Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Suka Mengganggu



Cia berlari kecil mengitari kompleks rumahnya saat matahari belum menunjukkan dirinya. Teringat dengan pertemuan Zen kemarin, sikap pria itu benar-benar masih sama saat ia masih berpacaran dengannya. Zen Kembali lagi saat dirinya sudah mulai menyukai Abryal. Melihat wujud pria brengsek itu seketika mengingatkannya dengan kejadian malam itu.


“Sial!”kesalnya menendang kaleng didepannya.


“WOI LO KALAU MARAH JANGAN KE GUE!”


Cia terkejut, ia langsung mencari sumber suara itu. Maklum ini masih dini hari, jadi disini sedikit redup. “Eh, maaf gue nggak sengaja.” Cicitnya pelan.


Orang itu berdiri dari tempat duduk didekat taman. Ia memungut kaleng yang Cia lempar tadi lalu membuangnya kedalam tong sampah. Wajah Pria itu baru jelas dimata Cia saat dia berdiri dibawah lampu jalan. Pria itu terdiam, menatap wajahnya membuat Cia bingung.


“It’s okay, lo orangnya cantik ya.” Ucapnya tentu membuat Cia merasa tidak nyaman.


Apasih anjiir, muji-muji gue mulu. Kenal aja nggak. Gerutunya hanya bisa memaki dalam hati. Cia memasang senyum datar. “Makasih.”


“Gue Ziyad,” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Cia.


“Gue Cia,” Balasnya tetapi tidak berniat untuk menjabat tangannya.


“Cia gitu aja? Nama panjang lo apa?”


“Nama gu—” Cia mengerut dahinya saat mendengar ponselnya berbunyi. “Maaf, gue angkat telpon dulu.” Pamitnya berjalan menjauhi Ziyad.


Ziyad mengangguk sambil tesenyum memandangnya dari belakang. “Sepertinya gue jatuh cinta lagi.” Serunya malu-malu.


***


“Kak, gue nanti telat pulang ya. Lo pulang lama juga nggak?” tanya Cia menatap suaminya yang tengah meneguk teh hangat buatannya. Cia tidak pernah bosan memandang suaminya yang begitu tampan, sampai sekarang ia tidak menyangka jika pria tampan ini adalah miliknya.


“Lo udah gila ya?” tanya Abryal menohok membuat Cia cemberut kesal. Benar, ia melupakan satu hal sifat suaminya yang sangat menjengkelkan.


“Diamlah,” gerutunya mengangkat piring kotor mereka ke wastafel dengan jengkel. Abryal hanya terkekeh melihat wajah menggemaskan istrinya. Sekesal-kesal apapun Cia padanya, ia selalu punya cara untuk membuat istri bar-barnya itu senang. Contohnya sekarang, ia sengaja mengeluarkan ponselnya dari saku dan memesan sesuatu disana.


“Sayaang….” Panggilnya tetapi tidak dihiraukan Cia. Abryal menghela napas lalu menghampiri istrinya yang tengah menyiapkan bekal makan siang mereka. “Sayang…sayang!”


Cia masih diam tanpa menyautnya membuat Abryal jadi gemas sendiri. “Sayang, oi sayang!” serunya lagi. Abryal langsung membalikkan tubuh istrinya lalu mencium bibirnya. Cia terkejut, lalu mendorong suaminya menjauh.


“Gue lagi marah lo nih, lo malah nyium!” Kesalnya menatap tatapan tajam Abryal kearahnya.


“Eh, pahala loh buat suami bahagia sayang, nggak diajarin dulu ya?”


“Wah kurang ajar ya lo kak. Gue kaduin Mama nanti menantunya durhaka!”


“Jangan anjir, kan gue bercanda doang Ciii. Ntar gue ditabok lagi pakai sapu ijuk kayak kemarin.”


“Biarin itu sih derita lo kak,”


Abryal mendengus kesal, lalu ia teringat dengan tujuan awal memanggil istrinya tadi.


“Ish, lupa gue mau ngapain tadi. Nih gara lo ngajak gue gelut trus,” gerutu Abryal sambil mengutak-atik ponselnya lagi.


Cia memandang tajam suaminya. “Lo benaran suami gue apa nggak sih? Setiap liat muka lo rasanya asyik ngajak ribut aja, heran gue.”


“Idih nggak usah banyak heran lo, nih liat sini!” serunya menarik Cia mendekat.


“Mau ngapain?”


