Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Balasan yang Setimpal



Mereka berdua melaju menuju rumah Serena. Tetapi, kedatangan mereka malah dihalang dengan dua satpam yang kini menghalangi mobil mereka masuk.


"Siapa kalian? Ada urusan apa kalian disini?!" tanyanya tidak ramah. Abryal melotot, ia pun keluar dari mobil sambil menggulung lengan kemejanya keatas.


"Bisa santai aja nggak nanyanya, telinga gue dekat sini kok. Gue mau ketemu sama tuan putri rumah ini!"


"Nggak boleh, sana pergi!" usirnya tidak ingin mendengar tamu yang tidak diundang ini.


"Cih, menyebalkan harus banget gue ngeluarin tenaga buat dua orang yang tidak berguna ini!" ocehnya Abryal sambil menghela napas kasar, kakinya melangkah mendekati salah satu satpam diantara mereka.


"Hajar dia!" seru satpam yang satu lagi, namun sebelum tangannya mendarat di wajah Abryal. Pria itu menahan dan memelintir tangannya hingga teriak kesakitan.


Abryal langsung menendang betis satpam yang satu lagi, baginya mudah menjatuhkan dua lawannya. Abryal membekuk keduanya hingga pingsan, setelah itu menyeret mereka kedalam posko sebelum ada yang melihat. Cia menggeleng-geleng melihat kelakuan suaminya, ia pun berpindah posisi mengambil alih kemudi. Gadis itu menancap gas mengendarai mobil memasuki area perkarangan rumah Serena.


"Astaga, bisa nggak sih dia sabaran dikit?! Bisa-bisanya gue ditinggalin, untung sayang kalau bukan udah gue buat pingsan juga!" gerutunya berlari menyusul istri bar-barnya.


Cia menggedor pintu dengan keras, tidak peduli jika pemilik rumah ini mengatakannya tidak sopan. Ia benar-benar marah, Nenek lampir itu sudah keterlaluan. "WOI KELUAR LO SERENA!!" teriaknya.


"HEI, SIAPA NIH?! NGGAK SOPAN!" hardik seorang wanita paruh baya menatap tajam kearah Cia.


"Maaf Tan, saya ada keperluan dengan Serena."


"Ngapain kamu cari anak saya huh?! Kamu siapa sih sebenarnya, nih kenapa lagi bisa masuk seenaknya kesini huh?!"


"Maaf Tan, keburu lama saya disini." ucapnya menerobos masuk kedalam rumah Serena. Wanita paruh baya itu terkejut bukan main, menyuruh pelayannya menangkap Cia.


Cia tersenyum smirk, berlari menaiki tangga seolah tahu letak kamar Serena. Ia hanya menebak saja, biasanya rumah semewah ini sudah pasti kamar pemiliknya di lantai dua. Sampai di lantai dua, ia berlari ke lorong sebelah kanan, berharap ia menemukan kamar yang tepat.


"Woi Serena buka pintunya!" serunya menggedor pintu cokelat itu. Beruntung ia mendengar samar-samar suara jatuh di dekat pintu itu. Sudah pasti itu Serena. "Lo kalau nggak buka, gue paksa dobrak brengsek!" ancamnya lagi.


"Hei, tangkap dia!" seru pelayan yang tengah mengejarnya. Cia berdecak pelan, sekuat tenaga ia mendobrak pintu Serena hingga terbuka. Serena begitu terkejut melihat gadis gila itu begitu nekat masuk kedalam kamarnya.


"LO APA-APAAN ANJIR!" cercanya melempar bantal kearah Cia. Gadis itu langsung menangkap dengan sempurna bantal itu dan melemparnya asal. Ia mendekati Serena sambil mengepal tangannya kuat.


"Lo emang brengsek banget ya Ren, benar-benar pengecut!" cercanya membuat Serena melotot kearahnya.


Plaak.


Tangan Serena mendarat sempurna di pipi Cia, membuat gadis itu geram dan mencengkram kaos Serena. "Berani banget lo nampar gue?! Lo bukan manusia Serena!"


"PERGI LO DARI SINI SIALAN! WOI SIAPAPUN USIR DIA DARI SINI!"


"Dasar pembunuh! Lo udah buat Desi mati!"


Serena mengepal tangannya kuat. "Cih, dia mati bukan karena gue. Dianya aja yang bo—"


Plaak.


Cia menjambak rambut Serena kuat. "Kalau bukan ancaman sialan lo, Desi nggak bakalan berakhir tragis kayak gini Ren. Lo gila ya, sangking terobsesi dengan Abryal, lo nekat lakuin hal gila ini?! Kemana otak lo Ren??"


"Obsesi lo bilang? Gue cinta Abryal! Tapi lo rebut dia dari gue!"


"Bodoh, untung Abryal milih gue bukan lo. Dengar gue baik-baik, gue bakalan lapor lo nggak peduli gue lo anak orang kaya!" serunya menghempaskan Serena hingga tersungkur.


"Brengsek!" Serena bangkit dan menarik rambut Cia kuat. Cia meringis, ia langsung membalas menarik rambut Serena.


"HENTIKAN!" teriak wanita paruh baya tadi berlari mengentikan perkelahian dua gadis itu. Wanita itu geram, tangannya hendak menampar Cia tetapi tertahan oleh seseorang. Wanita itu terkejut melihat pria tinggi itu memegang tangannya begitu kuat.


