
Cia melirik kearah pria disebelah Desi. Rasanya ia ingin menghajar habis-habisan pria itu, namun bukti yang ia punya tidak kuat bahkan tidak ada sama sekali. Melihat pernyataan yang baru saja Desi lontarkan membuat argumen Cia tentang Desi yang tidak akan melakukan perbuatan tidak bermoral itu pupus sudah. Cia tidak bisa berkomentar apapun lagi, selain menatap Desi dengan tatapan ibanya. Sedangkan Mira, gadis itu sesekali memalingkan wajah untuk menghapus air matanya dengan kasar. Bagaimanapun juga Desi adalah sahabat mereka.
"Cia, Mira..." lirihnya nyaris hampir tidak kedengaran. Cia dan Mira sudah menghilang dari pandangan Desi. Seolah-olah mereka sudah tidak peduli dengan dirinya lagi. Ia benar-benar pasrah dengan keadaan, karena sudah tidak ada yang menolongnya lagi.
***
Cia langsung menahan Mira, ia yakin gadis ini tidak bodoh karena hal ini kan? "Lo percaya omongan Desi barusan? Gue aja nggak percaya Mir, dia nggak akan pernah kayak gitu,"
"Iya gue tau." jawab Mira membuat Cia terkejut.
Deg.
"Trus kenapa lo nggak bela dia didepan mereka tadi? Seakan-akan dia benaran lakuin itu Mir!" Jengkelnya menatap Mira.
Mira membuang napas kasar. "Gue tau Cia, tapi untuk saat ini kita nggak bisa gegabah. Kita belum punya cukup bukti untuk membuktikan Desi nggak bersalah. Tadi didepan mata gue mereka berada didalam kamar! Pas pula ada Miss Lala dibelakang gue Ci... Itulah yang buat keadaan kacau tadi." gerutunya kesal, tetapi saat ia ingin membela Desi, ia menyadari ada hal yang tidak beres saat itu, pertama cowok yang menjadi biang kerok permasalahan Desi. Darimana pria ini berasal? Siapa dia? Ia yakin pria itu bukan dari sekolahnya.
Lalu, kedua Desi tidak akan melakukan tindakan tidak moral itu dalam waktu yang singkat hanya untuk menghancurkan namanya. Saat Cia pergi menemui Abryal tadi, tidak berapa lama menit Desi juga ingin izin mengambil ponselnya didalam kamar mereka, dan selang waktu antara Desi pergi sampai dipergoki Miss Lala hanya 10 menit. Dan yang terakhir membuatnya yakin terasa janggal, mengapa Miss Lala tiba-tiba memintanya untuk membukakan kamar mereka?
"Sial, Desi dijebak," gerutu Cia setelah mendengar penjelasan dari Mira.
"Sekarang kita harus gimana? Reputasi Desi udah buruk banget dimata guru. Apalagi karna kasus waktu itu, kasian dia tertuduh trus yang nggak-nggak." lirihnya, jika dirinya jadi Desi saat ini mungkin hatinya hancur berkeping-keping dituduh seperti wanita murahan.
"Ya cari pelaku fitnahnya lah. Miss Lala nggak bakalan mungkin tiba-tiba nyuruh gue bukain pintu kamar tadi kalau nggak ada yang ngomporin, apalagi tuh cowok entah dibayar berapa biar rencana dia ini sukses." keluh Mira sambil menyibak rambutnya.
"Gue tau siapa orangnya sekarang." geramnya sambil mengepal tangannya kuat. Tanpa dicari pun ia sendiri bisa menebak dengan mudah orang yang berani melakukan ini padanya. Tanpa menunggu waktu yang lama Cia langsung menarik tangan Mira untuk menemui orang yang spesial dalam list Cia.
"Dimana dia?"
"Siapa yang lo maksud?"
"Siapa lagi kalau bukan si ular." ketusnya melihat sekeliling mencari gadis ular menyebalkan itu. Perbuatannya kali ini sudah melampaui batas, dan ia tidak menoleransi apapun padanya.
"Serius lo yakin dia?"
"Yakin, percaya sama gue. Gue emang nggak tau kejadiannya seperti apa, tapi yang jelas gue udah dapat gambaran apa mau dia sebenarnya. Kita harus temui dia dan buat dia mengakui yang udah dia lakuin ke Desi."
"Gila lo Ci, salut gue!" puji Mira menepuk bahu Cia dengan bangga.
Cia tersenyum miring, namun saat hendak dirinya beranjak dari tempat mereka berdiri tadi tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Abryal sambil membawa pria onar tadi.
Bruuk.
Sontak Mira memekik pelan melihat wajah pria brengsek itu sudah babak belur, apalagi melihat Abryal membawanya sambil menyeret membuat mereka bergidik ngeri.
