
Cia menatap sendu Abryal yang tengah terlelap, ia tahu jika suaminya ini tidak baik-baik saja. Abryal menyembunyikan sesuatu darinya. Cia tidak ingin semakin penasaran, ia diam-diam membuka ponsel suaminya. Terlihat panggilan dua terakhir dari Mama Abryal alias mertuanya.
"Huft, nih mertua kok gini amat. Eh nggak boleh gitu Ci, dia nyokap suami lo, harus sabar... sabar!"
"Hmm apa Nenek tau kejadian tadi malam? Apa gue harus tanya Nenek?" gumamnya sambil mengikat rambutnya, ia bersiap-siap pergi ke sekolah.
Tidak ingin membangunkan Abryal, ia menuliskan secarik kertas dan menempelkan di cermin meja riasnya. "Gue pergi dulu ya sayang!" Bisiknya lalu menutup pintu kamarnya perlahan.
Cia menuruni anak tangga, berkumpul dengan keluarganya yang sudah dulu menikmati sarapan mereka. "Maa, Paa!" serunya duduk disamping Mama Deva. Gadis itu tidak menyangka, dulu keluarganya yang terlihat dingin kini berubah menjadi harmonis. Ia bersyukur, sejak kedatangan Abryal semua keluarganya kini menyadari pentingnya keluarga bagi mereka.
"Mana suami kamu?" tanya Papa Rendi.
"Oh, dia masih tidur Pa. Lagian hari ini nggak ada jadwal kampus, biarin aja." jawabnya sambil mengunyah sandwich buatan Mamanya.
"Woah, udah lama aku nggak makan masakan Mama!"
"Tulah, jarang juga lagi kesini, asyik mesra-mesraan aja!" gerutunya membuat Cia terkekeh.
"Hehehe namanya juga pengantin muda Ma, harap maklum. Btw, mana Bang Az?"
"Cieee nanyain, kemarin berantem." sindir Mama Deva membuat Cia cemburut.
"Tuh di kamarnya, kamu mau berangkat sama Papa Rendi nggak?" jawab Papa Rendi sambil memakai jas kantornya.
"Mau! Mau!" seru Cia bersemangat. Sudah lama sekali ia tidak diantar Papanya.
Papa Rendi mengangguk, ia mengambil kunci mobil dan berjalan mendekati istrinya. "Papa pergi dulu ya Ma."
"Pamit dulu sana sama suami kamu Cici, ntar dia panik lagi kamu hilang." seru Mama Deva menatap dirinya.
"Nggak papa Ma, soalnya kak Al pulas banget tidurnya. Aku nggak mau ganggu dia, ya udah aku berangkat dulu ya Ma, assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam hati-hati!"
***
Ziyad sengaja memakaikan motornya tidak jauh dari halte bus. Menurut informasi yang ia dapat, gadis incarannya itu selalu diantar disamping halte depan sekolah. Ia penasaran, sosok pacar Cia.
Matanya menyipit saat ada mobil yang berhenti tepat disamping halte, ia melihat Cia baru saja keluar dari mobil hitam itu. Tapi sayang ia tidak bisa melihat wajah pria itu, entah kenapa pintu kemudi terbuka dan keluarlah pria yang terlihat cukup berumur meneriaki nama Cia.
"Cici!" panggil Papa Rendi meneriaki anaknya yang hendak masuk kedalam sekolah.
"Cici?" gumam Ziyad heran, sebenarnya pria ini apa benar pacarnya Cia?
Cia berbalik badan, ia cengegesan berlari mendekati Papanya saat menyadari ponselnya ketinggalan di mobil. "Heheheh makasih Pa!"
"Hmm, belajar yang benar!" seru Papanya sebelum melajukan mobilnya menjauhi perkarangan sekolah Cia.
Cia bersenandung semangat memasuki sekolah, ia melirik jam tangannya yang hampir menunjukkan pukul 7. Ia cekikikan saat semua orang disini melihatnya langsung terbirit-birit masuk kedalam sekolah. Mereka sangat ketakutan jika terlambat, hukumannya bukan main-main. Cia sangat tegas, ia tidak memandang mereka anak siapa dan siapa, kalau sudah terlambat ya sudah dihukum.
Gadis itu menampakkan kakinya setelah melewati pagar, sambil tersenyum penuh makna ia mulai menutup pagar sekolahnya. "10!"
"Eh kak Cia sabar!"
"CIA JANGAN DITUTUP DULU ANJIR!" seru kawan sekelasnya.
"Makanya cepat larinya!"
"Ya sabarlah woi, ya Allah kok bisa lah gue milih lo kemarin ya?!" kesalnya setelah berhasil masuk sekolah dengan selamat.
"Salah lo sendiri sih, sanalah masuk kelas lagi jangan ke kantin!"
"Iya, iya bawel banget. Gue kira kak Al kejam ternyata lo lebih parah!" sindirnya langsung berlari sebelum Cia mengamuk.
"APA LO BILANG CIKA?!" Cia menghentakkan kakinya kesal sambil meniup poninya. Lalu ia melihat Ziyad dengan santainya berjalan tanpa khawatir pagar akan segera ditutup.
