Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Ingin Menjebak



Cia dibuat pusing dengan sahabatnya yang terus menceramahinya panjang lebar perihal agar tidak berurusan dengan kakak kelasnya yang bernama Audrey itu. Ia sendiri bingung dimana letak berbahaya gadis manja ini? Sudahlah memakai seragam acak-acakan, memakai make-up, apalagi suka mengemut permen tangkai. "Oh, ya ampun woi...Jangan menceramahi gue trus, iya...iya gue nggak bakalan berurusan dengan dia, puas kan?"


"Nah gitu dong, jangan buat kami takut." gumam Desi bernapas lega.


Cia tersenyum miring, namun pandangannya melirik ke seseorang yang tengah menatapnya tajam seolah-olah ingin mencekiknya. "Huft, hiraukan dia." gumamnya untuk tetap berusaha tenang. Walaupun ia selalu bilang untuk tidak takut menghadapi Audrey. Mendengar desas-desus gadis itu disekolah ini membuatnya sedikit cemas menghadapi hari-hari disekolahnya dengan tenang, terlebih gadis sialan itu menyukai suaminya.


"Cii kami balek dulu ya!" seru Mira dan Desi berlari menuju mobil pribadi Mira.


Cia melambaikan tangannya kearah mereka, saat langkah kakinya menuju parkiran. Ia tiba-tiba teringat jika suaminya yang menyebalkan itu mengempeskan ban motornya. "Cih, gue baru ingat tadi nebeng sama dia pergi tadi. Huft, Abryal harusnya lo nggak biarin gue terlantar kayak gini woi!" gerutunya menghentak-hentakkan kakinya.


Diseberang sana terlihat Audrey bersama gengnya menatap aksi Cia yang terlihat konyol. "Oh jadi gadis itu yang lagi populer disekolah kita?"


"Iya, dia."


"Jadi selama gue pergi liburan ke luar negeri, dia orang yang berusaha buat menarik perhatian Abryal?" tanya Audrey lagi.


"Iya."


"Cih, tubuh kurus kayak tulang gitu bisa menarik perhatian Abryal? Mimpi tuh anak!" cercanya lagi sambil mengemut permen tangkainya. Audrey tersenyum smirk, ia memilik ide agar membuat Cia yang populer itu menjadi terkucilkan. "Gue ada tugas buat kalian!" serunya semangat.


***


Cia menghendus kesal menatap rumahnya, untung saja ada ojek online yang membantunya untuk pulang kerumah dengan selamat, tidak seperti orang yang mengempeskan bannya lalu saat ditelepon berkali-kali tidak diangkat. "Gue merajuklah, nggak perlu pulang kerumah dia. Gue mau metime disini!" serunya tersenyum berlari masuk kedalam rumahnya. Baru saja Cia mendobrak pintu, tiba-tiba Azlan membuka pintu hingga membuat Cia tersungkur ke lantai.


Bruuk.


"Buahahahaha gimana dek? jatuh ya?" tanya Azlan meledek kearahnya.


Cia mengumpat pelan, mendongak menatap manusia kedua yang menyebalkan setelah suaminya. "Pakai nanya, iya-iyalah gue jatuh nih! Nggak nampak lo gue udah cium lantai huh?!"


"Hehehe...janganlah ngamuk, nih biar gue bantu," Azlan membanti Cia berdiri dan memapah adiknya untuk duduk disofa. "Tumben kesini? Mana suami lo?" tanyanya celingak-celinguk mencari Abryal.


"Cih, gue yang datang kenapa lo nyari suami gue sih?!"


Azlan mencebik. "Ya elah, gue mau mabar sama dia. Kalau main sama lo, asik jadi beban aja." ejeknya langsung dilempad bantal oleh Cia.


"Sialan!"


"Oh, jadi kalian lagi berantem? Gue aduin Mama loh!"


"Gue bisa urus rumah tangga gue sendiri bang, jangan cepu dah!"


"Idih, udah merasa paling dewasa aja, tapi kelakuan masih kayak anak kecil. Tuh liat cara makan lo kayak monyet kelaparan," Azlan berdigik ngeri melihat cara makan Cia seperti orang kelaparan, apakah seenak itu Pai buatannya?


"Ci, itu Pai gue gimana rasanya?"


"Hmm enak, tumben lo pandai masak bang? Lo masak nih buat siapa bang?"


Azlan terkekeh, ia melepaskan celemek yang masih melekat ditubuhnya. "Buat pacar gue." jawabnya santai.


"Uhuk...uhuk." Cia tersedak, cepat-cepat gadis itu berlari ke dapur untuk mengambil minum. Lalu menatap abangnya yang tersenyum miring padanya.


"Wow, lo pungut dimana ceweknya? Kok ada yang mau sama lo bang?"


"Monyet, ya karna saling suka lah." ketusnya. Cia memutar bola matanya malas, sambil mengunyah kembali Pai buatan abangnya.


"Ini buatan lo yang pertama bang? Udah berapa kali coba buatnya?" tanya Cia penasaran, karena buatan Pai abangnya benar-benar enak seperti di cafe yang sering ia kunjungi. Tidak disangkah jika abangnya yang dulunya hanya bisa membuat telur ceplok dan mie instan, kini sudah bisa membuat Pai seenak ini.


"Lo nggak perlu tau," keluhnya. Cia langsung melirik kearah dapur dan bernapas lega jika dapur rumahnya masih baik-baik saja.


