
Abryal hanya tergelak melihat reaksi Laila. Pria itu melangkah memasuki ruangan Nenek Lara, matanya melebar saat menyadari jika Neneknya tidak sendirian melainkan ada seseorang lagi duduk bersamanya.
"Hai!" sapa Reighan sambil tersenyum menatap putranya yang terlihat terkejut dengan kehadirannya. Bukan hanya Abryal saja yang terkejut, Laila yang menyusulnya terdiam membeku setelah sekian lama ia tidak melihat pria brengsek ini lagi.
Abryal tertawa renyah, apakah ini reunian keluarga? Ia tidak tahu kenapa Neneknya mengumpulkan mereka dalam ruangan sesak ini, tetapi ia menghormati perintah sang Nenek. Melihat kedua orang tuanya dalam satu ruangan, tidak membuatnya senang. Pria itu menempati duduk disamping Nenek, acuh tak acuh sambil memainkan ponselnya.
"Al, jangan kayak gitu Nak."Ucap Nenek meminta Abryal untuk melihat kedua orang tuanya. Walaupun ini berat, tetapi ia tidak ingin cucunya menyesal jika suatu saat terjadi sesuatu pada mereka. Abryal menuruti Neneknya, ia kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Matanya menatap dingin kearah keduanya. Nenek Lara menghela napas pelan, sulit ternyata membuat ketiganya untuk damai.
"Laila, mau sampai kapan kamu berdiri trus? Duduk!" seru Nenek Lara memandang kesal pada anaknya. Laila menghela napas kasar, ia duduk tepat diseberang mantan pacarnya dulu, Reighan.
"Kau terlihat baik-baik saja, Laila."
"Nggak usah bahas aku. Ibu apa yang mau Ibu bicarakan? Kenapa Ibu memanggil si brengsek ini?" cerca Laila memandang penuh kebencian kepada Reighan.
Nenek Lara menghentakkan mejanya kuat hingga membuat ketiganya terkejut.
"Jangan bersikap seperti anak kecil Laila, Ibu sengaja mengumpulkan kalian disini untuk menyelesaikan masalah diantara kalian!" serunya mengutarakan maksud kepada mereka.
"Ibu, apa ibu tau dia meninggalkanku!" seru Laila tidak terima.
"Kamu sama aja, ninggalin Abryal yang masih usia 2 tahun. Untung Ibu tau dan cepat jemput dia disana." Sanggah Nenek Lara mengingat Abryal kecil saat itu.
"Ibu aku waktu itu stress, rasanya mau gila!" Lirihnya memendam semuanya sendirian. Membayangkan masa lalunya saat mengandung Abryal 9 bulan sendirian, belum lagi menghadapi gunjingan tetangga dan Reighan dengan tega pergi menghilang tanpa kabar setelah apa yang dilakukannya padanya.
"Ibu tau, gara-gara dia aku membenci Abryal. Dulu saat melihat wajah Abryal yang sangat mirip dengan pria brengsek ini membuatku semakin membencinya."
"Kalau tau gitu, tidak usah melahirkanku. Aku hanya pembawa sial bukan buat kalian?" Sindirnya langsung beranjak dari tempat duduknya membuat kedunya terdiam. "Maaf Nek, aku tidak bisa berlama-lama disini. Tetapi, setidaknya aku berterimakasih sekali lagi pada kalian sudah mau melahirkanku. Aku memaafkan kalian, karena kalian aku ada. Dan aku bersyukur bertemu dengan Cia, istriku. Dia yang bilang aku harus memaafkan kalian. Huft, saat ini aku sudah bahagia dengan keluargaku kecilku, aku tetap akan menghubungi kalian, menanyai kabar kalian, mungkin sesekali kita akan berkumpul bersama. Apa itu sudah cukup menebus dosa kalian Ma, Pa?"
Keduanya lagi-lagi hanya diam membisu, menatap nanar kearah putranya. Abryal tersenyum tipis, semua ini berkat Cia. Jika bukan karena Cia, ia tidak akan memaafkan kedua orang tuanya. Benar, sesalah-salah apapun mereka, mereka tetaplah kedua orang tuanya dan ia tidak mau menyesal nantinya. “Maaf, kalau perkataanku sedikit kasar, aku masih beradaptasi untuk menerima kehadiran kalian tapi tidak untuk sekarang. Nek, Al permisi dulu.” Ucap pria itu mencium tangan Neneknya begitu juga dengan kedua orang tuanya. Ia melangkah keluar dengan tergesa-gesa, menghapus kasar air matanya yang sempat tidak terbendung lagi.