"Ka-kak apa yang lo lakuin?!" paniknya tidak menyangka malah disuguhkan dengan pemandangan mengerikan ini.
"Teman lo nggak salah, cowok sialan ini udah ngakuin semuanya." ucapnya menatap sinis kearah pria yang tersungkur tidak berdaya dibawah kakinya.
Mira baru kali ini melihat sisi Abryal yang lain, tidak menyangka jika pria itu ternyata menyeramkan juga. Sedangkan Cia benar-benar dibuatnya bingung sekaligus terkejut. Lagi dan lagi dia seperti cenayang yang selalu muncul tiba-tiba disaat dirinya ada masalah.
"Gilaaa! Tapi lo juga jangan sampai buat dia K.O gini kak!" kesalnya menatap suaminya. Abryal semakin dipikirkan semakin membuatnya merinding. Pria itu benar-benar sukses membuatnya tidak berkata-kata.
Cia tersentak saat mendengar petikan jari Abryal tepat dihadapan wajahnya. Gadis itu terkejut dan spontan melangkah mundur.
"Jangan melamun nanti kesurupan, lo pergi aja sana urus sahabat lo Ci, yang ini biar gue aja yang nyelesainnya. Lo tinggal buktiin ke Miss Lala kalau Desi hanya dijebak." jelas pria itu lagi sambil menyunggingkan senyumannya.
Cia dan Mira saling menoleh, mereka mengangguk pelan. "Huft, oke makasih kak udah bantuin kami." ucap mereka langsung berjalan meninggalkan Abryal dan pria itu.
"Oh iya satu lagi..." seru Abryal membuat langkah keduanya berhenti dan berbalik badan menatapnya.
"Ada apa lagi kak?" tanya Cia.
"Bukti rekaman tuh nggak bakalan cukup buat Miss Lala percaya, tapi videonya udah gue kirim ke hape lo Ci. Sekaligus orang yang membayar cowok ini dengan harga yang cukup mahal, yakan bro?" tanyanya meledek sambil menarik rambut pria itu.
Pria itu meringis sambil mengangguk cepat. Cia dan Mira dibuat merinding melihatnya. "Kak, gue rasa dia udah dapat hukuman setimpal, jangan memukuli dia lagi." Lirih Cia merasa tidak tega melihat pria itu. Walaupun Cia bar-bar, tetapi ia masih memiliki hati untuk mengasihani orang lain.
Sumpah gue nggak tau apa-apa tentang suami gue sendiri. Gue harus tanyain semuanya sama Nenek Lara. tekadnya saat pulang kembali ke kota, ia harus tahu sifat Abryal yang sebenarnya dan mengapa pria itu begitu tahu tentang dirinya?
Abryal terkekeh pelan. "Lo nggak usah khawatir, dia bakalan gue bawa kok ke klinik nanti." serunya lagi.
Cia mengangguk pelan, lalu menarik tangan Mira yang dari tadi hanya terdiam bengong mendengarkan interaksi mereka.
Setelah mereka pergi, barulah Abryal kembali menatap pria itu. "Lo beruntung selamat sekarang karena permintaan istri gue. Jangan buat dia kesusahan lagi, pergi jauh-jauh sana!" usirnya sambil mengeluarkan bebeapa lembar uang merah.
"Nih buat lo berobat, gue mana sudi ngantarin lo ke ke klinik. Jangan pernah muncul lagi dihadapan gue ataupun istri gue, paham?" ancamnya sambil menginjak tangan pria itu.
Pria itu lagi-lagi hanya bisa mengangguk pelan. Memilih melawan adalah keputusan yang sangat fatal baginya. Ia tidak akan lagi berurusan dengan Ketua OSIS itu. Abryal hanya melihat sekilas pria itu dengan tertatih-tatih menjauh darinya. Sedangkan Abryal melirik jam tangannya dan menyusul Cia.
***
Mira mencekal tangan Cia, membuat gadis itu menoleh kearahnya. "Ci, apa tadi benaran kak Al?" tanyanya masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.
Cia menghela napas pelan, ia juga sendiri tidak tahu tentang Abryal sebenarnya. Apalagi saat ini Abryal adalah suaminya. "Gue mau ngasih tau ke kalian berdua nanti setelah masalah Desi selesai." ucapnya membuat Mira bingung.
"Maksudnya?"
"Adalah nanti, tapi nggak sekarang bahasnya. Kita harus selamatkan Desi dulu," ajaknya menarik Mira untuk menyelamatkan Desi dari fitnah. Cia sambil memasang headset yang sudah tersambung dengan perekam suara digital tadi, tak lupa ia memasangkan headset satu lagi pada telinga Mira agar sama-sama mendengarkan hasil record-nya.