Cia And Her Ketos

Cia And Her Ketos
Overthinking



Ziyad tersenyum menatap pujaan hatinya terlihat baru saja keluar dari ruang kepala sekolah. Ia mengejar ketua OSIS itu sebelum Cia pergi ke kamar mandi. "Kak Cia!"


"Eh? Lo tumben diluar kenapa?" tanya Cia mengernyit menatapnya.


Pria tampan itu mengenyir pelan, mendekati Cia. "Lo sendiri ngapain kak?" tanyanya lebih dekat. Cia perlahan memundurkan langkahnya menjauh dari Ziyad. Entah mengapa, ia tidak nyaman setiap mengobrol dengan bocah itu.


"Huh, gue barusan dari WC. Btw, lo pekan free nggak kak?"


"Kenapa emangnya?"


"Kalau free, temanin gue dong ke tempat sesuatu." seru pria itu.


"Kenapa nggak minta teman lo yang lain?"


"Ish, mereka tuh banyak alasannya kak. Gue butuh banget datang pas hari tuh."


"Emang ada acara apaan?" tanyanya lagi sambil mencuci tangannya di wastafel disekitar sana.


"Sepupu gue nikah kak, mereka ngejek gue jomblo."


"Ya pacaran lah sana,"


Ziyad berdecak pelan. "Ya itu masalahnya, gue nggak tau kencan sama siapa. Sama lo keknya bisa, mau nggak kak?"


Cia tertawa cringe. "Sorry gue tolak, pawang gue marah ntar."


Ziyad membelalak, apa Cia memiliki pacar? Selama ini yang ia tahu, gadis ini sudah putus dengan ketua OSIS sebelumnya. "Bukannya lo udah putus kak?"


"Putus? Tunggu, sejak kapan lo tau urusan pribadi gue?" tanyanya menatap sinis kearah Ziyad.


"Kak, jangan natap gue kek gitu. Kalau lo nggak mau ya udah, gue coba cari yang lain."


"Nah gitu dong." jawabnya sekena, langsung pergi menjauh dari Ziyad. Pria itu mengepal tangannya kuat sambil menghembus napas kasar.


"Huft, kenapa susah kali membujuk wanita sialan tuh?!"


***


Cia sibuk memainkan ponselnya sambil menunggu suaminya menjemputnya. Padahal sebenarnya ia bisa saja menggunakan motor untuk menghemat waktu. Tapi, suami menyebalkannya itu sungguh keras kepala melarangnya. "Kak, cepatan dong!" gerutunya kesal lelah celingak-celinguk menatap jalan.


"Cia!" seru seseorang membuat Cia mendongak, gadis itu cukup terkejut dengan kedatangan Mama mertuanya didepan sekolah.


"Mama?"


"Kamu udah pulang kan? Bisa kita ngomong sebentar?" tawarnya sambil menunjuk kearah cafe yang tidak jauh dari sekolahnya.


"Tapi, kak Al bentar lagi sampai Ma."


"Dia bisa nunggu, cepat ikut Mama!" ajak Laila menarik tangan Cia agar ikut bersamanya.


Nih orang suka banget maksa, huft kalau bukan mertua gue udah gue jitak kepalanya!


Sesampai disana, Cia lagi-lagi dikejutkan dengan sosok gadis yang kemarin membuat emosinya naik. "Serena lo?"


"Hai!" sapanya sambil tersenyum miring. Cia mengepal tangannya kuat, ia bahkan menepis tangan Laila dan langsung mencengkram kerah kemeja Serena.


"Harusnya lo membusuk di penjara, kenapa belum?!" geramnya, Serena tertawa terbahak-bahak. Ia pun menepis tangan Cia dan mendorongnya.


"Enak aja, gue nggak salah ngapain gue nyerahin diri. Mau nyokap atau lo sendiri yang jebloskan gue ke penjara, nggak bakalan ngaruh!" serunya kembali duduk ditempat. Ia menoleh sekililingnya yang terlihat beberapa pasang mata menyaksikan mereka.


"Duduklah kalau lo nggak mau jadi pusat perhatian Cia." suruhnya menatap kursi kosong diseberangnya. Sedangkan Laila menatap tajam kearahnya lalu duduk disamping Serena.


"Cih, Mama sekongkol dengan dia?" potong Cia sambil bertepuk tangan.


"CIA!"


"Nggak usah teriak Ma, Mama mau viral hm?" ancamnya membuat Laila malah tidak berkutik. Cia langsung menoleh kearah Serena.


