Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Bayar Hutang



Abryal menatap lekat jepit rambut yang dikenakan gadis itu. Cia yang menyadari hal itu sontak memegang jepit rambutnya. "Gue penasaran kak, kenapa lo suka banget liatin jepit rambut gue?" tanyanya begitu penasaran.


Pria itu menyungging senyumnya tipis, sambil memandang lurus kearah jalan. "Jepit rambut lo mirip punya nyokap gue." lirihnya pelan.


Cia tertegun, baru kali ini ia melihat sisi lain dari pria itu. Pantas saja pria itu begitu obsesi dengan jepit rambutnya, ternyata dia teringat kenangan dengan seseorang. "Kemana nyokap lo kak? Eh sorry, gue kayaknya nggak pantas bertanya tentang privasi lo."


"Entahlah, gue nggak tau. Santuy, gue nggak serapuh gitu kok. Dah selesai kan makannya? Gue mau cabut lagi." ucapnya tersenyum tipis sambil membuang sampah jasuke tadi, siapapun pasti akan terpesona melihat senyum tampan pria itu.


"Ah, udah. Makasih ya kak udah traktir gue." cicitnya, bagaimanapun juga Abryal sudah membuatnya hari ini tidak mengeluarkan uang sepersen pun. Sepertinya Abryal tidak seburuk yang ia kira.


Pria itu berbalik menatap Cia lagi. "Tapi nggak gratis, gue bakalan tagih hutang ke lo sama yang lo palak tadi pagi di kantin, bye!" serunya tersenyum licik meninggalkan Cia yang terdiam sambil melotot kearahnya. Oke, gue tarik ucapan gue tadi! si Obral tuh lebih buruk yang gue kira!


"Sialan, nyesel gue kasian ke lo kak! Arghh tau gitu mending gue bayar sendiri tadi!" gerutunya menendang asal kaleng yang ada didekatnya.


***


"Bagus ya, lama banget beli apa yang gue suruh?!" kesal Azlan berkacak pinggang menunggu kedatangan Cia diteras rumah. Pria itu kalang kabut menunggu sang adik yang tak kunjung pulang-pulang setelah satu jam ia suruh keluar hanya membeli mie instan.


Cia mencebik menatap jengkel kearah abangnya. "Masih mending gue beliin, emang nggak tau terimakasih nih orang." cercanya melangkah masuk melewati abangnya. Hari ini sungguh banyak menguras emosinya yang terdalam berkat Abryal si raja licik itu, belum lagi ia harus meladeni omelan abangnya yang cerocos tanpa henti seperti omongan tetangga rumahnya.


"Hei dengarin gue bicara dulu. Lo kan cuma beli mi—" Cia langsung membungkam mulut abangnya dengan serbet yang ada ditangannya. Ia lagi tidak ingin mendengar ocehan panjang lebar. "Gue lagi lelah bang, kalau lo mau masak mie kongsi kita ya. Gue ke kamar dulu!" serunya melangkah gontai ke kamarnya.


"Anjir nih bocah, lo kalau mau sumpel mulut gue pakai yang lain lah. Jangan pakai serbet juga, uek!" gerutunya langsung berlari mencuci mulutnya.


Sementara Cia malah menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia menatap langit kamar dengan pandangan kosong, lalu memegang jepit rambut putihnya itu dengan lekat. "Dia aneh." gerutunya pelan. Gadis itu bangkit dari kasur sambil mengetik sesuatu di ponselnya, siapa tahu masih ada yang menjual jepit rambut ini di online. Ia tahu, ini jepit sudah lama ia dapatkan sejak kecil, dan sampai sekarang benda itu masih terjaga olehnya.


"Yes, masih ada dong. Buset harganya nggak ngotak banget?!" Cia membelalak melihat angka nol dibelakang nominalnya. Masa iya jepit rambut pemberian mamanya semahal ini? Cia merasa tidak puas dengan apa yang ia dapatkan, lebih baik ia akan menanyakan kepada orang tuanya nanti malam perihal jepit rambut ini.


