Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Terjebak



David mengucek matanya, tanpa sadar ia tertidur dibahu gadis disebelahnya ini. Sial kenapa juga gue tidur bersandar dengan dia? gerutunya menatap gadis disebelahnya yang masih tertidur pulas. Ia mengecek sekelilingnya, rata-rata banyak dari mereka tertidur dan ada pula yang tengah mengobrol panjang lebar. Jantung David sejenak berhenti, tangan gadis itu memeluk lengannya, membuat David mengumpat kasar.


"Jangan sentuh gue." Jijiknya menyingkirkan kasar tangan gadis itu. Sontak gadis itu terbangun dan menatap disebelahnya dengan tatapan bingung.


"Udah nyampai?" tanyanya melirik kearah jendela bus.


David acuh tak acuh, ia berdiri meninggalkan gadis itu dengan raut heran. Ia berjalan kedepan menuju tempat Abryal duduk. Baru saja ia ingin mengerjai pria itu, ia malah disuguhkan dengan pemandangan yang tidak biasanya. Sontak senyumnya terukir keatas, ia langsung mengeluarkan ponselnya dan memotret mereka berdua.


"Cih, ternyata lo bisa manja juga ya bro." gumamnya terkekeh pelan melihat hasil jepretannya. Tidak ingin menganggu mereka berdua, David kembali ketempat duduknya. Ia melihat sinis kearah gadis yang tengah sibuk memotret pemandangan diluar jendela bus.


Mira begitu antuasias, ia tidak sabar untuk segera sampai disana. Menyadari ada seseorang disebelahnya, membuat Mira berbalik menatap orang itu. "Kak." sapanya seperti umumnya.


"Hm." gumam David, lalu ia melirik lagi kearah Mira. Mira yang ditatap dalam seperti itu langsung salah tingkah.


"Jorok, air liur lo keluar." gerutu pria itu membuat Mira langsung menyeka mulutnya. Gadis itu mencebik, pria ini sangat menyebalkan menurutnya.


"Cih," Mira membuang muka, ia lebih memilih melihat pemandangan daripada melihat raut jijik David. Dari awal masuk sekolah, ia memang tidak menyukai pria buaya ini.


***


Cia membuka matanya perlahan, perjalanan mereka ternyata masih panjang. Gadis itu ingin membuang air kecil. "Kak Al," Panggilnya sambil mengguncangkan bahu suaminya.


"Hm?" sahut pria itu sambil mengucek matanya.


"Gue mau pipis." bisik Cia lagi. Abryal mengangguk, ia berjalan menuju supir dan membisikkan sesuatu padanya.


"Tahan bentar, kita cari pom bensin dulu." ucapnya lalu melihat kebelakang. "Woi Vid!" serunya memanggil David.


"Hm?" sahut pria itu mendekati Abryal. "Dah puas lo tidurnya?" ledeknya. Abryal langsung menjitak kepala David.


"Mana hape lo?" tanya pria itu membuat David ketar-ketir.


"Buat apa?"


"Gue mau hapus foto yang lo ambil tadi sialan!" kesalnya langsung merampas ponsel yang ada ditangan David. Dengan cekatan pria itu menghapus foto itu dengan cepat dan memberikannya pada David.


David menghela napas kesal, bagaimana pria ini bisa tahu kalau ia mengambil fotonya? Tidak ingin ambil pusing, ia langsung kembali ke tempat duduknya.


"Semuanya dengar, kalau ada yang mau ke WC sekarang silahkan. Waktunya hanya 10 menit nanti, setelah itu cepat masuk kedalam bus, oke?"


"Okee kak!"


"Bagus, kabari bus-bus kawan kalian yang lain." ucapnya lagi.


Abryal berjalan kearah tempat duduk guru-gurunya yang ikut dalam perjalanan mereka. Pria itu berbicara serius dengan para guru itu sebelum dirinya beranjak kembali ke tempat duduknya.


Abryal kembali duduk disamping Cia. Pria itu tersenyum tipis membuka hasil foto David yang sempat ia kirim ke ponselnya sebelum dihapus di ponsel David tadi. "Cantik."


"Siapa kak?"


"Hmm? Nggak ada." jawabnya membuat Cia mengerut dahinya heran.


"Masih lama nggak kak? Gue sak banget!" keluhnya.


"S-A-B-A-R, sabar." ucap Abryal sambil mencubit pipi istrinya gemas.


Cia berdecak pelan, ia memalingkan wajah melihat pemandangan diluar jendela bus. Dapat ia rasakan angin sepoi-sepoi menerpa wajah cantiknya. Cia merapikan jepit rambutnya lalu menoleh kearah suaminya.


"Masih lama ya sampainya?"


"Masih." Pria itu sibuk memainkan ponsel ditangannya. Cia penasaran, tubuhnya mencondong mendekati Abryal.


"Gak bosan lo main game itu trus kak?"


"Suka-suka gue."


"Aw, sakit woi." gerutunya sambil mengusap lengannya


"Eh, maaf-maaf nggak sengaja." cicitnya.


Sampai di tempat pom bensin, Cia langsung berlari keluar bus ke kamar mandi disana. Tidak membutuhkan waktu yang lama, gadis itu sudah menyelesaikan urusannya dengan alam. Namun, saat hendak membuka pintu kamar mandi, pintu itu terkunci.


