Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Cemburu



"Hueek!"


Cia merasa kasihan melihat Mira dan Desi muntah-muntah dibawah pohon. Sudah bertahan didalam bus saja itu sangat luar biasa untuk mereka, sedangkan Cia santai menikmati perjalanannya tanpa merasa terganggu tetapi tidak dengan suaminya yang terlihat pucat bersandar dipundaknya.


"Nih kasih minyak telon, kasian gue liat kalian udah kayak mayat hidup." Lirihnya sambil memijat pundak Mira dan Desi bergantian.


"Gue iri liat fisik lo Ci, bisa-bisanya lo nggak mabuk woi!" gerutunya sambil mengelap mulutnya.


Cia cekikikan, gadis itu menoleh kearah Abryal yang tengah duduk sambil memijit kepalanya pelan. "Kasian sekali." gumamnya iba melihat suaminya terlihat tidak berdaya.


Matanya melirik kearah puncak pegunungan, betapa rindangnya pemandangan didepannya. "Kalau udah lumayan baik, kita naik ke puncak yok!" ajaknya menoleh kearah sahabatnya.


"Hmm..."


***


Ketiganya akhirnya berhasil mendaki puncak, disana terlihat banyaknya rumah penduduk terlihat dari atas sana. Cia dibuat takjub dengan keindahan alam yang masih asri sampai sekarang, bahkan udara disana membuat pikirannya menjadi tenang. "Bagus banget buat healing."


"Iya woi, kepala gue rasanya plong banget. Setidaknya otak gue fresh lah disini." sahut Desi sambil meneguk air mineralnya.


"Yok foto situ!" ajaknya menarik kedua tangan sahabatnya untuk mencari spot foto yang bagus.


"Btw siapa yang fotoin kita? Semuanya pada sibuk foto." gumam Mira bingung, Cia langsung melirik sekitar, tatapannya langsung tertuju pada David yang tengah sibuk memainkan ponselnya. "Nah loh itu sasaran kita. Samparin yok!" ajaknya tersenyum smirk.


"Kak David!" teriak mereka membuat siempunya nama melirik sinis kearah mereka.


"Nggak ada...nggak ada, gue lagi sibuk. Cari yang lain buat fotoin kalian!" tolaknya mentah-mentah karena mengetahui maksud dari ketiga gadis itu datang padanya.


"Yaah, bantuin dong kak. Kakak kan lagi santai sekarang."


"Gue lagi sibuk, jangan ganggu..." gerutunya tidak ingin diganggu. Ketiga gadis itu menghendus kesal, ia mencari target yang lain.


"Sini biar gue aja!" seru seseorang membuat mereka bertiga menoleh.


"Eh Zam, tumben nawarin diri?" tanya Mira terkejut melihat teman kelas sebelah mendekat kearah mereka.


"Gue lagi gabut, kalian mau difotoin dimana?" tanyanya lagi.


"Hmm dekat sana nggak papa, hmm siapa nama lo tadi?"


"Azzam, oh iya ini anak baru yang sempat heboh satu sekolah ya?" seru pria itu membuat Cia menyengir pelan.


Cia terpesona dengan senyumnya apalagi ada lesung pipit dipipinya membuat pria itu terlihat tampan dimatanya. "Oke Zam, gimana lo ambil spot yang disana, pas banget nih mataharinya mau terbenam."


"Oke...oke, siapkan aja posisi kalian!"


"Satu...Dua...Tiga!"


Cekrek.


"Gimana hasilnya Zam?" tanya Mira menghampiri pria itu. "Gila, bagus banget cara ambil fotonya. Lagi, lagi Zam!"


Azzam mengikuti kemauan ketiganya, berbagai angel mencari foto yang menurut mereka paling cantik. Pria itu menatap daun kering yang jatuh tepat diatas kepala Cia. "Bentar," ucap Pria itu mengambil sehelai daun dari rambut Cia, membuat gadis itu tertegun dengan tindakannya barusan.


"Eh? Makasih ya..." Balasnya sambil tersenyum manis pada Azzam.


"Sama-sama."


Ketiganya kembali sibuk berfoto ria tanpa menyadari jika seseorang tengah menatapnya tajam seperti silet. "Brengsek."


David yang duduk disebelahnya terkejut mendengar umpatan sahabatnya yang entah kapan sudah duduk disebelahnya. "Lah udah nggak pusing lagi?"


Kreek.


Abryal meremuk botol ditangannya, lalu membuang jauh ke tong sampah. "Bocah sialan."


"Hei, lo ngomong sama si—" David sekarang baru paham, ia tertawa cekikikan melihat sahabatnya.


"Lo ketawa?!"


