
Abryal hanya duduk menikmati sarapan paginya tanpa mengatakan sepatah pun. Suasana rumah ini yang awalnya ricuh karena perdebatan abstrud mereka setiap pagi, kini berganti menjadi hening seperti tidak berpenghuni. Lama-lama Cia jadi jengkel sendiri dan ingin memancing emosi Abryal, tetapi ia tahu saat ini waktunya tidak tepat untuk bercanda dengan pria itu.
Suara decitan kursi membuyarkan lamunan Cia, ia mendongak kearah Abryal yang tengah memakai almamater dan topi hitamnya. Cia tidak banyak komentar, mungkin suasana hati pria itu sedang buruk lantaran Mamanya terus menghubunginya tanpa henti. "Kak," serunya membuat pria itu menoleh kearahnya.
"Lo belum minum air." ucapnya menunjuk kearah gelas milik Abryal.
Pria itu mengangguk tanpa bersuara, ia pun langsung menghabiskan air miliknya dan pergi keluar rumah. Cia hanya menghela napas panjang sambil bergegas membersihkan bekas makan mereka.
"Cii..." Gadis itu terkejut melihat suaminya tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Ya?"
"Cepat," pintanya lalu meninggalkan Cia yang terbengong ditempat. Gue benar-benar nggak suka kalau dia mendadak bisu gini! gerutunya sambil mempercepat kegiatannya membersihkan meja makan.
Cia buru-buru menyemprot parfum seluruh tubuhnya, lalu menyambar ransel dan berlari keluar rumah. Saat ia hendak mengunci pintu, langkah kakinya berhenti melihat sosok yang membuat suaminya mendadak menjadi pendiam. Ia kalau jadi suaminya mungkin marah-marah dan benci pada wanita itu, sekalipun dia adalah orang tua yang melahirkannya. Namun, ia ingat batasannya tidak mencampuri urusan Abryal.
"Cia!" panggil Abryal menoleh kearahnya. Sontak Cia langsung gugup. Pasalnya tatapan Laila juga tertuju padanya, tetapi entah mengapa ia bisa menangkap jika tatapan itu adalah tatapan tidak suka.
Cia menelan saliva, ia berjalan kikuk ketempat mereka. Gadis itu semakin gugup lantaran suaminya malah menggenggam tangannya dihadapan Laila. "Kalau tidak ada urusan lagi, aku pergi!" ucap Abryal dingin mengajak Cia masuk kedalam mobilnya. Cia hanya mengangguk senyum berpamitan pada Laila, lalu ikut suaminya.
"Nak, nanti kita makan malam bersama!" ucap Laila tersenyum lebar menatap Abryal. Abryal hanya diam menatapnya sekilas, lalu melajukan mobilnya dengan cepat tanpa berniat melirik Mamanya lagi.
Cia menggulung ujung bajunya, ia membenci suasana canggung seperti ini. Namun, ia juga tidak ingin menjadi pelampiasan emosi Abryal. Lebih baik diam daripada makan hati Ci, sabar...sabar.
Tidak terasa mereka akhirnya sampai di sekolah. Abryal langsung keluar terlebih dahulu meninggalnya istrinya. Cia gelagapan buru-buru keluar mobil menyusul suaminya. Kini, ia tidak takut lagi dengan tatapan semua orang, karena suaminya itu kemarin mendadak mengumumkan mereka pacaran. Untuk status pernikahan meraka masih bungkam dulu sampai mereka tamat sekolah.
Cia membusungkan dada, ada terbesit rasa bangga bisa berjalan disamping suaminya dihadapan para fans-fans Abryal yang menyebalkan itu. Mereka hanya bisa mengigit jari dan memandang iri kearahnya, tapi itulah yang membuat Cia puas melihat mereka tidak berdaya.
"Udah gila?" Suara Abryal langsung membuyarkan lamunan Cia, gadis itu memandang datar kearah suaminya.
"Iya kak, gue udah gila." jawabnya asal.
"Ooo perlu gue antarkan kerumah sakit jiwa nggak?" tanya Abryal membuat Cia menatap malas kearahnya.
"Yakin? Lo nggak malu punya istri sakit jiwa?" Candanya namun malah ditanggap serius oleh Abryal.
"Nggak, ngapain malu. Lo istri gue, walaupun lo sakit gue nggak akan pernah melepaskan lo!" tekadnya kuat membuat Cia salah tingkah.
"Gu-gue duluan ya kak!" serunya kabur duluan ke kelasnya. Abryal yang melihat tingkah istrinya sontak tertawa pelan, namun senyumannya itu tidak bertahan lama kembali memudar.
***
Mira membawa nampan berisi tiga mangkuk soto diatasnya, ia membawanya perlahan-lahan ke meja sahabatnya. "Hi, guys ini dia pesanan kalian!"
"Wah terimakasih pembantu!" Ledek Cia menyambut nampan itu.
"Kurang ajar!" kesal Mira tetapi ia ikut tertawa melihat mereka tertawa.
"Cii tolong ambilin saos dong!" seru Desi menunjuk meja sebelah.
