
Suasana seketika hening, Deva mengerut dahinya memandang Laila lalu memandang anaknya yang terlihat seperti sudah kenal. "Kamu kenal anakku?" tanya Deva.
Laila yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan, hanya diam memandang sahabat lamanya. Sudah 20 tahun mereka tidak bertemu apalagi bertukar kabar, dan akhirnya mereka bertemu kembali. "Anak kamu Cia?" tanyanya lagi tidak percaya.
"Iya, kenapa? Apa yang kamu lakukan tadi pas Cia didorong huh? Nih siapa lagi gadis kasar nggak tau malu ini? Kamu apain anak saya huh?!" Deva kesal menatap Serena dengan sinis.
"Hei Tante, saya ini calon menantu Mama Laila! Oh, jadi Tante nih Mamanya gadis tidak tau ma—"
Plaak.
"Ikut gue bodoh!" Cia geram langsung menarik paksa tangan Serena keluar dari swalayan sebelum orang-orang mulai mengerumuni mereka.
"Lepasin brengsek!" cercanya berusaha menepis tangan Cia, namun sia-sia lantaran Cia semakin kuat mencengkram tangannya.
"Sakiiit bego!"
Sementara tinggallah Deva dan Laila saling menatap, banyak pertanyaan yang terbenak dikepala Deva. Sahabatnya ini tiba-tiba menghilang tanpa kabar setelah 20 tahun tidak bertemu. "Aku nggak nyangka kita bertemu disini, Laila."
Laila diam, ia berusaha mencerna keadaan yang ada didepan matanya ini. Deva menghela napas kasar, lalu berjalan mendekati sahabat yang tiba-tiba menghilang itu. "Kamu bodoh apa gimana sih? Kenapa nggak ngabarin aku?!" kesalnya.
"Untuk apa?"
Mata Deva membulat sempurna. "Untuk apa kata kamu?! 20 tahun kamu ngak ada kabar, aku kira kamu udah mati! Kemana selama ini hm?" cercanya. Laila berdecak pelan, Deva masih saja cerewet seperti dulu.
Pantas saja, aku trus kebawa emosi pas ngomong sama Cia, ternyata Deva mamaknya.
Deva melotot, ia akan terus mengintrogasi sahabatnya untuk mengatakan apa yang terjadi selama 20 tahun ini. Kenapa tiba-tiba Laila menghilang begitu saja?
"Huft, jelaskan kenapa kamu menghilang waktu itu?"
Laila memandang datar, diam tidak akan membuat wanita itu menyerah untuk cerewet padanya. "Aku hamil saat kita kuliah."
Lagi-lagi Deva terkejut. "Ha-hamil? Pas Kuliah?" Laila mengangguk pelan. Deva langsung memukul gemas sahabatnya. "Kamu gila! Kamu punya anak diluar nikah?! Siapa ayahnya?!"
"Huft, apa perlu kita bahas sekarang? Aku tidak ingin membicarakan pria brengsek itu!"
"Aku harus beri pelajaran dia Laila, kamu tetap melahirkan anak itu atau kamu gugurkan?" tanyanya to do point.
"Aku lahirkan dia."
"Sendirian? Kamu anggap aku apa sih La? Aku tetap sahabat kamu kan?!" Deva benar-benar jengkel, ia merasa bersalah karena tidak ada disisi Laila saat wanita itu dalam keadaan terpuruk. "Kenapa kamu nggak cerita sama aku?"
"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya Dev. Aku tidak ingin kamu menganggap aku menjijikkan saat tau aku hamil waktu itu, makanya aku memilih menghilang sampai anakku lahir. Tapi, nyatanya takdir konyol malah membuat kita kembali terikat lagi."
Dahi Deva mengerut. "Takdir konyol?"
Laila tertawa renyah. "Suami dari anak kamu itu adalah anakku, Deva."
***
Deva termenung membiarkan televisi menyala sendiri. Rendi yang baru saja pulang dari Kantor heran melihat istrinya tidak seperti biasanya. Papa Cia itu mendekat dan duduk disamping Deva. "Maa?"
Deg.
Deva terkejut kedatangan suaminya. "Loh kamu udah pulang?" tanyanya lalu menatap jam dinding. "Astagfirullah, aku belum masak nasi!" Baru saja Deva hendak berdiri, Rendi menahan tangannya.
"Nggak usah masak, kita makan diluar aja."
