Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Kebenaran



Cia menyeka keringatnya setelah berkutat dengan tugasnya yang baru saja ia selesaikan. Matanya tertuju pada jam dinding yang menunjukkan jam 10 siang. "Huft, masih lama lagi ya malam?" gerutunya pelan memandang jengah guru didepan yang tengah memeriksa beberapa tugas temannya yang lain.


Tanpa sengaja matanya melirik kearah kursi Desi yang sampai saat ini masih belum ada penghuninya. Ia teringat gadis itu, seketika hati kecilnya bertanya bagaimana kabarnya? Apa dia menemukan hidup yang layak disana?


"Lo liat apa Ci?" tanya Mira membuat Cia tersentak menoleh kearahnya.


"Hah? Nggak ada. Gue penasaran aja tuh anak gimana kabarnya..." ucapnya sambil memainkan penanya.


"Cih, lo masih aja mikirin dia setelah apa yang dia lakuin ke lo? Hati malaikat banget."


"Diamlah, gue kan cuma penasaran doang. Lagian lo pendendam banget, kan udah berlalu."


"Iya emang udah berlalu, cuma jejak digital masih ada sayang. Kalau sampai berita itu muncul lagi, lo bakalan kesusahan lagi dengan semua fitnah orang. Cih, padahal bukan lo tapi nama lo trus yang jadi buruk."


"Nggak lagi ya, suami gue udah buat nama gue bersih!"


"Iyalah yang punya suami, gue mah apa." celutuknya membuat Cia gemas sendiri.


"Makanya cari pacar Mbak, jangan jomblo trus. Enak lo kalau ada pasangan, bisa ngapain aja." serunya membuat Mira menatapnya horor.


"Kalau bisa ngelakuin apa aja, keknya itu sih lo deh Ci. Gue skip, gue masih suci soalnya."


"Sialan, bukan itu maksudnya. Astaga nih anak, mikirnya kesana mulu."


Mira tertawa pelan, lalu berdiri saat dirinya dipanggil sang Guru. Buru-buru gadis itu menghampiri gurunya. Cia mengangguk, ia merunduk sambil mengambil ponselnya dari saku. Ia tersenyum tipis saat melihat pesan dari suaminya.


"Cia sini kamu!" seru guru membuat gadis itu tersentak. Cia langsung berlari kecil mendekati gurunya.


"Kenapa Bu?" tanyanya panik. Apa jawabannya ada yang salah? Perasaan ia sudah yakin jawaban yang ia tulis tadi sudah benar.


Guru itu tersenyum penuh makna kearahnya, ia pun mencondongkan badannya mendekati Cia sambil berbisik. "Kamu udah nikah ya?"


Deg.


Cia menatap tajam kearah Mira, namun Mira dengan cepat menggeleng kepalanya. Bu Sasa tertawa pelan, ia menepuk gemas bahu Cia.


"Tenang, saya tidak akan kasih tau siapa-siapa. Saya malah tidak nyangka aja kamu udah nikah Nak." bisiknya membuat Cia dan Mira bernapas lega.


"Kamu belum hamil kan?"


Baru saja lega, guru muda ini malah membuatnya tidak habis pikir. "Ah, mana mungkin Bu! Saya masih sekolah!"


"Oh baguslah, ya sudah duduklah lagi. Jangan senyam-senyum sama suami kamu, mentang-mentang dah nikah." sindirnya membuat Cia memaki dalam hatinya. Sambil tersenyum tipis, ia melenggang kembali ketempat duduknya.


Iri bilanglah buk,makanya cepat nikah! Huft tau dari mana pula nih guru gue dah nikah??"


***


Mira mengejar Cia yang tengah menunggu Abryal menjemputnya. "CICI!"


Cia menoleh, alisnya mengerut bingung melihat wajah Mira yang terlihat panik. "Kenapa?"


"Desi woi, Desi!" serunya terengah-engah membuat Cia menatap serius kearahnya.


"Kenapa?"


"Dia bundir woi!"


Deg.


"Astagfirullah, sumpah lo? Baik-baiklah Mir, masa iya dia..."


"Jenazahnya baru ditemukan tadi pagi woi sama warga setempat. Ya Allah, gue nggak nyangka dia milih jalan itu!" lirihnya.


"Yok kesans kita!" ajak Cia menarik tangan Mira.


"Lah suami lo gimana Ci? Nanti dia nyariin."


"Gue telpon dia, lo bawa mobil. Cepatan Mir, kita harus kesana!"


"Okee." Buru-buru mereka berlari ke parkiran mobil Mira. Mira melajukan mobilnya menuju tempat lokasi Desi berada saat ini. Cia tidak menyangka Desi memilih jalan ini sebagai jalan pemutus semua masalah. Cia tahu, Desi bukan orang mampu. Seketika hatinya merasa kasihan, walaupun gadis itu membuat fitnah sampai menghebohkan semuanya, tetapi ia masih ada hati nurani untuk memaafkannya.


