
Braak.
"Huft, rese banget semua orang! Ya kalau mau marah sama orangnya langsung lah, jangan sama gue!" kesal Cia menekuk wajahnya dimeja, ia benar-benar jengkel dengan sikap semua orang di sekolah perihal tentang kejadian waktu di Puncak. Jantungnya saja berdebar kencang mengingat kejadian itu, tidak ada yang menyangka jika Abryal senekat itu mencium pipi didepan umum.
"Mau gimana lagi, mereka semua sih terlalu mengagungkan kak Al. Tuh kak Al juga, ngapain juga dia cium pipi lo didepan Azzam huh? Eh, tunggu...." Desi langsung tersenyum penuh arti menatap Cia yang tengah menatapnya bingung. Gadis itu langsung mencubit pipi Cia gemas.
"Kak Al cemburu!"
"Nggak usah ngadi-ngadi. Tuh anak mana pula bisa cemburu, tadi pagi aja ban motor gue dikempesin didepan mata gue, biar berangkat bareng sama dia!" kesalnya menggebu-gebu.
Sontak Desi dan Mira tertawa terbahak-bahak. "Mampus lo, kak Al udah bucin banget sama lo."
"Nggak...nggak, dia tuh hanya buat gue kesal doang. Jangan kalian beramsumsi yang nggak-nggak."
"Sangkal aja trus, percaya deh sama gue kalau kak Al bucin sama lo!"
Cia berdecak pelan, saat dirinya hendak membalas ucapan Mira, tiba-tiba guru masuk ke kelas mereka. Tetapi, tidak membuat kedua sahabatnya itu berhenti, melainkan mereka sibuk menganggu ketenangan Cia. Contohnya seperti menyenggol lengan gadis itu, menginjak kakinya dan hal-hal yang dapat membuat gadis bar-bar itu frustasi.
"Ya Allah woi, jangan ganggu gue!" tekannya berbisik pada mereka.
"Kami nggak ada yang ganggu ya," mereka tersenyum miring. Cia menghendus kesal lalu melirik papan tulis.
Tok...tok...tok.
Semua mata tertuju pada seseorang yang berada diambang pintu. Mereka hampir saja memekik memanggil nama Abryal, jika tidak mengingat guru killer masih berada didalam kelas mereka.
"Permisi bu,"
"Kenapa?" tanya guru itu menatap Abryal.
"Maaf bu, saya izin memanggil Belvana Bricia." serunya menatap kearah Cia.
Deg.
Jantung Cia kembali berpompa lebih cepat, setiap pria itu memanggil namanya pasti selalu membuatnya salah tingkah. Apalagi saat guru itu menoleh mencari namanya. "Siapa Belvana Bricia?"
Semuanya langsung menunjuk kearah Cia hingga menjadi sorotan guru itu. "Dia bu!" Seru Mira yang paling semangat menunjuk kearah Cia.
Cia mengumpat dalam hatinya, sahabatnya ini memang suka sekali mengerjainya. Cia berdiri sambil tersenyum kikuk, gadis itu merasakan bahunya terasa berat lantaran tatapan tajam semuanya tertuju padanya. "Saya bu,"
"Ya sudah sana!" ucapnya langsung dianggukan Cia. Cia dengan sopan keluar dari kelasnya lalu menarik cepat tangan Abryal.
"Mau ngomong apa kak? Lo suka banget dah ganggu gue, tadi ban motor gue sengaja lo kempeskan biar kita berangkat sama. Nah sekarang apa lagi?" cerocosnya tanpa menyadari jika ada semua anggota OSIS dibelakangnya. Abryal tersenyum tipis, ia membiarkan istrinya mengoceh panjang lebar dihadapan semua temannya. Baginya ini sangat menyenangkan mengerjai Cia.
"Kenapa emangnya?
"Ck, jangan temui gue dulu. Gue lagi pusing banget, mood gue lagi buruk. Jangan pancing emosi gue," keluhnya kesal.
"Iya?" seru Arbyal menarik pinggang Cia mendekat kearahnya. Sontak gadis itu membelalak, dan segera menepis tangan Abryal.
"Anjir, lo apa-apaan sih kak?!"
"Kenapa? Nggak boleh meluk pacar gue sendiri?"
"Gue bukan pacar lo!"
"Berarti lo is—" Belum ucapan Abryal selesai, Cia langsung menyumpal mulut suaminya dengan sapu tangannya. Hampir saja pria itu keceplosan tentang status mereka
"Jangan kak..." tekannya menatap tajam kearah Abryal. Pria itu tergelak pelan, ia mengacak-acak rambut Cia dihadapan semua anggotanya. Lalu memutar tubuh istrinya menghadap mereka.
Deg.
