Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Pemilik Dua Jepit Rambut



Cia yang berada didalam mobil dibiat bingung dengan dua pria yang tengah berbicara serius. Sepertinya hasilnya buruk, melihat dari cara Abryal mengepal tangannya kuat membuat Cia gemetaran. Ia berharap suaminya tidak membuat masalah disini, mengingat mereka masih di wilayah sekolah. "Astaga sih Ziyad nih ngapain sih?!" kesalnya sendiri.


Cia langsung memalingkan wajah ketika Abryal hendak membuka pintu mobilnya. Saat pria itu masuk, tanpa berkata apapun ia langsung melajukan mobilnya keluar dari parkiran sekolah. Cia hanya diam melihat jalanan.


"Siapa dia?" tanya Abryal masih terdengar dingin membuat Cia menoleh kearahnya.


"Dia tadi? Ziyad adek kelas gue kak. Kenapa kalian bi—"


"Lo berangkat sama siapa tadi? Dia?" tuduhnya sambil sekilas menoleh kearah Cia.


"Huh? Nggak kak! Gue nggak sama dia!" sanggahnya. Cia benar-benar marah, Ziyad malah membuat fitnah. Ternyata bukan cowok aja yang ular, tapi cowok juga. Umpatnya kesal dalam hati.


Setelah itu Abryal tidak ada mengatakan apapun lagi, tujuannya langsung berbelok kearah rumah orang tua Cia. Melihat tindakan pria itu membuat Cia semakin cemas dan bingung. Buru-buru gadis itu mengejar langkah lebar Abryal masuk kedalam rumah.


"Assalamu'alaikum Ma!" serunya membuka pintu langsung, ia mencari sosok kedua orang tua Cia. Cia heran, ia langsung menghadang suaminya.


"Kak, lo kenapa? Kalau ada masalah dengan gue bilang ke gue kak!"


"Minggir, gue mau cari orang tua lo!" Abryal menggeser Cia agar tidak menghalangi jalannya.


"Astaga!" kesalnya mengejar Abryal lagi.


"Maa? Paa?" serunya lagi memanggil mertuanya. Namun, mereka tidak menunjukkan diri membuat pria itu menghela napas kasar.


"Kak, lo mau ngomong apa ke mereka?" tanyanya tidak menyerah. Ia sama sekali dibuat pusing, daritadi dalam hatinya tidak berhenti menyumpah serapah Ziyad karena membuat Abryal sekesal ini.


"Huft, bisa lo jelaskan apa maksudnya ini?" tanya Abryal menunjukkan foto didalam ponselnya.


"Hah?" Cia langsung menyambar ponsel Abryal dan melihat foto itu. "Eh, ini bukannya ta—"


Abryal merampas kembali ponselnya, sambil menatap tajam kearah istrinya. "Ngomong, sama siapa lo berangkat tadi huh?"


"Kak, i-ini gue sama Papa loh! Papa tadi pagi ngantar,"


"Ngantar lo? Tanpa bilang ke gue? Lo anggap gue apa sekarang Bricia? Lo tau, apa yang dipikir Mama sama Papa tentang gue? Gue nggak becus jadi suami!" cercanya membuat Cia terdiam.


"Kak, tunggu dengarin dulu penjelasan gue. Kak ini masalah sepele kak, gue nggak mau bangunin lo tadi."


"Alasan, nih lo tau siapa yang motret lo huh?"


"Siapa kak?"


"Tuh cowok yang lo liat tadi." jawabnya ketus. Cia membuang napas kasar, ia langsung menangkup wajah suaminya.


"Kak, liat gue. Gini, tadi pagi gue diantar Papa, dah abis tuh si Ziyad dia nanyain gue, gue udah putus apa belum. Gue tegasin, gue nggak ada hubungan apapun sama Ziyad kak, jadi percaya sama gue!"


"Don't say anything, Bricia." Lirihnya menepis pelan tangan istrinya lalu berjalan ke kamar Cia dan menutup pintu keras.


"Lah, kok ngambek? Ya ampun, kak Al lagi labil apa? Ziyad sialan, orang gue mau hura-hura sama suami gue, eh malah apes!" kesalnya mencak-mencak sendiri.


"Nih suami gue malah mengunci dikamar gue, pemiliknya siapa sih sebenarnya gue apa dia?"


***


Abryal tersenyum samar, ia merebahkan dirinya dikasur istrinya yang meninggalkan aromanya yang sangat menenangkan. Ia sebenarnya tidak marah, hanya jengkel saja. Pria bernama Ziyad tadi malah mengira Papa mertuanya adalah suami Cia, tentu saja ia tidak terima. Walaupun mertuanya orang tua kandung istrinya, ada sedikit rasa cemburu. Harusnya tadi pagi dia yang bangun dan mengantarkan istrinya ke sekolah.


Dua jam sebelumnya...


Abryal turun dari mobil sambil menunggu istrinya keluar. Ia memandang sekolahnya yang masih sama seperti sebelum dirinya lulus di sekolah ini.


"Abryal?" tanya seseorang membuat dirinya menoleh kearah orang itu.


"Eh? Pak?" sapanya langsung menyalami salah satu guru disini.


"Jemput siapa Nak?" tanyanya bingung.


"Jemput is—pacar saya."


"Ya ampun, anak muda. Jangan pacaran aja Nak, kalau serius langsung nikahin."


"Iya Pak, hehehe." Abryal hanya mengangguk pelan menanggapi beliau. Saya dah nikah loh Pak.


Abryal tersenyum kikuk. "Cia Pak."