Cia menghela napas, lalu beranjak dari tempatnya. Saat dirinya hendak mengambil botol saos itu, tiba-tiba direbut oleh Audrey. Gadis itu tanpa basa-basi langsung menyiram Cia dengan saos itu.
Sontak tindakannya membuat riuh seluruh isi kantin. Mira dan Desi terkejut, mereka pun langsung menghampiri Audrey. "Kak, apa-apaan ini?!" seru Mira tidak terima.
Audrey memandang malas kearah mereka. "Suka hati guelah, itu kawan kalian nggak pernah menghormati sen—"
Byuuur.
Mata Audrey membelalak, ia langsung menatap tajam kearah Cia.
"BRENGSEK!" Audrey langsung menjambak rambut Cia. Oh, tentu saja gadis itu tidak terima, ia pun langsung membalas menarik kuat rambut Audrey. Alhasil, mereka saling menjambak rambut satu sama lain.
"APA INI?!" teriak sosok guru yang kebetulan berada disana, tetapi tidak membuat keduanya berhenti.
"Kalian yang disana, berhenti!" Suara guru itu tidak juga dihiraukan, membuatnya kesal dan meleraikan mereka secara paksa.
"Semua ini karna lo!" cerca Audrey sambil membersihkan asal toilet dengan kain pelnya. Cia yang tengah bersenandung riang membersihkan kaca, acuh tak acuh. Gara-gara pertengkaran mereka tadi, membuat keduanya berakhir disini.
"Semua karna lo sialan!"
"Diamlah, lo yang salah duluan kak!" Cia kesal, apalagi tadi belum sempat mencicipi sotonya, padahal perutnya begitu keroncongan malah berakhir disini. Nih nenek lampir suka banget nyari masalah sama gue.
"Ih, baju gue bau sialan! Ini semua karna lo!"
"Ya salah sendiri, siapa suruh nyiram gue pakai saos." Cia mencebik, ia dengan cepat membersihkan kaca agar bisa makan sotonya tadi.
"Lo anak baru sok-sok banget, udah belagu lo jadi pacar Al huh?!"
"Idih bilang aja iri lo kak, gue yang dapat kak Al." Ledeknya tentu kembali memancing emosi Audrey.
"Lo anak sialan ya, gue mati-matian nyari perhatian Al, malah lo yang dipilih dia! Lo nggak secantik gue, udahlah kurus kayak tulang!"
"Nggak bersyukur banget jadi manusia, ngelunjak trus. Kalau lo mau protes ngapa dia milih gue, ya udah samperin orangnya langsung jangan ke gue!"
"Lo penyebabnya!"
"Halah, bilang aja lo takut kak ngomong langsung sama kak Al!" Ledek Cia semakin memancing emosi Audrey.
"Heh, enak aja! Semua ini karna lo datang ke sekolah ini!"
"Emang sekolah ini punya bokap lo ya kak? Heran gue, iya lo cantik tapi otak lo kosong kak. Obsesi banget lagi sama kak Al, mungkin itu tuh yang buat kak Al ilfil liat lo, makanya jadi cewek jangan centil!" Ocehnya panjang lebar.
"Dah siap kerja gue, bye-bye gue makan dulu ya kak Audrey!" serunya mengejek sambil melambai-lambaikan tangannya pada Audrey.
Audrey kesal, melempar asal pel yang ada ditangannya. "Aaargh, sial! Oke, lo nggak bisa diajak ngomong baik-baik, liat saja nanti apa yang bakalan gue akan buat lo menderita!"
"Oh iya?" seru Cia tiba-tiba muncul membuat Audrey terperanjat kaget.
"KAPAN LO MUNCUL HAH?!"
Cia menutup kedua telinganya. "Ya jangan teriak-teriak juga kali, telinga gue disini kak," Ucapnya lalu melangkah mendekati Audrey, tatapan Cia yang awalnya cengar-cengir perlahan memudar menatap Audrey dingin.
"Gue tadi lupa ngomong sesuatu, kalau lo sempat macam-macam dengan gue, gue nggak bakalan tingga diam kak. Ingat itu baik-baik!" ucapnya dingin sambil mencengkram bahu Audrey sedikit kuat, lalu pergi keluar dari toilet.
Audrey mengepal tangannya kuat, ia langsung menumbuk cermin hingga pecah. "GUE BENCI LO, BRICIA SIALAN!"
Tanpa Audrey sadari, jika Cia masih berada dibalik pintu. Gadis itu tersenyum miris, sambil menghela napas panjang. "Gini amat gue hidup."
Saat Cia hendak berjalan menuju kantin, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang. Abryal langsung memeluknya erat. Cia gelagapan, jantungnya berdetak kencang. Ia yakin Abryal bakalan mendengar suara jantungnya yang tengah berdisko.
"Suara jantung lo kedengaran ya Ci..."
"Diamlah, nggak usah diperjelas!" gerutunya menyembunyikan wajahnya didalam pelukan Abryal.
Abryal memeluknya erat, ia bangga istrinya tidak selemah yang ia kira. Tetapi, Cia masih tetap perlu ia lindungi. Ia benar-benar nyaman memeluk gadis bar-bar kesayangannya itu. Apalagi, masalah baru yang terus mengganggunya ini, seketika hilang saat memeluk gadis itu.