Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Playing Victim



Audrey tersenyum puas, lalu ia menarik kuat rambut Desi dan membawa gadis itu pergi ke tengah lapangan. Sisi iblis Audrey jangan ditanya lagi, sekali bertindak ia tidak akan berhenti sampai disitu saja. Makanya Audrey sangat ditakuti disekolah itu, sampai-sampai guru BK angkat tangan untuk menangani Audrey yang begitu kejam. "Berdiri lo disini!" serunya sambil membuka bungkus permen tangkainya lalu mengemut. Ia mengibas rambutnya mengelilingi Desi sambil menatap jijik kearahnya.


Desi benar-benar bingung sekaligus sakit hati diperlakukan seperti ini. Tetapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Serena keluar dari sarangnya.


"Lo pasti nunggu dia keluar kan?" tebak Audrey sontak membuat Desi menoleh kearahnya.


Audrey tertawa renyah. "Dasar bodoh, dia nggak akan pernah datang nyelamatkan lo, ini tidak akan menguntungkan buatnya ya kan Na?" teriaknya menyindir Serena, ia yakin Serena ada disuatu tempat yang tidak jauh dari mereka.


"Nggak...nggak, dia pasti keluar, dia udah janji dengan uangnya!"


Audrey menatap kasihan, lalu mencengkram kembali dagu Desi. "Lo yakin? Panggil dia sekarang kalau lo yakin dia bakalan nyelamatkan lo!" serunya.


Desi mengepal kedua tangannya, satu persatu siswa mulai berbondong mengerumuninya sebagai bahan tontonan mereka. Malu, sudah jelas ada, tetapi kabur dari Audrey sungguh tidak bisa dielakkan. Ia jadi marah, bagaimana Cia bisa berteman baik dengan Audrey, bukannya dulu mereka musuhan karena sama-sama menyukai pria yang sama?


"Woi lo nggak bisu kan?!" cerca Audrey lagi menatap tajam kearah Desi.


"Diamlah, gue tau dia bakalan datang." balas Desi kesal. Ia tidak suka menjadi bahan tontonan disini, matanya terus mencari keberadaan Serena untuk membantunya.


"Ahahaha mimpi aja trus, gue 100% yakin dia nggak bakalan datang," ucapnya tersenyum angkuh. Mata lentiknya menoleh ke semua orang yang tengah mengerumuni mereka. "Oh kalian mau liat pertunjukan badut ya? Nih badut kita udah mau tampil!" serunya menunjuk kearah Desi.


Deg.


Rasanya ingin menghajar Audrey yang begitu kurang ajar padanya. Audrey sendiri tahu, jika gadis itu ingin memaki-maki dirinya. "Lo marah ya? Sini hajar gue!" pancingnya membuat amarah Desi semakin memuncak.


Desi berdiri lalu mulai menghajar Audrey, namun Audrey tetaplah Audrey, ia begitu lihai menghindari serangan Desi. "Ops nggak kenak, sini...sini!" serunya semakin memancing amarah Desi.


"CUKUP!" Teriakan Mira tentu membuat semuanya menoleh kearah gadis itu. Mira berjalan cepat kearah Desi dengan tatapannya yang dingin. Desi mengibas roknya lalu menatap haru kearah Mira.


"Lo emang teman ter—"


"Apa? Lo mau bilang gue teman terbaik lo? Jangan mimpi Des, gue udah muak dengan muka dua lo. Selama ini gue salah menilai lo, ternyata lo seburuk itu. Mulai sekarang, lo nggak boleh tinggal dikos gue, pindahin barang lo hari ini juga! Gue nggak peduli lagi..." tegasnya lalu pergi mengajak Cia keluar dari kerumunan itu.


Desi langsung terduduk, ia tidak bisa berbuat apa lagi. Serena yang ia tunggu juga tidak kunjung datang, teman-teman yang harusnya berada disisinya kini sudah pergi meninggalkannya. "Ternyata semua orang sama aja, nggak ada yang baik sama gue..." Lirihnya membuat Audrey yang mendengarkan hal itu geram sendiri.


"Lo jangan playing victim sialan! Udahlah salah malah nyalahin orang!"


"Heh, gue playing victim? Nggak salah tuh? Kalian yang kaya raya nih enaklah ngomongnya. Supir ada, uang ada. Sedangkan gue? Mau makan aja hanya bisa tempe tahu, tempe tahu! Kalian tau apa soal gue!" Cercanya kesal mengeluarkan unek-unek dalam hatinya. Ia tidak salah disini, yang salah adalah mereka semua.


