
Deg.
Suasana kelas terasa mencekam, semuanya menyorot kearah Cia yang sekarang menjadi sasaran guru kesiswaan lantaran ada suatu benda asing yang berbahaya didalam tasnya.
"Kamu merokok?!" sorot tajam guru kesiswaan menatap kearahnya. Cia menghela napas pelan, siapapun pelaku yang menyeretnya dalam masalah, tidak akan ia ampuni. Tapi, saat melihat senyuman iblis Audrey yang tengah berdiri diambang pintu kelasnya membuatnya paham tentang semua kejadian ini.
"Nggak bu." jawabnya dengan tegas. Bagaimanapun juga, ia juga tidak bersalah disini. Njiir tuh anak ngeselin banget, main kotor!
"Apanya yang nggak, ini apa?!" cerca guru itu lagi memegang bungkus rokok itu dihadapan wajah Cia.
Cia menatap datar, seolah-olah tidak panik dengan apa yang terjadi padanya. "Itu bukan punya saya," ucapnya menoleh kearah Audrey sambil tersenyum samar, lalu menatap kembali kearah gurunya.
"Itu punya Papa saya, tadi saat beliau minta tolong bawakan, saya malah kebawak kedalam tas." jawabnya membuat semuanya bergerumuh.
"Bohooong!"
"Ish, anak durhaka, disalahin pula bokapnya!"
"Cih, ngaku aja lo!"
"Sampah!"
"Yang lain diam!" seru guru itu membuat semuanya bungkam, kini tatapannya kembali tertuju pada Cia.
Cia tidak tertarik dengan semua gunjingan yang dilontarkan untuknya. "Kalau ibu tidak percaya, silahkan telpon Papa saya." serunya sambil mengeluarkan ponselnya, lalu menelpon papanya dengan loudspeaker dihadapan gurunya.
"Halo Assalamualaikum pa."
"Wa'alaikumsalam kenapa dek?"
"Pa, tadi rokok papa ketinggalan kan diatas meja?"
"Hm? Iya...tadi siapa yang papa suruh bawakan?"
"Cici Pa, cuma disini Cici disalahkan sama guru karena bawa rokok Papa ke sekolah. Tadi, nggak sengaja terbawak sama Cici." jelasnya dengan lantang tanpa takut dengan tatapan tajam guru dihadapannya.
"Ngapain pula kamu disalahkan?! Itu benaran punya Papa kok, kalau ada sempat yang nyalahin kasih tau Papa!"
"Oke Pa, kalau gitu Cici tutup dulu telponnya Pa. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, kalau masih bermasalah nanti telpon Papa!"
"O-oke Pa." Cia menutup teleponnya lalu menatap guru dihadapannya. Tumben Papa peduli? Baguslah ada perubahan, manalagi pas banget momennya.
"Bagaimana bu? Apa ibu percaya sama saya?"
Deg.
Cia tersenyum puas melihat wajah pias Audrey. Apalagi semuanya terdiam tidak ada yang berani berkomentar termasuk guru kesiswaan dihadapannya. Guru itu menghembus napas kasar, sambil membawa bungkus rokok ditangannya. "Ini tetap saya sita, bilang sama orang tua kamu, untuk tidak lalai seperti ini lagi!" serunya sebelum meninggalkan kelas Cia.
"Apa kalian liat-liat huh? Udah puas liat pertunjukan yang nggak sesuai ekspektasi kalian? Gue peringatkan baik-baik, siapapun yang berencana menjebak gue, gue nggak bakalan tinggal diam!" Ancam Cia sambil menghentakkan meja, ia benar-benar muak saat ini dijebak seperti saat ini. Semuanya terdiam, mereka tidak menyangka Cia akan semarah itu. Satu persatu mereka kembali ke mejanya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Mira langsung mengelus pundak Cia, seraya menenangkan gadis itu. "Lo mau nyari udara segar nggak?" tanyanya langsung dianggukan Cia.
"Temanin gue bentar," ucap Cia berjalan lebih dulu, sedangkan kedua sahabatnya langsung menyusulnya
"Seperti biasa, lo emang paling peka ya Mir. Untung gue nginap dirumah Papa, jadi pas pula timing tadi pagi papa lupa bawa rokok, gue bisa jadi alasan itu." jelasnya.
"Gila sih, kalau nggak ada kejadian itu peluang lo lolos fitnah kecil Ci," seru Desi dan yang lainnya.