“Hais, nggak usah banyak tanya Cici sayang, liat nih!” seru Abryal sambil menunjukkan layar ponselnya pada istrinya.


Mata Cia membelalak, ia langsung merampas ponsel suaminya. “OMG, kita nonton bioskop kak?”


“Nggak, kita cuci gudang. Ya iyalah, dah jelas nih tiket kita nonton malah pakai nanya.”


“Suka lo lah, nanti malam kita nonton.”


“Eh, nggak sekarang kak?”


“WOI SEKOLAH DULU WOI!” Kesalnya sambil mengacak-acak rambutnya. Cia tertawa lepas melihat suaminya begitu frustasi melihatnya.


“Ya elah, gue kan cuma nanya doang. Manatau lo mau ngajak gue bolos hehehe.” Cia langsung berlari ke kamarnya sebelum suaminya meneriaki namanya.


“Ciiiaaa!!”


Abryal menghela napas kasar, istrinya itu memang hobi kali membuatnya naik darah. Tetapi, disisi lain ia senang setidaknya paginya tidak sunyi lagi sejak kehadiran Cia. Perkara tentang ibunya, Abryal tidak ingin bertemu dengannya sebelum ibunya mau menerima kehadiran Cia.


***


Abryal seperti biasanya mengantarkan Cia sampai kelas, lalu baru berpisah berjalan ke kelasnya. Saat ia hendak membuka pintu kelasnya, adik lucnutnya datang menganggunya. Walaupun dulu sempat menyukainya, kini perasaan itu berubah menjadi perasaan kasih sayang seorang adik padanya. Nyatanya, Audrey tidak terlalu agresif seperti dulu tetapi gadis itu kini suka menganggu ketenangannya. Sifatnya itu sama saja dengan Cia, dan tanpa disadari membuat keduanya malah akrab dibalik layar. Mereka berdua sepakat untuk tidak menunjukkan keakraban didalam sekolah mengingat banyak yang membenci Cia, termasuk Serena.


“Oi bang!” sapanya sambil ngemut permen tangkai dimulutnya.


“Minggir, gue mau masuk.”


“Nih, kelas gue juga bang, tengok dong tugas kimia kemarin bang. Gue belum ada ngerjain,” rengeknya membuat Abryal memutar bola matanya malas.


“Ngapain aja lo tadi malam huh?”


“Bergadang nonton drakorlah, cepatlah bang kasih gue!” desaknya.


“Nih, aja gue dibantu Cia ngerjainnya,”


Sontak Audrey tertawa terbahak-bahak. “Anjiir, Ketos kita ternyata juga pemalas ya orangnya.”


“Diamlah, bentar lagi gue juga pensiun jadi Ketos.”


“Lah, kan sekarang masih menjabat bang. Udah deh, cepat sini keburu bel masuk bunyi!” kesalnya mendesak abangnya untuk memberikan buku padanya.


“Nih,” seru seseorang memberikan buku pada Audrey. Audrey terdiam lalu mendongak menatap pria itu.


“Jangan mau Vid, biarin aja dia kenak hukum.” Cegah Abryal merampas buku David kembali


“Sialan lo Al!” kesal Audrey, ingin rasanya merampas topi kesayangan abangnya ini.


David merasa kasihan melihat Audrey, lalu merampas kembali bukunya yang sempat diambil Abryal. “Nih nyontek aja, sama aja jawabannya kok.”


“Nggak ya, gue ngerjain sendiri.” Seru Abryal sombong padanya.


“Idih, lo aja lagi sibuk-sibuknya rapat kemarin. Mana


sempat ngerjain dalam waktu singkat, nih aja lo dapat dari Cia kan?” tebak David membuat Abryal mengerut dahinya.


“Lo kok tau?”


“Buahaha, pandai banget istri lo Al. Lo tau nggak kemarin dia minta fotoin jawaban gue buat lo.” Jelasnya cekikikan membuat Audrey tertawa keras sedangkan Abryal melongo menatap bukunya.


“Ahahahaha kasian, makasih Vid. Lo emang the best!” seru Audrey girang masuk kedalam kelas.


David menepuk pundak Abryal sambil mengulum senyum mengejek. “Makanya jangan sombong pak Ketos. Gue salut tuh sama anak, nggak mau mikir ribet cari jalan pintas." ledeknya berjalan memasuki kelasnya.


Abryal bukannya marah justru tertawa pelan sambil menepuk jidatnya pelan. "Pantas, dia sempat nonton drakor," gumamnya lalu ikut masuk kedalam kelas.