"Tapi, kamu kan baru pulang kerja,"
Rendi terkekeh pelan. "Nggak papa, lagian aku nggak capek banget. Dulu, aku juga jarang ngajak kamu keluar sejak Azlan sama Cia lahir. Sejak itu juga, kita kayak orang asing yang menyingkap urusan masing-masing sampai anak-anak kita kurang dapat perhatian kita." Lirihnya teringat kesalahan yang tidak sengaja tercipta karena terlalu sibuk mengumpulkan uang untuk keluarga kecil tercintanya. Ia awalnya pikir, setelah mengumpulkan uang keluarganya akan bahagia, namun ia salah. Anak-anaknya semakin hari semakin dewasa, setiap moment pertumbuhan dan perkembangan mereka tidak akan pernah terulang kembali.
Deva mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. "Mama juga salah, karena kita mengabaikan mereka. Tapi, Mama sekarang bahagia kita cepat mengintropeksi diri sebelum terlambat."
"Iyaa, dan ini semua karena Abryal. Bocah tengil itu Papa akui dia pria yang hebat."
"Hm? Iya? Emangnya siapa?" tanya Rendi sambil meneguk air putih ditangannya.
"Laila."
"Uhuk...uhuk, tunggu siapa? Laila?!"
Deva mengangguk. "Kamu nggak nyangka juga kan? Apalagi aku."
"Siapa suaminya?"
"Sekarang dia nikah sama Shaka, trus punya anak lagi cewek dia." Deva menghela napas panjang.
"Jadi Abryal anaknya Shaka? Kenapa dia nggak bilang kalau orang tuanya mereka?"
"Abryal bukan anak kandung Shaka, melainkan Reighan Pa. Abryal anak diluar nikah, dan Laila hamil saat kami masih kuliah dulu."
Rendi membulat matanya besar, ternyata skenario kehidupan menantunya itu cukup rumit dan menyakitkan. "Apa Abryal sudah tau siapa orang tuanya?"
Deva mengangguk. "Jelaslah tau, tapi Abryal membenci Laila karena sahabatku yang bodoh itu malah meninggalkan dia saat kecil dan pergi menikahi pria lain."
"Aku nggak habis pikir dengan Laila, jangan bilang itu yang kamu melamun tadi sayang?" Deva mengangguk lagi.
"Huft, anehnya Abryal yang buat keluarga kita tersadar."
"Kamu benar, ngomong-ngomong kamu tadi izin keluar belanja sama Cia. Dimana dia?"
"Eh?! Astagfirullah Mama malah pulang sendiri!" Wanita paruh baya itu buru-buru mengambil ponselnya untuk menelpon putrinya itu.
"Haduh, nih anak kenapa nggak ngangkat telpon sih?!"
***
Abryal memijit keningnya melihat istrinya dan Serena berurusan dengan petugas keamanan setelah berkelahi ditempat umum. Penampilan Cia dan Serena cukup membuatnya tidak bisa berkata-kata, apa benar ini perkelahian sesama perempuan? Kenapa wajah mereka terlihat babak belur?
Pria itu menyentuh pelan pipi lebam istrinya. Cia meringis langsung menepis tangan suaminya. "Sakit kak!"
Abryal menghela napas panjang, lalu ia menoleh Serena yang tengah melotot kearah mereka. Terlihat jelas ia tidak suka Abryal perhatian pada Cia. Serena memelas menatap Abryal. "Kaak, sakit!"
"Brengsek, nggak tau diri banget lo jal—" Abryal langsung membungkam mulut Cia sebelum mulut itu mengatakan hal yang tidak pantas didepan umum.
"Pak, penjarakan saja Serena!" seru Abryal membuat Serena melotot kearahnya.
"Loh? Kok gue? Harusnya si anjing ini!"
"Lo yang an—" Abryal lagi-lagi membungkam mulut istrinya.
"Cici, lo tenang! Jangan ikut emosi, atau gue tinggalin lo disini!" ancamnya membuat istrinya cemberut.
"Penjarakan saja dia, selagi bukti yang kemarin saya serahkan!" seru Abryal lagi membuat Serena memandangnya tidak percaya.
"KAK!"
"Apa? Lo emang harusnya di penjara Serena. Lo bukan anak-anak lagi, kalau salah harus tanggung jawab!" Pria itu menatap dingin kearah Serena.
Serena mengepal tangannya kuat. "Sialan!" geramnya mengambil vas bunga disampingnya lalu melempar kearah Cia.
Praaang.
Cia membuka matanya perlahan, matanya membesar saat melihat tangan Abryal berdarah. "Kak?!"
"Lihat sendiri kan Pak? Penjarakan dia!"
"LEPAS! LEPAS ANJIING!" teriak Serena saat diseret oleh petugas keamanan untuk dimasukkan kedalam jeruji besi.