"Oiya kamu pacarnya Cia ya, Bapak baru ingat. Ya udah, bapak mau ke kantor dulu ya, mau rapat. Semangat kuliahnya ya Nak,"


"Terimakasih Pak," jawabnya melihat punggung guru itu yang kian makin menjauh.


"Lo pacarnya Cia?" tanya seseorang membuat Abryal mendongak kearahnya.


"Iya, kenapa? Lo siapa?"


Ziyad tersenyum sinis, lalu menunjukkan foto itu pada pria didepannya ini. "Sayang sekali, pacar lo selingkuh dengan Om-om," ejeknya tetapi tidak membuat Abryal bergeming.


Abryal hanya diam saja, ia tidak ingin membuat keributan disini hanya gara-gara orang asing tidak jelas ini. Tapi, bisa disimpulkan pria ini sepertinya mengenal Cia bukan sebagai orang biasa. "Kenapa lo ngurusin masalah orang lain?"


Ziyad berdecak pelan. "Gue cuma mau bilang aja, lo bisa dapatin yang lebih baik dari Cia, that's it."


Abryal mengepal tangannya kuat, ia langsung merampas ponsel pria itu dan memotret foto yang sempat ditunjukkan pria itu. Lalu memasukkan kedalam saku seragamnya. "Cia istri gue, jadi dia tempat terbaik buat gue, nggak ada yang bisa gantikan dia disini." ucapnya tersenyum miring sambil menunjuk kearah dadanya.


Mata Ziyad melebar sempurna. "Tunggu, lo dan dia udah nikah?!"


"Iya, sayang sekali ya. Kalau lo mau ngincar istri gue, gue bakalan patahkan leher lo, hmm Ziyad ya nama lo?" ancamnya sambil melirik nama di seragam yang dikenakan Ziyad.


Ziyad menepis tangan Abryal, ia langsung mencengkram kerah kemeja pria itu. "Brengsek!"


Abryal dengan santai melintirkan tangan pria itu dan mendorongnya jauh. "Pergilah bocah, lo nggak sebanding dengan gue. Dasar lemah," ejeknya.


Ziyad mengepal tangannya kuat, amarahnya memuncak. Lemah? Ia saja bisa menghajar dua pengawalnya sekaligus. Baru saja dia ingin membalas, tiba-tiba Cia datang berlari kearah pria didepannya ini. Ucapan Abryal tadi soal mereka sudah menikah semakin kuat, dilihat dari cara Abryal menatapnya dan menyuruh gadis itu masuk kedalam mobil.


"Ingat, dia punya gue. Masih banyak cewek yang lain," Ledek Abryal sebelum masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkan perkarangan sekolah.


Abryal mengingat kejadian dua jam yang lalu itu membuat dirinya semakin jengkel dengan bocah bernama Ziyad. "Huft, bocah sialan itu berani-beraninya dekati kesayangan gue." keluh Abryal memeluk bantal guling dan tertidur pulas.


***


Cia berulang kali meniup poninya, berdiri didepan pintu kamarnya sendiri. "Kak Al, kapan keluarnya ya?" gumamnya. Ia bisa saja menggunakan kunci cadangan untuk membuka kamarnya, namun itu sama memancing kembali emosi suaminya. Ia tidak ingin hal itu terjadi, cukup lama ia mondar-mandir tanpa menyadari Mamanya sudah berdiri dibelakangnya.


"Kenapa nggak masuk?"


Cia terperanjat. "Astagfirullah Ma, buat kaget aja!"


Deva terkekeh. "Kenapa? Lagi berantem ya?" tebaknya membuat Cia menghela napas panjang.


"Ooo biasa tuh, paling suami kamu tidur lagi. Dia nggak bakalan marah sayang sama kamu, mending kamu temani Mama belanja lagi!" ajak Deva menarik tangan anaknya. Padahal Cia belum ada menyetujui permintaan Mamanya, sudah ditarik keluar dari rumah.


Cia hanya menatap malas cemilan yang terpajang di supermarket. Padahal kalau suasana hatinya senang, ia mungkin memborong semua cemilan kesukaannya. Matanya tertuju pada cokelat yang terpajang disana. Setidaknya cokelat bisa membantu mengurangi badmood, ia pun mengambil cokelat itu.


Bruuk.


"AW!" ringisnya terkejut tiba-tiba didorong oleh seseorang. Ia mengumpat kasar dalam hatinua mendongak kearah pelaku itu. Namun, mata melebar saat menyadari jika orang itu adalah mertuanya, Laila. Bukan hanya terkejut dengan kehadiran mertuanya, melainkan Serena masih tetap lengket dengan Laila yang entah kapan mereka saling kenal dan sedekat itu. Cia berdiri sambil mengibas roknya menatap datar kedua orang itu.


"Ops, pasti sakit ya. Kasian banget,"


"Mana Abryal?" tanya Laila menatap tajam kearah Cia.


Cia menghela napas. "Dia dirumah Ma,"


Serena langsung mendorong Cia, hampir saja ia tersungkur jika tidak disambut Deva. "Apaan nih kenapa mendorong anakku huh?!"


Deg.


Laila terkejut saat melihat wanita itu yang juga menatapnya. "Deva?"


"Mama kenal?" tanya Cia bingung menatap keduanya. Ia pun baru sadar, jika orang tuanya ini tidak pernah bertemu dengan Laila, mertuanya.


"Kenal lah, orang dia sahabat Mama. Kamu tau jepit rambut yang sering kamu pakai itu, itu punya Mama dan sahabat Mama juga punya yang sama." jelas Deva tersenyum tipis, tetapi ia sedikit bingung dengan tindakan Laila yang hanya diam melihat anaknya didorong oleh gadis disampingnya.


"Cia anak kamu?!" tanya Laila tidak percaya.