Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Kecelakaan?



Cia menghela napas pelan, ternyata percuma juga ia menelpon suaminya. Ia duduk menghadap jendela market itu sambil menikmati roti yang ia beli tadi. Gadis itu mencari cara lain untuk pergi dari tempat ini secepatnya. Pasalnya, ia merasa aneh dengan dua pria yang tengah nongkrong tidak jauh darinya sambil melihatnya dengan tatapan yang tidak biasa.


"Siapa sih si brengsek yang ngurung gue tadi?" gumamnya kesal mengigit kasar rotinya. Ia berusaha tenang seolah-olah tidak memperdulikan tatapan jelalatan dua pria itu.


Usai menghabiskan rotinya, ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 3 sore. Beberapa jam lagi akan malam, sementara dirinya belum juga beranjak dari tempat itu.


Braak.


Cia terkejut langsung menoleh kearah pintu. Matanya membulat sempurna saat melihat suaminya terengah-engah ada disini. Abryal yang melihat Cia baik-baik saja, langsung memeluk istrinya erat.


"Kak..." Cia mengeratkan pelukan suaminya, bagaimanapun tidak bisa dipungkiri jika dirinya bahagia bertemu lagi dengan suaminya.


"Hiks, lama kali..." Mendengar rengekan istrinya membuat Abryal langsung menguraikan pelukannya dan menatap jengkel.


"Masih untung ya gue selamatin." gerutunya langsung merampas air mineral Cia dan meneguk kandas sisa air dalam botol itu. Sontak Cia membelalak melihat Abryal minum bekasnya.


"Kak..."


"Apa?" tanyanya menatap istrinya, syukurlah istrinya itu baik-baik saja.


"Itu bekas gue..." tunjuknya pada botol yang dipegang suaminya.


Abryal mengernyit, meremukkan botol itu lalu melemparnya kedalam tong sampah. "Trus apa masalahnya?"


"Itu..."


"Kita kayak ciuman nggak langsung maksudnya kan? Kalau gue sih nggak papa atau lo mau kita ciuman langsung disini?" godanya frontal membuat Cia memukul lengan pria itu.


"Anjir frontal banget lo ngomongnya. Hais susah ngomong sama lo kak!" gerutunya kesal memalingkan wajahnya dari Abryal. Dasar cowok gila! Bisa-bisanya ngomong hal itu ditempat umum seperti ini?!


"Hehehe gue bercanda doang Ci. Yok kita balik ke bus." Gadis itu mengangguk dan mengikuti suaminya dari belakang. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada kasir yang tadi meminjamkan ponsel padanya.


"Eh busnya kok nggak nampak darisini kak?" tanya Cia celingak-celinguk mencari bus-bus itu.


"Jauh didepan," jawabnya sambil melepaskan jaket hitamnya, menyisakan kaos putih lengan pendeknya.


"Lo kok bisa ketinggalan? Nggak bareng sama sahabat lo tuh?" tanya pria itu bingung, pasalnya sahabat istrinya itu ada didalam bus. Ia mengira Cia duduk bersama mereka tetapi nyatanya tidak.


"Gue dah kebelet banget, nggak sempat bilang ke mereka." cengirnya sambil menggaruk tengkuknya tidak gatal.


"Huft, sudahlah yang penting lo ketemu. Tapi harusnya nggak lama kan Ci, 5 menit udah kelar." ocehnya lagi masih merasa janggal.


Cia menghela napas kasar. "Gue dikunci dari luar, tapi gue nggak tau siapa orangnya. Udah teriak-teriak gue nggak ada juga yang nyaut." lirihnya lagi.


Abryal mengepal tangannya kuat, ia meraih tangan istrinya dan menggenggam tangan kecil itu. "Bakalan gue beri pelajaran." ucapnya dingin.


Cia menoleh kearah Abryal, ia tidak menyangka jika dia semarah itu. Cia merasakan tangannya digenggam erat lagi, gadis itu diam-diam mengulum senyum.


***


David menghela napas kasar, ini sudah lebih dari 20 menit tetapi sahabatnya itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Ia terus menelpon Abryal ternyata ponsel pria itu tertinggal dikursi bus begitu juga dengan Cia.