"Gue udah lakuin yang benarkan Ci?"
"Abryal!" seru Laila memanggil dirinya, namun langsung dicegah Nenek Lara.
"Biarkan saja Laila,"
Laila membuang muka dengan mantan pacarnya sekaligus ayah kandung dari Abryal. Reighan menyibak rambutnya sambil melirik kearah Laila. "Ku dengar kau sudah menikah dan punya anak perempuan."
Reighan tergelak. "Kau tau siapa suamimu? Dia sahabatku Laila." Sungutnya sombong, ia ingin membuat Laila terkejut. Perihal masa lalunya dengan Laila, sepertinya sudah berlalu bagaikan debu. Baik, Laila dan Reighan kini sudah menjalani kehidupan masing-masing.
"Heh, aku tau. Kau kira aku terkejut dengan berita itu? Nggak, dia selalu terbuka denganku. Huft, untuk apa ibu mengundang dia juga? Apa ibu tidak liat reaksi Abryal tadi gimana?"
"Al sudah seharusnya tau dengan ayahnya Laila. Nenek udah salah membuang foto kalian semua dulu saat dia masih kecil, agar dia tidak sakit hati. Tapi, mungkin saatnya dia mengetahui siapa orang tuanya. Kalian itu terlalu bodoh dan ceroboh!" cerca Nenek Lara sambil membenarkan kacamatanya.
"Jangan salahkan aku Bu, salahkan pria brengsek ini!"
"Aku? Kamu juga sama denganku. Sudahlah, kita sama-sama salah disini, nggak usah saling menyalahkan."
"Hei, kalian ini udah tua masih juga bertengkar kayak bocah. Reighan, untuk urusan saham nanti kita ngomong dan kamu Laila, berdamailah dengan Cia."
Reighan melirik kearah Laila yang terlihat tidak suka dengan gadis Bernama Cia. "Kenapa? Kamu mau sok-sok jadi mertua yang benci sama menantunya sendiri. Lagian aku setuju Abyral dengan Cia, setidaknya dia tidak mengikuti jejak kita yang bodoh kan?" Ledeknya lalu berdiri.
"Ibu, nanti aku keruang rapat dengan sekretarisku. Ada yang mau aku urus dulu sebelum kita rapat. Aku permisi," pamit Reighan lalu melirik kearah Laila.
"Oh iya, tolong sampaikan salamku untuk Shaka. Aku salut dengan dia yang mau bertahan dengan orang gila sepertimu Laila."
"REIGHAN!"
Reighan tergelak, ia memandang serius kearah Laila. "Aku minta maaf sudah mengacaukan semuanya La, seharusnya aku bertanggung jawab. Tapi, pria sepertiku ini pengecut. Kamu sudah bahagia dengan Shaka, begitu juga denganku, jadi hubungan kita hanya sekedar orang tua Abryal saja. Tidak lebih dari itu,"
"Cih, aku tidak akan pernah berharap kembali denganmu Rei." Ketusnya lalu beranjak keluar terlebih dahulu
"Aku juga tidak mengharapkan yang sama La, soalnya aku tidak ingin jadi pebinor rumah tangga kalian." ejeknya sebelum benar-benar keluar dari ruangan Nenek Lara.
Laila menghentakkan meja, kesal, marah bercampur menjadi satu. "Ibu, aku pergi."
"Pergilah ke tempat Cia. Kalian ini berdamailah, ibu sudah tua. Tidak sanggup lagi menangani masalah kamu ini, jangan memperkeruh suasana. Terima aja kalau Cia istrinya Abryal. Nggak usah cari-cari gadis lain apalagi menyuruh dia menceraikan istrinya. Gila kamu!"
"Ibu, aku tau apa yang terbaik buat Abryal, dia sama sekali tidak cocok dengan gadis tengil itu."
"Udahlah, jangan usik juga lagi. Cepat minta maaf sana, nggak usah pakai alasan yang lain Laila. Kamu udah jadi seorang ibu, pasti tau apa yang salah kan?"