"Cepatan jalannya, lo kira ini Mall apa?" Cia jengkel dengan cara jalan pria itu. Pria itu tersenyum miring kearahnya, ia dengan santai mendekati Cia.
"Kak, siapa nama pacar lo?" tanyanya membuat Cia mengerut dahinya.
"Iya,"
"Kenapa emangnya lo penasaran hm?" tanyanya sambil menutup rapat pagarnya. Sudah terdengar jelas umpatan dan helaan napas kasar dari mereka-mereka yang terlambat datang.
"Lo sebenarnya dah putus apa belum sih kak sama pacar kakak?"
"Yang terlambat seperti biasa hukumannya bersihkan lapangan. Kebetulan CS kita lagi sedikit, jadi bantu mereka yaa, biar dapat pahala!" serunya lalu menatap kearah Ziyad.
"Kalau gue putus kenapa? Lo mau pacaran sama gue maksudnya?" tanya Cia to do point membuat Ziyad sedikit terkejut.
"Hah? Apa?" Ziyad masih belum percaya dengan apa yang ia dengarkan barusan.
"Maaf, gue kan udah bilang sama lo waktu itu. Gue nggak bisa pacaran dengan lo walaupun gue udah putus sama mantan gue." jawabnya pelan.
Lagian gue pacaran sama suami sendiri, mana ada kata putus buahahaha. Cengirnya dalam hati, ia buru-buru mengubah ekspresi datarnya kembali sebelum Ziyad menyadarinya.
"Alasan yang nggak masuk akal, lo sengaja menghindar dari gue kan kak?" tanya Ziyad menatap tajam kearah Cia.
Cia menghela napas kasar, menepis tangan Ziyad yang sempat memegang tangannya. "Tolong bersikap sopan Ziyad dengan kakak kelas. Pembicaraan pribadi cukup sampai disini, jangan ungkit lagi. Gue minta maaf kalau kata-kata gue kasar, tapi tolong hargai keputusan gue kenapa gue nolak lo." ucap Cia tegas meninggalkan Ziyad.
Ziyad tersenyum miring. "Gue bakalan rebut lo dari dia, Bricia." Pria itu memainkan koin ditangannya, sambil melirik Cia yang sudah makin menjauh dari pandangannya. Ia yakin, gadis itu belum putus seperti yang dirumorkan. Ia suka merebut apa yang disenangi orang, seperti itulah kedua orang tuanya mengajarkannya padanya, rebut apa yang harusnya menjadi miliknya.
***
Cia menggerutu kesal sambil menyalin catatan Mira. Ia teringat ucapan Ziyad yang terus menganggunya, gadis itu bukan gadis bodoh yang tidak tahu tingkah laku pria brengsek.
"Lo ngapain sih?" tanya Mira heran melihat kegusaran sahabatnya.
"Tuh adek kelas lo ngeselin anjir."
"Siapa?"
"Ziyad."
"Ooo dia, kenapa? Suka lo sama dia?"
Cia melayangkan tatapan horor kearahnya membuat Mira tertawa pelan. "Canda beb, lagian kalau Lo selingkuh bakalan mati ditangan kak Al. Tuh anak kenapa? Nyatain perasaan ke lo?"
"Nggak tau, tapi dia selalu kepo dengan gue. Tadi dia nanyain mantan gue siapa,"
"Buahahaha lo mana ada mantan cuy, yang ada suami." Bisiknya membuat Cia menoyor kepala Mira.
"Hush, nggak usah ngomong gede woi, kedengaran sama yang lain nanti." ucapnya lalu memasukkan bukunya kedalam tas.
"Eh Ci, lo ada telpon tuh!" seru Mira melirik ponsel Cia yang tengah dicas dekat mejanya.
"Dari siapa?" tanyanya meraih ponselnya, ia tersenyum saat mengetahui itu dari suaminya. "Ternyata my hubby." Cicitnya membuat Mira memutar bola matanya malas.
"Idih, malas banget liat orang bucin. Sanalah pulang, tuh suami lo keknya jemput!"
"Hihihi gue cabut luan ya, bye Mir!" serunya berlari keluar kelas.
Cia berlari cepat, ia tidak sabar menemui suaminya. Alih-alih senang, ia justru diperlihatkan kedua manusia yang harusnya tidak perlu bertemu apalagi saling melayangkan tatapan tajam. Firasatnya mengatakan tidak bagus melihat kondisi itu, ia buru-buru mendekati suaminya.
"Sayang!" serunya bergelayut manja dilengan suaminya, hal itu disaksikan langsung oleh Ziyad. Tetapi, yang lebih mengejutkan Abryal malah menepis tangannya membuat Cia mendongak kearah suaminya.
"Kak Al?"
"Masuk kedalam mobil sekarang!" suruhnya dingin membuat Cia semakin bingung.
"Kak?"
"Gue suruh masuk ya masuk Bricia!"
Deg.
Kenapa ini? Kenapa Abryal marah ke gue? Apa yang sebenarnya terjadi? Brengsek, apa yang lo bilang ke suami gue, Ziyad?!