"Pasti lo nggak bisa marah lagi kan?" ledeknya saat melihat wajah Cia seketika pucat menyadari jika dirinya mengoceh panjang lebar pada suaminya dihadapan semua anggota OSIS. Sialan, makin rusak citra gue dihadapan semuanya nih.
"Oh iya, gue mau pergi ambil donasi bentar, agak lama pulangnya nggak papakan? "
"Lo cuma nyuru gue keluar hanya untuk ini aja?"
Abryal terkekeh pelan sambil mengangguk. "Iya, kenapa kangen?"
Anggota OSIS begitu syok mendengar suara Abryal yang terdengar manja ditelinganya.
Deg.
Cia menatap tajam kearah Abryal, sedangkan pria itu mengacak rambutnya baru pergi meninggalkannya. "Yok guys kita pergi!" ajaknya.
"Lo kenal sama Abryal sejak kapan?" tanya seseorang membuat Cia terkejut menoleh kebelakang. Raut wajah Cia seketika heran menatap gadis asing yang saja.
"Lo siapa?"
Raut wajah gadis itu mengerut, sambil mengemut permen tangkainya. "Harusnya gue yang nanya lo siapa?" tanyanya dengan menunjukkan nada yang tidak suka.
Cia menghela napas, ia tahu gadis didepannya ini tidak menyukai Cia. "Lo siapa?" tanyanya lagi.
"Idih, gini ya sikap adek kelas ke kakaknya. Ckckck benar-benar nggak ada akhlak." ketusnya sambil melipat tangannya didepan dada.
Cia lagi-lagi mengerut dahinya. Ini orang kok ngeselin banget, siapa sih? Anak sekolah sini dia? Kok gini banget cara pakai bajunya?! "Maaf siapa ya? Kok gini cara ngomongnya? Kan bisa baik-baik." sahutnya, kalau benar-benar gadis didepannya ini kakak kelas, mengapa dirinya baru pertama kali melihat gadis itu disekolah ini?
Gadis itu berdecak kasar, lalu tangannya melayang keatas dan hendak menampar Cia, beruntung Cia berhasil menahan lengan gadis gila itu. "Apaan woi! Lo gila ya?!" cercanya.
"Sialan, berani lo sama gue?!" cercanya.
Emosi Cia terpancing, ia tidak bisa menoleransi orang yang kurang ajar didepannya ini. "Lo yang harusnya ngaca ya sialan?!"
"Bera—"
"Ciaaa!" teriak Desi membuat keduanya menoleh kearah gadis itu. Desi terengah-engah menampilkan senyum kikuk pada kakak kelasnya, setelah itu ia langsung menarik tangan Cia cepat menjauh dari Audrey.
"Woi!"
***
Cia langsung menepis tangan Desi, ia masih tidak mengerti mengapa sahabatnya ini menariknya tiba-tiba dari gadis sialan itu. "Kenapa kita lari woi?"
Desi menghendus napas kasar, ia celingak-celinguk melihat sekitarnya lalu menatap Cia. "Lo tau siapa dia?"
Cia menggeleng. "Emangnya siapa dia?"
"Ck, dia itu kakak kelas lo Ci, dan jangan pernah berurusan dengan dia."
"Emangnya dia siapa sih? Harus banget kita takut sama dia?" tanyanya heran.
"Hais, pokoknya lo jangan deh berurusan dengan dia. Dia tuh orang yang berbahaya lah disekolah ini, dah banyak anak lain yang keluar dari sekolah gara-gara fitnah dia. Guru-guru disini tuh percaya omongan dia Cia..." jelasnya panjang lebar.
Cia memutar bola matanya malas. "Hah? Kok bisa?"
"Ya biasalah, orang penting Cii, dia sama kayak kak Al orang yang paling banyak donatur disekolah ini."
"Ya elah anak manja banget, udah lo tenang aja Des. Gue nggak bakalan takut dengan orang kayak gitu, jangan mau ditindas!"
"Tapi Cia, dia bukan orang yang mudah seperti lo pikirkan,"
"Trus, Kita harus takut gitu? Selagi sama-sama makan nasi jangan takut. Gue ingat kata nyokap gue Des, kalau ada yang mengejek kita abaikan, tapi kalau ada yang berusaha melukai fisik kita balas! Urusan masuk BK belakangan, yang penting badan jangan sampai cedera gara-gara orang kayak dia!" tuturnya santai sambil merapikan jepit rambutnya.
Desi menghela napas, ia berharap dalam hatinya agar Cia tidak berurusan dengan Audrey. Pokoknya jangan sampai gadis itu menganggu sahabatnya seperti temannya dulu sebelum dikeluarkan dari sekolah hanya karena bermasalah dengan Audrey.