"Cia jaga sopan santun ya! Nggak pernah diajarkan dirumah?!"


"Pernah! Dan Anda jangan pernah mengatur kehidupan anak yang sudah anda buang sejak dulu!" kesalnya lalu menoleh lagi kearah Serena.


"Huh, kata siapa gue nggak ada bukti. Lo jangan senang dulu Ren, gue bakalan buat lo mendapatkan hukuman yang setimpal!" ucap Cia membuat Serena terdiam.


"Dan Mama, jangan bilang yang mau Mama omongin adalah dia kan? Mama mau jadikan dia menantu ya? Trus cerain aku karena nggak cocok buat kak Al? Maaf Ma, tapi sampai aku mati pun tidak akan pernah berpisah dengan Abryal, titik!" ucapnya tegas lalu pergi melenggang keluar cafe tanpa menghiraukan panggilan Laila.


"Huft, sial!" umpatnya meniup poninya kasar, perasaannya kini sangatlah tidak bagus ditambah cuaca yang mendung malah mendukung suasana hatinya saat ini.


"Sial, ngapain nih air mata pakai jatuh segala!" kesalnya menghapus kasar air matanya yang sempat membasahi pipinya. Hatinya begitu sakit, walaupun ia tidak menyukai Laila tetapi ia ingin diakui sebagai menantu dari wanita itu.


Cia semakin kesal, ia mencak-mencak sambil mengatur napasnya agar tidak terasa sesak. Tidak terasa hujan langsung mengguyur deras tanpa aba-aba membasahi tubuh Cia. Gadis itu meringkuk, membiarkan tubuhnya terkena hujan.


Gadis itu langsung mendongak saat menyadari air hujan tidak mengenainya. "Kak?"


Abryal menghela napas kasar sambil memegang payungnya, lalu mengulurkan tangannya pada Cia. "Yok kita pulang sayang!" ajaknya menatap sendu kearah Cia.


Abryal tidak ingin bertanya dulu pada gadis itu sebelum tenang. Abryal ingin istrinya meluapkan dulu emosinya yang terus membuat gadis itu merasa sesak. Pria itu memasangkan jaket pada Cia agar tidak kedinginan, tak lupa ia menghidupkan pemanas dalam mobil.


Cia termenung memandang rintikan hujan yang deras melalui jendela mobilnya. Ia tertegun saat pria itu menempelkan sesuatu yang hangat dipipinya.


"Nih, coklat panas. Untung gue sempat beli tadi karna tau hari ini hujan." celotehnya membuat Cia tersenyum tipis menerima minuman cokelat itu.


"Kak," ucapnya memecahkan keheningan diantara keduanya.


"Apa? Udah tenang lo?"


Cia mengangguk lalu meletakkan cangkirnya di door pocket sambil menatap suaminya. "Kak, seandainya Mama tetap nyuruh kita ce—"


"Nggak ada...nggak ada. Pokoknya gue nggak mau nyebutin kata sialan tuh!" potong Abryal seolah-olah tahu arah pembicaraan istrinya.


"Ih gue belum selesai ngomong kak!" protesnya tetap saja membuat Abryal kesal.


"Tolong Ci, jangan pernah membahas itu! Gue cinta sama lo, gue bakalan lindungi lo sampai kapanpun dan jangan pernah minta pisah dari gue hanya gara-gara Mama mau nikahin gue dengan gadis pilihannya!"


Mata Cia melebar, suaminya ternyata sudah tahu perihal ini. "Sejak kapan lo tau Mama mau nyuruh lo nikah dan cerain gue?"


Abryal menghela napas kasar. "Sejak tadi, gue dengar semuanya."


Deg.


"Ke-kenapa lo nggak masuk tadi?"


"Gue malas." jawabnya singkat sambil menyandarkan tubuhnya dikursinya.


"Tapi dia nyokap lo kak,"


"Terserah dia nyokap atau bukan. Gue emang udah maafin semuanya, cuma untuk yang ini gue nggak bisa maafin dia. Walaupun dia ibu gue, nggak bakalan gue izinkan dia merendahkan lo sayang!"


"Huft, sekeras apapun gue berusaha tidak akan pernah berhasil merebut hati Mama." Lirihnya.


"Udah cukup sayang, kamu udah lakuin yang terbaik. Jangan overthinking, fokus aja sama masa depan yang menanti lo disini Ci!" serunya membuat istrinya kembali tersenyum lagi.