Tok...tok...tok.


"APA ADA ORANG DILUAR??" teriak Cia, namun tidak ada yang menyaut teriakannya. Gadis itu mengumpat kasar berusaha mendobrak pintu dari dalam. Ia yakin pintu ini dikunci dari luar, siapapun orang yang melakukannya ia akan memberikan tamparan yang setimpal.


"****! Gue lupa bawa hape. Huft, berpikir Ci jangan panik." gelisahnya sambil mendobrak kembali pintunya.


Tok...tok...tok


"HALLO APA DI LUAR ADA ORANG??" teriaknya lagi. Cia menyibak rambutnya ke belakang. Ia benar-benar kesal dan frustasi dengan pintu ini. Cia menggulung rambutnya cepol, lalu menyisingkan lengan bajunya sampai siku. Gadis itu menendang kuat gagang pintu itu sampai rusak. Ia memekik senang, setelah berhasil merusak gagang pintu kamar mandi. Dengan cepat ia berlari keluar namun, ia tidak menemukan bus-bus sekolahnya.


"Anjir gue ditinggal!" gerutunya kesal. Gadis itu merogoh saku celananya, beruntung ada beberapa uang pecahan yang bisa ia beli untuk penganjal perutnya. Jangan tanya bagaimana Cia bertahan 20 menit didalam kamar mandi yang pengap tadi membuatnya lapar dan haus.


"Nih orang lain nggak dengar teriakan gue ya? Gue udah teriak-teriak sampai tenggorokan sakit. Masa nggak ada yang dengar?!" ocehnya jengkel melihat beberapa orang didekat pom bensin tempatnya berdiri. Cia langsung masuk kedalam market dan membeli air mineral dan sebungkus roti.


"Mbak, saya boleh pinjam hapenya nggak?" tanya Cia pada kasir itu.


"Untuk apa mbak?" tanyanya lagi sambil memasukkan belanjaan Cia kedalam kantong plastik.


"Saya mau nelpon su—Ck, pacar saya mbak. Saya ketinggalan bus yang tadi." jelasnya. Aduh, bisa-bisanya gue hampir keceplosan bilang suami.


"Ooo bus yang tadi ya, oke bentar ya kak." serunya sambil merogoh saku jaketnya, ia menyerahkan ponselnya pada Cia.


"Pinjem dulu ya mbak." Izinnya lagi menekan nomor Abryal. Ia seperti harus berterima kasih pada pria itu yang memaksanya tadi malam untuk menghapal nomor pria itu dengan baik. Padahal baginya itu tidak penting, selagi disimpan dalam kontak kenapa harus dihapal juga?


"Nih anak benar-benar cenayang banget dah. Disituasi kayak gini lo bisa kepikiran kak, kalau gue butuh nomor lo. Salut gue." gumamnya pelan menunggu Abryal mengangkat teleponnya.


"Huft, kenapa nggak diangkat telepon gue?" gerutunya terus mencoba menghubungi suaminya.


***


Tidak ada satupun yang berani menatap Abryal saat ini, sumpah demi apapun pria itu menatap mereka seakan-akan ingin membuang mereka ke tepi jurang disamping busnya berhenti saat ini. Abryal baru menyadari istrinya tertinggal setelah berbicara empat mata dengan gurunya karena ada sedikit masalah dengan penginapan di kota yang akan mereka kunjungi saat ini. Setelah urusan itu selesai, barulah ia ketempat duduk dan terkejut tidak menemukan Cia disana.


"Sial." umpatnya kasar.


Pria itu langsung menyuruh supir bus berhenti ditempat, mengecek satu persatu kursi didalam bus mereka. Namun tetap saja tidak menemukan Cia disana. "Huft, kita kembali ke pom bensin sekarang!" serunya membuat supir itu menoleh kearahnya.


"Mana bisa dek, ini jalannya sempit. Bus nggak bisa muter balik."


Abryal mengusap wajahnya kasar, sepertinya mau tak mau ia harus berlari ke tempat pom bensin tadi. Semoga lo bisa bertahan sebentar Ci. gumamnya dalam hati.


"Ya udah pak, bisa tunggu disini sebentar?"


"Hmm jangan lama ya dek, soalnya ini jalannya sempit. Susah nanti orang mau lewat."


"Beri saya waktu 20 menit pak!" serunya langsung berlari kencang keluar bus.


Semua orang hanya bisa tercengang melihat pria itu berlari kencang kembali ke pom bensin hanya untuk menjemput Cia. Seketika mereka merasa iri dengan anak baru itu yang mendapatkan perhatian lebih dari ketua OSIS mereka.


"Gue mau dong jadi Cia, enak banget dia dapat perhatian kak Al."


"Sumpah iya, nggak asyik banget."


"Tulah, kak Al nggak ada perhatian sama cewek lain kayak gitu."


"Udah woi, udah, jangan dibahas mereka lagi. Jangan ribut!" seru David meredakan ghibah itu.


Huft, Al...Al sebucin itu lo sama Cia? Lo dulu bilang nggak bakalan suka sama cewek apapun, tapi liat sekarang lo malah jilat ludah sendiri.