
Cantiknya, padahal usianya nggak muda lagi. puji Cia dalam hatinya memandang wanita paruh baya ini didepannya.
"Pergi!" usir Nenek Lara membuat Cia menoleh terkejut kearahnya. Wanita paruh baya itu melangkah mendekati Nenek Lara.
"Ibu, aku bisa jelasin ini semua..." Lirihnya memohon sambil menggenggam tangan Nenek Lara.
Nenek Lara menepis kasar tangan wanita itu. "Kamu bukan siapa-siapa lagi bagi saya, pergi sana!"
"Ibu!"
Cia bingung, ia tidak bisa kemana-mana saat ini lantaran Nenek Lara begitu erat memegang tangannya. Situasi yang mencekam ini membuat Cia hanya bisa diam mendengarkan perdebatan dua wanita yang berbeda usia didepannya ini. Gadis itu menoleh seraya meminta bantuan suaminya, namun ia tertegun melihat suaminya hanya diam menatap dingin kearah kedua wanita itu.
"Ibu, aku minta maaf. Sungguh, aku menyesal..."
"Terlambat Laila, kamu kira kesalahan kamu itu kecil apa?!" Cia tertegun, baru kali ini ia mendengar Nenek Lara begitu marah dengan wanita ini.
Wanita bernama Laila, itu bersimpuh dihadapan Nenek Lara. "A-ku minta maaf Bu, semua ini Karna aku egois."
"Sudahlah, kamu nggak ada apa-apa lagi. Pergi dari sini Laila!"
"Ibu, kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."
"Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi Laila, apa kamu bisa tidak dikasih tau satu kali huh?!"
"Ibu, please!"
"Pergi, setelah kamu membuang Abryal, hubungan keluarga kita sudah putus!" sentak Nenek Lara.
Deg.
Cia membelalak mendengar fakta yang baru saja ia dengar. Tunggu, jadi dia ini Mamanya Abryal?!
Laila menangis tersedu-sedu, mengingat perlakuannya dulu dengan anaknya, benar-benar tidak bisa dimaafkan. Ia benar-benar tidak bisa menerima anak dalam kandungannya lantaran hamil diluar nikah. Bahkan si brengsek itu tidak mau bertanggung jawab untuk menikahinya, malah mencampaknya seperti sampah.
"Buang?"
Deg.
Suara yang nyaris pelan itu mengundang pandangan ketiganya tertuju kearah Abryal. Laila begitu terkejut melihat pemuda tampan itu menatapnya dingin sambil bersandar di mobil. Air matanya kembali membasahi pipinya, tanpa diberitahu pun ia tahu pemuda ini siapa. Langkahnya perlahan-lahan mendekati Abryal, mengingat bayi mungil yang sempat ia buang waktu itu kini sudah menjadi pemuda yang sangat tampan. "Nak..." Laila hendak menyentuh pipi Abryal, namun pria itu langsung menepis tangannya.
"Jangan sentuh!" ucapnya dingin, lalu menoleh kearah Nenek Lara sekilas. Cia yang melihat suaminya, hanya bisa mengelus dadanya pelan. Ia tahu jika Abryal tidak akan semudah itu menerima Mamanya yang dulu sempat membuangnya.
"Nak..."
"Ma—Bukan nyonya Laila. Aku senang akhirnya tau dengan jelas wajah wanita yang sudah melahirkanku ke dunia." ucapnya datar, dari nadanya terdengar menyakitkan.
Semakin Laila melangkah mendekatinya, semakin Abryal memundurkan langkahnya. "Tolong jangan mendekat, kita bukan siapa-siapa lagi. Tapi, aku berterimakasih sudah mau membiarkanku hidup walaupun aku terlahir sebagai anak haram." Katanya menohok.
Abryal mengusap wajahnya kasar. Ia tidak ingin menampakkan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk mata dihadapan Mamanya sendiri. Harusnya Abryal senang, bertemu dan mengetahui wajah wanita yang sudah melahirkannya. Tetapi, mengingat fakta pahit yang pernah dilakukan wanita itu membuat Abryal enggan menerimanya. Tidak tahan menahan sesak yang terus bergerumuh dalam hatinya, ia pun langsung masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya keluar rumah tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
"Kak!" seru Cia terkejut melihat tindakan Abryal barusan, ia menoleh kearah Nenek Lara. "Nek, kak Al..."
"Tolong kamu kejar suami kamu, biar Nenek aja yang urus wanita ini. Kamu bisa pakai mobil yang ada di bagasi Nenek!" titah Nenek Lara langsung dianggukan Cia. Gadis itu mengalami punggung tangan Nenek Lara dan juga Mamanya Abryal. Bagaimanapun juga secara tidak langsung wanita ini adalah mertuanya.