"Syukurlah, dapur nggak jadi kapal pecah."


"Diamlah, lo pikir gue seburuk itu hancurin dapur, huh?!"


"Manatau, kan gue cuma beramsumsi doang hehehe. Mau lagi dong Pai nya, sekalian buatin lagi buat gue bungkus ke kamar."


"Kamar? Lo nanti nggak dijemput Al?"


Mendengar nama suaminya, ia memutar bola matanya malas. "Males, nanti kalau dia kesini bilang bang, kalau gue merajuk tingkat tinggi. Jadi, jangan paksa gue balik pulang." ucapnya sambil mengibas tangannya dari remah-remah Pai yang ia makan tadi. Langkah kakinya dengan santai terus berjalan menuju kamarnya.


"Cih, merajuk bilang-bilang." Cibirnya berjalan kembali ke dapur.


"Mana Cia?" tanya pria itu terdengar dari balik pintu kamar Cia. Gadis itu tidak peduli, mau suaminya berkoar-koar, menggedor pintunya ia sama sekali tidak peduli karena saat ini ia sedang merajuk dengan pria itu.


Tok...tok...tok.


"Cia buka pintunya!"


"Cici..."


"Lagi merajuk!" sahutnya ketus membuat pria itu berdecak pelan dari luar.


"Cih, gue kan udah bilang kalau gue pulang lambat!" teriaknya.


"Ya tapi mikir jugalah, gue pulangnya pakai apa. Lo tadi pagi kempeskan ban motor gue!" balas Cia.


"Oh iya anjir...buahaha sorry...sorry tadi pulang pakai apa?"


"Pakai kuda, ya pakai ojol kak!" gemasnya.


"Ya nggak usah ngegas juga bisa nggak?!"


"Hei kalian berdua bisa nggak sih bicara baik-baik didalam, nggak usah teriak didepan pintu juga. Satu kompleks bisa dengar suara kalian!" gerutu Azlan pusing melihat kedua pasutri didepannya ini. Yang satu tidak mau membukakan pintu, dan yang satu lagi susah payah menggedor pintu kamar Cia.


"Tuh bilangin sama adik ipar lo kak!"


"Kan gue tadi udah bilang kalau pulangnya telat, gue kira lo bakalan nungguin di kantin tadi!"


"Kesabaran gue setipis tisu, mana mau gue tungguin lo!"


"Udah...udah...biarin ajalah Al, dia emang kayak gitu, moodnya cepat banget berubah. Mending lo main PS dikamar gue!" ajak Azlan.


"Fyuuh..." Abryal mengangguk lalu mengikuti Abang iparnya menuju kamar.


***


Cia cemberut memalingkan wajah dari Abryal, sejak semalam ia benar-benar menutup mulutnya untuk tidak berbicara dengan pria itu. Abryal melihatnya dibuat gemas, apalagi saat cemberut pipi istrinya itu rasanya ingin digigit.


Cia melebarkan matanya saat menyadari jika Abryal tidak menurunkannya di parkiran melainkan di depan kelas. Woi apa-apaan nih? Lo malah caper anjir!


"Woi kak!"


Abryal diam-diam tersenyum puas, membuat istrinya malu adalah hobi barunya. "Nah turun!" saat motornya benar-benar didepan kelas Cia. Sumpah demi apapun Cia, malu menunjukkan muka saat melangkah masuk kedalam kelas. Sudah pasti banyak sorot mata melirik kearah mereka dengan tatapan yang berbeda, termasuk Audrey yang baru saja datang.


"Trus aja cari perhatian Al, gue buat lo nggak berdaya Belvana Bricia!" geramnya sambil mengepal tangannya kuat. Ia benar-benar benci dengan pemandangan itu. Audrey tidak ingin gegabah, ia tersenyum smirk untuk melancarkan rencananya yang sudah ia susun untuk menjebak Cia.


Sementara Cia berkomat-kamit menahan malu, suaminya itu benar-benar suka sekali menguji kesabarannya. Ia meletakkan tasnya lalu menarik tangan Desi dan Mira untuk menemaninya ke toilet.


"Buahahaha niat banget kak Al ngantarin lo ke depan pintu kelas langsung?" ledek Mira


"Nggak tau, bodo amat. Jangan dibahas!" ketusnya mencuci tangannya, setelah itu mereka berjalan kembali menuju kelasnya. Namun, belum masuk kelas mereka dibingungkan dengan teman-teman kelasnya yang sibuk mengerumuni meja Cia.


"Ci itu kenapa?" tanya Desi bingung.


"Nggak tau, coba aja kita masuk dulu." seru Cia mengajak kedua sahabatnya masuk.


"Tuh dia orangnya buk!"


Deg.


Kenapa mereka menunjuk kearahnya? Apa dia melakukan suatu kesalahan? Manalagi kesiswaan datang kesini dengan raut masamnya. "Saya?" tunjuk Cia pada dirinya sendiri.


"Beraninya kamu merokok!" cercanya guru kesiswaan itu membuat ketiganya terkejut.


"Tunggu, ada apa bu?" tanya Mira bingung.


"Bricia dia merokok, ini buktinya!" tunjuk guru kesiswaan itu membuka tas Cia dan terdapat sebungkus rokok didalamnya.


Deg.


Sial, apa gue dijebak?!