
Sinar matahari mengusik Cia yang tengah tertidur pulas. Sambil mengucek matanya, ia menoleh kearah sebelah. Cia terkekeh melihat suaminya masih tertidur pulas tanpa merasa terusik terkena cahaya matahari. "Harusnya gue tutup gorden full tadi malam, nih gara-gara capek banget." gerutunya pelan, awalnya ia ingin menutup rapat gorden jendelanya lalu kembali tidur. Namun, ia urung kembali saat terpana melihat paras tampan Abryal.
"Tampannya anak orang..." gumamnya memperhatikan wajah Abryal dengan lekat. Cia mengelus kepala Abryal dengan lembut, ia memandang sendu menatap wajahnya. "Kemarin lo badmood banget ya kak, gue dengar dari Nenek lo mau dijodohin Mama sama yang lain. Hahaha, ternyata gini ya dibenci sama mertua sendiri. Tapi, nggak papa gue pun biasa aja, gue harap ada keajaiban,"
"Seandainya Mama juga nggak buka hati buat gue, mungkin gue baka—" Cia terkejut saat Abryal tiba-tiba bangun dan mendekatkan wajahnya dengan Cia.
"Ngomong apa lo barusan?" tanya Abryal dingin.
Cia kelabakan, kenapa suaminya tiba-tiba terlihat marah dengannya? Apa dia salah ngomong? "Ma-maksud lo kak?"
"Jangan pernah bilang berpisah dengan gue, sampai matipun gue nggak bakalan ceraikan lo Bricia."
Glek. Jika Abryal sudah memanggil namanya dengan panggilan Bricia, itu pertanda pria itu marah. Cia memejamkan matanya, merutuki ucapannya barusan ternyata memancing amarah suaminya. Padahal ia hanya ngomong asal.
"Ahahaha nggak perlu dibawa serius kak. Aduh, kalau lo udah bangun, gue buatin sarapan." elaknya beranjak dari kasur, namun lengannya ditahan oleh Abryal.
"Sarapan diluar aja kita," ucapnya mengacak-acak rambut Cia. Ia beranjak dari kasur lalu menyambar handuk. "Mau mandi bareng nggak?"
Cia menatap horor kearahnya. "IH GILA!" Dengan wajah merah seperti kepiting rebus ia berlari keluar kamar. Abryal hanya tertawa pelan melihat tingkah gemas istrinya, bagaimanapun juga ia pun memaklumi untuk meminta haknya karena mereka masih sekolah. Ia tidak ingin kejadian Mamanya dulu terulang kembali pada Cia.
***
Cia dan Abryal keliling pasar mencari tempat makan yang sesuai dengan selera mereka. Mereka sengaja memilih dekat pasar karena sekalian ingin belanja kebutuhan dapur yang habis. Keduanya tidak malu ataupun jijik makan disana, karena sudah terbiasa dengan sering ke Pasar.
"Kak, makan lontong apa bubur nih?" tanyanya bingung memilih menu sarapan pagi mereka.
Abryal celingak-celinguk keliling pasar. "Makan mie yok!"
"Woi kak pagi baru, masa iya kita makan mie? RIP usus gue kak." Protesnya.
"Gue udah lama nggak makan mie sayang."
"Ya nggak pagi-pagi juga pak suami, cari menu lain lah."
"Minas?"
"Sama aja anj—Astagfirullah sabarkan hamba Ya Allah..." ucap Cia menghela napas dalam. Astaga suaminya ini pagi-pagi sudah membuatnya emosi.
"Selain mie sayang, nasi goreng kek atau apalah,"
"Lah kan udah gue tawarin minas, mie plus nasi goreng,"
"Iya tapi kan ada mienya juga. Nggak sehat kak makan mie trus, gini ajalah kita makan bubur ayam tuh!" usul Cia menunjuk kearah kedai yang ada didekat sana. Pandangan Abryal menoleh kearah yang ditunjuk istrinya.
"Ada enak?"
"Ya nggak tau, makanya kita coba. Kalau enak ya besok datang lagi, kalau nggak cari tempat lain. Simpel kan?"
"Ya lah terserah lo lah." jawab Abryal pasrah mengikuti kemauan istrinya.
Sesampai di kedai bubur, Cia langsung mengambil tempat duduk diluar. "Kak, sini!" serunya memanggil Abryal kerahnya.
"Mas bubur ayamnya dua ya!"
"Oke mbak!"
Cia bersenandung kecil sambil menunggu pesanannya tiba. Ia sebenarnya jengkel diam-diam seperti ini, tetapi nampaknya Abryal terlihat sibuk. Lihatlah, saat mereka lagi metime pun ada saja yang diurus lewat ponselnya.
"Cia?"
Deg.
Cia tertegun ada seseorang memanggilnya, ia pun mendongak dan diam membeku saat melihat orang itu adalah mantan pacarnya dulu—Zen.
"Oh, harusnya gue nanya lo siapanya Cia? Asal lo tau ya dia ini mantan pacar gue."