Cia langsung menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukan meninggalkan perkarangan rumah Nenek Lara. Sedangkan Laila tertegun melihat gadis itu, apalagi mendengar perkataan ibunya tadi.
"Abryal sudah menikah?"
***
Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia menggenggam erat stir mobilnya seraya menahan sesak yang ia rasakan. "SIAL!" umpatnya langsung membelokkan stirnya ke tepi jalan.
Ciiiit.
Abryal mengeluarkan kalung yang melingkar dilehernya, ia tiba-tiba teringat istrinya yang ia tinggalkan tadi. "Bodoh, ngapain juga lo tinggalin Cia sendirian disana, arrgh!"
TIIIIIN!!
"Siapa sih?!" gerutu Abryal yang kini lagi emosi langsung keluar dari mobil. Tampaknya orang itu salah memilih waktu untuk berdebat dengannya. Emosinya yang meluap-luap itu langsung sirna setelah mengetahui siapa pemilik mobil yang ada dibelakang mobilnya.
"Cici?"
Gadis itu tersenyum, baru kali ini melihat Abryal menangis, lihatlah mata, hidungnya yang merah seperti badut. Cia jadi merasa kasihan dengannya yang baru mengetahui fakta yang menyakitkan, sepertinya Cia harus bersyukur dengan keadaan keluarganya sekarang karena ternyata ada yang lebih buruk lagi dari kisah kehidupannya. "Need hug?" seru gadis itu sontak membuat Abryal heran menatapnya.
"Gue nggak salah dengar?" tanya Abryal yang masih terdengar suara seraknya.
"Iya, need hug?" tawarnya lagi sambil merentangkan tangannya lebar.
Abryal bukannya menghamburkan pelukannya pada gadis itu, melainkan tertawa cekikikan menatap Cia. Tentu saja Cia sedikit merasa tersinggung dengan sikap suaminya. "Kenapa? Ada yang lucu?"
"pffft, nggak ada...akhirnya udah bisa bahasa Inggris ya," Ledeknya.
"Anjir, nih anak gue kasihani malah ngelunjak! Gini-gini gue juga bisa ya bahasa Inggris!" Cia seketika menyesal mengasihaninya. Padahal pria itu sedang kacau masih sempat-sempatnya mengejeknya. Abryal agak lain!
Cia memberengut memalingkan wajahnya, niat baiknya ternyata malah jadi seperti ini. Baru saja hendak menoleh lagi kearah Abryal, pria itu tiba-tiba memeluknya. "Thanks your hug, bae." suara deep yang terdengar dekat ditelinganya membuat Cia merinding sendiri.
"Sama-sama."
Abryal langsung meleraikan pelukannya, dan menatapnya bingung. "Pakai bahasa inggris lah jawabnya,"
"Gue lupa apa jawabnya kak, hehehehe..."
Abryal menepuk jidatnya pelan. "It's okay bae, you can try again. Huuump I'm starving, can we go to restaurant bae?" tanya Abryal sambil merangkul Cia dengan manja.
Cia menatap malas kearah Abryal. "Huft, gue belum fasih bahasa Inggris kak, tolong gunakan bahasa yang mudah gue mengerti!" gerutunya membuat Abryal terkekeh pelan.
"Iya...iya, gue lapar yok makan!" ajaknya menarik tangan Cia menuju mobilnya.
"Eh tunggu kak!"
Abryal menghembus napas kasar. "Apa lagi?"
"Ini mobil Nenek mau diapain kak, kita kan tadi bawa mobil masing-masing..." tuturnya. Tidak mungkinkan ia meninggalkan mobil Nenek Lara disini, durhaka sekali dirinya.
Abryal menggerutu pelan sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. "Gue tau siapa yang perlu dihubungi."
"Siapa emangnya?" tanya Cia penasaran.
"David." jawabnya sambil menyengir pelan. Cia sontak tertawa, ia yakin pria itu bakal merutuki mereka berdua karena menganggu waktu me time-nya.
"Vid,"
"Apa?" ketus David dari seberang sana, sepertinya pria itu merasakan perasaan yang tidak enak saat sahabatnya yang satu ini menelponnya.
"Tolong bantuin gue, bawa mobil Nenek ya." ucap Abryal langsung bicara ke inti tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Kampret nih anak, gue baru rebahan loh!" gerutunya lagi.
"Sekarang ya, makasih." seru Abryal langsung mematikan sambungan teleponnya. Abryal tersenyum puas menatap istrinya.
"Dah, masalah selesai. Dia bakalan datang kesini, yok kita pergi sekarang!"
"Astaga..." Cia tidak mampu berkata-kata lagi melihat kelakuan suaminya.