***


Abryal membuka pintu rumahnya, pertama yang ia lihat adalah pembantunya yang menyambutnya pulang. Ia mengangguk pelan lalu menyerahkan belanjaannya pada bibinya itu dan berjalan mencari neneknya. "Ternyata disini," serunya mendapati sang nenek sedang memasak di dapur.


Sang nenek menoleh sambil tersenyum pada cucu tampannya. "Sinilah, kamu abis dari mana sayang?"


Arbyal menyalami punggung tangan neneknya. "Abis belanja Nek, biasa beli cemilan."


"Kok lama?" tanya neneknya lagi sambil menuangkan sup iga kedalam mangkuk.


"Al ketemu kelinci kecil tadi Nek, makanya lama." jawabnya terkekeh pelan sambil membantu neneknya mengangkat mangkuk ke meja makan.


Dahi neneknya mengerut. "Kelinci kecil? Apa dia lucu?" tanyanya penasaran, pasalnya jarang sekali cucu yang satu ini membicarakan hal-hal random.


Abryal tertawa pelan sambil mengangguk. "Iya Nek, dia lucu dan menggemaskan."


"Kenapa kamu nggak bawa dia kerumah?" Nenek Lara semakin penasaran dengan sosok makhluk bernama kelinci itu yang mampu membuat cucunya cengegesan seperti ini.


"Belum saatnya Nek," jawab Abryal tersenyum samar, ia mengambil centong nasi dan menuangkan kedalam piringnya. "Makan Nek?" tawarnya sambil menyuapi sesuap nasi.


Nenek Lara menghendus kesal. "Ya ampun, Nenek yang masak kamu duluan pula yang makan." gerutunya pelan, namun ia tersenyum melihat cucunya begitu lahap menikmati masakannya.


"Gimana sekolah kamu? Enak nggak jadi Ketos selama ini?" tanya Nenek Lara menyuapi nasinya.


"Lumayan lah, oiya Nek," serunya membuat sang Nenek mendongak menatapnya.


"Kenapa?"


"Al minggu depan mau ngadain acara diluar kota, boleh Nek?"


"Bi, nanti tolong cuci piring ya." seru sang nenek pada pembantunya. Walaupun di rumah itu memiliki seorang pembantu untuk melengkapi semua kebutuhan mereka, tetapi untuk urusan memasak Nenek Lara lah yang turun tangan.


"Baik, Nek." ucapnya membersihkan bekas makan mereka. Sedangkan Abryal menuntun sang Nenek menuju kamarnya.


"Biar Al pijitkan Nek." ucap pria itu mengambil minyak gosok di atas meja rias Neneknya. Nenek Lara tersenyum lebar.


"Cucu Nenek baik banget, terus pertahankan seperti ini ya Nak." ucapnya mengelus kepala Abryal sayang.


Abryal tersenyum, dengan telaten ia memijit kaki Neneknya. Ia sangat bersyukur memiliki Neneknya yang begitu menyayanginya, walaupun ia sendiri tidak tahu kemana Mamanya pergi. Abryal tidak mengetahui latar belakang keluarganya, yang ia tahu dari Neneknya hanya mengatakan jika Papa sudah tidak ada lagi dan Mama pergi menghilang entah kemana. Ia masih terus penasaran, namun sang Nenek tetap bungkam perihal mereka. Sampai sekarang ia pun hanya pasrah dan tidak mempertanyakan hal itu lagi pada sang Nenek, biarlah ia yang sendiri mencari keberadaan yang sebenarnya kedua orang tuanya itu.


Samar-samar ia mengingat dulu sang Mama mengenakan jepit rambut putih persis seperti milik gadis itu. Hanya saja wajahnya tidak terlalu ingat karena dirinya begitu masih kecil. Sedangkan Papanya ia bahkan tidak tahu wajahnya seperti apa.


"Kamu melamun sayang?" tanya Nenek menepuk pelan bahu Abryal.


Deg.