"Jangan nampar istri saya!"


Serena mendorong Cia menjauh dan menatap tidak percaya kearah Abryal. Gadis itu tertawa renyah mendekati Abryal.


"Ahahaha lo bercandanya nggak lucu kak!"


Abryal memandang sinis kearahnya, ia berjalan mendekati Cia dan menggenggam tangan istrinya. "Dia istri gue, gue suaminya. Apa udah jelas ditelinga lo Serena?" jelasnya membuat Serena semakin menatap benci kearah Cia. Cia malah menjulurkan lidahnya sombong sambil memeluk lengan suaminya menunjukkan dirinyalah pemenangnya.


"BOHONG! NGGAK MUNGKIN!" pekiknya menghempaskan seluruh barang diatas meja riasnya.


Wanita paruh baya itu menatap tajam kearah mereka berdua. "Pergi kalian dari rumahku!"


"Kami mau pergi Tan, tapi Tante perlu tau kelakuan anak Tante. Sahabat saya mati gara-gara dia!" seru Cia menunjukkan diari Desi yang menunjukkan catatan dan bukti transaksi antara Desi dan Serena.


Wanita itu terkejut, ia langsung merampas buku itu. Ia begitu syok mencengkram tangan anaknya. "Benaran ini kamu yang lakuin ini huh?!"


"Mama jangan percaya, mereka bohong!" Sungguh Serena begitu ketakutan saat ini, bisa-bisanya bukti transaksi itu muncul disaat seperti ini. Harusnya ia menyuruh Desi membuang semua itu.


Lo mati nyusahin gue anjiir!


"JAWAB MAMA SERENA!" sentaknya membuat Serena tidak berani menatap wajah Mamanya.


"Ma-Maa...Ak-aku bukan bermaksud seper—"


"Nggak berani dia jawab Tan, itu artinya benar. Saya tidak akan tinggal diam Tan, apa yang dilakuin anak Tante ini udah salah besar. Tolong sukarela menyerahkan diri ke pihak berwajib!" timpal Cia mendekati mereka. Gadis bar-bar itu tidak takut menatap tatapan tajam wanita paruh baya itu, dirinya tidak bersalah disini. Ia ingin Desi mendapatkan keadilan yang pantas.


"Diamlah sialan!" sentak Serena ingin menampar Cia lagi, namun lagi-lagi tidak bisa lantaran Cia menahan tangannya.


"Lo harus bertanggung jawab dengan apa yang lo lakuin Serena, dan Tante kalau tidak juga menyerahkan anak Tante ke pihak berwajib. Saya jamin, perusahaan Tante akan bangkrut hari ini juga!" ancamnya.


"Atas dasar apa kamu mengancam saya gadis kurang ajar?!"


"Perusahaan Tante bekerja sama dengan perusahaan suami saya. Jelas perusahaan Tante lagi membutuhkan dana yang besar bukan?" serunya membuat wanita itu mendongak terkejut kearah Abryal.


Abryal menepuk jidatnya pelan sambil tertawa pelan. Pria itu tidak menyangka ternyata Cia kesini sudah memiliki rencana sendiri membuat mereka bungkam.


"Tante nggak percaya, perlu saya tunjukkan kartu nama saya?" serunya sambil mengeluarkan kartu namanya didalam dompetnya.


Wanita itu semakin syok saat melihat kartu nama itu. Ia langsung memukul anaknya, menyuruh meminta maaf. "Ma-maafkan kami, saya akan menjebloskan anak saya ke penjara. Kalian tenang aja!"


"Mama!"


"Diamlah anak nggak tau diri, nyusahin aja jadi anak!" cercanya membuat Serena terdiam.


Cia menggeleng-geleng melihat interaksi keduanya, lalu melenggang keluar tanpa menghiraukan panggilan Wanita itu yang kini menghormatinya bagaikan menjilat air liur sendiri. Gadis itu muak menarik tangan suaminya untuk keluar dari rumah menjijikkan itu.


"Kak, energi gue terkuras banget!" celotehnya sambil memasang selt belt. Abryal langsung menjentik pelan dahi istrinya membuat Cia melotot kearahnya.


"Ish, sakit kak!"


"Pelan loh, lagian gue nggak nyangka lo bakalan ngancamnya pakai nama perusahaan kek tadi, untung gue peka." gerutunya.


"Ahaha maaf kak, refleks soalnya tadi. Gue sempat liat nama perusahaan Serena, trus tadi malam kebetulan liat lo ngurus dana perusahaan tuh. Pas dong gue buka kartu AS disini. Hebatkan gue?" pujinya bangga membuat Abryal memutar matanya malas


"Yalah, istri gue emang nggak ketebak. Mau makan yang manis-manis kan?" tebaknya melajukan mobilnya keluar dari perkarangan rumah Serena.


"Ih tau aja, gas!" serunya semangat.


Desi, semoga lo tenang disana. Gue harap yang gue lakuin udah setimpal dengan apa yang lo rasain. Maaf, gue nggak tau masalah lo seberat ini sampai-sampai lo rela mengorbankan pertemanan kita. Gue udah maafin lo Des, jangan merasa terbebani lagi ya.