Braak.
Semua mata tertuju pada mereka, terutama Zen yang kaget menatap Abryal. "Apaan sih lo buat jantung gue hampir copot." gerutunya pelan.
"Bagus, ngapa nggak mati aja sekalian. Ci, kita pergi dari sini!" Abryal langsung menggandeng tangan istrinya pergi dari tempat itu tak lupa ia memberikan selembar uang merah pada penjual bubur karena sudah terlanjur memesan buburnya.
"Mas kembaliannya? Lah ini kenapa buburnya nggak saya bungkus dulu?" serunya memanggil keduanya.
"Ambil aja, kembalian juga. Maaf lagi buru-buru." jawab Abryal sekilas, sedangkan Zen yang kesal melihat mereka pergi langsung mengejarnya.
"Dia mantan lo kan Ci?" tebak Abryal sambil menarik tangannya keluar dari pasar.
"Hah? I-Iya. Kak, tolong jangan salah paham. Gue sama dia udah nggak ada apa-apa lagi, di-dia yang buat dulu gu—" Abryal membungkam mulut Cia sambil menatapnya dengan tatapan yang susah diartikan.
"Nggak usah diperjelas, gue tau kok." potong Abryal menatap Cia. Cia mendongak, kontak mata mereka bertemu.
Baru saja Cia membuka suara, Abryal menarik tangannya membuat gadis itu terhuyung dibelakang punggung suaminya. Abryal menatap tajam kearah orang yang hendak menyentuh tangan istrinya, terlebih orah didepannya ini hampir membuat masa depan Cia hilang.
"Jangan sentuh istri gue!"
Deg.
Mata Zen membulat sempurna. Apa ia salah dengar? Apa dia sengaja berbohong agar ia tidak bisa membiarkan dirinya berbicara dengan Cia. "Ahaha istri? Abis kejedot dimana lo huh?"
Abryal geram, rasanya ia ingin menghajar wajah songong Zen. Namun ia urung mengingat saat ini berada dipasar. "Terserah mau percaya apa nggak, gue peringati lo sekali lagi jangan sentuh istri gue brengsek!" geramnya pergi dari sana.
Zen terdiam, melihat tidak ada reaksi penolakan dari Cia membuatnya percaya jika gadis itu sudah menikah. "Apa gue udah terlambat untuk kesempatan kedua?"
Pikirannya benar-benar kacau, ia kembali berlari menyusul keduanya. "BRICIAA!"
"BERHENTI!"
Cia menghentikan langkahnya lalu meminta Abryal untuk menemaninya bicara dengan Zen. Ia yakin mantan brengseknya itu ingin mengatakan sesuatu padanya. "Kak, please..." mohon Cia agar Abryal memperbolehkan menyelesaikan ini semua. Ia tidak ingin ada bayang-bayang masa lalunya menghancurkan masa depannya.
"Cia, apa lagi yang harus lo omongin dengan brengsek tuh?" tanya Abryal memandang Zen dengan sinis.
Cia berusaha tersenyum menatap suaminya, ia menggenggam tangan Abryal. "Kak, gue ingin selesaikan ini semua, biar nggak ada yang ganggu kita lagi. Gue nggak mau lagi ada masalah kak, boleh ya?"
Abryal membuang napas kasar. "5 Menit, lebih dari itu kita pulang."
"Oke...oke," Cia berjalan mendekati Zen. Kenangan ia waktu pacaran satu persatu mulai berputar dalam memori otaknya. Disisi lain ia bersyukur pernah menjadi pacarnya Zen, tetapi disisi lainnya lagi ia mengambil hikmah jika jangan terlalu mempercayai pria sepenuhnya sebelum ia mengucapkan ijab qabul sambil berjabat tangan dengan Papanya.
"Cepat, suami gue ngasih waktu 5 menit!" desaknya. Zen terpana melihat wajah Cia yang kini lebih cantik dari dulu. Hal itu tak luput dari pandangan Abryal yang jengkel melihat Zen terus-menerus menatap Cia.
"Woi jangan liatin wajah istri gue!" cerca Abryal tidak suka.
"Apasih, gue nggak ada ya liatin wajah istri lo, gue mau ngomong sama dia."
"Cepatan, waktu lo tinggal 4 menit lagi sialan!"
"Bricia gue minta maaf," ucapnya pelan menatap Cia. Cia hanya diam, cukup lama ia mendiamkan Zen sampai akhirnya membuka suara.
"Iya gue maafkan," Ucapan Cia membuat Zen bersorak senang, pria itu hendak memeluknya tetapi gagal karena dijitak Abryal duluan.
"Minta maaf, minta maaf aja. Nggak usah pakai peluk-peluk istri gue. Waktu lo dah habis, say good bye sana!"
"Woi gue belum selesai ngomong! Aaargh sial!" kesalnya melempar kaleng sembarangan arah. Ia bahkan tidak peduli jadi pusat perhatian di pasar sedangkan dua insan tadi sudah pergi menjauhinya.