
Cia menatap wanita paruh baya tadi ditangkap oleh polisi didepan matanya. Wanita itu menyorot tajam seolah-olah tidak terima dengan kenyataan yang ia hadapi saat ini. Gadis itu menghela napas pelan, berjalan menuju tempat Abryal.
"Ulurkan tangan lo sini kak!" seru Cia sambil memegang kotak P3K yang ia ambil dari mobil suaminya. Abryal hanya diam mengulurkan tangannya kearah Cia. Gadis itu meringis ngeri menatap luka ditangan suaminya.
"Sakit kak?" tanyanya sambil mengeluarkan perban luka dan antiseptik.
"Ya sakit lah, nggak mungkin nggak!"
"Ya jangan ngegas juga dong, telinga gue disini woi!"
"Pakai nanya juga lagi, udah tau sakit masih bertanya." cerocosnya.
"Lo kalau ngomong sama gue sampai berurat gitu, coba sama yang lain dingin sedingin kulkas." cibirnya pelan tetapi masih didengar suaminya.
"Apa lo bilang tadi?"
"Nggak ada, jangan banyak gerak kak ntar perih nanti!"
"Lain kali kalau ada situasi kayak tadi lari, jangan pasrah doang!"
"Gimana orang mau lari ibuknya ngamuk-ngamuk gitu,"
"Ya kalau nggak bisa ngelawan lari sayang, untung gue liat tadi. Coba tadi gue telat, lo udah log out dari bumi."
Cia langsung memukul lengan suaminya keras. "Anjiir mulut lo kak!"
"Kan benar, lo mau gue jadi duda muda huh?"
"Ya kan tinggal cari cewek lain kak, lo tuh kan gan—" Mata Cia membulat sempurna saat Abryal tiba-tiba mencium pipinya. Pikirannya mendadak kosong lantaran masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya barusan.
"Jangan pernah ngomong cewek lain didepan gue. Gue milik lo, lo milik gue. Jangan bahas yang lain!" ucapnya dingin lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Gue harap lo nggak bakalan ngorbanin diri lo untuk orang lain lagi. Pikirkan diri lo sendiri Cia, lo istri gue. Gue nggak rela lo ngorbanin nyawa untuk hal yang sia-sia." ucapnya lagi sambil mengeluarkan bungkus rokoknya. Pria itu merokok sambil berjalan menjauhi istrinya agar tidak terkena asap rokoknya.
"Ba-barusan dia...."
***
"CIAA!" Teriakan barusan membuat lamunan Cia buyar, ia langsung melirik seseorang yang memanggil namanya.
Mira dengan tertatih-tatih menghampiri Cia dan langsung memeluk gadis itu. "Bodoh, harusnya lo lari juga!" gerutunya kesal sekaligus lega karena sahabatnya baik-baik saja.
"Kalau gue lari, trus lo yang jadi incaran wanita gila kemarin huh?"
"Biarin, yang penting bukan lo sendiri yang harus ngorbanin nyawa. Astaga kalau nggak ada kak Al, gue bakalan merasa bersalah seumur hidup gue Cii..." Lirihnya lagi.
Cia menghela napas, dalam hatinya ia begitu senang ternyata masih ada orang yang memikirkannya. Perihal kemarin, tanpa berpikir panjang ia dengan rela menghadang wanita paruh baya itu demi menyelamatkan Desi dan Mira agar pergi lebih dulu walaupun ia sendiri takut setengah mati. "Iyaa...gue janji nggak bakalan gitu lagi. Kalau dalam bahaya kita sama-sama hadapinya."
"Nah gitu dong, baru sahabat gue! Cia makasih udah nyelamatkan nyawa gue kemarin, gue nggak bakalan lupain apapun yang lo lakuin kemarin sampai seumur hidup gue." ucapnya menatap Cia.
Cia mengangguk pelan memalingkan wajahnya dari Mira. "Udah deh, jangan melow lagi lah. Malas gue sedih-sedih gini, itu udah berlalu jangan dibahas lagi."
"Ngomong-ngomong gimana kaki lo? Aman?"
"Jangan tanya lagi, pas gue tengkak-tengkak jalan kerumah. Nyokap gue langsung sigap panggil bude tukang urut. Sumpah ya tulang gue pada bunyi semua pas diurut kemarin." Ocehnya membuat Cia terkikik pelan.
"Baguslah, oh iya mana Desi? Kok gue nggak ada liat dia daritadi?"
Mira diam, wajahnya tampak tidak bersahabat saat Cia menyebut nama Desi. "Paling dia telat." sahutnya cuek berjalan menuju kursinya. Cia merasakan ada gelagat aneh antara Mira dan Desi, tetapi ia tidak ingin membahas dulu melihat wajah Mira saat ini tidak ingin membicarakan hal yang berat.