"Hahaha lo cemburu ya liat Cia dekat sama yang lain? Udah ada rasa suka nih yee sama is—" Abryal langsung membungkam mulut David. Jangan sampai David membocorkan tentang pernikahannya nanti yang membuat Cia malah membencinya.


"Jangan ember anjir!"


Abryal jengkel langsung membungkam "Diam setan!" Jengkelnya.


David menepis tangan Abryal yang masih membungkam mulutnya. "Cih, terserahlah. Trus lo mau gimana? Mau duduk manis sambil melihat mereka bermesra-mesraan gitu?"


Abryal menatap horor kearahnya membuat David menelan saliva. Astaga gue salah bicara lagi?


"Al!" panggil Maiwah berlari kearahnya. Gadis itu berdigik ngeri menyadari jika Ketua OSIS-nya itu lagi badmood.


"Ngapa Mai?" tanya David menoleh kearahnya.


"Gue butuh tanda tangan Al, nih anak kenapa?" tanyanya berbisik pelan agar Abryal tidak mendengar pembicaraan mereka.


David terkekeh pelan. "Lagi datang bulan keknya,"


"Gue dengar sialan!" seru Abryal membuat keduanya terdiam.


"Huft, kayaknya nanti aja gue minta tanda tangan dokumen yang ini, tunggu moodnya lagi bagus. Malas gue kalau jadi pelampiasan emosi dia." tutur Maiwah meninggalkan mereka.


"Oi, mau sampai kapan lo duduk disini trus? Nggak Samparin tuh anak?" tanya David. Abryal mendongak kearah Sahabatnya dengan tatapan kesal, lalu pandangannya tertuju pada Cia yang kini tertawa terbahak-bahak bersama pria itu.


Abryal tidak tahan melihat pemandangan didepan matanya, ia berjalan dengan langkah lebar kearah Cia.


"Kak Al," seru Mira menyadari kedatangan Abryal membuat semuanya menoleh kearahnya.


Dahi Cia mengerut, kenapa suaminya datang kesini? Apa dia sudah membaik? "Kak, udah nggak pusing lagi."


"Ud—Masih sakit." keluhnya menatap tajam kearah Azzam. Tangannya langsung merangkul istrinya.


"Masih pusing Cii..." Kepalanya dengan sengaja ia jatuhkan ke bahu Cia. Mira dan Desi langsung saling membisik menggoda Cia. Gadis itu menghela napas pelan lalu menggenggam tangan Abryal.


"Ya udah lo duduk sana dulu kak, biar gue temani." serunya menarik tangan Abryal kearah pondok yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Seperti biasa, banyak pasang mata yang syirik kearahnya, tanpa menyadari jika Abryal diam-diam tersenyum penuh kemenangan karena berhasil merebut Cia dari pria menjengkelkan itu.


"Kak, masih pusing?" tanya Cia memandang sendu wajah Abryal. Abryal terdiam, melihat wajah Cia yang begitu cantik dipandang, bulu matanya yang lentik, hidung mancung dan bibir merah itu.


Deg.


Abryal langsung menggeleng-geleng kepalanya. Cia menatap heran kearah suaminya. "Kenapa?"


"Hah? Nggak ada..."


"Wajah lo merah kak, lo demam?" tanya Cia khawatir sambil memegang dahi suaminya.


"Hm." Abryal begitu betah menatap mata cokelat Cia, tetapi tidak lama lantaran ada pengganggu yang merusak kebersamaannya.


"Cia, hape lo tinggal!" seru Azzam berlari kearah mereka. Seketika raut wajah Abryal mendadak masam.


Ck, nih benalu ganggu aja!


Cia langsung menyambut ponselnya yang ada ditangan Azzam. "Makasih Zam."


"Sama-sama, oh iya gue udah masukin nomor gue ke hape lo ya. Kalau lo butuh bantuan gue, chat aja!"


"Okeey, okeey." sahut Cia lagi-lagi tersenyum lagi pada Azzam.


Setelah Azzam pergi, Abryal langsung merampas ponsel Cia dan menghapus nomor Azzam dengan cepat.


"Lah kak lo hapus?!"


"Nomornya nggak penting." ketusnya sibuk mengutak-atik ponsel istrinya.


"Kak!"


Abryal mengacuhkan rengekan istrinya, ia memasukkan ponsel itu kedalam saku celananya lalu mencium pipi Cia. "Hapenya gue sita ya sayang." ucap pria itu meninggalkannya yang masih terbengong dan syok dengan apa yang dilakukan suaminya tadi.


Deg.


Cia sampai tidak bisa berkata-kata, jantungnya sibuk berdisko, sambil memegang pipinya ia mengumpat pelan.


"Gilaa..."