dibuatnya lagi!" cerca seseorang membuat Cia yang baru saja masuk kedalam penginapan langsung menoleh kearah kerumunan itu.
"Kenapa lagi tuh?" gumamnya bingung, tetapi tidak ingin memperdulikan mereka, ia tetap lanjut menaiki anak tangga.
"Lo berani karena ada bekapan dari Cia kan?!"
Deg. Tiba-tiba perasaannya tidak enak, mengapa ada nama dirinya diperdebatan mereka? Cia penasaran, ia memasuki kerumunan dan akhirnya sampai didepan. Matanya membelalak melihat Desi menunduk sambil menangis, apalagi baju yang dikenakannya saat ini tidak mampu menutupi bahu gadis itu.
"Astaga Des!" Buru-buru ia menghampiri Desi.
"Cia!" panggil Mira tiba-tiba mencekal tangan Cia, Cia heran dan bingung menepis pelan tangan Mira.
"Kenapa?"
"Dia udah buat hal yang nggak bermoral dengan pria itu!" tunjuk Mira pada lelaki yang hanya menggunakan boxer duduk disamping Desi.
"Tunggu...tunggu, sepertinya ada yang salah disini. Mira lo biasanya peka, lo tau sendiri Desi gimana orangnya."
"Gue liat dengan mata kepala gue sendiri Cia, dia dan pria brengsek itu ada didalam kamar bersamaan!"
"Mira, kayaknya lo salah liat deh. Nggak bakalan mungkin Mir..." Cia menghela napas kasar lalu menoleh kearah Desi.
"Des, bilang yang sejujurnya ini disengaja atau tidak??"
Desi mendongak menatap Cia dengan tatapan yang susah diartikan, ia mengangguk lemah membuat Cia menatapnya tidak percaya. "Ahaha, lo jangan bercanda Des, hidup lo lagi dalam bahaya sekarang!"
"Elah, dia aja sendiri ngakuin kok. Lo udah deh nggak usah ikut campur Ci, masa sih lo belain yang salah!" cerca Serena tidak jauh dari mereka.
"Miss Lala..." Cia berharap gurunya yang satu itu membantunya, namun sayang seribu kali sayang. Guru itu menggeleng lemah dan berbalik meninggalkan mereka denagn guru-guru yang lain tanpa menyauti pertanyaan Cia.
Serena tersenyum puas menatap hubungan ketiga orang itu akan renggang karena dirinya. Rencananya sangat sempurna seakan-akan kejadian hari ini adalah kejadian yang sebenarnya.
Inilah akibat kalau lo macam-macam dengan gue Cia sialan. Tanpa gue mengotori tangan, rencana ini seperti air mengalir hahahaha dengan membayar semuanya perbuatan lo dari awal.