Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Saingan Berkurang



Situasi konyol ini membuat Cia sampai tidak bisa berkata-kata. Apa tadi? Audrey adiknya Abryal? Dunia ternyata begitu sempit untuk mereka. Audrey menatap mereka cukup lama baru menoleh kearah mamanya.


"Nggak...nggak mungkin Ma. Huh, gila nggak mungkin gue saudaranya Abryal." Audrey benar-benar tidak terima dengan fakta yang baru saja didengarnya.


Laila terkejut. "Au, kamu satu sekolah dengan Abryal?"


Audrey memutar bola matanya malas. "Ma, aku udah berbuih-buih dari kelas sepuluh. Aku sekelas dengan pangeran tampanku, tidak lucu kan kalau kami saudara??" Protesnya lagi.


"Kalian saudara, kalian anak Mama. Memang Mama melakukan kesalahan waktu Abryal kecil, Mama ingin menembus kesalahan Ma—"


"Tolong jangan bebankan aku dengan tanggung jawab sialan itu. Lebih baik anda cukup menyimpannya sendiri, oh iya...Lupakan aja kalau Anda punya anak laki-laki, aku bukan barang yang mudah dimiliki!" ucapnya dingin menarik tangan istrinya keluar.


"Kak, tapi Nenek..." Cia merasa khawatir dengan keadaan sang Nenek, jika mereka pergi siapa yang jaga Nenek?


Abryal menghela napas kasar, menoleh sekilas kearah Laila dan Audrey lalu menatap pintu ICU. Pria itu berdecak pelan kembali duduk menunggu kabar sang Nenek. Cia langsung duduk disamping Abryal dan menggenggam tangannya. "Sabar..."


Abryal mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya dibahu Cia tanpa memperdulikan tatapan Audrey memanas menatap kemesraan mereka berdua. Ia memilih pergi dengan perasaan kesal. Sedangkan Laila menatap geram melihat keduanya, tetapi ia tidak bisa mencerca istri Abryal mengingat anaknya masih belum mau memaafkannya.


"Abryal," panggil Laila mendekati keduanya. Tidak akan ia biarkan keduanya terus bermesraan didepannya. Abryal anaknya, yang mengandung selama sembilan bulan adalah dirinya, tentu ia berhak mengatur kehidupan Abryal. "Ceraikan istri kamu!"


Sontak keduanya menatap Laila, apa wanita ini tidak memikirkan kondisi saat ini seperti apa? Kenapa begitu mengotot untuk memisahkan mereka berdua. Cia menghela napas kasar, lalu berdiri menatap mertuanya. "Ma, boleh kita bicara berdua? Anak Mama lagi pingin sendiri sebentar, beri dia waktu." ucap Cia menoleh kearah Abryal, lalu mengajak Laila keluar.


Laila menepis tangan Cia, setelah merasa mereka sudah jauh dari pandangan Abryal didalam. Barulah Laila menatap benci kearahnya. "Nggak sopan banget kamu jadi anak, nggak pernah diajarkan dirumah?"


Cia berusaha untuk tidak terpancing emosi."Tan, tolong tenang dulu bisa? Kita bicarakan ini baik-baik dengan kepala dingin, apa yang nggak Ante suka dari Cia? Apa Cia ada salah sama Ante? Ante benci aku dari sisi mana? Kenapa Ante ngotot nyuruh kami pisah?" cercanya dengan berbagai pertanyaan beruntun.


"Saya nggak suka kamu bersanding dengan dia!"


"Oke, trus kalau kami cerai emangnya Ante mau ngapain?"


"Ya saya jodohkan dengan orang yang lebih baik dari kamu!"


"Silahkan, Cia tidak peduli Tan. Tapi, Cia nggak yakin rencana Ante akan berjalan mulus sesuai yang Ante mau. Ingat juga Nte, kalau Ante masih dibenci anak yang Ante buang dulu." ucapnya dingin lalu pergi dari hadapan Laila.


"Anak kurang ajar!"


***


Cia berlari ke toilet, ia mencuci mukanya. Gadis itu tertawa renyah melihat dirinya di cermin juga bisa menangis. Cia juga manusia, ia punya hati yang lemah. "Cii nggak boleh nangis, lo harus kuat!" ucapnya sambil menyeka air matanya. Abryal tidak boleh tahu dirinya habis menangis. setelah merasa sudah lebih baik, barulah ia berjalan keluar.


"Bodoh." ucap pria itu membuat Cia menoleh kearahnya. Abryal yang tengah bersandar di dinding mendekat kearah istrinya lalu memeluk gadis itu erat.


"Maaf." cicitnya membenamkan kepalanya dibahu Cia.


Cia bingung lalu berbalik badan menatap calon suaminya. "Untuk?"


"Mengalami semua ini, gue juga terkejut dengan semua yang tiba-tiba muncul dihadapan gue Ci..." Lirihnya menatap sendu.


"Kak, lo nggak salah. Gue tau ini berat buat lo, lo nggak ada salah apa-apa kak," ucap Cia menangkup wajah Abryal. Gadis itu terkekeh melihat wajah sembab suaminya. Wajah sembab yang langkah itu akan susah ia temui lagi saat disekolahnya atau ditempat umum.