"Kenapa lo liatin gue?" tanya Mira menyadari jika Cia tengah menatapnya. Cia gelagapan langsung menggeleng pelan.
"Nggak ada,"
"Huft, lo pasti penasaran dengan dia kan?" tebak Mira membuat Cia mengangguk ragu.
"Emang masalah kalian kenapa?" tanya Cia menatap serius kearah Mira.
"Panjang dah pokoknya, gue sebenarnya lagi nggak mood bahas dia Ci. Tapi kalau dia datang nanti ya udah kalau dia ngajak gue nggak ikutan dulu. Liat mukanya mau gue hajar sumpah."
"Seriuslah Mir, kalian bertengkar karna apa sih?"
Mira sedikit ragu, lidahnya keluh ingin mengutarakan apa yang dipikirannya pada Cia. "Nanti aja ya Ci, emosi gue lagi nggak stabil." Mira tersenyum lalu mengeluarkan novelnya dari ranselnya. Cia hanya menghela napas panjang kecewa karena rasa penasarannya belum terjawab.
***
Cia mengerut keningnya melihat semua orang menatap sinis kearahnya. "Cih, apa lagi kalian liat-liat gue kayak gitu?"
"Emang nggak tau diri banget ya lo."
"Murahan banget."
Deg.
Gadis itu menatap tajam kearah orang itu dan langsung mencengkram kerah seragamnya. "Apa lo bilang barusan? Murahan? Kata sampah darimana lo nyebut gue kayak gitu huh?"
"Dari video yang tersebar, lo sok-sok rupanya suka pria hidung belang."
"Kasian kak Al, malah dapat bekas."
"Iya woi, harusnya mereka berdua tidak pacaran."
"VIDEO YANG MANA?!"
"Nih sialan, nggak usah teriak didepan gue!" sarkasnya menghempas Cia hingga gadis itu tersungkur lalu ia memperlihatkan video itu pada Cia.
Mata Cia membulat sempurna, kenapa dalam video itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ia alami waktu di UKS kemarin? "Brengsek, siapa yang ngedit ini woi?!"
"Hah? Ngedit? Buahahaha ngaku aja lo murahan."
Cia tidak tahan, ia langsung membanting ponsel gadis itu hingga tidak berbentuk lagi tepat dihadapan pemiliknya. "Makan tuh!" Kesalnya melangkah kasar keluar dari kerumunan dan berlari ke tempat suaminya berada saat ini.
Cia melihat Abryal tengah berdiri ditepi balkon sekolah. Gadis itu langsung memeluknya dari belakang. "Peluk." Lirihnya membuat Abryal bingung.
Pria itu memutar badannya dan menatap wajah istrinya yang bar-bar ini. "Kenapa?"
"Lo tau kan video yang beredar di sekolah....itu bukan gue kak," Lirihnya lagi menghirup aroma suaminya yang menenangkan.
Abryal berbalik badan sambil merapikan rambut istrinya. "Hei, lo kan kuat Ci... Jangan dengarin apa omongan mereka, kan gue sendiri yang langsung ada di UKS waktu itu. Urusan pelaku biar gue yang urus oke?"
Cia mengangguk pelan. "Lo udah tau siapa pelakunya kak? Siapa yang lo curigai."
Abryal tersenyum samar, ia mencium pipi Cia. "Ada deh pokoknya, lo nanti juga tau kok." ucapnya menggenggam tangan istrinya.
Ponsel Cia berbunyi, buru-buru gadis itu mengangkat teleponnya. Belum mengucapkan 'halo' sudah mendapat ceramah dari Mira diseberang sana.
"Iya...iya gue kesana," jawabnya malas, Cia melirik suaminya. "Kak, gue ketempat Mira dulu, nih anak sewot betul karna masalah video tuh. Gue pulang duluan ya kak," pamitnya menyalami tangan Abryal.
Baru saja Cia hendak membuka pintu, gadis itu kembali lagi berjalan kearah Abryal. "Kak,"
"Apa?"
Cia tersenyum, kakinya berjinjit mencium pipi suaminya. "Dah sayang!" seru gadis itu berlari kencang, sedangkan pria itu mematung salah tingkah.
Namun, senyuman itu tidak berlangsung lama, ia menatap dingin kearah seseorang dibalik dinding dekat pintu. "Tanggung jawab apapun itu, gue sendiri yang bongkar kebusukan lo atau lo sendiri yang ngomong sama Cia semuanya, Desi!" ucapnya dingin menutup pintu dengan keras.
Braak.
Desi mengepal tangannya kuat, sambil mengusap kasar air matanya. "Huft, lo udah ngelakuin hal yang benar Des." ucapnya menyemangati dirinya sendiri tanpa merasa bersalah jika dirinya sudah meretakkan persahabatan mereka.