"Eh? Nggak Nek," sahutnya menatap Nenek Lara. "Fyuuh kayaknya Al kecapean karna main basket tadi di sekolah. Al boleh istirahat Nek?"


"Istirahat lah, Nenek juga mau istirahat." ucap sang Nenek, Abryal beranjak dari tempatnya dan menutup pintu kamar Neneknya secara perlahan.


Abryal menyandarkan tubuhnya di dinding sambil mengusap wajahnya gusar. "Huft, lagi-lagi gue kepikiran mereka."


***


Cia berhasil berangkat lebih awal dari biasanya, melihat sekolahnya yang masih sepi membuatnya bisa menari-nari sesukanya menuju kelas. Namun, langkahnya berhenti saat melihat seseorang yang ia kenal bermain basket ditengah lapangan. "Cih, pagi-pagi dah main aja tuh bocah." gerutunya pelan, ia tiba-tiba teringat dengan ucapan Abryal yang meminta tagihan hutangnya, sontak menggerutu kesal.


Gadis itu menghela napas pelan. Ia merogoh saku roknya mencari uang untuk membayar hutang pria itu. Langkahnya perlahan mendekati Abryal, pria itu masih belum menyadari kedatangannya. "Oi kak!" panggilnya membuat orang itu menoleh kearahnya sekilas, tetapi ia masih melanjutkan bermain basketnya.


"Kak Al!" panggilnya lagi merasa jengkel diabaikan. Tolonglah pagi ini jangan membuatnya naik darah.


"Apa?" sahutnya barulah menoleh kearah Cia. Cucian keringat pria itu malah membuatnya salah fokus hingga Cia tidak sadar jika pria itu sudah berada didepannya.


"Ciii, woi Cici!" panggil Arbyal menyadarkan lamunan Cia. Gadis itu terkejut melihat jarak mereka terlalu dekat.


"Woi lo ngapa dekat-dekat gue!" serunya memundurkan langkahnya menjauh dari Abryal, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.


Abryal tertawa pelan. "Lo melamun. Apa yang lo lamunin huh? Pasti mikir kotor ya?" ledeknya langsung mendapatkan pukulan di lengannya.


Bugh!


"Gila aja lo kak, astaga pagi-pagi gue dah naik darah liat lo kak," ocehnya lalu menarik tangan Abryal lalu meletakkan uang itu ditelapak tangan pria itu. "Itu ya utang gue udah lunas maaf ada uang recehnya, dah gue cabut dulu. Bye!" serunya berjalan meninggalkan Abryal.


Abryal menatap datar kearahnya, lalu mencampakkan uang itu ke tanah hingga membuat suara keping coin itu terdengar oleh gadis itu. Cia berbalik badan dan terkejut melihat uangnya sudah berhamburan di tanah, lalu menatap tajam kearah pria itu.


"Ngapain dibuang?!" cercanya.


Abryal berjalan mendekati Cia dan menunduk menatap gadis yang tinggi hanya sebahunya. "Gue mau lo bayar utang dengan yang lain." ucapnya membuat dahi Cia mengerut.


"Jangan minta yang aneh-aneh, gue hanya bisa ngasih lo uang. Kalau lo mau juga bayar hutang yang sama persis apa yang gue belanjain tadi, nanti abis pulang sekolah kita pergi ke swayalan!" ocehnya melangkah meninggalkan Abryal yang terbengong mendengarkan ocehannya.


Abryal tertawa terbahak-bahak, ia tidak menyangka jika pagi ini ia mendapatkan hiburan yang menarik. Padahal niatnya tadi tidak begitu, tetapi ia menuruti saja apa yang gadis itu minta. Sampai ia tidak menyadari jika sahabatnya menatapnya aneh berjalan kearahnya. "Lo udah gila ya nyet?"


Tawa Abryal berhenti lalu menatap kesal kearah David. "Suka hati guelah." ketusnya memungut uang yang ia buang tadi dan meninggalkan David yang menggaruk tengkuknya tidak gatal mengernyit heran dengan tingkah sahabatnya.


"Dia akhir-akhir ini aneh, merinding gue liatnya."