"Yok, kita ke tempat Nenek!" ajak Abryal menggenggam tangan Cia. Cia merasa nyaman dan tenang. Mereka langsung menuju ruangan VIP, karena kondisi Nenek sudah stabil. Saat mereka tiba disana, mereka tidak menemukan Laila ataupun Audrey disini.


Cia sedih melihat kondisi Nenek tengah terbaring lemah dikasur. Wajah keriputnya masih terlihat pucat, Cia berjalan mendekati kasur Nenek. "Nek, cepat sembuh."


Ia menggenggam tangan Nenek, "Maaf, Cici datang terlambat."


"Emangnya apa yang terjadi?" tanya Abryal menatap kearah istrinya. Cia menggaruk tengkuknya tidak gatal, ia sebenarnya tidak ingin semakin memperkeruh suasana antara Abryal dan Laila. Namun, melihat kejadian Nenek tadi ia mau tak mau harus memberitahu suaminya.


"Sebenarnya...."


***


Cia meletakkan ranselnya dikursinya. Tatapannya tertuju pada jendela kelasnya. "Huft,"


"Ci!" seru Mira berlari kearahnya. Cia terkekeh melihat sahabatnya ini.


"Lo nggak papa?" tanya Mira khawatir melihat kearahnya. Cia bingung, kenapa sahabatnya ini datang dengan raut khawatir?


"Ada apa?"


"Cih, lo nggak tau orang-orang pada heboh anjir!"


"Iya, lo nggak tau su—Hmm maksudnya kak Abryal datang bareng sama Audrey!" seru Desi yang baru saja tiba langsung menimbrung mereka. Ia tidak ingin sahabatnya diselingkuhin.


Cia terbengong menatap keduanya, lalu berekspresi seperti biasa. "Iya, trus?"


Braak.


"Lo nggak cemburu? Seriusan itu su—kak Al, pacar lo Ci!" Mira gemas melihat reaksi Cia yang tenang saja.


"Tenang, gue yakin mereka nggak ada hubungan apa-apa."


"Cii, liat mereka yok!" ajak Desi ikutan gemas. Gadis itu langsung mengajak Cia untuk melihat kehebohan diluar.


"Gila, Abryal dengan Audrey? Satu mobil?!"


"Apa Abryal udah bosan dengan Cia?"


"Gila sih mereka serasi banget!"


"Baru tau gue mereka mirip, biasanya kalau mirip tuh jodoh!"


"Couple goals banget!"


Abryal berdecak pelan, memandang sinis kearah gadis yang merupakan adiknya. "Singkirin tangan lo!" ketusnya menepis tangan Audrey yang bergelayut dilengannya.


"Bang, lo kok sinis kali sih sama adik sendiri. Kan tadi malam udah sepakat untuk menerima semua fakta ini dengan lapang dada. Gue juga masih kesal dengan kalian berdua udah nikah!" gerutu Audrey yang hanya bisa didengar Abryal.


Abryal memutar bola matanya malas, ia memasang headset dengan langkah lebar meninggalkan Audrey yang kesal sendiri. Audrey memejamkan matanya, gara-gara fakta itu, hatinya begitu sakit dan terluka. Apalagi mengetahui jika Abryal dan Cia sudah menikah, membuatnya semakin terpuruk. "Gue benci takdir ini!"


"Benci kenapa kak?" tanya Cia tersenyum miring menatap Audrey sambil melipat tangannya didepan dada.


Audrey memutar bola matanya malas. Kalau saja ia tidak dipaksa Abryal untuk bersumpah tidak membocorkan rahasia mereka. Mungkin semuanya akan heboh dengan hal itu. "Diamlah, nggak usah ikut campur!"


"Idih, kok pemarah banget sih. Kalau tau kakaknya...hmm ckckck dahlah." ledeknya membuat Audrey geram sendiri. Gadis itu menghentakkan kakinya kesal, lalu pergi tanpa menoleh kearah Cia.


Cia cekikikan sendiri membuat kedua sahabatnya heran. Mira dan Desi saling memandang dan keduanya mengedik bahu tidak tahu.


"Ci, kenapa lo ketawa? Harusnya lo marah kan,"


Cia terkekeh menatap mereka. "Kalian mau tau sesuatu nggak? Tapi jangan sampai tau orang."


"Emangnya kenapa?"


"Kak Audrey adik kandung kak Al," bisiknya membuat kedua sahabatnya terkejut bukan main.


"APA?!"


"Shuut, jangan keras-keras suara kalian!"


"Ta-tapi bagaimana bisa? Mereka bersaudara?"


"Hmm...gue pun juga kaget mendengar fakta itu. Setidaknya kak Au nggak bisa suka sama kakaknya sendiri."


"Gila...gila, kenapa dunia begitu sempit."


"Tapi, kok mereka baru tau kalau bersaudara? Padahal keduanya sama-sama masuk dari kelas 10."


Cia mengedik bahu, biarlah menjadi urusan keluarga Abryal tentang hal itu. Setidaknya saingannya untuk mengejar suaminya berkurang.