"Tulah, gue sepertinya harus bersyukur deh. Tapi, ada yang mau gue beri pelajaran buat orang-orang yang kayak mereka!" geramnya kesal.
Sementara Audrey meremukkan kaleng soda yang baru saja ia minum sampai habis, lalu melempar asal. Ia benar-benar kesal karena gagal membuat Cia terpuruk dan dikeluar dari sekolah. Ternyata Cia bukan gadis-gadis lemah seperti korban sebelumnya. "Gue bakalan buat lebih kejam dari ini Bricia, sialan anak itu nggak ada tak—"
"Takut maksud lo kak?"
Deg.
Mata Audrey membulat sempurna, terkejut dengan kedatangan Cia yang tiba-tiba sudah berdiri dihadapannya. Raut gadis itu datar, perlahan-lahan kakinya melangkah menipiskan jarak diantara mereka. "Kak Audrey, gue nggak tau letak kesalahannya gue dimana. Kalau lo benar-benar ada masalah sama gue, langsung ngomong dihadapan gue. Bukan main kotor dibelakang gue, seolah-olah gue paling buruk disekolah ini!" cercanya semakin menipiskan jaraknya dengan Audrey.
Audrey tersenyum miring, mendorong Cia menjauhkan jaraknya. "Lo pikir gue bakalan nyerah kayak gitu huh, anak baru? Lo jangan sok-sok untuk dapatin Al. Lo bukan tandingan gue!"
Cia tergelak pelan. "Kak, lebih baik lo ngaca dulu deh." keluhnya meninggalkan Audrey. Namun langkah kakinya berhenti saat suara Audrey mengejeknya.
"Lo nggak pantas buat Al, hanya gue yang pantas!"
"Cih pantas nggak pantas, gue nggak peduli. Kalau suka ya bilang lah sama orangnya, kita liat siapa yang akan dipilih kak Al," serunya tersenyum remeh, namun ia salah fokus melihat sesuatu yang tertempel di rambut Audrey.
Mata gue nggak salah liat kan, kalau jepit rambut Audrey sama kek gue? Yang kemarin tuh gue salah liat, bisa-bisanya hampir tertipu karena gambar deskripsi di online mirip dengan sama yang asli. Cia merasa mungkin baru dirinya yang menyadari jepit rambut itu.
"Apa lo liat-liat?!"
"Idih, rese banget!" cerca Cia meninggalkan Audrey sebelum gadis itu melempar botol kearahnya.
"Sialan!"
***
David terkekeh pelan, melihat kejadian seru tadi. "Istri lo bar-bar juga Al." serunya menoleh kearah Abryal.
"Hm." sahut pria itu masih fokus menatap dokumen ditangannya.
"Cih, gitu doang respon lo? Untung aja istri lo pandai kendalikan situasi."
"Gue yakin dia bisa,"
David memutar bola matanya malas, ia langsung mengambil kursi dan duduk dihadapan Abryal. "Sejak Audrey datang, gue tiba-tiba teringat sesuatu..."
Abryal acuh tak acuh, baginya Informasi gadis lain selain Cia bukan hal yang penting baginya. Tetapi, ucapan David kali ini membuatnya langsung mendongak menatap pria itu, menyadari jika ini bukan kebetulan biasa.
"Lo suka sama Cia karena jepit rambutnya kan? Trus kenapa lo nggak bisa suka sama Audrey yang juga punya jepit rambut yang sama kayak Cia?"
"Jepit rambut?" tanyanya bingung. Memang benar, dari awal ia menyukai Cia dari jepit rambut yang persis seperti Mamanya, ia mengira jepit rambut itu harga pasaran yang bisa didapatkan. Tetapi, setelah mencari semuanya di internet, barang mahal itu hanya sekali terjual, itu pun sepasang. Tunggu, Cia pernah bilang kalau dia pernah liat ada yang jual jepit rambut nih di online kan? Dia liat di blogspot yang mana ya?
"Iya, jepit rambut putih itu loh. Audrey juga makai, masa lo lupa sih?"
"Cih, apa perlu itu juga dibahas?" gerutunya melepaskan almamater yang melekat ditubuhnya. Ia berjalan menuju jendela untuk menghirup udara segar.
"Jepit rambut yang sama? Hmmm..." gumamnya pelan.