"Ya emangnya kenapa? Ayolah jangan dendam lagi dong. Kasian dia, biarkan dia mati dengan tenang Mir."


"Anjirlah, lo baik banget Cia. Ya udah kita turun!" serunya.


Keduanya turun dan menghambur kerumunan itu. Dapat mereka lihat, keluarga Desi menangis histeris. Mereka semua sangat menyesal kehilangan Desi. Terutama ibunya, yang terus-menerus memukul dadanya karena menyesal tidak sempat memperhatikan Desi.


"Semuanya akan ada hikmahnya." gumam Cia merasa sedih.


***


Pemakaman berlangsung besok, lantaran menunggu adiknya Desi yang baru pulang dari luar kota. Suasana rumah Desi masih diselimuti duka. Cia dan Abryal hanya berdiri diam didepan pagar rumah Desi, begitu juga dengan Mira dan David.


"Dah sampai ternyata kalian!" seru Audrey berjalan kearah mereka. Cia melotot melihat baju yang dikenakan adik iparnya sangat tidak cocok untuk melayat.


"Woi kak, lo gila ya!" serunya menarik tangan Audrey menjauh dari rumah Desi.


"Lah apa yang salah? Gue kan pakai baju ini nggak masalah kan?"


"Masalah lah woi, lo sarkas banget pakai baju terang benderang melayat rumah orang."


"Ngapain juga kita hormat kali, lagian dia udah buat lo kacau,"


"Astaga kak, udah deh nggak usah lagi dendam. Biarin dia tenang disana, setidaknya ini penghormatan terakhirnya."


"Bodo amat, gue mana peduli dengan orang yang kayak gitu. Lo jangan terlalu baik Ci, gue kan cuma pakai dress kuning doang." celutuknya membuat Cia memutar bola matanya malas.


"Kak, ganti cepat deh baju lo!"


"Nggak mau,"


"Kak Al!" serunya memanggil suaminya membuat Audrey melotot kearahnya.


"Ish, ngapain lo manggil-manggil Abang gue?"


"Buat suruh lo ganti baju kak."


"What? Ish dasar pengadu!" Audrey menghela napas kasar kembali kedalam mobil. Ia mengenakan jaket hitamnya sambil mendumel tidak jelas. Meskipun bagian bawahnya masih terlihat kuning tetapi setidaknya ia masih ada warna gelap. "Dah kan?"


"Nah lebih baik sih, yok masuk!" ajaknya memasuki rumah Desi.


Cia dan Mira terdiam menatap wajah Desi yang terlihat pucat dan mata itu tidak akan pernah terbuka lagi. Kenangan singkat kembali teringat, sebelum mereka mengetahui Desi berbuat jahat pada mereka. Entah apa motifnya, mereka sama sekali tidak tahu. Sampai, Cia melihat ibunya Desi membawakan sebuah buku kecil tiba-tiba padanya.


"Kamu Cia kan?" tanya wanita paruh baya itu, matanya masih terlihat sembab sesekali melihat tubuh kaku anaknya.


"I-Iya Tan."


"Ini, Desi sempat ngasih tau buat ngasih buku ini sama kamu. Tolong maafkan dia...Maafkan dia." Lirihnya menangis sesenggukan. Cia langsung memeluk wanita itu erat.


"Saya sudah memaafkannya Tan, Tante yang sabar ya, Tante harus kuat!"


"Tante yang salah! Seharusnya Tante tidak menelantarkannya! Seharusnya Tante nggak mengusirnya Cia!"


Cia dapat merasakan penyesalan ibunya Desi. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengucapkan kata ikhlas dan tabah.


Pemakaman pun terlaksana, setelah menguburkan Desi. Satu persatu orang meninggalkan area pemakaman meninggalkan sekerabat keluarga Desi. Begitu juga dengan Cia, Mira, Audrey, Abryal, dan David pamit pulang.


Abryal merangkul tangan Cia, daritadi pria ini hanya diam sebagai penonton. "Lo nggak papa?"


Cia menoleh kearah suaminya sambil tersenyum. "Hmm nggak papa, perasaan gue udah lebih plong kak. Gue nggak mau mendam benci lagi," ucapnya memandang buku diary Desi.


Abryal tersenyum sambil mengelus kepala istrinya. "Good, nggak perlu dipendam lagi. Btw, kenapa ibunya kasih lo buku itu?" tanyanya sambil membukakan pintu untuk istrinya.


"Nggak tau, tapi kayaknya ada yang disampaikan Desi disini." ucapnya pelan. Ia pun membuka buku itu perlahan dan membaca tulisan gadis itu. Tapi, ada satu halaman yang membuatnya tercengang dan tidak percaya. Amarahnya seketika memuncak, ia pun menatap suaminya.


"Kak, kita ke rumah nenek lampir sekarang!"


"Huh? Ngapain Kerumah gadis sialan tuh?" Abryal tahu siapa yang dimaksud Cia. Toh, istrinya ini suka ghibahin gadis itu setiap malam.


"Gue mau buat perhitungan si nenek lampir tuh!"