"Mereka kompak banget ya buat gue kewalahan. Fyuh cepatlah Al!" gumamnya pelan.


"Kak David, gimana Cia udah ketemu?' tanya Mira khawatir. Gadis itu menyesal karena tidak mengetahui jika Cia pergi ke kamar mandi.


"Hais nggak usah ngegas juga jawabnya. Telinga gue masih dekat sini kak, jawab kek dengan lemah lembut." gerutu gadis itu lagi.


"Terserahlah, gue pun nggak peduli."


"Gue peduli sih kak, soalnya lo ngomong sama ce—"


"Bisa diam nggak? Lama-lama gue sumpel juga mulut lo dengan kaos kaki gue!" kesalnya beranjak dari tempat. Lama-lama ia bisa naik darah berdebat dengan Mira, ia begitu mudah terkena hipertensi karena faktor keturunan dari ayahnya. Oleh karena itu, ia harus menjaga emosinya agar tetap stabil.


"Ya elah malah pergi dia. Huft Cia lo dimana sih?" gumamnya cemas memandang jendela bus. Ia melihat langit tampaknya mulai mendung, menandakan hujan sebentar lagi.


"Gimana Mir, dah ketemu Cia?" tanya Desi yang duduk dibelakang Mira. Gadis itu duduk bersama dengan pria lain. Sebenarnya ia cemas dengan tempat yang sudah diatur OSIS ini, apalagi duduk disamping pria yang tidak dikenal.


Mira menggeleng. "Moga kak Al dapat ketemu sama Cia." harapnya. Gadis itu langsung melirik jendela bus saat mendentar suara rintikan hujan yang mulai mengguyur jalanan.


"Astaga, hujan," Decak gadis itu menoleh kearah David. "Kak David, gimana nih?" Mira semakin gelisah, membuat pria itu harus lebih ekstra lagi bersabar.


"Jangan tanya gue." ketusnya menoleh kearah jendela bus. Ia berharap kedua orang itu segera datang.


"Gimana dek? Kawan kamu udah datang?" tanya supir bus menghampiri David.


"Cia masih belum ditemukan juga?" tanya guru mereka dibelakang.


"Belum bu, Abryal ninggalin hapenya."


"Hujan semakin deras sekarang, berhenti ditepi jalan kayak gini sangat berisiko untuk bus. Apalagi jalanannya sedikit curam. Lebih baik kita lanjutkan dulu perjalanan kita sampai ditempat bus yang bisa berhenti, nanti kita susul Abryal." terang Mrs. Lala


"Tapi bu... kalau kayak gitu, Abryal tidak tau."


"Lebih bahaya kita berada disini nak, ibu tidak mau mengambil resiko besar. Kawan-kawan kamu banyak disini."


David kebingungan, tidak mungkin ia meninggalkan mereka berdua. Tetapi, pilihan sekarang terlihat sulit baginya. "Apa boleh kita tunggu sebentar lagi?"


"David, jangan mengambil resiko besar. Cia dan Abryal akan menyusul kita nanti kok." bujuk Mrs. Lala. Wanita paruh baya itu sama halnya dengan David, ia menghawatirkan dua muridnya. Tetapi, ia juga tidak bisa mengabaikan nyawa murid yang lain disini.


David menghela napas kasar. "Ya sudah bu, saya ikut." pasrahnya.


"Bagus, Pak langsung jalan sekarang!" serunya berjalan kembali ketempat duduknya.


Mira tidak terima, ia melangkah mendekati gurunya. "Jangan bu, coba ibu bayangkan jika anak ibu diposisi mereka. Ibu pasti akan tetap berhenti menunggu meraka kan?"


"Mira..." tekannya membuat gadis itu diam. Wanita paruh baya itu terlihat tidak ingin berdebat panjang lebar lagi. Ia pun kembali duduk ketempatnya.


"Ci... cepatlah."


Bruuk.


Semuanya terkejut. Apalagi Bus-bus dibelakang banyak yah teriak histeris membuat semuanya melihat keluar melalui jendela bus.


"Kenapa? Kenapa?" tanya Mrs. Lala melihat apa yang mereka lihat tadi.


"Itu bu... Kak Al...."