"Kehidupan kalian lancar, kehidupan gue nggak. Liat gue aja jalan kaki buat ke sekolah, kalian? Diantar pakai mobil-mobil mewah!"


"Trus gue harus kasian liat lo gitu?" Ucap Audrey menohok.


"Lo taunya pandai ngomong doang! Coba lo diposisi gue, hidupnya selalu sial dan sial! Gue mau hidup kek kalian juga, gue mau rasain makanan enak juga! Nggak kayak sekarang, nyokap gue hanya bisa ngasih 200 ribu perbulan! Belum lagi ngekos di tempat Mira mahalnya minta ampun!"


Mira yang belum jauh pergi dari sana, langsung berhenti. Suara parau Desi membuat keduanya kasihan tetapi, hanya sebentar. Mengingat perlakuan gadis itu pada mereka sangatlah menyakitkan. Jika, Desi tidak memilih jalan yang salah mungkin mereka bisa membantu masalah gadis itu. Namun, Desi malah memilih Serena yang justru tidak membuahkan hasil.


"Mir..." Cia juga merasa bingung sekaligus marah. Tetapi, ia tidak ingin membuang energinya hanya untuk memikirkan Desi. Desi harus bisa menanggung konsekuensinya jika sudah melakukan kesalahan.


Desi yang melihat Cia dan Mira benar-benar tidak melihatnya lagi hanya bisa menangis. Ia menuduh mereka meninggalkan Desi hanya gadis miskin yang selalu mendapatkan kesialan terus menerus. "Kalian benar-benar ninggalin gue disini, padahal gue sahabat kalian..."


"Ya trus aja lo salahin mereka Des, capek gue berhadapan dengan orang yang tidak mau mengakui kesalahannya. Manalagi masang wajah nggak berdosa,"


"Lo yang harusnya berkaca Audrey sialan! Sampai kapanpun gue nggak pernah salah!"


"Sudahlah, nama lo udah jelek juga disini."


Desi kesal, matanya melebar saat menyadari jika ada Serena bersembunyi dibalik dinding. Sontak ia memanggil Serena untuk datang menemuinya. "SERENA!"


Semua mata berbalik tertuju padanya. Serena mengepal tangannya kuat, ia tidak suka dipandang buruk oleh semuanya. Terlintas otak liciknya, untuk menjebak Desi agar tidak menyangkut paut dengannya. "Desi, lo sepertinya salah orang!" ucap Serena dengan santai.


"A-apa maksud lo? Lo janji bakalan bayarin gue kan?!"


"Janji apa nih, gue nggak pernah ada janji sama lo Desi,"


"Bohong, nggak mungkin lo lupa Ren. Lo udah janji bakalan ngasih gue uang sesuai kesepakatan!"


"Kesepakatan apa maksud lo? Gue nggak pernah buat sepakat dengan lo Des."


Deg.


Desi tertawa renyah, jadi ia sekarang ditipu? Semua kerja kerasnya dari semalam juga sia-sia? "Ahahaha bercanda lo nggak lucu."


"Siapa bilang gue bercanda? Gue benaran nggak ada nyuruh lo buat kesepakatan," Ucap Serena membuat Desi semakin terpojok.


"Jangan bohong Serena, lo jangan buat gue jadi kayak gini!" Cercanya kesal, ia langsung menjambak rambut Serena dengan sekuat tenaganya. Serena yang kewalahan, langsung menampar pipi Desi dengan kuat.


Plaak.


"Apasih anjiir, ngapain nampar gue segala huh?!" kesal Desi membalas tamparan Serena.


Plaak.


"Lo yang salah bego, lo balas lagi ke gue?!"


"Serena cepat kasih uang ke gue!" desak Desi menarik seragam Serena.


Serena tidak terima, ia langsung menjambak rambut Desi dengan kuat. "Rasain nih!"


Audrey dan yang lainnya hanya diam menatap mereka. Gadis itu membuang puntung permennya sembarangan, lalu tersenyum miring menatap mereka berdua. "Silahkan dinikmati pertunjukan badutnya, limited edition nih!" serunya bersiul keluar dari kerumunan mereka.


Sejak kejadian itu, kabar tentang Desi tidak terdengar lagi ditelinga Cia dan Mira. Walaupun mereka terlihat baik-baik saja, namun disisi lain mereka juga gelisah. Sejahat-jahat apapun Desi, Cia dan Mira masih menyimpan sedikit rasa khawatir. Apakah Desi baik-baik saja?


Deg.